Jun 132017
 

Jet tempur F-15SA Super Eagle milik Angkatan Udara Kerajaan Saudi. © RSAF

Angkatan Udara Kerajaan Saudi (RSAF) telah resmi melantik pesawat tempur taktis Boeing F-15SA yang baru dalam sebuah upacara di Akademi Angkatan Udara King Faisal, seperti di lansir dari Arabian Aerospace.

Ini merupakan perayaan yang ketiga di King Faisal Air Academy (KFAA) Riyadh bersamaan dengan perayaan hari jadi kampus yang ke-50, yang ditandai dengan upacara kelulusan dari 91 pesertanya, sekaligus menyambut jet tempur taktis F-15SA Super Eagle yang pertama kali dikembangkan untuk Angkatan Udara Kerajaan Saudi (RSAF).

Raja Salman menghadiri perayaan tersebut bersama putranya, Menteri Pertahanan sekaligus Wakil Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman dan Presiden Sudan Omar Al-Bashir.

Perayaan hari itu termasuk sebuah parade dan sebuah flypast, yang menampilkan salah satu dari 4 unit F-15SA Super Eagle pertama yang telah dikirimkan, sementara 2 unit pesawat lagi diparkirkan di lapangan.

Raja dan tamu VIP lainnya juga diperlihatkan sebuah film yang dibuat secara khusus untuk menandai ulang tahun ke-50 KFAA dan sebuah film tentang jet tempur takis F-15SA terbaru beserta teknologi canggihnya.

F-15SA adalah turunan dari jet tempur multiperan F-15E Strike Eagle berkursi ganda, jet ini diklaim sebagai varian paling canggih dari F-15 yang dibangun hingga saat ini. F-15SA Arab Saudi menggabungkan sejumlah fitur yang diambil dari F-15K Slam Eagle (digunakan Korea Selatan) dan F-15SG (dioperasikan oleh Singapura) serta beberapa sistem terbaru yang ada pada generasi Eagle.

F-15SA Super Eagle ini dilengkapi 2 cantelan tambahan dibawah sayapnya (stasiun 1 dan 9). Penggunaan 2 cantelan tambahan tersebut mengharuskan pengembangan serta pemasangan sistem kendali penerbangan fly-by-wire (FBW) digital terbaru, yang sekarang ini memiliki kemampuan pemulihan disorientasi.

Jet tempur taktis ini juga dilengkapi radar AESA Raytheon APG-63 (V) 3, sistem peperangan elektronika digital (DEWS) dan sistem peringatan rudal umum (CMWS) dari BAE Systems, sebuah Joint Helmet-Mounted Cueing System (JHMCS ), sistem sensor Tiger Eyes generasi ketiga seperti yang ada pada F-15K milik Angkatan Udar Korea Selatan (ROKAF).

Sistem Tiger Eyes akan menyediakan jet tempur dengan kemampuan penargetan, navigasi, dan Infrared Search & Track (IRST). Sebuah evolusi teknologi LANTIRN dan IRST dalam Tiger Eye memungkinkan mendeteksi ancaman udara-ke-udara sehingga pilot jet tempur dapat terbang dan menyerang musuh baik siang atau malam hari disegala kondisi cuaca.

Meski berlawanan dengan ekspektasi sebelumnya, F-15SA tersebut belum dilengkapi dengan tampilan layar luas terbaru seperti yang digunakan pada kokpit F-35.

F-15SA Super Eagle didukung oleh mesin General Electric F110-GE-129 yang canggih serta mampu membawa berbagai macam persenjataan, termasuk:

  • rudal udara-ke-udara jarak jauh AIM-120C7 (AMRAAM)
  • rudal udara-ke-udara jarak pendek AIM-9X Sidewinder
  • rudal udara-ke-permukaan AGM-84 SLAM-ER
  • rudal anti-radiasi berkecepatan tinggi AGM-88 HARM
  • bom berdiameter kecil GBU-39 (SDB)
  • bom dua mode dipandu laser dan GPS seberat hingga 2.000 lbs.

Pemilihan jet tempur F-15SA oleh Arab Saudi mencerminkan kebijakan lama kerajaan untuk membagi pengadaan pesawat tempur utama dengan produk dari Amerika Serikat  dan Eropa (terutama Inggris). Setelah sebelumnya memesan 72 unit jet tempur EuroFighter Typhoon, perhatian Saudi kembali beralih ke AS dengan memesan jet tempur terbaru turunan F-15E.

Jet tempur F-15SA tersebut menawarkan sedikit kemampuan yang belum tersedia pada EF Typhoon yaitu radar AESA yang upgrade-nya yang belum tersedia Typhoon Saudi.

Meskipun F-15SA memiliki kemampuan jelajah jarak jauh dan muatan lebih banyak, pesawat terbang itu tidak dilengkapi persenjataan jarak jauh yang berdiri sendiri seperti rudal jelajah sekelas Storm Shadow, yang sekarang telah terintegrasi pada EF Typhoon RSAF.

RSAF telah memesan sebanyak 84 unit jet F-15SA Super Eagle baru dan melakukan upgrade sebanyak 70 unit jet tempur F-15S menjadi standar F-15SA pada tahun 2010, permintaan ini telah diberitahukan kepada Kongres AS pada bulan November 2010.

Kontrak senilai US $ 29,4 miliar dolar tersebut akan menghasilkan 154 unit F-15SA canggih, ditambah logistik, suku cadang, dukungan perawatan dan persenjataan, yang ditandatangani pada 29 Desember 2011, dengan total paket diperkirakan senilai US $ 60 miliar.

Dengan berkurangnya armada F-15S RSAF dalam pertempuran yang kini tersisa 68 unit, dan apabila di konversi sesuai standar F-15SA maka kemungkinan penurunan lebih lanjut terjadi hingga akhir dari program konversi, dimana tiga pesawat purwarupa diinstruksikan pertama yang tidak mungkin memasuki layanan operasional secara penuh.

Namun dengan sebanyak 144 unit F-15SA akan memungkinkan RSAF dapat membangun 6 skuadron jet tempur taktis tersebut. Skuadron 55, yang saat ini menjadi unit pelatihan F-15S dan nantinya dijadwalkan akan menjadi Unit Pelatihan Formal (FTU) bagi F-15SA.

  5 Responses to “Arab Saudi Resmi Perkenalkan F-15SA Super Eagle”

  1.  

    Su-35 ttp lbh unggul drpd F-15

  2.  

    Raja Arab klu beli borongan!

  3.  

    Ya ampun, jet tempur sudah canggih, punya banyak lagi!!!