Bandara Kertajati Mulai Beroperasi Januari 2018

Maket proyek pembangunan Bandara Internasional Kertajati di Kab.Majalengka, Jawa Barat, (Antara/Yudhi Mahatma)

Majalengka – Perkembangan pembangunan infrastruktur Bandara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat telah mencapai sekitar 65 persen terhitung per 29 Januari 2017.

Direktur Utama PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB) Virda Dimas Ekaputra dalam diskusi di kawasan Bandara Kertajati, Majalengka, 13/2/2017 mengatakan pengerjaan infrastruktur atau Paket 1, meliputi akses, drainase, ramp simpang susun dan parkir kendaraan.

“Paket 1 ini sudah mencapai hampir 65 persen, tepatnya 64,2 persen dan ditargetkan Juli 2017 sudah selesai,” ujarnyanya.

Rinciannya, pekerjaan gali dan urug (cut and fill) telah mencapai 95 persen, pekerjaan gali dan urug yang terkendala pembebasan lahan sudah mulai dikerjakan, pengikatan pondasi ramp simpang susun mencapai 100 persen, pengecoran kolom telah mencapai 100 persen, serta pekerjaan jalan permanen sudah dimulai.

Virda mengatakan untuk pembangunan infrastruktur pihaknya menggandeng PT Adhi Karya dengan nilai kontrak sebesar Rp 355 miliar terhitung 15 November 2015.

Dia menyebutkan pembangunan Bandara Kertajati terdiri dari tiga paket pengerjaan, Paket 2 adalah pembangunan gedung terminal penumpang utama yang dilakukan melalui kerja sama operasi (KSO) PT Wijaya Karya dan PT PP dengan nilai kontrak Rp1,39 triliun dan Paket 3, yaitu pembangunan gedung penunjang operasional, seperti fasilitas terminal kargo dan penyambungan listrik kawasan oleh PT Waskita Karya dengan nilai kontrak Rp 416 miliar.

“Untuk progres Paket 2 mencapai 19,94 persen, sementara Paket 3 sudah mencapai 35 persen,” katanya.

Sehingga, lanjut dia, untuk keseluruhan progres pembangunan Bandara Kertajati, yaitu 30 persen per 5 Februari 2017.

Virda mengatakan pengerjaan Paket 2 terkesan melambat karena ada pengambilalihan pembiayaan dari pemerintah pusat dalam hal ini, Kementerian Perhubungan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Kami belum melakukan ‘expose’ (langkah) apa-apa karena ada rencana pengambilalihan tersebut dari Pemda ke APBN pada waktu itu, karena itu kegiatan BIJB jadi kurang dilaksanakan dari Januari sampai November,” katanya.

Setelah peninjauan oleh Presiden Joko Widodo pada Januari 2016 lalu, awalnya seluruh pembiayaan pembangunan Bandara Kertajati dilakukan oleh pemerintah pusat untuk mengejar target operasi pada awal 2018.

Namun, saat ini, untuk sisi darat dilakukan oleh BIJB melalui suntikan dana dari APBD Pemprov Jawa Barat, sementara untuk sisi udara dilakukan oleh Kemenhub yang sudah mencapai 80 persen dan menelan biaya sebesar Rp750 miliar dari 2014 hingga 2017, meliputi landasan pacu sepanjang 2.500 meter, apron (tempat parkir pesawat) dan jalur penghubung dari apron ke landasan pacu (taxiway) Sehingga, Virda menyebutkan kebutuhan untuk Tahap 1 ini, yaitu Rp 2,1 triliun dari total investasi pembangunan hingga “ultimate” sebesar Rp 4,5 triliun.

Dia menargetkan penyelesaian pekerjaan infrastruktur 3 Juli 2017, bangunan penunjang operasional 8 Agustus 2017, pekerjaan gedung terminal 6 Desember 2017, operasi awal (soft operation) Januari 2018 dan operasi penuh Maret 2018.

Antara