Jul 112019
 

USS Abraham Lincoln. ( US Navy – commons.wikimedia.org)

Washington, Jakartagreater.com  –  Para pejabat Iran sebelumnya mengecam peningkatan kehadiran militer AS di Teluk, seraya menyebut kehadiran militer negara adikuasa itu di Timur Tengah sebagai “yang terlemah dalam sejarah”, dirilis Sputniknews.com pada Rabu 10-7-2019.

Washington telah mengembangkan rencana untuk menciptakan koalisi militer internasional yang akan melindungi perairan strategis dari Iran dan Yaman, ujar Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Joseph Dunford.

“Kami sekarang terlibat dengan sejumlah negara untuk melihat apakah kami dapat mengumpulkan koalisi yang akan memastikan kebebasan navigasi baik di Selat Hormuz dan Bab al-Mandab,” katanya seperti dikutip oleh Reuters.

“Jadi saya pikir mungkin selama beberapa minggu lagi  kita akan mengidentifikasi negara mana yang memiliki kemauan politik untuk mendukung inisiatif itu dan kemudian kita akan bekerja secara langsung dengan militer untuk mengidentifikasi kemampuan khusus yang akan mendukung itu,” tambah Dunford.

Sebelumnya, Wakil Komandan Armada Kelima AS Laksamana Jim Malloy mengatakan Angkatan Laut tidak akan mengesampingkan pengiriman kelompok penyerang kapal induk USS Abraham Lincoln melalui Selat Hormuz jika hal itu diperlukan. Selat adalah badan air strategis sempit yang memisahkan Teluk Persia dari Laut Arab.

Peningkatan tajam ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat dimulai pada Mei 2018, ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan penarikan unilateral Washington dari perjanjian nuklir Iran 2015.

Bulan lalu, pada peringatan satu tahun pengumuman Trump, para pemimpin Iran mengatakan negara itu akan menangguhkan beberapa komitmen sukarela mereka di bawah kesepakatan nuklir, dengan alasan ketidakmampuan para penandatangan lain untuk menahan tekanan Amerika Serikat.