Belanda dan Brasil Tarik Duta Besar dari Indonesia

122
169
Presiden Brasil Dilma Rousseff
Presiden Brasil Dilma Rousseff mengajukan grasi ke presiden Jokowi tetapi ditolak

Brasil menilai eksekusi hukuman mati terhadap salah satu warga negaranya di Indonesia karena kasus narkoba merupakan bentuk ‘kekejaman’.

Marco Archer Cardoso Moreira, 53 tahun, ditangkap pada 2003 lalu setelah polisi di bandara Cengkareng menenemukan 13,4 kg kokain yang disembunyikan di dalam peralatan olahraga. Brasil mengatakan Moreira merupakan warga Brasil pertama yang dieksekusi di luar negeri dan memperingatkan hukuman itu akan ‘merusak’ hubungan dengan Indonesia.

Presiden Brasil Dilma Rousseff mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa dia merasa kaget dan menilai hukuman itu kejam.

“Hubungan antara kedua negara akan terpengaruh,” kata presiden Rousseff.

“Duta besar Brasil di Jakarta telah ditarik untuk melakukan konsultasi,” kata dia.

image
Marco Archer Cardoso Moreira mengatakan menyesal dan tiap orang harus dapat kesempatan kedua. (Foto: Reuters).

Selain Brasil, Belanda juga menarik kembali duta besarnya, setelah Menteri Luar Negeri Bert Koenders menilai eksekusi terhadap warga negara Belanda Ang Kiem Soe, 52 tahun, “merupakan pengingkaran terhadap martabat dan integritas kemanusiaan”.

Empat warga negara asing yaitu Brasil, Belanda Malawi, Nigeria dan satu Indonesia telah dieksekusi pada Minggu (18/01) dini hari di LP NUsa Kambangan. Sementara eksekusi terhadap warga Vietnam Boyolali Jawa Tengah pada waktu yang sama.
Permohonan grasi

Rousseff mengatakan dia telah mengajukan permohonan pengampunan (grasi) pada Jumat, tetapi ditolak oleh Presiden Joko Widodo.

Presiden Brasil Dilma Rousseff mengajukan grasi ke presiden Jokowi tetapi ditolak. Dia mengatakan kepada Joko Widodo bahwa dia menghormati kedaulatan dan sistem hukum di Indonesia, tetapi sebagai seorang ibu dan kepala negara dia mengajukan permohonan itu dengan alasan kemanusiaan.

Brasil mengatakan Joko Widodo mengatakan dia memahami kepedulian presiden Brasil tetapi dia tidak dapat mengubah hukuman karena seluruh proses hukum telah dijalani.

Dalam sebuah video yang direkam seorang rekannya, Moreira menyatakan penyesalannya yang berupaya menyeludupkan narkoba ke Indonesia.

“Saya tahu akan menghadapi hukuman yang serius, tetapi saya yakin saya berhak mendapatkan kesempatan. Semua orang melakukan kesalahan.”

Warga Brasil lain Rodrigo Muxfeldt Gularte juga menghadapi hukuman mati di Indonesia, karena kasus perdagangan narkoba.
Kritik terhadap eksekusi hukuman mati juga disampaikan sejumlah organisasi Amnesty International dan pegiat HAM di Indonesia. Brasil menghapus hukuman mati ketika perdamaian dan menjadi sebuah negara republik pada 1889. (BBC.co.uk/indonesia).

122 KOMENTAR

  1. Lanjut pak..350 tahun Belanda MENJAJAH INDONESIA apa mereka bicara HAM..? 13.5 kg Kokain asal BRASIL kalau sampai berhasil lolos dan dikomsumsi berapa ratus nyawa bisa hilang..apa mrk bicara HAM..? negara2 kita sendiri punya aturan sendiri ga usah intervensi aturan kami sendiri atas nama HAM..majuuuuu terus pak Jokowi..

  2. …tanpa Belanda dan Brazil itu pun Indonesia tetap berdiri dan berdaulat…pergi kel laut aja tuch manuver kalian para dubes……Indonesia bisa hidup dan mandiri….

    …maju terusssss….tunjukkan pada putra putri bangsa Indonesia …bahwa negara dan pemerintah Indonesia itu melindungi warga negaranya dari kehancuran akibat narkoba dan psikotropika…..

    …gitu aja koq repot………………………

  3. jangan taku sama gertakan mereka, mereka gak tau orang-orang itu sudah merusak generasi dari pada bangsa ini ….”membatalkan hukuman mati 6 orang itu saja berarti pemerintah harus membayar rusaknya negara ini oleh narkoba yng mereka sebarkan , apa lagi sama belanda yang menarik duta besarnya kalo saya bodo amat gak peduli mereka gak sadar bahwa mereka saja sudah membununh jutaan warga indonesia saat menjajah ,,,,,,????? kesel rasanya mendengar berita ini ” i am feel free”

  4. hukuman mati adalah pantas bagi orang2 yang terbukti dengan sengaja mengedarkan narkoba ke negara kita. coba anda bayangkan ribuan bahkan mungkin jutaan generasi kita hancur karena narkoba. jika anda punya saudara sudah kecanduan berat mungkin anda akan mengerti. Dulu saat terpidana teroris di hukum mati kok tidak ada negara yang menarik duta besarnya dari negara kita bahkan terkesan biasa aja sekarang jika ada warganya yg jelas2 mau menghancurkan generasi muda kita di belain mati-matian.

  5. Kalo ente-ente tau bagaimana merusaknya narkoba, di salah satu penjara saya pernah tanya jumlah napinya ada sekitar 1700 orang. Dari sekian itu separuh lebih itu napi narkoba semua. Terepas dari bobroknya penjara-penjara di indonesia, mereka para tahanan narkoba ini akan sulit sembuh ketika sama-sama ngumpul di penjara. Karena selain bisnis khayalan, itu bisnis yg sangat merusak dan menggiuarkan dari segi keuntungan. Masalah lobi pihak Brasil dan Belanda, itu biasa, Indonesia pernah. Memang seperti itu jalurnya, tinggal dituruti apa enggak gitu saja.

  6. Allah menakdirkan bumi indonesia sebagai tempat matinya gembong narkoba.

    Allah menjadikan pengadilan indonesia sbg sarana jalanya kematian gembong2 narkoba yg sudah di eksekusi.

    Allah yang menggerakan tim regu tembak sebagai perantara,eksekutor.di situlah malaikat izrail mencabut nyawa Para gembong narkoba.

    ente mau apa? :mrgreen:

  7. sya kok rada ragu kenapa bandar yang terkena hukuman berat. kalau melihat teori supply pasar bandar cuman distributor. shinnga pada akhirnya bandar hanya berperan penyalur kalau mau menghentikan peredaran ya seharusnya dipoong dari demand buakn penyuplly kalau gak ada demand ya gak ada yang supply selesai

  8. Terkait dengan penarikan Dubes Brazil dan Belanda dari NKRI adalah sah saja sebagi bentuk kekecewaan terhadap NKRI karena Warga Negaranya bersalah dan akan dieksekusi mati … NKRI pun akan melakukan hal yang sama terhadap warga negaranya yg memiliki perkara hukum dgn negara lain ..

    PENEGAKAN HUKUM yg dilakukan oleh suatu negara adalah bagian dari kedaulatan negara itu sendiri, negara lain tdk berhak melakukan intervensi dan ikut campur dalam perkara tersebut hanyasanya negara lain dapat mengupayakan jalur diplomasi dalam rangka melindungi warga negaranya tentunya sesuai dengan prosedur hukum yg berlaku dimana warga negaranya berpekara .. Imho

    • Ratu Extasi ( Zarima ) seharusnya memang termasuk kedalam fase 1 alias hukuman seumur hidup, namun karena ada kong kalikong alias permainan oknum, makanya hukumannya hanya itungan tahun + subsider + kelakuan baik, berkuranglah hukuman dari semana mestinya. walaupun itu kurir baru 1x bawa Narkoba 1 TON, asalkan penegak hukum bisa menemukan si pemilik atau si penerima, dia bisa di kategorikan fase 1 yaitu hukuman seumur hidup. jika si kurir tidak bisa bekerjasama dengan penegak hukum, dia bisa di kategorikan fase 2 yaitu hukuman mati. sekarang tergantung si kurir dan penegak hukumnya..sama2 mau kerjasama atau kaga.. 😀

  9. Brasil, Belanda ngambek nih? Hahaha!
    Emangnya kemanusiaan itu cm milik lo?
    Lagian kemanusiaan yg benar itu bkn sprt yg ada dlm pikiranmu, yg cm peduli pd wargamu sj. Tp kemanusiaan sprt yg tercantum dlm UUD kami, yaitu Kemanusiaan yg adil dan beradab.
    Krnnya, jadilah lo wrg dunia yg baik dan mendukung kebaikan! Mk itu lbh baik bagimu dan perasaanmu.
    Kamu cm kehilangan 1 org, itupun krn dia tlh melenyapkan banyak org, baik nyawa ataupun masa depannya.
    Indonesia, tegakkanlah sll hukummu!

  10. saya setuju dg hukuman mati, tapi sangat disesalkan hukuman tersebut tajam kepada orang yang kantongnya pas-pasan, contoh dengan Rani yang dieksekusi mati kemarin, rani tertangkap bersama bandar dan pengedarnya, bandar dan satunya lagi dapat grasi pengurangan hukuman, sementara rani yang hanya kurir, dihukum mati, apakah itu keadilan? atau ini hanya cari sensasi, biar dilihat tegas, sangat disayangkan, ekeskusi pun berjalan lambat, tertangkap tahun 2000, baru sekarang dihukum…