Okt 112018
 

Tank tempur utama M1 Abrams Angkatan Darat AS © US Army via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Pada 1970-an, situasi armada tank NATO di Eropa sangat suram. Program untuk mengembangkan tank tempur generasi berikutnya, BMT-70 untuk AS dan Jerman bakal runtuh dan gagal, sedangkan tank generasi berikutnya Soviet akan mencapai garis depan, seperti dilansir dari National Interest.

Pasukan tank AS dan sekutunya bergantung pada tank M60 yang menua atau sejenis yang hampir setara. Dari dokumen-dokumen CIA yang terungkap pada periode tersebut memberikan perkiraan pesimis tentang keseimbangan kekuatan, dimana tank-tank Uni Soviet secara teknis lebih unggul dan lebih banyak jumlahnya.

Setelah kegagalan pada MBT-70, Kongres AS memaksa Angkatan Darat untuk memulai program tank baru dibawah biaya dan batasan waktu yang ketat. Makalah konsep pada pengembangan untuk tank baru ini dibuat tahun 1972 dan disetujui pada tahun 1973. DCP menyerukan evaluasi kompetitif, pengujian turbin versus mesin diesel dan uji coba operasional serta teknik secara bersamaan.

Armor dan persenjataan dari tank baru, sekarang dijuluki sebagai XM1, yang bertujuan untuk menggabungkan perkembangan terbaru dalam teknologi armor. Angkatan Darat menetapkan bahwa armor Chobham yang dikembangkan Inggris dimasukkan ke dalam desain.

Laras meriam 110 mm generasi berikutnya dan meriam 120 mm dari Jerman juga telah dipertimbangkan untuk digabungkan pada XM1. Namun, di meriam Jerman ditemukan beberapa kesulitan dalam pengembangan ketika program XM1 hampir selesai. Akhirnya XM1 dipasang meriam M68A1 105 mm yang mempersenjatai M60 Patton.

XM1 memasuki produksi masal sebagai M1 Abrams di bulan Februari 1981. Dilengkapi dengan mesin turbin, armor komposit Chobham dan meriam M68A1 105 mm. Secara keseluruhan, itu adalah tank yang sangat baik dalam hal mobilitas dan perlindungan.

Tapi apakah meriam 105 mm mampu menghadapi lawan potensial di Timur?

Meriam M68A1 pada M1 Abrams dapat menembakkan berbagai amunisi sabot. Amunisi anti-tank terbaik ketika M1 memasuki layanan adalah adalah APFSDS M774, akan tetapi amunisi M735 sebelumnya lebih banyak dalam persediaan, meskipun jumlah M774 itu meningkat pesat pada era 1980-an. Secara nominal digantikan oleh M833 pada tahun 1983, tetapi amunisi lanjutan baru masuk ke unit pada tahun 1985.

Amunisi M735 terbuat dari tungsten, sedangkan M774 dan M833 terbuat dari depleted uranium (DU).

Sumber-sumber Rusia mematok bahwa penetrasi amunisi M735, M774, dan M833 pada kisaran 250 mm, 375 mm dan 500 mm RHAe, masing-masing. Sementara sumber dari AS sedikit lebih optimis dimana M774 dapat menembus lebih dari 400 mm RHAe serta M833 lebih dari 500 mm.

Dengan kemampuan ini, memungkinkan M774 mengalahkan T-62, T-72 standar, serta T-64A dari aspek frontal. sedangkan M833 lebih nyaman, memiliki overmatch signifikan dibandingkan dengan T-72 standar dan T-64A.

Namun amunisi yang paling umum digunakan militer, M735, tidak berjalan dengan baik. CIA memperkirakan bahwa M735 memiliki probabilitas membunuh hanya 20% versus M744 yang mencapai 50 – 70% untuk membunuh T-72 standar.

Tetapi pada saat M1 Abrams mulai beroperasi, mereka menghadapi tank Soviet generasi terbaru: T-64B, T-72A dan T-80. Ini jauh lebih sulit untuk dihancurkan daripada armada T-72 standar dan T-64A karena mereka menampilkan armor komposit khusus.

Amunisi M833 diperkirakan mampu menembus beberapa tank ini, tetapi jauh dari pasti. Menurut dokumen CIA, T-80 diperkirakan memiliki keunggulan dibandingkan XM1 yang dipersenjatai dengan amunisi M833. T-72B, yang mulai beroperasi di tahun 1984 hanya memperburuk kondisi M1 Abrams standar, ditambah lagi ini menggunakan armor yang lebih berat daripada armor T-72A.

Untungnya, Angkatan Darat AS sudah melihat ke depan. Pada bulan Maret 1981 ketika M1 standar pertama bergulir dari jalur produksi, Angkatan Darat mendapat prototipe M1E1 pertamanya. M1E1 menampilkan versi sederhana dari meriam 120 mm Jerman, sekarang ditetapkan sebagai M256. M1E1 juga memiliki armor yang lebih baik, sistem perlindungan nuklir, biologi dan kimia serta powertrain yang lebih baik dibandingkan tank Abrams standar.

Prototipe M1E1 diterima dalam layanan sebagai M1A1 pada tahun 1984 dan seri M1A1 pertama meluncur dari jalur produksi pada bulan Desember 1985. Tank M1 Abrams pun mengakhiri produksi pada tahun sebelumnya.

Dengan meriam 120 mm yang baru, tank Abrams akhirnya memiliki senjata yang dapat dengan nyaman menembus sebagian besar armor lawannya ketika dipersenjatai dengan amunisi APFSDS M829 baru, diperkirakan dapat menembus sekitar 540-550 mm RHAe. Ini digantikan oleh amunisi M829A1 pada tahun 1988 yang bisa menembus 700 mm RHAe, menunjukkan bahwa kaliber 120 mm memiliki ruang signifikan untuk perbaikan.

M829A1 terbukti dalam pertempuran Operasi Badai Gurun, mengalahkan armada T-55 dan T-72M Irak dengan mudah. Meskipun penetrasi yang meningkat dan keberhasilan tempur melawan tank Irak, M829A1 diperkirakan tidak dapat mengalahkan tank Soviet seperti T-80U dan T-72B yang dilengkapi pelindung ledakan reaktif (ERA) generasi ke-2 Kontakt-5 yang dapat menurunkan kemampuan penetrasi amunisi APFSDS.

Akibatnya, Angkatan Darat AS mengembangkan amunisi M829A2 dan M829A3, yang menampilkan penetrator panjang serta kiat-kiat khusus untuk mengalahkan ancaman ERA kelas berat. Amunisi M829A3 adalah isu luas saat ini untuk awak M1A1 dan M1A2 Abrams dan kemungkinan dapat mengalahkan perisai dari banyak tank didunia saat ini, termasuk T-72B3 awal dan T-90A yang masih menggunakan ERA Kontakt-5.

Sayangnya, pada tahun 2018, tank-tank generasi berikutnya telah diluncurkan. T-90M dan T-80BVM baru semua menggunakan ERA Relikt yang lebih baik dan bahkan lebih efektif terhadap proyektil APFSDS. Bahkan armor T-14 Armata Rusia dilengkapi paket sistem perlindungan aktif yang bahkan lebih efektif daripada ERA Relikt.

Jawaban Amerika untuk ini adalah amunisi M829A4 baru. Proyeksi baru dikatakan bila itu mampu mengalahkan ERA generasi baru, namun secara pasti mekanisme masih tak diketahui. Walau amunisi M829A4 memiliki datalink pada proyektil yang memungkinkan sensor dan penembak untuk memprogram amunisi dengan cara tertentu, membuatnya menjadi semacam peluru “pintar”.

Walaupun M1 Abrams kalah ketika pertama kali memasuki produksi, sejak M1A1 mulai beroperasi pada 1985, M1A1 menjadi salah satu tank paling mematikan didunia dengan meriam 120 mm-nya. Masih harus dilihat apakah ini akan berlanjut ke masa depan, atau apakah tank-tank Amerika mungkin harus ditingkatkan lagi untuk menghadapi ancaman di masa depan.

Bagikan: