Mar 062019
 

The new weapons complex for Sukhoi 22, including cluster bombs (No. 1), Bina rocket (No. 2) and winged bombs (No. 3) © Mashregh News

JakartaGreater.com – JDAM, atau Joint Direct Attack Munition, adalah contoh langka dari AS yang berperang dengan biaya murah. Dengan mengambil bom tak berarah kuno yang dianggap usang oleh amunisi berpemandu dan menambahkan dengan paket panduan GPS, Amerika Serikat menciptakan bom pintar secara instan, menurut Michael Peck, seorang analis militer di National Interest pada hari Minggu.

Sekarang, Iran telah melakukan hal yang sama, menurut Mashregh News. Dalam sebuah cerita yang biasanya dipelintir yang melibatkan senjata Iran, artikel itu menggambarkan bagaimana angkatan udara Iran baru-baru ini menerima kiriman 10 unit pembom tempur Su-22 yang diperbaharui di Iran.

Pesawat-pesawat ini telah dibangun oleh Uni Soviet dan disuplai ke Irak semasa Saddam Hussein, yang – khawatir Amerika akan menghancurkannya dalam Operasi Badai Gurun – menerbangkan mereka ke tempat yang aman di Iran. Orang-orang Iran, yang masih kesal atas invasi Saddam tahun 1980 ke negara mereka, memutuskan bahwa adalah adil bila  mereka menjaga pesawat itu sebagai ganti rugi.

Mengapa pers Iran memutuskan untuk memperlakukan kebangkitan pesawat berusia tiga puluh tahun sebagai kemenangan adalah sebuah teka-teki. Tapi kemudian media Iran pun mencoba menciptakan suasana misteri tentang bom yang terlihat di pesawat Su-22 yang diperbaharui selama pameran udara November 2018.

Jet pembom-tempur Su-22 Angkatan Udara Iran telah dimodernisasi © BabakTaghvaee on twitter

Bentuk bom, terlihat seperti buatan AS, di ujung dan di bagian depan bom terdapat pod seperti yang terdapat pada JDAM, kata Mashregh News. “Tentu saja, bagian depan bom menyerupai Raad-301, bom pintar buatan Iran, tetapi tidak ada laporan tentang sistem optik atau panduan laser. Oleh karena itu, navigasi hibrida inersia dan satelit sangat ditingkatkan”.

“Sampai kini, Iran belum secara resmi mengakui apakah mereka memiliki akses ke sistem berbasis satelit, dan baik analisis internal maupun eksternal semata-mata didasarkan pada spekulasi, tetapi citra bom baru dan khususnya posisi dan penutup yang dipasang di sana, sangat meningkatkan kemungkinan menggunakan bom yang dipandu oleh satelit”, tambah Mashregh News, mengutip komentar dari komandan Angkatan Udara IRGC Jenderal Amir Ali Hajizadeh bahwa Iran telah mengembangkan UAV dengan panduan satelit.

“Mungkin Iran telah mencapai atau berada pada ambang mencapai beberapa jenis navigasi satelit dan sistem kontrol, dalam hal ini Republik Islam Iran akan membuat lompatan yang signifikan”, tulis Mashregh News.

Gambar senjata baru dipasang pada jet tempur Angkatan Udara IRGC © Mashregh News

Tapi tunggu dulu, kata para analis di Kantor Studi Militer Asing di Angkatan Darat AS.

“Klaim Iran mengembangkan JDAM tampaknya berlebihan. Meski Iran dilaporkan telah mengembangkan UAV dipandu GPS, pencarian gambar terbalik dari foto-foto memakai TinEye.com termasuk dalam artikel Mashregh News yang menggambarkan JDAM yang diduga bahwa mereka berusia lebih dari satu dekade dan pada aslinya tak dipublikasikan oleh Iran.

Sementara artikel yang dikutip itu sendiri meninggalkan ruang untuk keraguan, pemalsuan foto yang diduga diambil di Kish Air Show menunjukkan, dalam hal ini, bahwa kemajuan yang diumumkan lebih berupa ambisi daripada kenyataan, menurut Michael Peck.

Sebelumnya juga, Iran terperangkap di bangkai lain, seperti mengklaim mengembangkan jet tempur baru yang ternyata adalah vulkanisir dari pesawat tempur F-5 buatan Amerika yang dijual ke Iran pada tahun 1970-an.

Jet tempur ringan Kowsar buatan Iran © Tasnim News

Meskipun demikian, Iran adalah salah satu negara dengan bakat teknis yang cukup besar dan kecerdikan yang cukup untuk mampu mengembangkan rudal balistik (dan mungkin bom nuklir). Sementara konsep JDAM menggabungkan teknologi yang telah terbukti dan benar seperti bom besi dan panduan satelit yang telah ada selama bertahun-tahun.

Semua yang menunjukkan bahwa bahkan jika Iran berdusta sekarang, sangat mungkin bahwa mereka akan dapat mengembangkan bom pintar yang dipandu oleh GPS di masa yang akan datang.