Banyak Faktor Penyebab Kegagalan Rudal Anti Kapal C-705

76
7

2aada-kcr-40_1

Beberapa waktu lalu dua rudal anti kapal C-705 buatan China meleset dari target saat ditembakkan dari fast missile boat KCR-40 Indonesia selama latihan perang yang disaksikan langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Dilaporkan oleh The Jakarta Post, Indonesia akan mendapatkan lisensi untuk memproduksi sendiri rudal C-705 secara lokal pada tahun 2017 atau 2018. Masih belum jelas apakah kontrak lisensi akan terpengaruh oleh peluncuran rudal yang gagal.

Para ahli militer Cina menyatakan, kinerja yang buruk dari rudal anti kapal sub-sonic C-705 mungkin akan menyebabkan kerugian dalam jangka pendek pada penjualan senjata buatan Cina ke pasar internasional.

“Tidak mungkin memastikan semua rudal bisa mencapai target secara akurat,” kata pengamat militer Zhou Chenming, yang sebelumnya bekerja pada anak perusahaan China Aerospace Sains dan Teknologi Corporation. “Biasanya, produsen akan mencatat kemampuan ketepatan sasaran rudal dari 90 sampai 95 persen selama uji penembakan”.

Menurut Zhou, ketika ditembakkan, faktor manusia juga memainkan peran kunci saat rudal melakukan penerbangan menengah untuk memutuskan apakah akan mencapai target yang sudah ditetapkan, termasuk serangkaian data referensi seperti ketinggian berapa yang dibutuhkan untuk naik ke ketinggian pertama dan juga saat bermanuver.

Mideast Iran Navy Drill

Zhou juga memuji kemampuan dari rudal anti kapal C-701 dan C-704, varian yang sebenarnya memiliki jangkauan lebih pendek dari C-705, yang telah terbukti berhasil menghancurkan kapal Uni Emirat Arab dalam perang di Yaman.

Sedangkan pakar Angkatan Laut Li Jie menyatakan factor cuaca lokal juga berpengaruh, termasuk apakah operator rudal Indonesia sudah mengikuti semua prosedur yang diperlukan, juga akan mempengaruhi hasil peluncuran.

“Senjata dibuat dari berbagai bahan logam dan bahan sensitif lainnya, dan cuaca lokal seperti suhu, kelembaban, salinitas juga dapat menyebabkan masalah,” kata Li, seraya menambahkan bahwa iklim di Cina sangat berbeda dengan iklim di Indonesia.

Sumber : scmp.com

76 COMMENTS

    • Alasan nya Tidak meyakinkan sama sekali….
      Tidak masuk akal …
      Ganti saja ….
      Cari missile yang lain …RBS atau yang lain.
      Mungkin bisa dijadikan alat untuk nego sama China supaya dapat Lisensi …
      Kekurangannya Kita usaha perbaiki sendiri ..supaya mandiri ..pintar Dan creative..

  1. Kebanyakan mencari pembenaran..masa rudal harus sesuai iklim cina aneh bukannya rudal jaguhh harus all weather

    ahh yang penting serap ilmunya saja buat indonesia supaya modify dengan yang lebih tangguh..

  2. Beli rudal sm negara yg jadi musuh kita dinatuna, ini gmn bs? Jika pemerintah berfikir lbh jernih dan logika, apa mrk berika ya sdh amt sangat pasti bermasalah…mana ada guru memberikan semua ilmunya kpd muridnya atau mana ada penjual memberikan triknya kpd calon pembelian….semua dari jaman kuda gigit beton jg udah pada tauu…jd harusnya batalin semua kontrak2 pembelian alutsista dari tiongkok…titik!!! Tanpa negoisasi apapun…

  3. ngaco lu koh, saat uji tembak rudal di kapal perang KRI teknisi cina supervisi mereka ada di atas kapal dan tak mungkin mereka cuma nonton doang, ngaco…ngaco kalau tu rudal tidak cocok di iklim tropis spt Indonesia ya jangan cari kambing hitam kesalahan operator TNI, sudah rudal gak mutu omongan lebih gak mutu lagi, lebih terhormat bilang saja terjadi kesalahan teknis dari rudal istilah orang Indonesia merendahkan diri tanpa hilang harga diri dan kehormatan… eh sorry emang kalian punya harga diri, hukum internasional saja gak dipatuhi maunya menang sendiri sukanya nyolong dan klaim wilayah orang

  4. Namanya elektronik…ya gitu dech…semoga ada garansinya…menandakan semua jenis rudal perawatannya harus khusus..lekasdi TOTkan..biar kita bisa rawat sendiri…jangan lupa kalo bisa buat..kecepatannya Ditambahi minim Mach 2,jangan nunggu lama,lekas diTOTkan!..ini rudal!..bukan roket!..

  5. Artinya ? Tak cocok jika digunakan di RI.

    Kalau begitu yang katanya dulu udah pernah berhasil ketika dicoba di selat Sunda bohong dong. Disogok berapa ya supaya laporannya Oke ?

    Cari TOT EXOCET ke Perancis langsung atau RBS15 NG ke Swedia.

    Perancis nggak pelit-pelit amat kok. Buktinya Anoa itu hasil TOT VAB Perancis.

    Jika TOT Exocet block 3 nggak boleh, ya minta TOT 100% yang block 2 dulu. Lalu dikembangkan sendiri atau diupgrade ke block 3 dengan bantuan Perancis.

    • Yang hampir setara C705 hanya block 3 Om….block 2 terlalu jauh dari C705,block 2 setara C704..sebenarnya sudah bener pemilihan pihak Indonesia..(jika kita berandai saja ini..kalo disabotase bisa nggak soal yg delay tsb,sekali lagi berandai2 lho)..block 3 jarak 180km,C705 140 km kalo pake turbo 170km,block 2 70-80km jaraknya..dari Wikipedia,mengapa saya membandingkan dengan Perancis kenapa tidak ke Swedia..kayaknya deketan ke Perancis kitanya..kenapa tidak ke Ukraine ya??…kan mereka bisa buat S300..(walaupun tidak secanggih Rusia)..seharusnya lebih potensial Ukraine drpd China??…oh iya saya tidak tahu rudal sekelas ini buatan Ukraine..kalo boleh tahu xixixixi…gimana menurut Anda bung ngitung?…(edisi ngobrol hahahaha)

    • @Tukang Ngitung, PhD. : Jika tidak salah C-802 China hasil karya ToT dengan Perancis bukan?
      Btw sepengetahuan saya rudal yang di gunakan untuk menghantam kaprang UEA bukan C-802 China, melainkan rudal “Noor” (hasil modifikasi dari C-802 China)

      Mohon pencerahannya ya bung… 🙂

    • Justru itu.

      RI sudah bisa buat roket namun tak bisa bikin rudal.

      Tujuan utama adalah TOT buat rudal.

      Plan A : C705 diselesaikan dulu.

      Plan B : minta TOT ke Perancis.
      Jika TOT buat rudal sekelas block 2 yang 70 – 80 km, udah bisa, tinggal dimodifikasi saja. Lalu minta Lisensi pembuatan block 3 untuk keperluan sendiri.

      Plan C : dekati Swedia.

      Seluruh 3 rencana ini harus jalan beriringan. Pindad mesti bentuk 3 tim untuk TOT 3 negara ini. Jika 3-3nya berhasil berarti bagus sekali. Jika 3-3 tim ini gagal, pakai gaya Kim Jong Un..xixixixi. sadis ya…

  6. Entalah…

    Jika sudah seperti ini siapa yang sebenarnya kebelinger?

    hhmmm…

    Pada dasarnya perusahaan / negara penjual dalam hal ini China menurut saya tidak salah.
    Karena setiap produsen hanya membuat dan menjualnya kepada konsumen.

    Yang patut di pertanyakan adalah apakah dalam sekema jual beli tersebut ada garansinya?
    Misalnya : Rudal C-705 cacat produksi atau sebagainya.
    Lalu apakah perusahaan / negara tersebut bertanggung jawab secara moril mengenai produknya?
    Misalnya : Jika ada kegagalan, mereka (perusahaan / negara pembuat) minimalnya menurunkan tenaga ahlinya ke lapangan untuk mencari persoalannya dan solusinya.

    Semoga saja para pihak terkait yang terlibat di dalam alutista militer Indonesia dan para pembuat kebijakan lebih dapat mengaji diri untuk masa yang akan datang.

    Saya hanya berharap, semoga semuanya lebih efisien dan jika memang dituntut untuk mengimport alutista dari luar negri, dala hal ini bukan hanya mengedepankan ToT.
    ToT, Kualitas, jenjang teknologi, botol pulpen, garansi dan tanggung jawab harus dapat beriringan.
    Untuk apa mengharapkan ToT dari produk yang kualitasnya diragukan.

  7. emang yakin bakal dikasih ToT rudal sama Perancis ?

    apakah sama nilai strategis ToT Anoa sama ToT rudal anti kapal sekelas exocet ?

    lebih baik tunggu saja sampai 2017/2018 dulu karena sesuai perjanjian Indonesia harus membeli rudal C-705 sebanyak 60 buah selama 8 tahun, dimana produksi rudal C-705 sebanyak 250 buah dibuat China dan 250 buah dirakit di Indonesia …

    • @BLADE : C-802 jika tidak salah adalah hasil ToT China dengan Prancis.
      Lalu untuk C-705 jika tidak salah harga perunitnya -+ 20 Milyar Rupiah, dan jika dikalikan dengan jumlah minimum persyaratan yang di minta China untuk ToT adalah 500 unit.
      Menurut saya nominal tersebut sangat fantastis, mengingat kualitas dari C-705 danjuga klasifikasi botol pulpenya yang belum teruji.
      Btw sepengetahuan saya mengenai ToT C-705 ada tiga tahapan, sedangkan anda menyebutkan hanya dalam tempo delapan tahun dan dengan sistem perakitan yang dibuat 50 : 50.
      Mohon pencerahannya

      • @Kusni kasdut : Saya juga bingung bung….
        Karena sekema waktu 8 tahun adalah waktu yang terlalu panjang…

        Sudah rugi uang, rugi waktu, kualitas dipertanyakan, lalu setelah 8 tahun C-705 sudah ketinggalan zaman…

        Apa tidak kebelinger???

    • Iya om..ane juga gak yakin mau dikasih prancis…kalo dinilai strategisnya jauh banget…bumi dan langit…malah bisa jauh lagi…itulah…menurut saya..seperti teknologi PKR dari Belanda..kan gak gampang juga pada waktu itu sampai mundur berapa tahun…mungkin dikarenakan orang2 Indonesia cerdas..cepet nangkep teknologi baru habis itu modifnya juga cepet..hahhaha..Maslah rudal diatas 100 km…sangat sensitif…soalnya mau naek ke berapa ratus km lagi gampang daripada buat dari nol..lihat China pengembangan Dr C704 ke C 705 cepet..tapi pas mau buat sampai C704 prosesnya???….lha kita melompat langsung ke C705…(edisi ngobrol)…

  8. Solusinya gampang ko. Bilang saja sama Jin ping kita barteran.

    Cina kasih tot rudal df. Nanti kita kasih rudal yg sangat dibutuhkan Jin ping, yaitu rudal model milik mbah bowo yg super jos, pasti Jin ping girang bukan main, krn di Cina ga ada rudal yg setara dgn rudal itu. xixixi.

  9. banyak bacot, butut ya tetep aja butut,..tapi kalo TOT gpp sih pada perinsipnya Indonesia sendiri yg di butuhkannya adalah system kerja rudal itu sendiri dalam menghantam target. ..nah masalah telat ato meleset, serahin aja sama yg namanya orang indonesia yg memang spesialing ngoprek dan otak atik, dijamin nanti bisa setangguh rudal generasi Club, ato NSM 😀

  10. yg jelas c705 bukan rudal yg siap disegala kondisi.

    “Senjata dibuat dari berbagai bahan logam dan bahan sensitif lainnya, dan cuaca lokal seperti suhu, kelembaban, salinitas juga dapat menyebabkan masalah,”

    “faktor manusia juga memainkan peran kunci saat rudal melakukan penerbangan menengah untuk memutuskan apakah akan mencapai target yang sudah ditetapkan, termasuk serangkaian data referensi seperti ketinggian berapa yang dibutuhkan untuk naik ke ketinggian pertama dan juga saat bermanuver.”

    di china cenderung lebih lembab dan dingin di timteng lebih cenderung kering masa di daerah tropis melempem

LEAVE A REPLY