Aug 212013
 

 flotilla

Pemerintah Australia menyatakan tidak bertanggung jawab jika puluhan aktivis Australia yang ikut pelayaran Freedom Flotilla ke Papua, ditangkap pihak keamanan Indonesia dan Papua Nugini. Menteri Luar Negeri Australia, Bob Carr menegaskan, Australia tidak bisa mengintervensi hukum di Indonesia dan Papua Nugini jika warga negara lain melanggar hukum dan imigrasi kedua negara itu.

Penjelasan ini terkait perjalanan puluhan aktivis Australia dan sejumlah aktivis Papua Merdeka yang mendapat suaka serta pasport Australia, sedang menuju ke Papua Nugini dan Merauke, Papua dengan kapal layar Freedom Flotilla. Menurut Carr Pemerintah Australia tidak punya kewajiban untuk memberikan bantuan konsuler sekalipun mereka melanggar hukum Indonesia dan Papua Nugini.

“Mereka harus tahu resikonya dan hukumannya jelas yang akan diterapkan dan Australia tidak bisa mengintervensinya,” tegas Carr.

Carr juga menyampaikan kementerian luat negeri telah memberikan peringatan surat resmi kepada semua orang yang ikut dalam pelayaran melalui juru bicara mereka.

“Mereka sudah mendapat peringatan dari media dan surat secara eksplisit dari kementerian luar negeri yang menyatakan, jika mereka melanggar hukum Indonesia dan PNG. Jangan harapkan pajak Australia dihabiskan untuk menangani kasus kalian, seperti penanganan warga negara Australia lainnya di Bali,” ujarnya.

Carr dalam konferensi pers di sela pertemuan penanganan pencari suaka di Jakarta juga mengatakan apa yang dilakukan oleh puluhan aktivis itu tidak mendapat simpati dari Pemerintah Australia. Dia bahkan menyebut Pemerintah Australia dari semua faksi, baik partai Buruh dan oposisi mengakui kedaulatan dan negara kesatuan Indonesia termasuk Papua Barat.

“Australia mengakui itu juga merujuk pada ‘Lombok Treaty,” lanjutnya.

Menteri Luar negeri Australia Bob Carr (photo:theaustralian.com.au)

Menteri Luar negeri Australia Bob Carr (photo:theaustralian.com.au)

Pelayaran Flotila berlanjut
Sementara itu pelayaran Freedom Flotilla tetap berlangsung meski mendapat peringatan dari Pemerintah Indonesia dan tidak mendapat dukungan dari Australia. Semalam, salah seorang aktivis yang ikut dalam pelayaran, Amos Waingai kepada Radio Australia mengungkapkan telah sampai di sekitar Cooktown, wilayah pesisir pantai timur Australia. Mereka berangkat dari Cairns, negara bagian Quenssland dan diperkirakan sampai di Papua Nugini dan Meraukae awal bulan depan.

Waingai, aktivis Papua Merdeka yang mendapat suaka di Australia 7 tahun lalu mengklaim perjalanan mereka tidak bermotif politik tapi sebuah perjalanan budaya. Perjalanan itu disebut mempunyai misi untuk memperingati pemisahan daratan Australia dan pulau Papua sejak zaman pencairan es 10 ribu tahun yang lalu dan era kolonisasi.

“Terserah orang mau bilang apa, tujuan saya cuma satu, saya jalan untuk connect dua tempat antara pulau dan daratan besar,”  ujar Waingai.

Dia juga menyatakan tidak takut akan dihadang oleh otoritas keamanan Papua Nugini dan Indonesia bahkan ancaman penangkapan terhadap mereka. Kami sudah siap menghadapi semua resiko yang akan terjadi. Semuanya,” tantang Waingai. (detik.com)

  8 Responses to “Australia Tidak Urus Freedom Flotilla”

  1. Gak usah bingung, kirim saja satu regu Kopaska menyusup ke perairan PNG…lalu Wushhhhh….Geblurrrr…Habis tak membekas. Jadi ingat Korvet Korsel yg di terpedo KS Korut.

  2. ngusir segerombolan pengacau yg akan merapat ke Papua gag perlu pake senjata.. cukup berdayain saya lontong kita.. gag ush di torpedo,,cukup di sundul aja buritannya..kl bisa sundulnya agak jauhan dikit dari batas terluar Indonesia biar itu di sangkakan bahwa kapal tenggelam akibat di terjang badai atau kelebihan muatan..heheheh..

  3. Tdk ada teloransi, hukum hrs ditegakkan kpd siapapun yg melanggar kedaulatan nkri sesuai uu republik Indonesia. Harkat dan martabat bangsa dan negara Indonesia adl harga mati .

  4. Setuju Bung. Biarkan mendarat, lalu sambut & layani ‘full service’. Tp jgn sampe lepas dari pantauan & pengawasan. Aparat2 yg ‘mendampingi’ mereka musti bener2 ramah & senyum.

    Ajak mereka makan dengan pejabat2. Nanti setelah sekian kali makan baru ajak diskusi. Orang yg kenyang kan enak kalo diajak diskusi.

    Kalo perlu ajak perwakilan internasioanl. Tp perbanyak acara hiburan & santai2, jgn bahas berat2.

    Pokoknya jgn jadikan mereka amunisi berita buat nembak kita. Permainan kitaa musti ‘caantik’. Musti kita contoh kepemimpinan Mandela, juga Jokowi (ketika ngajak makan puluhan kali PKL2 Solo hingga mau pindah sendiri).

    Tapi kalo diem2 dibom ama tinja boleh juga tuh flotillanya… (luncurkannya pake VLS KS kita :D)

  5. Sabar gan.. Orang sabar pantatnya lebar..

    Sebenernya udah kemajuan loh gan, dulu mendukung sekarang acuh tuh oz. Mereka masalah Papua juga udah melek sekarang, ditambah ketergantungan sama Indo masalah pencari suaka, blunder klo mereka mengkhianati hubungan yg manis ini. Masalahnya di negara demokrasi sangat menghargai kebebasan berpendapat, klo pun disana banyak pro OPM selagi pemerintahnya nggak mendukung, kita mah fine2 aja. Justru semakin kita mendekat ke mereka (entah dengan hub ekonomi, pertahanan ato apa kek) menurut ane Papua akan semakin adem.

    Dimana-mana juga namanya kepentingan negara lebih diutamakan daripada ngurusin dalam negri orang lain. Sama kasusnya dengan oz, klo lebih penting hub bilateral kedua negara lebih harmonis ya ngapain juga mereka nyusahin diri sendiri dengan support OPM. Kita ini mitra strategis mereka loh, dengan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan maka kita akan semakin penting dimata mereka. Ditambah kemajuan demokrasi di negara kita, mereka bakal semkin segan ke kita gan. Sebaiknya ini lebih ditingkatkan daripada sekedar balas dendam karena kita pernah dilecehkan sama mereka.

    Satu kartu AS kita sama mereka ya bangsa Aborigin asli oz sono. Dan mereka sangat paham sama kartu AS ini bisa dimainkan Indonesia kapan saja klo mereka ketahuan support OPM. Sebagai negara dengan kultur barat bertetanggaan dengan kultur timur dan jauh dari asal mula mereka, berteman dengan tetangga utaranya yang calon raksasa baru adalah point penting untuk masa depan mereka gan. Trust me..

  6. ostrali seperti musuh dalam selimut

  7. jaman mbah soeharto ketika “ribut TIMUR TIMOR” kapal australia yg bernama LUSITANIA ( kalo ga salah) mau amsuk tim-tim di hadang TNI AL dan di berikan tembakan peringatan, hasilnya..TUH kapal muter balik bebeapa ratus meter sblm zona perbatasan perairan internasional Indonesia., jaman skrng pak beye berani ga kaya mbah soeharto.let see..

 Leave a Reply