Feb 142019
 

JakartaGreater.com – Australia telah secara resmi menandatangani “kemitraan strategis” senilai AU$ 50 miliar atau sekitar AS$ 35 miliar dengan Prancis untuk membangun 12 kapal selam canggih pada hari Senin, seperti dilansir dari laman Daily Sabah.

Ini merupakan sebuah sinyal unutk kesediaan Canberra dalam memproyeksikan kekuatan di Pasifik serta mengakhiri pertikaian dua tahun, yang menimbulkan keraguan atas salah satu dari penawaran pertahanan paling menguntungkan di dunia.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison memuji “rencana yang sangat berani” pada sebuah upacara di Canberra sebagai “bagian dari investasi waktu damai terbesar di Australia dalam bidang pertahanan”.

Pilar utama kemitraan adalah kontrak untuk Naval Group Prancis (dulu DCNS) – sebuah konsorsium dengan dukungan negara – untuk membangun 12 unit kapal selam kelas penyerang dan telah bertahun-tahun dalam pembuatan.

(L-R) Australian Defense Minister Christopher Pyne, PM Scott Morrison and French Defence Minister Florence Parly shake hands after signing Attack class submarine Strategic Partnering Agreement in Canberra, Feb. 11, 2019. (Lukas Coch via Reuters)

Kira-kira senilai AS$ 35 miliar ini adalah proyek pengadaan pertahanan terbesar di Australia dan kesepakatan penjualan asing terbesar yang pernah dilakukan oleh galangan pembuat kapal asal Prancis, Naval Group.

Kapal selam pertama diharapkan selesai pada awal 2030-an, dimulai dengan uji coba laut sekitar kuartal pertama 2031 dan pengujian operasional pada akhir 2032.

Australia memilih produsen kapal asal Prancis sebagai penawar terpilih untuk memproduksi kapal selam pada tahun 2016 di depan tawaran lain dari Jepang dan Jerman. Namun, kontrak akhir ditunda di tengah laporan media domestik tentang ledakan biaya dan penundaan produksi.

Australia menolak tawaran Mitsubishi Heavy Industries dan Kawasaki Heavy Industries asal Jepang, serta ThyssenKrupp AG asal Jerman, saat memutuskan untuk menerima tawaran Prancis.

Kapal selam diesel listrik (SSK) Shortfin Barracuda Blok 1A © DCNS Australia

Australia telah berusaha melenturkan otot militernya, serta berkomitmen untuk membelanjakan 2 persen dari produk domestik bruto (PDB) untuk pertahanan pada tahun 2020 dan 2021.

Australia telah membelanjakan lebih dari $ 200 miliar dalam investasi militer dan pembelian pertahanan, termasuk enam pesawat mata-mata jarak jauh dari AS, 12 kapal patroli laut bertenaga besar dan 211 “tank super” penggerak delapan roda dari Jerman dan sembilan fregat tempur dari Inggris.

Para pengkritik mengatakan itu sudah terlambat: perairan di Utara dan Timur Australia adalah tempat pergulatan intens antara Amerika Serikat, China dan kekuatan-kekuatan regional, yang semuanya berlomba-lomba untuk mencari pengaruh.

Beijing telah membuat klaim teritorial atas sebagian besar Laut China Selatan – jalan raya kelautan yang sangat penting untuk mempertahankan pasokan bijih, mineral dan minyak mentah yang menghidupkan ekonomi Tiongkok.

Washington khawatir bahwa China menjadi semakin tegas terhadap klaim-klaim untuk menunjukkan dominasinya atas negara-negara Asia yang lebih kecil dan menjadi kekuatan utama regional.

  11 Responses to “Australia Resmi Teken Kontrak $50 Miliar dengan Naval Group”

  1.  

    semakin mereka kuat
    semakin arogan.
    mereka selalu menganggap kita sebagai musuh dari utara.
    padahal kita adem adem saja.

  2.  

    mudah2an dlm kurun waktu segitu kita jg sdh memiliki 12 kasel.

  3.  

    Tueu seek, bensegwe