Mar 302018
 

ilustrasi: Desain Ground-Space based hybrid laser weapon concept. (photo: U.S. Air Force via commons.wikimedia.org)

Sydney – Kalangan ilmuwan Australia mengembangkan laser yang bertenaga yang berpusat di daratan yang menyasar sampah angkasa akan siap digunakan tahun depan. Mereka mengatakan ratusan ribu keping sampah angkasa mengitari bumi yang berpotensi untuk merusak atau menghancurkan satelit.

Menekan jumlah sampah angkasa di orbit telah menjadi fokus dari pertemuan kalangan ilmuwan pekan ini di Canberra yang diselenggarakan oleh Australia Space Environment Research Center, dirilis VOA Indonesia, 25-3-2018.

Rapat tersebut telah mengetahui bahwa laser yang memanfaatkan energi dari radiasi cahaya untuk menyingkirkan benda-benda di angkasa kemungkinan akan siap untuk digunakan dalam waktu satu tahun. Para peneliti di Australia percaya bahwa teknologi akan mampu untuk mengubah jalur sampah angkasa di orbit untuk mencegah tumbukan dengan satelit.

Tujuannya adalah untuk secara berangsur-angsur membangun sistem laser yang bertenaga yang dapat mendorong puing-puing angkasa ke atmosfir bumi, dimana puing-puing itu akan terbakar. Professor Craig Smith, kepala EOS Space Systems, sebuah perusahaan Australia yang mengembangkan peralatan penghancur sampah angkasa, menjelaskan cara kerjanya.

“Kami melacak benda-benda dan memprediksi peluang terjadinya tumbukan dengan tingkat akurasi yang tinggi dan apabila kami perkirakan sebuah obyek puing angkasa akan bertumbukan dengan benda puing angkasa lainnya maka kami dapat memanfaatkan laser yang kami miliki untuk mengubah orbitnya ketimbang menabrak satelit atau obyek puing angkasa lainnya yang menyebabkan terciptanya lebih banyak puing angkasa.

Sekali lagi saat kami tingkatkan kekuatan laser, ya, anda benar-benar dapat memindahkannya dengan jarak yang cukup dengan mengurangi kecepatan satelit sehingga satelit itu dapat mengubah ketinggian orbit dan berangsur-angsur menyentuh atmosfir dan atmosfir kemudian mengambil alih dan menariknya,” ujar Smith.

Sistem ini, yang akan dioperasikan melalui sebuah teleskop dekat ibukota Australia, Canberra, diharapkan selesai awal tahun depan. Diperkirakan ada 7.500 ton sampah di angkasa. Ini termasuk perkiraan setengah juta keping sampah seukuran kelereng, sementara benda-benda lain, seperti roket yang sudah dibuang dan bagian wahana angkasa yang tidak digunakan lagi, ukurannya jauh lebih besar.

Tahun 2012, satelit Envisat Earth Observation berbobot delapan ton diluar perkiraan berhenti berfungsi di orbit dimana satelit itu berada hingga kini. Seukuran bus sekolah, satelit ini adalah keping “sampah” terbesar di orbit dan dapat menjadi bahaya yang menimbulkan bencana apabila ditabrak keping angkasa dan hancur menjadi kepingan-kepingan.

Namun puing angkasa tidak harus berukuran besar untuk menyebabkan kerusakan. Sekeping kecil cat yang mengambang diperkirakan menjadi penyebab retaknya jendela pada International Space Station. Di Eropa, jaring dan tombak pengait berukuran besar dikembangkan untuk menangkap kepingan-kepingan yang mengelilingi planet.