Nov 042014
 

oleh : Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan,  www.ramalanintelijen.net


Modersisasi-TNI-AU

Dasar pemikiran strategis dari Pimpinan TNI, khususnya TNI AU serta Kemenhan untuk memodernisasi daya pukul alutsista TNI AU membawa angin segar dalam bidang pertahanan Indonesia. Kebutuhan akan Angkatan Udara yang kuat dan disegani tersebut disetujui oleh Presiden SBY, dan kemudian mendapat apresiasi dan persetujuan DPR. Sebuah kesadaran dan kebersamaan yang cerdas dalam mempertahankan kedaulatan bangsa dan negara. Upaya untuk mencapai kekuatan pokok minimum, MEF (Minimum Essential Force) pertahanan masih menjadi fokus kebijakan pembangunan kekuatan dan kemampuan TNI ke depan.

Setelah melalui jalan panjang, TNI AU mulai dibenahi oleh pimpinan nasional yang melihat betapa pentingnya peran angkatan udara disebuah negara. Sebagai contoh, Amerika Serikat memainkan USAF sebagai sarana pendikte dan mementahkan kekuatan militer Libya, dalam membantu pemberontakan di Libya terhadap Kolonel Khadafi. Demikian juga operasi clandestine CIA yang menggunakan pesawat tanpa awak untuk mengejar dan membunuh tokoh-tokoh Al-Qaeda dinyatakan sukses dengan kertugian sangat minim.

image003

Rudal Exocet (photo: ARC.web.id)

TNI AU mulai menggunakan keluarga Sukhoi-27 pada tahun 2003 setelah batalnya kontrak pembelian 12 unit Su-30MKI pada 1996. Kontrak tahun 2003 mencakup pembelian 2 unit Sukhoi-27SK dan 2 unit Sukhoi-30MK senilai 192 juta dolar AS tanpa paket senjata. Itulah awal kebangkitan kekuatan udara Indonesia dalam mengimbangi kekuatan udara negara tetangga.

Disamping itu Indonesia sudah menandatangani kerjasama dengan Korea Selatan, berpartisipasi membangun pesawat tempur generasi 4,5 KFX/IFX (Korean-Indonesian Fighter Xperimental), Boramae, yang dalam rencana awalnya TNI AU akan memiliki sebanyak 50 buah pada tahun 2020. Masa depan KFX/IFX Boramae menjadi tidak jelas setelah Pemerintah Korea Selatan menyatakan memotong anggaran proyek tersebut.

image005

Dari sejarah Indonesia menyangkut kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, konflik dan ancaman kedaulatan negara hanya terjadi karena gesekan dengan negara tetangga. AU Indonesia mulai lebih disegani setelah acara MAKS 2007 di Moskow, dimana Departemen Pertahanan mengumumkan kontrak untuk pembelian 3 unit Sukhoi-27SKM dan 3 unit Sukhoi-30MK2 senilai 350 juta dolar AS. Kini TNI AU sudah memiliki 10 Sukhoi dan akan lengkap menjadi satu skadron pada 2014. Disamping pada 2014 mendatang, TNI AU akan memiliki 34 F-16 setara Block 52 ( 24 F-16 C/D asal dari hibah dan 10 upgrade F-16 TNI AU sepaket dengan hibah F-16).

Kegundahan Australia
Dalam meninjau ancaman, intelijen udara mengukur dari sisi kekuatan, kemampuan dan kerawanan baik unsur penyerang maupun unsur pertahanan musuh ataupun calon musuh. Standar analisa intelijen udara di negara manapun menggunakan standar yang sama, 3K dan 1N(Niat). Sejak operasi Trikora pada 1961, Australia walaupun tidak secara langsung menempatkan Indonesia sebagai ancaman, mengatakan bahwa musuh akan datang dari Utara. Australia menggelar kekuatannya lebih fokus ke Utara, pengamatan wilayah dilakukan dengan over the horizon radar, yang mampu memonitor hingga pulau Jawa dan Kalimantan.

Sejak TNI AU mengikuti latihan bersama Pitch Black 2012, pemerintah Australia, khususnya RAAF merasakan kegundahan dan keterkejutan, dimana Su-30 TNI AU ternyata lebih unggul dibandingkan F-18F Super Hornet hampir disemua lini. Dari hasil latihan tersebut, Australia harus membuat pilihan, memilih rencana pengadaan 100 unit F-35 Lightning dari Amerika (joint strike fighter) atau tetap membeli dua skadron 24 F-18 Super Hornet.

image007

The Business Spectator menyatakan, “Indonesia merencanakan akan membeli 180 pesawat tempur Sukhoi dari Rusia/India yaitu PAK-FA T-50 atau Su-35S. Jadi pertanyaannya lebih baik dipilih F-35 daripada Hornet. Apabila Indonesia kemudian dimasa depan ikut memperkuat Angkatan Udaranya dengan Su-35S atau T-50, maka AU Australia akan menjumpai masalah besar, demikian kesimpulannya.

Siaran pers resmi yang ditulis harian Rossiiskaya Gazeta mengatakan bahwa T-50 akan menggabungkan fungsi dari peran sebagai pesawat serbu dan fungsi sebagai jet tempur. Pesawat ini dilengkapi dengan avionik modern yang mengintegrasikan fungsi elektronik dan array radar. Perlengkapan baru tersebut akan memberikan kesempatan kepada penerbang untuk lebih berkonsentrasi dalam melakukan tugas pertempuran.

Para pengamat militer di Australia menyatakan bahwa dalam memegang slogan RAAF (first look, first shoot, first kill’), para pejabat pertahanan harus berjuang keras mencari jalan keluar dengan tidak mempertahankan Hornet yang dianggap sudah ketinggalan jaman. Sukhoi oleh Australia dinilai terlalu hebat.
image009

Lebih jauh analis Bisnis Spectator menyatakan, “Sebagai contoh, JSF (Joint Srike Fighter) dapat beroperasi secara efektif hanya untuk ketinggian maksimal sekitar 40.000 kaki (walau masih bisa beroperasi lebih tinggi tetapi kalah di tingkat yang lebih tinggi). Sebaliknya, Sukhoi dapat beroperasi pada kapasitas penuh di tingkat yang jauh lebih tinggi dan dengan kelebihan dan keuntungan, mereka memiliki sistem dan senjata yang bisa meruntuhkan sebuah JSF Australia sebelum mereka memiliki kesempatan menerapkan slogannya.” Ditegaskan oleh BS bahwa tidak ada pertempuran udara yang diperlukan. Pesawat Australia sudah runtuh sebelum bertempur, karena disergap jauh sebelum dia menyadarinya.

Jalan keluar yang disarankan adalah apabila Australia (RAAF) memiliki F-22 Raptor atau teknologi Raptor yang diterapkan pada pesawat tempur pilihan yang dipilih. Yang menjadi masalah, Amerika tidak mengijinkan F-22 dijual kepada negara lain selain untuk kepentingan pertahanan dalam negerinya.

Yang menarik, New Australia merekomendasikan Australia justru memilih Sukhoi seperti yang dilakukan India, mendapatkan lisensi dengan ijin membangun Sukhoi Australia, baik Sukhoi Flanker Su-35S atau pesawat Su-32 Fullback. Preferensi saat ini adalah Su-35S. Saat ini Sukhoi memberikan lisensi pembuatan pesawat tempur di India dan China. Australia bisa membeli utuh pesawat Sukhoi dan membangun avioniknya, dan persenjataan lokal. Kini banyak perusahaan di Rusia, Asia, Israel dan Eropa terlibat dalam pembuatan komponen Sukhoi. Sukhoi adalah ‘open source’,demikian menurut New Asia.

Dalam pemikiran strategis, Australia selain memandang Indonesia sebagai ancaman, juga menempatkan India sebagai ancaman. Selain itu perkembangan situasi Hankam di kawasan Laut Pasifik Selatan, menjadi perhatian Australia dengan kerjasamanya bersama Amerika. Pada pemerintahan Kevin Ruud Australia berposisi anti India, pada posisi ini menempatkan Australia terpaksa membeli F-35. Dalam pemerintahan Julian Gillard, Australia akan mendekati India dan menjadi sekutunya, berpeluang bisa mendapatkan peluang memiliki T-50. Australia menurut RBTH disarankan lebih baik memiliki Super Flankers yang murah (USD 66 juta/buah) dibandingkan harga F-35 (USD 238 juta/buah).

Sukhoi dinilai jauh lebih unggul dibandingkan JSF. Su-35 memiliki jangkauan efektif sekitar 4.000 km dibandingkan dengan hanya 2.200 km untuk F-35. . Ini berarti JSF membutuhkan dukungan pesawat tanker untuk menutup ruang (wilayah Australia) yang lebarnya 4.000km. Selain itu, kecepatan Su-35 adalah Mach 2,4 (hampir dua setengah kali kecepatan suara), sedangkan F-35 terbatas pada Mach 1.6. Menurut Victor M. Chepkin, pertama wakil direktur umum NPO Saturn, mesin AL-41f baru akan memungkinkan jet Rusia untuk supercruise (terbang pada kecepatan supersonik untuk jarak jauh.) Dengan tidak harus beralih ke afterburner. Dengan demikian, pesawat dapat mengirit bahan bakarnya. Kesimpulannya baik F-35 maupun F-18 performance-nya berada dibawah Su-35.

Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan

Marsda TNI (Pur) Prayitno Ramelan

Kini Australia menghadapi dilema kegundahan. RAAF terus mengikuti perkembangan modernisasi TNI AU. Dengan memiliki keluarga Flankers, maka Indonesia pada masa mendatang bukan tidak mungkin akan bisa memiliki pesawat tempur Su-35, dan bahkan pesawat tempur T-50 generasi kelima. T-50 PAK FA jet tempur (Prospective Airborne Complex of Frontline Aviation) kini sedang mengalami uji engine di Zhukovsky Airfield, Moscow. Menurut Viktor Bondarev, Commander in Chief Russian Air Force, tes T-50 akan memakan waktu sekitar 2-2,5 tahun, sehingga pada tahun 2015-2016, T-50 akan sudah dapat di kirim ke AU Rusia.

Berdasarkan beberapa fakta tersebut, nampaknya Australia kini berada dalam kondisi mengalami kegundahan seperti tahun 1961, dimana Tu-16 AURI mampu mencapai daratannya tanpa terdeteksi dan tidak dapat diantisipasi. Dengan memiliki gabungan alutsista tempur udara Timur dan Barat, Indonesia kini menjadi negara yang disegani negara-negara tetangganya.

Australia menjadi lebih gundah setelah mengetahui Indonesia tertarik untuk mendirikan sebuah pusat perawatan bersama untuk pesawat fixed dan rotary wing Rusia. Victor Komardin, wakil kepala Rosoboronexport, eksportir peralatan perang Rusia, telah mengumumkan hal tersebut di Air show LIMA 2013 di Malaysia.

Disimpulkan, dengan sudah mengawali kepemilikan keluarga Flankers (Su 27/30), Indonesia (TNI AU) menjadi negara yang sangat diperhitungkan oleh Australia dan pasti juga oleh tetangga lainnya. Alih teknologi ke pesawat yang lebih canggih hanyalah soal waktu yang tidak terlalu rumit dilakukan TNI AU apabila ada pengembangan kekuatan. Australia sangat khawatir Indonesia berpeluang memiliki Su-35 dan bukan tidak mungkin dengan ekonominya yang semakin baik, suatu saat Indonesia akan memiliki pesawat tempur T-50.

Memang sebaiknya intelijen udara berfikir jauh dan strategis, memperkirakan perkembangan situasi global dan regional dan memberikan masukan kepada pimpinan yang up to date. Yang terutama harus kita fahami adalah betapa pentingnya kemampuan TNI AU dengan daya “kepruknya.” Itulah prinsip dasarnya agar kita diperhitungkan. Semoga bermanfaat.

Catatan: masing-masing gambar berada pada kepemilikan dari pembuatnya, pemuatan hanya berdasarkan diskripsi semata.

Pengirim: Bapak Besar

  132 Responses to “Australia Semakin Gundah dengan Modernisasi Alutsista TNI AU”

  1.  

    halah.. gundah gimana.. terbalik dunk… justru apa mrk gak mikir justru kita yang gundah sama kemajuan alutsista nya ausie.. mrk sudah beli f 35, kapal induk helikopter yang bisa jadi Kapal Induk f 35, dan perusak hobart dll… justru jgn sampe ausie teriak2 Indonesia alutsista nya maju tp ausie terus modernisasi alutsista nya.. kita harus berpegang teguh kesetaraan.. tp ausie sepertinya memegang prinsip selalu lebih maju dr tetangga.. sama seperti s’pore.. kalau bisa indonesia jg berubah prinsip dr kesetaraan menjadi prinsip lebih maju dr tetangga.. IMHO

    •  

      bung @inoet, memang aussie sdh kontrak pembelian F-35 A Lightning II Joint Strike dari Lockhead Martin, sekitar 72 unit (jika ngga salah), tetapi yg baru selesai & uji terbang baru 1 unit awal Oktober lalu, mereka memang 1 langkah di depan Indonesia, tetapi jika TNI & pemerintah bisa bergerak cepat, rasanya ngga mustahil kita juga dpt pespur yg secara spec. di atas F-35 A 1 atau 2 thn ke depan, apalagi sdh masuk dlm APBN, dibutuhkan adalah diplomasinya…

      •  

        bung @ Heriyanto, iya om.. saya percaya pemerintah kita sudah mengantisipasinya dengan perkembangan alutsista Ausie.. seperti F 35 mrk kita antisipasi dengan pengadaan SU 35 atau sekelas ( moga2 terwujud ), Kapal induk helikopter mrk sudah di jawab oleh petinggi kita kalau indonesia belum membutuhkan kapal induk dan masih bisa memakai LPD, dan Kapal perusak Hobart mrk saat ini masih bias di antisipasi dengan Kapal Selam ” BNV gentayangan ” yang cukup membuat Ausie pengen tahu apakah benar ada atau tdk ( dan biar pun kita belum tau bener atau tidak, tapi mungkin cukup menggetarkan ausie 🙂 ) tp saya yakin pemerintah kita lagi memikirkan tandingan Hobart dengan destroyer sekelas.. dan radar jindalee mrk kita hadapi dengan radar dari China yang akan di tempatkan di kupang ( masih proses kalau dr berita JKGR )..
        IMHO

      •  

        bung Heriyanto, kalau utk beli Alutsista tidak harus memakai dana APBN! Msh ada sumber-sumber dana lain kog, spt contoh paling gampang yaitu Kredit ekspor baik dr pemerintah atau bank komersial.
        Dulu di tahun 1994 pembelian 32 pesawat Hawk 109 dan 209 memakai sumber dana dari kredit ekspor pemerintah Inggris! kalau pakai APBN gak cukup !!!

  2.  

    gambar no 4 seperti pesawat jet pribadi orang kaya yg parkir di halim.

  3.  

    Ibarat gado-gado VS burger.

    1.Gado-gado
    Pros :
    – anti oksidan ( sayur mayur )
    – rempah asli alam
    – vegetables
    – kaya rasa
    – Cepat saji
    – murah meriah bergairahhh
    Cons :
    – bisa pedes bisa ga
    – yg jual abang” tp punya BMW di kampungnya
    – murah meriah

    2. Burger
    Pros :
    -. Eksklusif dan premium
    -. Di sajikan di ruang ber AC ( kebanyakannya sih…)
    -.Makanan ASELI Barat
    -. Klo makan keliatan gagah, gaul dan gaya
    -. Cepat saji
    Cons :
    – kanker
    – Kangker ( kantong kering)
    – Obesitas
    – rasa standar
    – Kolesterol

    Dari makanan saja sudah keliatan perilaku, budaya dan identitas sebuah negara, dari makanan jadi energi, jadi protein, jadi darah, jadi DNA…yaaa, gimana ga galau mereka, dijamin PENYAKITAN, gusar, galau dan lemah…nek jarene wong cilik kie sing OKB kui ra sah kokean gaya, urip sih neng lemahe wong malah kemaki…maaf yak klo oot, biasa omongan bakul siomay… Salam semuanya

  4.  

    Jd penasaran sebenarnya perpus yg Indonesia miliki itu apa aja to, kok sampe Aushie sebegitu takutnya…
    SU-27, 30, 34, 35 TU-22 pesawat MIG ada G ya…

  5.  

    Banyak bung ga ke itung, di tiap sekolahan pasti ada.

  6.  

    mantabb

  7.  

    Borong dan bungkus SU-35 dan T-50 yang banyak, Ulangi kejayaan TNI kita tahun 60an

  8.  

    suka makan lontong mister ?

  9.  

    MENDUKUNG KEMERDEKAAN BANGSA ABORIGIN DARI PENJAJAHAN BANGSA KULIT PUTIH AUSTRALIA !!
    Mr. Big Red Anda ternyata membenci bangsa Indonesia ya??

  10.  

    Mr. Big Red . Orang kulit putih Australia telah pelanggaran hak azasi manusia terhadap suku Aborigin secara besar-besaran!! Perampasan tanah dan wilayah suku Aborigin sehingga mereka sekarang mengalami penderitaan yang luar biasa.

    •  

      Seperti yang saya dibesarkan di sebuah kota Aborigin , saya merasa saya bisa berkomentar dengan beberapa otoritas mengenai hubungan Aborigin di Australia .

      Ya , tanah orang-orang yang saya anggap keluarga saya dibawa pergi , dan salah yang harus diperbaiki . Aku benar-benar dan sepenuhnya percaya bahwa orang-orang dari berbagai bangsa yang ada di Australia sebelum pemukiman Eropa harus diizinkan untuk memilih dalam referendum mengenai apakah mereka ingin menjadi bagian dari Australia atau meninggalkan Australia dan membentuk negara baru di lahan tradisional mereka . Jika mereka memilih untuk tinggal di Australia , suku harus baik menerima kepemilikan tanah , harus dibayar nilai tanah atau di peristiwa tragis bahwa orang-orang dari bangsa yang semuanya tewas , nilai tanah tersebut akan dimasukkan ke dalam dana untuk menguntungkan semua warga Australia Aborigin .

      Jika kalian bersedia untuk mendukung ini silakan , meminta Anda wakil-wakil terpilih untuk menghubungi pemerintah Australia mengenai hal ini . Sudah terlalu lama Australia telah mengabaikan masalah hubungan Aborigin , dan itu adalah salah yang perlu ditangani .

      •  

        @big Red.
        Pemerintah Australia terlalu arogan untuk mau menerima pendapat dari Luar apalagi dari orang indonesia yang menurut mereka orang2 dari dunia ketiga (3rd world) yang terbelakang.
        As an example, your nick is Big Red, because you believe you are bigger & Better than all of Us here.

        Sorry if my cocot talk belepotan 😛

  11.  

    Mr. Big Red. Anda ingin menghancurkan Indonesia ya?

  12.  

    Ha..ha.. terjemahannya belepotan….

  13.  

    Dari Statement Big Red terlihat jelas sekali bahwa Australia adalah musuh Indonesia. Mereka membeli F-35A dan F-35B untuk menyerang Indonesia !!

  14.  

    mengapa ya kita harus mengomentari miring sejarah bangsa lain,biar mereka membuat sejarah bangsa mereka sendiri,setiap negara memiliki sejarah yg berbeda..buktinya australia bs jauh lbh maju di tangan org2 yg katanya “penjahat kelas berat dari inggris raya”…
    Blm tentu orang yg mengaku sbg “bangsa asli” bs memberi kemajuan buat bangsa nya!

  15.  

    Indonesia harus ngomong protes …kalau sampai ostrali beli su 35 atau senjata lain dari rusia jelaskan sama rusia kalau senjata rusia dijual ke ostrali mrk akan ngoprek itu senjata utk dicari kelemahanya yg hasilnya akan dilaporkan ke us seperti.yg telah terjadi sama.malaysia …..

  16.  

    Jayalah Dirgantara Indonesia

 Leave a Reply