Australia Keluarkan Peringatan Berkunjung ke Indonesia

59
72
Sejumlah warga Australia korban selamat tragedi Bom Bali pada 2002, hadir menggunakan kursi roda pada peringatan Bom Bali
Sejumlah warga Australia korban selamat tragedi Bom Bali pada 2002, hadir menggunakan kursi roda pada peringatan Bom Bali

Pemerintah Federal Australia mengeluarkan peringatan bagi warganya agar ekstra berhati-hati ketika berkunjung ke Indonesia, 5 Januari 2015. Peringatan berkunjung ini dikeluarkan oleh Negeri Kanguru setelah Amerika Serikat pada Sabtu kemarin juga memberikan peringatan mengenai adanya kemungkinan ancaman teroris di Tanah Air.

Harian Sydney Morning Herald (SMH), Selasa, 6 Januari 2015, melansir informasi tersebut dari situs resmi Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) yang memperbarui peringatan perjalanan dan meminta warga Australia untuk memiliki kehati-hatian tingkat tinggi. Walaupun tidak meminta mereka untuk mempertimbangkan kembali kunjungannya ke Indonesia.

Menteri Luar Negeri, Julie Bishop, mengatakan perbaruan peringatan perjalanan itu dilakukan untuk merespons informasi yang disampaikan oleh badan keamanan.

“Australia tengah memantau situasinya dari dekat. Untuk itu kami bekerja sama dengan badan intelijen dan keamanan Indonesia serta institusi penegak hukum,” ungkap Bishop yang tengah berada di Perth.

Australia sebelumnya pernah menjadi target sasaran tindak teror di masa lalu. Mulai dari bom Bali I di tahun 2002 hingga pengeboman di depan Gedung Kedutaan Besar Australia di tahun 2004 lalu. Data menyebut dalam tragedi bom Bali I, warga Australia menjadi korban tewas terbanyak yaitu mencapai 88 orang.

Namun, Bishop menyebut badan keamanan Australia mengeluarkan peringatan tidak semata mengandalkan peringatan serupa yang dikeluarkan AS.

Dia pun mengaku masih tetap akan nyaman jika saat ini tengah berada di Bali untuk berlibur. “Iya, saya tetap merasa nyaman berlibur di sana,” kata dia.

Sebelumnya, pada akhir pekan lalu, Kedubes AS di Jakarta mengeluarkan peringatan bagi warga mereka agar berhati-hati dan menjauhi bank dan gedung yang ada kaitannya dengan AS di Surabaya, Jawa Timur.

Hal itu lantaran diduga banyak warga Surabaya yang ikut berangkat ke Suriah dan Irak untuk berperang bersama kelompok militan Islamic State of Iraq and al Sham (ISIS).

Namun, peringatan keamanan itu dianggap oleh sebagian besar otoritas di Indonesia berlebihan. Kapolri Jenderal Sutarman memastikan kondisi kota Surabaya tetap aman. Begitu pula dengan kondisi kota-kota lain yang ada di Indonesia.

Sementara itu, perwakilan Polri telah menemui pejabat Kedubes AS di Jakarta untuk mengklarifikasi hal tersebut. Dari hasil pertemuan itu disimpulkan apa yang disampaikan oleh Kedubes AS hanya saran biasa, bukan travel warning.

“Bukan travel warning, melainkan peringatan atau saran bepergian,” kata Kadiv Humas Polri Inspektur Jenderal Ronny F. Sompie. (VIVA.co.id).

59 KOMENTAR

    • tahu, tempe, harga masih murah mbah ……… beras… masih sekitar 7.500 – 8000 / kg ……. setara harga bensin lah / liter ……….. …….

      yang mahal harga diri mbah bowo ….. banyak yang lupa dimana ia dilahirkan, lupa dimana ia makan dan minum,..lupa dimana ia tiap hari hirup udara ………… mala orang orang ini, lebih memuja bangsa asing,…. heheheh…xixixixi…. termasuk anda sendiri mbah bowo ……… kasian si kakek pemuja naga mainan china ….

  1. baru kemaren USA, skrng AUSIE.. lagu lama terulang kembali.harus nya jika sesuai prosedur, Kemenlu melakukan protes atau veripikasi kepada pihak Ausie, hal ini umum dilakukan oleh negara negara dunia untuk meminta penjelasan atas munculnya larangan bepergian kesuatu negara. yang semua nya di atur oleh SOP dan Protap suatu negara.karena jika tidak di lakukan akan menjadi bola panas. bisa aja besok besok eropa juga melakukan hal yang sama .imbas nya jelas, sektor pariwisata terkena ,

    sakitnya tuh di dompet

  2. yg mau bikin teror ya mereka sendiri bukan karna intel mereka yg canggih maka ga heran kalau mereka tahu, semoga intel kita ga sampai kecolongan.
    Gara gara ulah pemerintahnya yang suka ngacak ngacak negara lain jadinya warganegaranya bisa jadi target kebencian.

  3. Malah sebenarnya yg gue perhatikan banget itu yg benua hitamnya Indonesia, Papua, itu target utama nya asu and ausit, mereka lagi mencari cara bagaimana masuk Papua dengan dengannya alasan melindungi Papua dari pelanggaran ham, jadi fokus Intel kita harus benar benar akurat dipapua, kayaknya opm sudah bersiap siap deklarasi Papua merdeka, mungkin dalam 1 atau 2 thn ini, mungkin ada gejolak yg luar biasa di Papua, kita mesti waspada terhadap operasi intelijen asing di Papua. Maaf hanya analisa orang awam,waspadalah tni ku.
    Assalamualaikum semua.

  4. aaneh…tragedi air asia kok dibiaskan ke kasus teroris ya?..memang sinyal black box yang hilang dalam air sejauh 30 meter memang aneh. Lalu sampai pada kesimpulan apa hal tersebut diduga dilakukan oleh ISIS?..Cepat sekali praduganya bila berbanding kasus mh 370 yang bahkan posisinya saja tidak diketahui. Mengapa ASU tidak menyatakan hal yang sama? ..imho..

  5. sdh saat nya pemimpin negri ini bijak dgn memborong alutsista rusia,dri su 35,su34,rudal s 300,400,500,juga dgn kapal selam nya,dgn begitu kita pasti akan mndpt tot 100%,dan juga destroyer nya,,brang nya sdh dtg full tentenganya,,standby di stiap pojok NKRI,dgn bgtu kita akan tenang,,bisa mengejar tot dgnnyaman tanpa kegelisahan,siapa yg mau macem2..?????pasti sungkanlah,logika aja,seorg preman dgn otot kekar dan badan gempal tinggi besar dengan menyandang samurai dipundaknya,dengan Ss 2 buatan pindad digenggamanya dan dengan bayonet di paha kanan nya,,gmn kira kira kl kita berjumpa dgn org sprti itu???yg pasti kita akan berlaku sopan denganya,atau bs juga kita menghindar agar tdk berpapasan denganya,krn takut terjdi salah paham bisa nyawa jdi taruhan..hehehehehe..masuk akal juga kan?????salam.NKRI HARGA MATI…..!!!

    • Teroris harus dilawan dengan kemampuan intelijen yang kuat.Kalau melawan musuh yang jelas,memang dibutuhkan senjata dan kemampuan militer yang kuat.Namun melawan teror yang tersembunyi, TNI / Polri dan masyarakat harus benar benar kerja keras melawannya.Namun yang perlu dipertanyakan adalah apa memang benar yang membuat Teror di negara ini benar benar benci dengan negaranya,saya yakin pasti ada negara luar yang mem’backing’pelaku teror ini. Bila memang cinta negara ini,tidak bakalan ia meneror saudara mereka sendiri di Indonesia.