May 132017
 

Kapal Perang BRP Davao Del Sur LD 602 Filipina, buatan PT PAL, Indonesia (Renz J @renzjchow)

Tidak semua orang mempunyai kesempatan berlayar dengan kapal perang, apalagi pelayaran itu bersejarah bagi suatu bangsa karena merupakan pelayaran ekspor alat utama sistem persenjataan / alutsista bangsa Indonesia jenis kapal perang.

Kesempatan itu diperoleh wartawan Antara ketika mengikuti pengiriman kedua kapal perang buatan PT Penataran Angkatan Laut (PAL) Indonesia ke Manila, Filipina.

Rabu (3/5/2017) pagi pukul 09.00 WIB dari Dermaga Ujung, Surabaya, Jawa Timur, pelayaran antarnegara menggunakan kapal perang itu dimulai.

Sehari sebelumnya, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu melepas secara seremonial keberangkatan kapal perang pesanan Kementerian Pertahanan Filipina tersebut.

Perjalanan bertajuk “Voyage to Manila SSV#2” menjadi tantangan tersendiri, karena menyeberang lautan menggunakan kapal perang ke Filipina membutuhkan waktu tempuh sekitar lima hari, dibanding menggunakan pesawat terbang yang hanya butuh sekitar tiga jam dari Jakarta ke Manila.

Lima hari perjalanan tentunya harus dilalui dengan mengarungi gelombang, hanya hamparan lautan yang bisa dipandang, meski kadang ada sedikit hiburan kapal-kapal niaga yang lalu-lalang, menghiasi hamparan biru luas lautan.

Pandangan mata sedikit beruntung bisa menjumpai lumba-lumba dan ikan terbang yang berlari mengejar kapal, seolah ingin mengajak bermain dan memberikan sedikit hiburan pada penumpang. Hal itu terjadi ketika melewati perbatasan Laut Jawa dan Selat Makasar.

Sepi dan bosan pastinya, gelap dan pekat ketika malam datang, dan tersadar jika para penumpang lainnya merasa sendiri di tengah lautan luas, karena kiri dan kanan sudah tidak ada lagi keramaian dan gedung yang mencakar langit seperti layaknya di perkotaan. Yang ada hanya hamparan hitam ketika malam.

Pemandangan sepi dan gelap itu dijumpai ketika penumpang berada di atas dek kapal saat senja mulai menutup diri diganti gelapnya malam.

Sinyal yang selama di daratan menjadi barang mudah didapat, tak akan didapat selama di tengah lautan. Hal itu ,embuat gawai tak lagi bisa dan perkasa berkuasa atas diri manusia. Hanya teknologi GPS yang aktif dan berfungsi memantau posisi kapal.

Selain itu, para penumpang dan sejumlah kru lainnya hanya mampu menghibur diri dengan membuka memori atau folder gawai untuk melihat gambar-gambar keluarga, serta memainkan “game” atau permainan secara luar jaringan (offline).

Berbeda dengan menaiki kapal pesiar, meski gelap dan pekat di tengah laut saat malam hari, penumpang masih bisa terhibur dengan keramaian buatan di dalam kapal, namun di situlah seni perbedaan antara berlayar dengan kapal perang dan pesiar.

Melintasi batas khatulistiwa di atas kapal perang menjadi pengalaman yang tak terlupakan, karena bisa melihat langsung ritual “shellback”, yakni ritual khusus Angkatan Laut Filipina saat melintasi batas khatulistiwa, atau dalam istilah Angkatan Laut Indonesia dinamakan “Mandi Khatulistiwa”.

Pada ritual ini pimpinan tertinggi angkatan laut yang ada dalam kapal memerankan Sang Penguasa laut Dewa Neptunus, dan meminta setiap personel di bawahnya untuk menutup erat kedua mata.

Di sisi lain, telah disiapkan terpal panjang sekitar 6 meter yang dilumuri campuran bekas makanan kru dan sisa minyak pelumas, ditambah sedikit air membentuk kolam kecil.

Personel yang matanya telah tertutup dengan kain warna hitam itu diajak beberapa senior mereka untuk berputar berjalan dan mengelilingi kapal berbobot maksimal 7.200 ton tersebut.

Setelah berkeliling, personel yang baru lulus pendidikan angkatan laut itu diarahkan ke dek kapal dekat dengan lautan, seolah-olah ingin diceburkan ke lautan. Personel tersebut malah diceburkan ke kolam kecil yang terbuat dari terpal dan berisi campuran minyak pelumas serta sisa makanan, mereka pun mandi dengan air keruh.

Dalam literasi KRI Dewaruci, ritual mandi air keruh yang dicampur minyak pelumas hitam pekat itu disebut Mandi Khatulistiwa, yang biasa dilakukan di atas kapal perang jenis latih milik TNI Angkatan Laut saat melintas tepat di garis khatulistiwa, atau biasanya tepat di tengah laut antara Pulau Kalimantan dan Sulawesi (Selat Makasar).

Misi Ekspor Kapal sepanjang 123 meter dan lebar 21 meter ini terus melaju membawa 112 kru dari PT PAL Indonesia, 22 anak buah kapal (ABK), lima petugas katering dan 115 kru dari Angkatan Laut Filipina.

Meski tidak terisi penuh sesuai okupansi 621 penumpang, kapal yang memiliki kecepatan 16 knots dengan mesin pendorong 2 X 2,920 kW itu melaju tanpa hambatan, dengan membawa misi sampai tempat tujuan tepat waktu.

General Manager Divisi Kapal Niaga PT PAL Indonesia Satriyo Bintoro di sela perjalanan menuju Manila mengatakan, salah satu misi yang dibawa adalah ketepatan waktu pengiriman ekspor kapal perang.

“Salah satu misi yang kami tawarkan dalam pengiriman eskpor kedua ini adalah ketepatan waktu, dan kami harap dengan misi itu bisa mendatangkan pesanan-pesanan lagi dari negara lainnya,” katanya.

Diakui pria yang akrab dipanggil Pak Bin ini, ketepatan waktu pengiriman ekspor kapal selalu menjadi masalah utama sejumlah galangan kapal nasional, sehingga pembeli atau konsumen luar negeri menjadi kurang berminat memesan kapal ke Indonesia.

Namun permasalahan itu perlahan mampu diatasi PT PAL Indonesia, buktinya pada ekspor kapal perang pertama bangsa Indonesia mampu menunjukkan kepada dunia bahwa selain kualitas, juga mampu mengerjakan secara tepat waktu.

Ekspor kapal pertama jenis yang sama “Landing Platform Dock” (LPD) “Strategic Sealift Vessel” buatan PT PAL Indonesia tiba secara tepat waktu pada Jumat 13 Mei 2016 pukul 22.30 waktu Manila.

Pada eskpor kedua kali ini, kata Bintoro, PT PAL Indonesia masih mempunyai tenggat waktu yang cukup lama, atau lebih cepat dari batas waktu yang ditentukan, yakni akhir Mei 2017.

“Alhamdulillah pada eskpor kedua ini, kami mempunyai banyak waktu untuk finishing sejumlah interior, sehingga keberangkatan tidak terlalu terburu-buru seperti ekspor perdana yang diselingi perbaikan saat perjalanan menuju Manila,” katanya.

Ia berharap, ketepatan waktu pengiriman yang sudah terbukti bisa membangkitkan kembali industri galangan kapal nasional, sehingga bisa bersaing di dunia internasional, sebab secara kualitas SDM Indonesia tidak kalah dengan negara pesaing seperti Korea Selatan, Jerman dan Belanda.

Antara

  29 Responses to “Behind the Scene Pengiriman Kapal Perang ke Filipina (1)”

  1. Pertamini

    • Ngece ae lho…kamongko dhek cilikane pendak dolanan layangan nyangsang terus neng wet gayam…

      • Nek nyangkut neng wit gayam yo biasa bung. Lhah nyangkut neng wit salak piye jal? Okeh eri teng crongok.
        Kamongko layangan anyar, ono cap ‘Oleh Cipacing’.

        Kuwi iseh mendingan, rodo gagah. Lhah layangane sampean mbiyen malah nyangkut neng wit kencur.

  2. Mari gagalkan misi bung Jimmy menggenapi perolehan PERTAMAAAAX

  3. Oke…
    Kamera…
    Roll…
    Hassiiimmm…ehh
    Action…

  4. CAKEP

  5. Good job PT. Penataran Angkatan Laut (PAL) Indonesia…semoga setelah eksport 2 unit LPD ke filipina, next project akan bikin pesanan menhan…dan pesanan luar negeri jg terus mengalir…bravo pal, jaya nusantara…

  6. Mantap

  7. Behind the scene about PT PAL Indonesia…hehehe judulnya nyontek bung diego…..dan ternyata pt pal adalah nama ketiga….
    PT. PAL IndonesiaĀ (Persero), bermula dari sebuah galangan kapal yang bernama MARINA dan didirikan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1939. Pada masa pendudukan Jepang, Perusahaan ini beralih nama menjadi Kaigun SE 2124. Setelah kemerdekaan, Pemerintah Indonesia menasionalisasi Perusahaan ini dan mengubah namanya menjadi Penataran Angkatan Laut (PAL). Pada tanggal 15 April 1980, Pemerintah mengubah status Perusahaan dari Perusahaan Umum menjadi Perseroan Terbatas sesuai dengan akta No. 12, yang dibuat oleh Notaris Hadi Moentoro, SH.Lokasi Perusahaan di Ujung, Surabaya, dengan kegiatan utama memproduksi kapal perang dan kapal niaga, memberikan jasa perbaikan dan pemeliharaan kapal, serta rekayasa umum dengan spesifikasi tertentu berdasarkan pesanan.Kemampuan rancang bangun yang menonjol dari PAL Indonesia telah memasuki pasaran internasional dan kualitasnya telah diakui dunia. Kapal-kapal produksi PAL Indonesia telah melayari perairan di seluruh dunia.

  8. Teng teng teng hingga 12 kali (lg mukul tiang listrik) wkt pukul 12 malam…maklum ane jadwal ronda mlm nie…

  9. pal emang jempolan dah..

  10. Bravo PT.PAL!

  11. nhani ???

 Leave a Reply