AS Akui Latih Pejuang Suriah yang Berikan Senjata ke Front Nusra

Seorang juru bicara Pentagon telah mengkonfirmasi bahwa pemberontak Suriah yang dilatih oleh Amerika Serikat, telah memberikan amunisi dan peralatan untuk kelompok al-Qaeda.

© AFP 2015/ AMC / FADI AL-HALABI

Washington – Pemberontak Suriah yang dilatih oleh Amerika Serikat, telah memberikan amunisi dan peralatan militer kepada kelompok yang terkait dengan al-Qaeda pada pekan ini, ujar juru bicara Pentagon, mengkonfirmasi rumor yang sedang beredar.

Komando Sentral AS (CENTCOM) mengatakan pada hari Rabu sekitar 70 peserta program pelatihan dan perlengkapan peralatan di AS, kembali ke Suriah dari sebuah kamp pelatihan di Turki selama akhir pekan. Kelompok ini adalah New Syrian Force (NSF) yang akhirnya membelot ke kelompok Front Nusra yang terkait al-Qaida.

“Hari ini unit dari New Syrian Force (NSF) menghubungi perwakilan Koalisi dan memberitahu kami bahwa tanggal 21-22 September 2015, mereka memberikan enam truk pick-up dan sebagian amunisi ke perantara yang diduga dari kelompok Front Nusra,” kata Kapten Angkatan Laut Jeff Davis, seperti dikutip The Blaze.

Menyangkal klaim awal tentang pembelotan kelompok NSF, pada hari Kamis, kapten Davis mengatakan semua senjata dan peralatan koalisi yang dikeluarkan berada “di bawah kontrol yang benar” dari New Syrian Force (NSF). Pernyataan ini muncul setelah kelompok Front Nusra berfoto-foto di depan senjata buatan AS dan mempostingnya ke twitter, pada hari Rabu. Senjata itu diklaim dimiliki oleh Front Nusa.

Laporan dari kelompok moderat Suriah, yang dilatih untuk melawan kelompok militan seperti Front Nusra dan kelompok jihad ISIL terkenal, mereka mengaku NSF telah memberikan senjata sebagai pertukaran untuk perjalanan yang aman (safe passage).

Kapten Davis mengatakan Pentagon percaya laporan yang menyatakan bahwa para pejuang (New Syrian Force) NSF menyerahkan senjata ke Front Nusra, adalah kabar palsu dan foto-foto yang diterbitkan adalah gambar tua yang dibelokkan keterangannya (repurposed).

Awal bulan ini, Pentagon mengakui bahwa hanya lima dari 5.000 pejuang terlatih dalam program $ 500 juta US yang benar benar berperang di lapangan. Namun Angka itu kemudian direvisi menjadi sembilan orang.

Sputniknews.com