Feb 242018
 

Jet tempur Rafale EM Angkatan Udara Mesir. © Ahmed XIV via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Negosiasi penjualan sejumlah jet tempur Rafale tambahan antara Prancis dan Mesir terhambat oleh Amerika Serikat. Washington dengan tegas menolak untuk mengekspor komponen rudal jelajah Scalp yang ingin diperoleh Kairo.

Ini terjebak serius dalam negosiasi antara Paris dan Kairo untuk menjual pesawat Rafale tambahan (12 unit) ke Angkatan Udara Mesir, menurut sumber-sumber terpercaya.

Seperti dilansir dari laman La Tribune, saat ini bukan masalah pendanaan seperti dulu. Menurut sumber tersebut, Prancis saat ini tidak dapat memberikan rudal jelajah Scalp yang diproduksi oleh MBDA kepada Mesir karena komponen yang berasal dari AS.

Paris sebelumnya telah memberikan lampu hijau untuk mengekspor rudal Scalp setelah sebelumnya lolos melewati komisi interministerial untuk mempelajari ekspor material perang (CIEEMG), namun Amerika Serikat memblokir penjualan tersebut.

Washington mengikuti International Traffic in Arms Regulation (ITAR). Perang yang baik untuk orang Amerika. Tetapi situasi ini sangat mengganggu orang-orang Mesir, yang benar-benar menginginkan rudal Scalp dan Dassault Aviation tidak ingin melewatkan penjualan Rafale baru tersebut.

Menuju kesepakatan Franco-Amerika yang baru?

Jika pasokan Rafale tidak dalam bahaya, seperti yang dijelaskan ke Tribune, operasi ini jelas diperlambat meskipun sering terjadi antara Paris dan Kairo dari negosiator Mesir dan Prancis dalam minggu-minggu terakhir.

Semua tekanan ada pada MBDA, yang berada ditangan otoritas Mesir, karena sangat menentang rudal tersebut. Begitu banyak sehingga Kairo menginginkan Scalp gratis. Apa yang sebenarnya MBDA tolak. Namun, pada akhir 2017, segala sesuatu kelihatan akan ditandatangani antara Kairo dan Dassault Aviation pada awal tahun ini pada saat kunjungan Emmanuel Macron. Namun tidak terjawab.

Rudal jelajah Storm Shadow yang juga dikenal sebagai SCALP EG buatan MBDA. © David Monniaux via Wikimedia Commons

Entah MBDA mengubah komponen ini, atau Prancis dan Amerika Serikat menemukan kesepakatan pada level yang sangat tinggi. Atas undangan Donald Trump, Emmanuel Macron juga akan mengunjungi Amerika Serikat pada tanggal 23 dan 24 April.

Harus diingat bahwa kunjungan Francois Hollande ke AS pada Februari 2014 lalu telah menyelesaikan penjualan dua satelit mata-mata pada Uni Emirat Arab (UEA). Amerika Serikat kemudian menolak untuk mengekspor beberapa komponen “buatan AS” yang dibutuhkan untuk memproduksi kedua satelit ini.

Berbagi

  78 Responses to “AS Blokir Deal Rafale Prancis-Mesir, Khawatir Penyebaran Teknologi Rudal”

  1.  

    Nah loe beli alat militer dari barat bnyk halangannya

  2.  

    Apa Semuanya Harus Ada Izin US, Ini Tdk Mungkin Saya Tdk Percaya, Tidaaaaaaaaak

  3.  

    yang penggemar dagangan Amerika dibaca baik baik ya

  4.  

    Yah ini yg berbahaya beli mahal2 trus diembargo ga bsa terbang ompong pula…say no to f16 v say yes to support 30 SM/ 35… Indonesia jaya!!!

  5.  

    hal yang sama dapat terjadi di indonesia. karena indonesia dan mesir sama sama negara yang menggunakan alutsista baik dari blok barat maupun timur dan bukan sekutu barat. ifx sudah menunjukkan gejala serupa. jangan remehkan embargo.

  6.  

    imho, kelebihan barat tidak pelit tot tp rawan embargo, sedangkan timur relatif pelit tot ada peluang embargo tp kecil kemungkinan, maka dari itu manfaatkan kedua alutsista barat ataupun timur dengan bijak dan sesuai kebutuhannya. ambil alutsista barat untuk kemandirian, alutsista dari timur untuk efek deteren dan penyeimbang bagi kawasan.

    •  

      skalian klo suampe berani macem2 embargo, jual aja produk barat buat beli barang dari rusia, duit2 kita terserah kitalah

      •  

        Nggak bisa mbah langsung maen jual, ijin dulu sama negara asal yang buat…

        •  

          Kan kata si mbah klu kita di embargo trutama komponen sucadnya. Ya jual aja ketengan yg ga laku bs di kiloin drpd menuh2in lapak. Ga bs di pake krn ada komponen yg rusak tp mau beli gnt nya ga di ksh.

        •  

          Benar bung Suwono Wae… justru syarat yang berat itu salah satunya ini, untuk menjual mesti minta ijin dulu kepada pembuatnya (untuk jet buatan barat)… kalau sampai dilanggar, dipastikan jet yang dijual itu bakalan di black list, dan penjualnya juga di kenai sangsi berat…
          Padahal pembuat barat juga pelit ToT kok, Rafale mensyaratkan India harus membeli 200 pesawat baru dapet ToT, USA dengan F-16 nya tetap tidak mau memberikan teknologi inti, KFX/IFX juga mengalami hal yang sama…

          •  

            Tapi loyalis blok barat bilang klo AS royal memberikan ToT apalagi Offset tuh bung… 😀 klo saya sih tetep non blok… 😆

          •  

            @Bung lingkar mgkn maksud loyalis nya Offside bung dan kartu kuning yg di ksh bkn nya Offset. Bung lingkarnya aja yg salah lht atw dengar, atw loyalis nya yg salah tulis atw salah ngomong. Hhhhh …

          •  

            Bung Yulihantoro, Agato sama Tukang Ngitung PhD kok gak nongol ya, harus nya dia bisa jelasin…apa gak bisa jelasin.. xixixi

  7.  

    Kita hrs bisa buat sendiri campuran barat dan timur

  8.  

    nah lo , masihkah ingin beli produk Yg berbau ASU.?
    atau bahkan produk ASU…??
    itu sebagai contoh ,,,, buat apa beli brng canggih tpi ompong .? mau pakai harus ijin , halah kok njimet aturan si ASU ..
    mending beli dri papah putin ,,,, mau di pakai buat apa aja ok !!!

  9.  

    Gini nih yang di khawatirkan jika membeli buatan barat, untung saja TNI tdk tertarik dgn pespur tawaran usa, bravo sukhoi.

  10.  

    Nggak bisa mbah langsung maen jual, ijin dulu sama negara asal yang buat…

  11.  

    Tnphd, anggito sugigi hahahaha pada ngumpet… nggak punya muka disini… kalo yang di warung sebelah terutama si ayam kate wkwkwk

  12.  

    Semoga fans boys amerikiyah sadar, kembali ke jalan yg benar

  13.  

    Dassault Rafale 4th Generation Multi role Jet Fighter

    https://www.youtube.com/watch?v=Rtr6hVlETlI

  14.  

    Kesepakatan pesawatnya sudah oke, eh giliran rudal malah jadi rumit, meski itu rudal buatan MBDA tapi masalahnya itu rudal menggunakan suku cadang buatan AS… 😆

    Ini bakal terjadi klo ada negara non sekutu yg beli Gripen, soalnya mesin gripen buatan AS..

    Bakalan gak panjang umur tuh Gripen…

  15.  

    kesimpulannya … kemandirian !!!

    harus mandiri, sulit ? ya tentu tdk mudah tapi kudu yakin bisa buat sendiri, biarpun masih sekelas N250 dan N219 Nurtanio … kita sdh percaya diri mampu bikin sendiri dan bisa terbang !!!

    walau bertahap kelak pada akhir nya mampu buat pespur, biarpun dimulai dg model engine baling² ntar kita akan melangkah menggunakan engine jet.

    avionik … utak atik yg ada di pasaran
    radar … ada pakar nya
    fly by wire … sdh pengalaman
    bikin body … oke punya
    bom + roket + pelor … bikin sendiri
    engine … masih beli gak masalah.

    •  

      kemandiriannya sih harus bung, yg jadi pertanyaan adalah apakah ada keseriusan dari pemerintah yg memiliki otoritas utk itu, bukan hanya saat ini tetapi juga yg akan datang…

  16.  

    Kalo begini caranya pakai istilah embargo, negara timur tengah seharusnya pakai produk Russia.. Mesir, UEA, Arab Saudi dan Cs..

  17.  

    Ya jelas gak boleh lah, SCALP itu jangkauan efektifnya aja 1.000 km, dan itu melewati batas jangkauan rudal yg dibolehin Ama MTCR. Mesir itu bukan anggota MTCR, jadi bukan salahnya USA juga orang China dan Rusia ikutan MTCR juga. Zircon juga pasti diturunkan dulu speknya kayak Oniks baru bisa diekspor.

    Yang dilarang oleh USA karena takut penyebaran teknologi rudal itu ya karena teknologi pada SCALP dibawah peraturan MTCR.

    Indonesia bisa masuk MTCR kalo dah sanggup buat rudal sendiri murni sperpart sendiri dan Jangkauannya lebih dari 500-800 km, serta tidak akan terlibat dalam jual beli dan penyebaran teknologi rudal secara ilegal.

    •  

      kesimpulannya untuk alutsista strategis jangan lagi beli blok barat (AS & NATOnya)

      •  

        Yang benar gini, siapun boleh beli senjata strategis, tetapi wajib ikut code of conduct, agreement between supplier and contract…., jika ndak sesuai, kesepakatan bisa di telikung oleh si pembuat kesepakatan, alias embargo sepihak.

    •  

      Pada ngeyel semua dan gak paham MTCR walopun sudah diterangin. Mohon yg paham MTCR bisa dijelaskan pada Russian Fanboys gadungan ini.

      •  

        seandainya yang request scalp sekutu opo NATO juga pasti ga pake mbulet soal MTCR… contoh si zionis bisa aja kan merajuk soal scalp mesir ini.
        itu perancis sebagai anggota MTCR juga sudah oke..krn rudal SCALP-EG itu jadi bagian tak terpisahkan dari kontrak.
        “….Paris sebelumnya telah memberikan lampu hijau untuk mengekspor rudal Scalp setelah sebelumnya lolos melewati komisi interministerial untuk mempelajari ekspor material perang (CIEEMG),….”
        loh….skrg sik ngeyel sopo…???

        •  

          Lah, Emangnya ada berita kalo Israel pesen SCALP ?? Orang Israel itu dah punya Popeye gitu. Lah NATO juga gak sembarangan dikasih, coba ente sebutin negara NATO mana yg bisa beli rudal/teknologi rudal yg jangkauannya melebihi 500 km dan negara itu bukan anggota MTCR, coba kasih tau Ane. Paris Ngasih lampu hijau biar laku tuh Rafale, Mesir beli SCALP karena bisa dipasang di Rafale juga. Padahal bisa terjadi kebocoran info tentang teknologi itu didalam bawahan ke pihak musuh seperti Hamas, Hizbullah, Iran, dan Korut. Ada tulisan itu dimaknai, bukan sekedar baca aja.

        •  

          iyalah iya-iya dong…wong rata-rata anggota MTCR itu NATO (kecuali beberapa dari sedikit eks blok timur).
          intinya…AS pasti akan berlaku lunak kalo itu sekutunya entah itu NATO apa bukan…(bnr ga?? jawab sik ojo ngeyel neh…hiks).

          Perlu diingat tujuan dari pakta ini adalah untuk mengontrol teknologi rudal terutama rudal-rudal yang bisa membawa hulu ledak NUKLIR, membatasi produksi sistem rudal, pesawat tanpa awak, dan semua teknologi terkait yang mampu membawa hulu ledak dengan bobot 500 kg dan jangkauan 300 km.

          Terus knp sy bilang AS LUNAK td..mau contoh??? Ini sedikit saja…
          Pembelian rudal DF-21 oleh Arab Saudi dari Cina pada tahun 2007. Waktu itu, AS/Barat selow2 wae (perlu diketahui klaim cina atas jangkauan rudal ini adalah 5000 km).
          Pada dasarnya, VERIFIKASI AS diberikan dengan pertimbangan politik dan sebagai upaya untuk mempersenjatai sekutunya dengan rudal balistik.

          Masih kurang??…Mau lagi??? Nih….
          AS juga memilih bungkam terhadap pengembangan berbagai jenis rudal balistik dan senjata nuklir oleh rezim Zionis Israel. Tel Aviv telah memproduksi rudal balistik Jericho dengan jangkauan antara 1000-7000 km. Rudal jenis ini tentu saja tidak bisa dikembangkan tanpa bantuan finansial dan teknis dari Washington.

          Di pihak lain, AS dan sekutunya menentang keras keputusan negara-negara anti-Barat untuk mengembangkan teknologi rudal. Salah satu alasan Barat adalah klaim meningkatnya ancaman rudal dengan memperhatikan proliferasi teknologi rudal.

          Ada tulisan itu dimaknai, bukan sekedar baca aja.

          •  

            Sori Bung Mig, ada sedikit kekeliruan. China masih belum terverifikasi dan terdaftar resmi sebagai anggota MTCR, wajar jika bisa ekspor DF-21 ke Arab Saudi.

            Anggota lama NATO dan Polandia sudah menandatangani dan diterima sebagai anggota MTCR. Jadi wajar jika mereka bisa melakukan kerjasama riset untuk teknologi rudal bersama. https://googleweblight.com/i?u=https://en.m.wikipedia.org/wiki/Missile_Technology_Control_Regime&hl=id-ID

            Israel memang bukan anggota MTCR, dan Israel memang dibantu keuangannya oleh USA. Tapi penelitian teknologinya mereka lakukan sendiri. Jangan salah, tanpa USA pun Israel mampu buat rudal dan nuklir. Lah Albert Einstein itu juga orang Yahudi, Mark Zuckerberg, Sergey Brin, hingga Bill Gates itu juga Yahudi. Wajar aja kalo mereka dibantu Yahudi Amerika, Eropa dan Yahudi Internasional.

          •  

            ah bentar bilang anggota bentar bukan anggota…hehe…
            kasian tuh yang dibawah udah dikatain lotol pula.
            dari mana bung agato sampe yakin kalo israel melakukan penelitian sendiri???.Nah kan jadi bawa2 yahudi internasional

          •  

            China memang sudah mengirimkan aplikasi pendaftaran anggota sejak 90an tapi rencana tersebut terkendala karena Ekspor senjata khususnya rudal China kurang transparan.

            Israel sudah melakukannya sejak lama karena selain tuntutan akan ancaman disekitarnya, Israel juga menghabiskan 4,5% GDP untuk riset yg 30% dari dana riset tersebut ditujukan untuk kepentingan militer. Jika GDP 2016 Israel mencapai USD 318 Billions, maka nilainya sebesar USD 14,31 Billions atau sekitar Rp 193 Triliun lebih, ratusan kali dari dana riset di Indonesia.

            https://nypost.com/2017/01/29/why-israel-has-the-most-technologically-advanced-military-on-earth/

          •  

            oke…jd boleh untuk israel walaupun bukan mtcr gt kah??
            anda beropini Australia, Jepang dan Korsel sudah jadi menjadi member MTCR. Jadi Sah2 saja bila seperti Hyunmoo dikembangkan hingga jarak 800 km.
            Kalimat selanjutnya (please jangan biasain ngeles loh hehe…). kira2 sah gak israel ngembangin & memproduksi rudal balistik Jericho ??

  18.  

    Pespur rafale tanpa rual bak macan tanpa taring alias macan ompong hahaha tkut dipake nyerang israel kelessss

 Leave a Reply