JakartaGreater.com - Forum Militer
Dec 202016
 

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Arcandra Tahar (Foto : Detik.com)

Jakarta – Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan bahwa tantangan terbesar industri minyak dan gas bumi (migas) pada tahun 2017 adalah terletak pada sektor teknologi pendukung.

“Ladang sumur minyak Indonesia sudah tua, produksi sudah tidak bisa maksimal. Untuk bisa meningkatkan tingkat kekuatan produksi, haruslah memerlukan dukungan teknologi yang mumpuni. Apakah Indonesia punya?” tanya Arcandra ketika menghadiri diskusi outlook migas 2017 di salah satu hotel kawasan Jakarta, Senin, 19/12/2016.

Menurut Arcandra, Indonesia masih belum diketahui di mana letak cadangan migas yang tersisa karena memang belum ada teknologi yang mampu mendeteksi secara tepat keberadaan migas.

Tingkat kompleks permasalahan teknologi tersebut yang membuat biaya mahal untuk upaya eksplorasi sebab tidak semua memiliki teknologi yang memadai walau sumber daya manusia sudah mumpuni.

Dengan adanya kehadiran teknologi, efisiensi produksi migas dapat dicapai. Salah satu solusinya adalah bermitra dengan pihak swasta atau asing yang memiliki dukungan teknologi tersebut.

Metode gross split menjadi salah satu solusi efisiensi produksi dengan manghapuskan skema cost recovery. Gross split dapat memangkas pembagian APBN karena bekerja sama atau sharing sesuai dengan fungsi dan kinerja masing-masing pihak. Saat ini, kontrak bagi hasil (production sharing contract/PSC) migas antara negara dan kontraktor masih menggunakan skema cost recovery atau terhitung setelah biaya operasional tertutup dari hasil produksi.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan mengatakan bahwa industri minyak dan gas bumi akan memfokuskan pada efisiensi berbasis hasil produksi.

“Hingga saat ini, produksi belum efisien. Oleh karena itu, kebijakan migas ke depan yang pertama adalah soal efisiensi produksi,” kata Jonan yang juga menghadiri diskusi out look migas 2017.

Alasan berfokus pada efisiensi produksi adalah karena harga migas tidak menentu dan tidak ada yang memiliki takaran untuk menentukan. Selanjutnya yang kedua adalah Indonesia harus belajar lebih menjadi industri kompetitif dan memahami pasar.

Bagikan :

  11 Responses to “Arcandra Tahar Bicara Soal Sumur Tua Migas Indonesia”

  1.  

    ayo

  2.  

    kerjasama dengan RUSIA saja pak?sekalian minta TOT eksplorasi migas dan S500 😀

  3.  

    Mobilnya mewah..merk apaan ya..

  4.  

    efisiensi produksi, efisiensi produk.
    optimalkan dulu bahan bakar dari dalam negeri
    semoga kilang2 yg sedang dibangun sukses
    dan semoga direncanakan penambahan lagi.

  5.  

    Gpp sudah tua.. yg pnting jgn dikasih negara lain untuk mengolahnya.. bangkrut ntar.. orang Kita bnyak yg pintar,dipanggil dari luar untuk pulang & mngelola di negri nya tercinta

  6.  

    Kalo bisa dikerjakan dan diolah sendiri utk kepentingan rakyat/ negara. Bukan sama asing,sama aja dg menjual lagi SDA yg kita miliki. Seperti cita2 bung karno tempoe doeloe….bukan gaya orba!

  7.  

    Kalau cerita doang saya juga bisa pak..

 Leave a Reply