Jun 202016
 

Melalui media Tiongkok, Pemerintah China telah menyampaikan protes resmi kepada pemerintah Indonesia atas insiden penembakan kapal nelayan China oleh kapal TNI Angkatan laut di perairan Natuna, Jumat (17/09) yang diklaim melukai salah-seorang anak buah kapalnya.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hua Chunying., memprotes penembakan yang dilakukan Kapal Perang TNI AL (South China Morning Post)

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Hua Chunying., memprotes penembakan yang dilakukan Kapal Perang TNI AL (South China Morning Post)

Insiden tersebut, seperti yang dikutip The Guardian, Senin (20/6/2016), itu adalah insiden ketiga di lautan yang melibatkan dua negara, seiring meningkatnya ketegangan regional di kawasan Laut Cina Selatan.

Menurut Reuters, juru bicara TNI AL membenarkan adanya penembakan, namun berupa peringatan karena beberapa kapal berbendera China melanggar perbatasan di Kepulauan Natuna. Namun, pihak TNI AL memastikan tidak ada yang terluka.

TNI Angkatan Laut mengatakan pihaknya telah melepaskan tembakan peringatan kepada sejumlah kapal nelayan berbendera Cina yang dituduh mencuri ikan di perairan Indonesia di dekat kepulauan Natuna.

Namun demikian, Kepala dinas penerangan TNI AL Laksamana pertama TNI Edi Sucipto membantah tuduhan Cina bahwa pihaknya melepaskan tembakan yang melukai salah-seorang nelayannya. “Angkatan Laut (Indonesia) tidak brutal,” kata Edi Sucipto kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan, Senin (20/06) pagi.

Awalnya, menurutnya, pihaknya menerima laporan ada 12 kapal ikan asing yang diduga kapal nelayan Cina yang melakukan pencurian ikan di wilayah perairan Natuna, Jumat (17/09) lalu.

Ketika dikejar dan didekati oleh KRI Imam Bonjol, lanjutnya, kapal-kapal tersebut melarikan diri. Sesuai prosedur, pihaknya mengeluarkan peringatan berupa himbauan sebelum akhirnya melakukan penembakan peringatan. “Ketika dilakukan penembakan peringatan ke udara, dia malah tetap lari, kita berikan tembakan peringatan juga di depannya. Tapi tidak berhenti juga, malah dia mau memutar haluannya mengancam mau menabrak,” ungkap Edi Sucipto.

Prosedur tembakan udara diberikan jika kapal asing mengabaikan peringatan yang disampaikan Kapal Perang TNI AL.

Prosedur tembakan udara diberikan jika kapal asing mengabaikan peringatan yang disampaikan Kapal Perang TNI AL.

Setelah melakukan pengejaran, salah-satu kapal nelayan itu dapat dihentikan, jelasnya. Mereka kemudian memastikan bahwa kapal dengan nomor lambung 19038 itu milik nelayan Cina dengan jumlah ABK ada tujuh orang. “Tidak ada yang tertembak, dan sekarang semuanya sudah diamankan di Lanal Ranai,” katanya.
Dirawat di Provinsi Hainan

Seperti dilaporkan Kantor berita Reuters, juru bicara Kementerian luar negeri Cina, Hua Chunying mengatakan bahwa kapal penjaga pantai Cina telah menyelamatkan seorang nelayan yang terluka. Situs resmi Kemenlu Cina menyebutkan nelayan itu kemudian dilarikan ke Provinsi Hainan untuk dirawat lebih lanjut.

Dimintai klarifikasi atas klaim pemerintah Cina tersebut, Kepala dinas penerangan TNI AL Laksamana pertama TNI Edi Sucipto mempertanyakannya.

“Kalau ingat senjata yang digunakan cuma sekedar senjata 7,62 atau 12mm, mana mungkin sampai ke sana. Mereka ‘kan sudah lari semua, kecuali satu (kapal) yang tidak bisa lari,” kata Edi Sucipto kepada BBC Indonesia.

Kemenlu Cina juga membenarkan bahwa salah-satu kapalnya beserta tujuh orang awaknya telah ditahan oleh TNI AL. Beijing telah membuat protes resmi kepada pemerintah Indonesia atas insiden penembakan dan penangkapan awak kapal Cina tersebut.

Insiden serupa pernah terjadi pada Mei 2016 lalu, di mana pemerintah Cina berkeras bahwa kedelapan ABK dan kapal mereka beroperasi secara sah. Sementara, TNI AL menyatakan nelayan Cina itu melakukan penangkapan ikan secara ilegal di perairan Natuna.

Dan pada Maret lalu, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi memanggil kuasa usaha Kedutaan Besar Cina di Jakarta sekaligus menyampaikan nota protes terkait aksi kapal penjaga pantai Cina di Laut Natuna. Tetapi beberapa jam kemudian, Kementerian Luar Negeri Cina membantah bahwa kapal penjaga pantainya telah memasuki wilayah perairan Indonesia.

Sementara itu, terkait protes resmi China terhadap tindakan yang dilakukan Kapal Perang TNI AL, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti juga merespons insiden itu dalam Twitternya. “Kami tidak akan menembak tanpa alasan jelas. Melindungi kedaulatan negara adalah keharusan,” tulis Susi.

4a82aabb97f15a5d1736774487a309fb-082912900_1466390148-Capture

“TNI AL sudah betul menjaga Kedaulatan laut kita beserta isinya. Penembakan itu pasti sudah sesuai prosedur. Jalesveva Jayamahe,” tulis Susi dalam akun Twitter selanjutnya pada Senin (20/6/2016).(marksman/ sumber : bbc.com dan liputan6.com)