Feb 152019
 

JakartaGreater.com – Amerika Serikat telah memulai dan “mempercepat” program rahasia untuk menyabotase uji-coba roket dan rudal Iran sebagai bagian dari misi untuk melemahkan militer Teheran dan mencekik ekonominya, seperti dilansir dari laman New York Times pada hari Rabu.

Dua peluncuran terbaru yang dilaporkan gagal terjadi pada tanggal 15 Januari dan 5 Februari. New York Times mencatat bahwa menentukan keberhasilan program sabotase AS memang tidak mungkin, namun upaya peluncuran telah digagalkan “dalam beberapa menit”. Kegagalan peluncuran tersebut cocok dengan pola yang selama 11 tahun: dua pertiga dari peluncuran orbital Iran selama periode ini gagal, sementara tingkat kegagalan rata-rata untuk peluncuran adalah 5 persen.

“Kami tidak akan diam ketika ada rezim yang mengancam keamanan internasional”, kata Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo dalam pengumuman tanggal 3 Januari, menambahkan bahwa Iran berencana untuk menembakkan Kendaraan Peluncuran Antariksa dengan teknologi yang hampir sama dengan teknologi ICBM. ICBM yang mengacu pada rudal balistik antarbenua.

Sudah banyak dilaporkan bahwa Amerika Serikat menggunakan senjata komputer terhadap Iran pada akhir 2000-an dengan Worm Stuxnet, perangkat lunak tingkat tinggi yang dirancang “melarikan diri dari dunia digital dan melampiaskan perusakan fisik” untuk menyabotase sentrifugal di pabrik nuklir Iran, menurut laporan majalah Wired.

Perlu dicatat bahwa pada kampanye sabotase baru Gedung Putih Trump terhadap peluncuran antariksa Iran tidak akan mengagetkan Teheran. Tahun 2016, seorang komandan militer senior Iran Brigjend Amir Ali Hajizadeh mengumumkan bahwa musuh-musuh Iran berusaha untuk “mengulangi sabotase nuklir mereka di area rudal”, menurut laporan Press TV.

Hajizadeh, Kepala Divisi Aerospace Korps Garda Revolusi Islam, mungkin merujuk pada Stuxnet atau sanksi lain yang dikenakan Washington terhadap Iran karena menguji coba rudal balistik, menurut catatan Press TV saat itu.

“Setelah JCPOA [Rencana Aksi Komprehensif Bersama, disebut juga kesepakatan nuklir Iran], sebagian besar fokus dari dinas intelijen, terutama oleh Amerika, telah beralih ke masalah rudal”, kata Brigjend Hajizadeh pada 2016.

John Bolton, penasihat keamanan nasional Amerika Serikan, mengkonfirmasi pada bulan September bahwa Gedung Putih telah mengizinkan “operasi serangan siber” untuk mencegah musuh asing, tulis The Washington Post.

Bagikan