Armed Kaji Network-Loitering Attack Weapon System China

51
6

danpussen-ke-china

Danpussenarmed Kodiklat TNI AD Brigjen TNI Yudi Satriyono, S.H. melakukan kunjungan ke China, dalam rangka menghadiri undangan Live Firing Test N-LAWS di negeri tirai bambu tersebut. Kunjungan ini didampingi oleh Dirbinlitbang Pussenarmed Kolonel Arm Ruly Chandrayadi, S.H. Kunjungan dilakukan pada 26 September 2016.

n-laws-armed
Presentasi Network-Loitering Attack Weapon System (NLAWS) China di di Aula Mapussenarmed, Cimahi, Jawa Barat.

Sebelum kunjungan ke China, pada tanggal 15 Agustus 2016 telah dilakukan Presentasi Network-Loitering Attack Weapon System (NLAWS) Produk dari Aerospace Long-March International Trade Co LTD (ALIT) China yang diajukan PT Global Difens Mandiri di Aula Mapussenarmed, Cimahi, Jawa Barat.

n-laws

Acara itu dipimpin Danpussenarmed Kodiklat TNI AD Brigjen TNI Yudi Satriyono, S.H. dan dihadiri oleh Wadanpussenarmed Kodiklat TNI AD, Paban III/Litbang Srenum, Danpusdikarmed Pussenarmed dan jajarannya serta Staf PT. Global Difens Mandiri.

Chinese WS-43 Miniature N-LAWS
Chinese WS-43 Miniature N-LAWS
Konsep Fire Shadow Loitering Munition, Inggris
Konsep Fire Shadow Loitering Munition, Inggris

Sumber : Pussenarmed.net

51 COMMENTS

  1. kyak nya para pejabat kita sdh pd keblinger nih,bru sja rudal c705 delay,udh gt meleset lg,kok malah mau cba2 lg brg cina???apa krn cina memberikan bonus yg super besr kpd pra pejabat2 kita yg mw deal brg2 cina???kl niat beli knp gak sekalian sja ke negara2 yg mmg sdh sgt teruji senjata2 nya??knp mesti ke cina??ini gak main2 loh,,ini buat pertahanan negara loh,,kmi sja sbg rakyat gk mau barang cina,lha ini buat senjata pertahanan negara kenapa kl blm bisa buat sendiri kok beli nya ke cina yg udh jls2 kmaren delay 5 menit dan meleset????wah wah wah….”buat negara kok coba coba”?????

  2. kasihan ibu Pertiwi, lagian belum tentu ada pimpinan (pejabat terkait) yang baca rubrik ini walau para warjakger semangat supaya mereka tidak beli lagi produk cina….baikan left saja lah kalau “itu” direalisir

  3. Jika hanya sebatas “MENGKAJI” its ok.

    Akan tetapi jika “MEMBELI”… Mohon maaf bapak / ibu yang terhormat, saya tidak ikhlas jika masa depan pertahanan negara kita harus membeli product Made In China.

    Cukup C-705 yang kemarin kita jadikan “WARNING” untuk di jadikan tolak ukur product Made In China ini.

    Menurut saya pribadi masih banyak product unggulan dengan harga yang masih lebih rasional dengan kualitas yang sudah teruji.

    Terima kasih atas perhatiannya Bapak / Ibu yang saya hormati.

  4. tenang & enjoy masBro….

    Org dagang itu biasa mau jualan brg…
    Jd jgn salah’kan yg jualan…

    Logika’x org dagang mn prnh maksa” pembeli hrs membeli….

    Skrg yg hrs mikir pembeli itu sndr….

    Contoh kyk brg bekas dr negara” barat, khusus’x amrik….

    • Pertanyaannya adalah dalam uji tembak tersebut berapakah kecepatan pesawat drone yang menjadi targetnya?
      Lalu di ketinggian berapa?
      Keadaan siang atau malam?

      Jika dronenya masih di bawah 1 March sama juga bohong…
      Jika ketinggian dronenya hanya beberapa ratus meter dari dpl sama juga yang tadi (sama juga bohong)
      Lalu bagaimana dalam kondisi gelap ataupun cuaca kurang bersahabat?

    • Perlu neng Rini ketahui juga, rudal ini tidak di lengkapi dengan infra merah sebagai penditeksi panas.

      Memang dari rangenya sudah -+ 8 km, akan tetapi rudal ini masih lebih mrngutamakan bidikan mata karena sifatnya masih manual dan tapa infa merah.
      Dapat dibayangkan jika pasukan TNI kita melepaskan rudal ini ke udara tanpa dapat memastikan itu pesawat kawan atau lawan ataupun militer atau sipil.
      Hal tersebut dikardnakan tidaklah mudah mengenali obyek di udara dengan jangkauan yang di atas 2 km hanya dengan mata telanjang tanpa di bantu oleh radar.

    • Menurut spek nya, senjata ini bisa bawa warhead 20 kg dengan jarak tembak 60 km, untuk selanjutnya gentayangan di atas medan perang selama 30 menit (maksimal) mencari target. Setelah target ketemu langsung di kamikaze attack

  5. Sebelum kunjungan ke China, pada tanggal 15 Agustus 2016 telah dilakukan Presentasi Network-Loitering Attack Weapon System (NLAWS) Produk dari Aerospace Long-March International Trade Co LTD (ALIT) China yang diajukan PT Global Difens Mandiri di Aula Mapussenarmed, Cimahi, Jawa Barat.

    udah made in cina, pake calo lagi…. hadeuh.. gak kapok kapok..!!

  6. sepertinya pemerintah mengambil jalan pintas untuk kemandirian pembangunan alusista dalam negeri dengan merapat ke cina dan blok timur umumnya….???
    ..banyaknya persyaratan yang diajukan(blok barat) terutama soal kemampuan yang dibatasi dan tingginya nilai HAM dan lain2….telah membuat pemerintah terpaksa -belok kiri-demi mengejar keter-tinggal-annya…heheheheee
    …jujur memang harus diakui jika kemandirian bangsa ini soal alusista masih sangat rendah meski dikawasan sekitar nomer satu…hihihihiiii
    …karena itulah dimana ada -penjual-disitu pemerintah akan datangi ..namun bukan penjual yang wajib memilihkannya namun pembeli yang berhak memilih….hahahahahaa
    ….jadi jangan heran jika saat ini cina yang menjadi -acuan-karena tentunya dilapak sebelah terlalu banyak syaratnya yang membuat pemerintah memilih mundur..

    • Maaf…

      Mungkin saya ada sedikit perbedaan pendapat dengan anda.

      Didalam teknologi apapun termasuk di dalamnya adalah teknologi dunia militer, pasti akan di temukan yang namanya “Hak Paten” dari perusahaan pembuat ataupun negara pembuat alutista tersebut.
      Dalam hal ini China terkadang lebih memilih jalan pintas, yaitu dengan membongkar, meriset dan memproduksi alutista tersebut tanpa sepenhetahuan ataupun mendapatkan izin dari produsen alutista tersebut.

      Jika kita berbicara fakta, negara China adalah negara yang rank #1 di dunia untuk pelanggaran hak paten.
      Ibaratnya China itu “plagiat” ataupun negara produsen barang-barang kelas KW.

      Dalam hal ini Indonesia lebih memilih dengan cara meriset dan belajar kepada produsen alutista tersebut atau yang disebut ToT.

      Jika melihat realitanya adalah jika China menjadi negara no satu dunia dengan barang palsunya dengan kualitas kurang baik, maka Indonesia mungkin saya perkirakan masuk dalam TOP 5 pengguna barang palsu Made In China tersebut.

      Btw penulisan komentar saya ini hanya pemahaman saya pribadi saja tanpa ada maksud mempengaruhi ataupun niat jelek lainnya.

      • Bung.
        Orang Indonesia itu kan pengennya:
        MURAH tapi ENAK
        MURAH tapi MERIAH
        SUSAH di elu tapi yang penting ENAK di gue
        ROTAN MAHAL pakai AKAR SAJA
        AYAM TIREN asal MURAH
        BAKSO TIKUS yang penting gak ketahuan
        Gorengan KOLESTEROL yang penting KENYANG

LEAVE A REPLY