Apr 252018
 

Pimpinan Apel Presiden RI Ir. H. Joko Widodo, dengan Komandan Apel Danpusdik Kowad Kodiklat TNI AD Kolonel Chk (K) Tetty Melina, pada Apel Bersama dalam rangka memperingati Hari Kartini Tahun 2018 pada Rabu 25 April 2018 di lap Monas.

Jakarta, Jakartagreater.com – Sebanyak 10.000 personel yang terdiri dari Perwira Menengah (Pamen) dan Perwira Pertama (Pama) Wanita TNI (Kowad, Kowal, Wara) dan Polwan serta gabungan PNS TNI-Polri, ASN dari Kementerian dan Lembaga, Satpol PP, Tagana, Paskibraka, Menwa (UI, UPN, IPB) termasuk Pramuka dan perwakilan dari berbagai organisasi wanita, mengikuti Apel Bersama dalam rangka memperingati Hari Kartini Tahun 2018 pada Rabu 25 April 2018 di Lapangan Monumen Nasional (Monas), Jakarta.

Bertindak selaku Pimpinan Apel Presiden RI Ir. H. Joko Widodo, dengan Komandan Apel Komandan Pusdik Kowad Kodiklat TNI AD Kolonel Chk (K) Tetty Melina.

Turut hadir mengikuti Apel Bersama dalam rangka memperingati Hari Kartini Tahun 2018 tersebut, diantaranya adalah :

  1. Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.
  2. Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, S.I.P.
  3. Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian.
  4. Kasau Marsekal TNI Yuyu Sutisna, S.E., S.Sos., M.M.
  5. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
  6. Wakasad Letjen TNI Tatang Sulaiman.
  7. Wakasal Laksdya TNI Achmad Taufiqoerrochman.
  8. Ketum Dharma Pertiwi Ibu Nanny Hadi Tjahjanto.
  9. Ketum Bhayangkari Ibu Tri Tito Karnavian,.
  10. Para Asisten Panglima TNI serta Kabalakpus TNI.

Gelar Apel Bersama Wanita TNI, Polwan dan segenap wanita komponen bangsa merupakan wadah yang menyatukan secara fisik berbagai kekuatan wanita Indonesia dalam bentuk Apel Bersama yang diikuti dengan beberapa demonstrasi ketrampilan para Wanita dari berbagai komponen dengan mengambil momen Hari Kartini.

Presiden RI Joko Widodo dalam sambutannya menyampaikan bahwa masyarakat Indonesia telah menyaksikan bahwa Korps Wanita TNI dan Polri saat ini semakin tampil di depan menjalankan fungsi dan tugas pokok TNI dan Polri dalam memberikan rasa aman dan pelayanan kepada masyarakat termasuk semakin banyak menduduki posisi strategis di lingkungan TNI dan Polri.

Menurut Presiden RI Joko Widodo, peran wanita semakin besar bukan karena kuota yang ditetapkan pemerintah, namun peran wanita semakin strategis karena masyarakat dan pemerintah butuh peran wanita, peran unik wanita dalam memberikan rasa aman dan pelayanan yang prima kepada masyarakat.

Pada kesempatan tersebut, Joko Widodo menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas kontribusi saudari-saudari dalam menjaga pertahanan dan keamanan negara. “Saya bangga jumlah Korps Wanita TNI dan Polri semakin banyak dengan proporsi jabatan yang semakin besar. Ini menunjukan kontribusi saudari-saudari semua diakui dan harapan masyarakat juga semakin besar,” ucapnya.

Selanjutnya, Presiden RI Joko Widodo melaksanakan Penandatanganan Deklarasi dan mengucapkan Ikrar Perempuan Indonesia yang diikuti oleh seluruh peserta Apel Bersama Wanita TNI, Polwan dan segenap wanita komponen bangsa dengan penuh semangat.

Usai Apel Bersama, sebanyak 721 personel Wanita TNI dan Polwan mempersembahkan berbagai atraksi, diantaranya 406 personel memerankan kolosal perjuangan Laksamana Malahayati dan Perjuangan R.A. Kartini, 22 personel melakukan atraksi bela diri, 15 personel atraksi berkuda, 30 personel motor besar, 35 personel terjun payung dan 150 personel kolone senapan.

Sementara itu, berbagai rangkaian kegiatan pendahuluan yang bersinergi dengan kegiatan Dharma Pertiwi, OASE Kabinet Kerja, Yayasan Kemala Bhayangkari serta Persit Kartika Chandra Kirana, Jalasenastri dan Pia Ardhya Garini, Wanita TNI dan Polwan juga mengirimkan perwakilannya pada kegiatan Sbb :

  1. Bakti Sosial di Pulau Pramuka tanggal 14 Maret 2018.
  2. Joy Sailing di KRI dr. Soeharso-990 tanggal 5 April 2018.
  3. Asia Pacific Seminar di Hotel Kartika Chandra tanggal 20 s.d 22 April 2018.
  4. Kartini Run 2018 di Monas tanggal 22 April 2018.

(Puspen TNI)

  6 Responses to “Apel Bersama 10.000 Wanita TNI dan Polwan”

  1.  

    Kenapa hari kartini yang dirayain sama Komando Wanita TNI dan POLWAN ya? Katanya dia kan anak dari istri ketiga dan merupakan istri ketiga bupati rembang. Dan jasanya terhadap negara kan bisa dikatakan tidak ada, malah ada yang bilang dia itu pahlawan settingan pemerintah Hindia Belanda agar rakyat Indonesia perlawanannya hanya sebatas nulis surat aja. Simbol perjuangan dari Komando Wanita TNI dan POLWAN bukan cuma masalah emansipasi, tapi juga pengusiran penjajah dari bumi pertiwi seharusnya

    Kenapa tidak merayakan harinya Malahyati, Tjut Nyak Dien, Tjut Nyak Meutia, Raden Dewi Sartika yang benar2 nyata memperjuangkan pendidikan bagi kaum wanita yang mengajarkan membaca, menulis, menjahit, memasak dan mendirikan sekolah khusus wanita, Martha Cristina Tiahahu, Maria Walanda Marawis yang sama dengan Raden Dewi Sartika, Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan, Nyi Ageng Serang, Hj. Rangkayo Rasuna Said, Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto yang masih di perdebatkan, Hj. Fatmawati Soekarno, Opu Daeng Risaju, Rohana Kudus sama seperti Raden Dewi Sartika, Rahmah El Yunusiah, dan Siti Manggopoh

    Dibandingkan dari orang2 itu RA. Kartini jelas masih jauh menandinginya. Mereka semua wanita2 yg rela mati demi nusa bangsa dan kaumnya.

    •  

      Bukankah cut nyak Dhien, Dewi Sartika sudah dapat gelar pahlawan Nasional bung? Kartini telah menimbulkan inspirasi Nasionalisme disamping ttg emansipasi wanita, bahkan WR Supratman bikin lagu “IBU KITA KARTINI” sebelum kemerdekaan Indonesia pada tahun 1929, sebagai penghargaan pada beliau.

      Ini salah satu isi surat Kartini, “Aku Mau … Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903”

      •  

        iya betul berjuangnya cuma nulis surat doang. memang itu yang diinginkan oleh Belanda biar perjuangan wanita2 bangsa Indonesia cuma nulis surat doang. Tapi bandingkan dengan pejuang2 wanita yang saya sebutkan diatas yang berjuang memperjuangkan emansipasi kaumnya dengan tindakan nyata. Mengajar memasak, menjahit, membaca, menulis (sekolah khusus wanita) hingga sekolahnya disatroni sama marsose2 kerajaan hindia belande disangka mau memberontak, bahkan hingga ada yang harus maju ke medan laga berperang melawan pasukan hindia belanda.

        Jadi kalo mau merayakan emansipasi wanita yang logis ya pake hari lahir pahlawan lainnya seperti yang saya sebutkan itu. Minimal pake tanggal lahir yang mendirikan sekolah khusus kaum wanita, seperti Raden Dewi Sartika, Hj. Siti Walidah Ahmad Dahlan, atau yang sejenisnya.

        Maaf bukannya saya merendahkan Ibu Kartini, dan maaf kalo agak sedikit berunsur SARA. Sampai ini aja info yang kurang baik tentang Ibu Kartini seperti agamanya masih dipertanyakan, dan kalo beragama Islam katanya tidak bisa baca Al Qur’an. Sekali lagi maaf menyinggung SARA. Dan jika benar demikian, apakah itu yang harus dijadikan panutan pahlawan emansipasi wanita ? Sedangkan yang jauh lebih baik itu banyak pahlawan2 emansipasi wanita Indonesia yang hebat2 dimana kaum adam pun sampe angkat topi ibaratnya.

        •  

          Sudahlah bro…yang penting ada simbolnya saja, yang penting mahkluk yang namanya turunannya Hawa, indah di pandang, pantas di puji tapi belakangan bisa bikin pening kepala turunan Adam.

        •  

          Waduh mas Ersat kalau demikian jalur penalaran anda maka menurut jalur penalaran anda, saya bisa saja berkata kalau :

          – Pak Tom itu berjuangnya cuma berani koar-koar di depan mikropon
          – Pak Karno berjuang hanya kebetulan saja jadi pembaca teks
          – Pak Hatta berjuangnya hanya dengan berdiri di samping Pak Karno dan ikut difoto
          – Pak Wage berjuangnya hanya tulis lagu dan gesek biola
          – Pak Dirman berjuangnya hanya duduk dan berbaring

          Itu menurut jalur penalaran anda lho mas Ersat.

          Tetapi jalur pemikiran saya bukan begitu, walau hanya dengan tulis surat, membaca teks, berdiri di samping dan ikut difoto, menulis lagu dan gesek biola, koar-koar di depan mikrophone, itu semua sudah menjadi sumber inspirasi bagi para pembaca dan pendengar, menggerakkan mereka untuk bertindak selaras dengan semangat yang dilantunkan dalam surat, foto, lagu, teks dan pidato.

          Jelas mas Ersat ?

        •  

          Saya menghargai semua pejuang Indonesia, dengan kontribusi masing2 dan tidak berani menilai mana yg lebih berjasa karena ada kelebihan masing-masing.

          Muncul Indonesia tidak bisa lepas dari Nasionalisme dan kebangkitan Nasionalis untuk menjadi satu bangsa dan negara, momentum ini menjadi inspirasi kebangkitan Nasional pada 20 Mei 1908 dan sumpah pemuda 28 Oktober 1928

          Apakah Kartini tidak bisa baca Al Qur’an? Beliau itu murid Syaikh Sholeh Darat Semarang yg merupakan guru dari pendiri NU (Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari) dan pendiri Muhammadiyah (KH Ahmad Dahlan), beliau pula yg mengusulkan pada Syaikh Sholeh Darat agar Al Qur’an di terjemahkan dan dibukukan, agar Al Qur’an bisa dipahami lapisan masyarakat karena waktu itu ada larangan terjemahan Al Qur’an.