Sep 272018
 

Menhan Ryamizard Ryacudu saat diwawancarai wartawan usai memberikan pembekalan kepada 54 atase pertahanan, atase udara, atase laut dan atase darat, pada 26-9-2018 di Kantor Kemenhan, Jakarta,  Twitter Kemenhan

Jakarta, Jakartagreater.com   –   Menteri Pertahanan Rymizard Ryacudu meminta para Atase Pertahanan (Athan) RI yang akan ditempatkan di negara-negara sahabat untuk terus melakukan program diplomasi pertahanan dan menentukan target pengumpulan informasi strategis mengingat kondisi saat ini dihadapkan pada dinamika geopolitik, dirils Antara.

“Sebagai duta bangsa bidang diplomasi pertahanan sekaligus sebagai perwira intelijen strategis, kalian harus memiliki konsep sebagai acuan dan arah dalam melaksanakan tugas,” kata Menhan saat memberikan pembekalan kepada 54 Atase Pertahanan, pada Rabu 25-9-2018 di Kemhan, Jakarta Pusat.

Dalam pembekalannya, Ryamizard mengatakan, hakikat dan filosofis pembangunan strategi dan arsitektur pertahanan negara dalam tatanan negara demokrasi sejalan dengan prinsip demokrasi kerakyatan atau “supremacy sipil”, otoritas sipil memiliki kewenangan untuk mengendalikan kekuatan militer yang pelaksanaannya di delegasikan kepada Presiden melalui Menteri Pertahanan.

Secara politis, Menhan selaku pembantu Presiden dalam bidang pertahanan memiliki otoritas tertinggi di dalam mendesain dan menentukan kebijakan strategis pertahanan negara termasuk di dalamnya melaksanakan kontrol demokratis terhadap kekuatan militer.

“Dalam hal ini, kedudukan TNI adalah sebagai alat atau instrumen pertahanan negara guna mendukung terwujudnya sasaran arsitektur pertahanan negara sebagaimana saya sebutkan diatas. Sementara itu fungsi Polri adalah sebagai instrumen keamanan dan ketertiban masyarakat,” katanya.

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ini mengatakan, pembangunan kekuatan pertahanan negara setiap bangsa di dunia diarahkan untuk mewujudkan kawasan dan dunia yang aman, damai dan kesejahteraan. “Inilah yang merupakan esensi dan titik nol arah kompas yang senantiasa perlu di kalibrasi yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi aktual lingkungan strategis kawasan,” ujarnya.

Konsep ini, kata dia, telah disepakati dan diimplementasikan oleh kawasan ASEAN ?dimana Indonesia telah melewati kebersamaan di dalam ASEAN selama 51 Tahun. “Kebersamaan dalam ASEAN yang selalu rukun, damai dan bersahabat.

Kita selalu dapat menyelesaikan setiap persoalan dan perbedaan pandangan dengan semangat kebersamaan dan persatuan,” ujarnya. Hal itu menjadi modalitas utama kekuatan kawasan dalam menavigasi berbagai potensi ancaman dan tantangan yang selalu silih berganti menghantui kawasan Indonesia.

Menurut Ryamizard, komitmen dan budaya ASEAN yang juga dikenal dengan “ASEAN Way” juga menjadi pondasi utama di dalam membangun kerja sama pertahanan sekaligus sebagai arah utama di dalam menyusun arsitektur keamanan demi terwujudnya kawasan ASEAN yang stabil, aman dan damai.

“Dalam merumuskan arsitektur keamanan kawasan kita perlu selalu mengacu pada penilaian kondisi aktual potensi ancaman kawasan masa kini dan masa yang akan datang,” ucap purnawirawan Jenderal bintang empat ini.

Ia menambahkan, tantangan dan ancaman ASEAN pada masa kini berbeda dengan ancaman yang dihadapi pada 51 tahun lalu. Ancaman tersebut selalu berevolusi secara terus menerus sejalan dengan perkembangan geopolitik lingkungan strategis yang dinamis dan selalu berubah sejalan dengan tren kompetisi global antar kepentingan aktor negara dan aktor bukan negara.

Salah satu titik berat kepentingan Indonesia, tambah dia, bagaimana mewujudkan stabilitas keamanan dan perdamaian di kawasan yang kondusif sebagai bagian integral dan kepentingan nasional Indonesia dengan mengantisipasi berbagai potensi ancaman bersama di kawasan yang mungkin timbul serta upaya untuk mengatasinya.

“Dengan kondisi keamanan yang meningkat, maka akan dapat menopang pertumbuhan ekonomi nasional guna mewujudkan masyarakat Indonesia yang makmur dan sejahtera,” tutur Menteri Pertahanan Rymizard Ryacudu .

 Leave a Reply