JakartaGreater.com - Forum Militer
Jul 132018
 

Jet tempur multirole generasi kelima Su-57 Rusia. © Dmitry Terekhov via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Rusia saat ini masih belum berencana untuk memproduksi secara masal jet tempur generasi kelima Sukhoi Su-57, yang dibangun dan dikembangkan secara nasional, kata Wakil Menteri Pertahanan Rusia, Yuri Borisov, pada tanggal 2 Juli silam, seperti dilansir dari laman The Diplomat.

Dalam wawancara itu, wakil menteri pertahanan berbicara tentang penempatan pesawat baru-baru ini ke Suriah, tetapi juga mencatat bahwa produksi massal Su-57 tidak masuk akal pada saat ini dan hanya akan terjadi setelah jet tempur generasi keempat Angkatan Udara Rusia yang lebih tua seperti Su-30 dan Su-35 nantinya tertinggal dari Barat.

“Pesawat telah terbukti sangat bagus, termasuk di Suriah, dimana Su-57 telah menegaskan kinerja dan juga kemampuan tempurnya”, tutur Borisov. “Anda tahu bahwa saat ini Su-57 dianggap sebagai salah satu pesawat terbaik yang di produksi di dunia. Akibatnya, tidak masuk akal untuk mempercepat pekerjaan memproduksi pesawat generasi kelima secara massal”.

Selanjutnya Borisov mengatakan bahwa Su-57 adalah kartu truf Rusia, yang selalu dapat di mainkan ketika kemampuan pesawat generasi sebelumnya mulai ketinggalan jaman bila dibandingkan dengan pesawat dari negara-negara terkemuka di dunia.

Biaya per unit jet tempur generasi kelima Su-57 Rusia diperkirakan sekitar $ 40 – 45 juta atau 2,5 kali lebih lebih murah daripada JSF F-35 Lightning II buatan AS. Kementerian Pertahanan Rusia kemungkinan tidak akan menempatkan pesanan di luar batch pra-produksi awal sebanyak 12 unit jet tempur Su-57.

Su-57 adalah jet tempur superioritas udara multirole, berkursi tunggal, bermesin ganda, yang dikembangkan di bawah program pesawat generasi kelima PAK-FA. Jet tempur Su-57 melakukan penerbangan perdananya pada tahun 2010, awalnya dirancang untuk menggantikan stok MiG-29 dan Su-27 di Angkatan Udara Rusia (VKS) pada tahun 2020 dan 2030-an.

Setelah beroperasi, nantinya Su-57 akan mampu membawa amunisi konvensional dan juga nuklir. Su-57 akan mampu membawa beberapa sistem senjata paling canggih Rusia termasuk rudal udara-ke-udara jarak jauh yang baru dan rudal udara-ke-darat termasuk rudal jelajah taktis jarak jauh Kh-35UE serta rudal jelajah supersonik BrahMos-A dengan kekuatan nuklir.

Angkatan Udara Rusia saat ini mengoperasikan 10 unit prototipe Su-57 untuk evaluasi dan pengujian. Sedangkan 2 unit Su-57 pertama diperkirakan akan memasuki layanan pada tahun 2019.

Berbagi

  15 Responses to “Belum Saatnya Produksi Massal Jet Tempur Su-57”

  1.  

    TNI AU Cukup F-35 & F-33, Sdngkan SU-35 Katax Bulan Oktober Tahun Ini Tp Nggak Jd Molor deh Tahun Depan, Tahun Depan Lg

  2.  

    Bilang aja gak punya duit. Jadi ketawa kalo ada yg bilang Russiah mau buat ini itu karena banyak duit seperti yg digembar-gemborkan oleh fans RF sebut saja Huha dan Jimmy. Hhhhhhhhhh

  3.  

    RI jg blm saatnya beli SU-57 karena SU-35 blm datang sekaligus uangnya jg blm ada!he3

  4.  

    SU35 pasti datang, suabar….pilotnya lagi training di Rusia sono….sambil nonton bola juga…

  5.  

    Terkendala dana kayak,e

  6.  

    su 57 adalah proyek teknologi total baru yg semuanya memang baru, termasuk mesinnya ‘siluman energi’.

    lain pula kalau pespur f22 & f35 yg msh menggunakan mesin f15 & f16 yg hanya menggunakan material body lapis siluman utk mmperkecil rcsnya, tapi kalau radar konvensionalnya aktif? Itu pespur f22 & f35 rcs nya sama sprti f15 & f16.

    dengan demikian proyek su 57 masih dalam proses mesin siluman energi,
    & yg dipesan sebanyak 12 unit itu sudah termasuk siluman walau msh menggunkan mesin su35,

    tapi namanya su57 proyek baru yaa semuanya harus baru, akhir thn 2018 mungkin mesin su 57 siluman energi sudah dicetak masal, trmasuk mesin utk pesawat angkut super ton yg juga dicetak masal

    •  

      Baru main di JKGR ya Dik. Hhhhhhhhhh. Emangnya ada ya mesin Siluman energi ??? Mesin jet ya sama aja. Yg beda itu nozzle buat buangan. Gimana caranya agar saat mengeluarkan gas, reduksi panas gasnya bisa dilakukan untuk menghindari sensor IR musuh sekaligus bentuk nozzlenya bisa mengurangi atau meredam gelombang deteksi dari radar musuh.

      Nyalain radar gak ada pengaruh besar sama RCS pesawat. Itu tergantung dari kemampuan pesawat musuh bisa mendeteksi emisi radar yg dikeluarkan oleh F-22 dan F-35 atau tidak. Dari sini hanya bisa mendeteksi keberadaan, bukan posisi apalagi RCS. Kalo mau tau posisi dan RCSnya baru pake radar dan sensor lainya seperti IR baru bisa mendeteksi lokasi, ketinggian hingga jenis pespurnya.

      Di semua artikel aja mesin Su57 baru siap tahun 2020 termasuk di artikel diatas, lah kok ini bilang 2018 udah siap. Itu sumbernya dari mana coba.

      •  

        buat bung @Agato yang paling pinter di JKGR, sebaiknya baca dengan baik komentar dari @Hanna Hu, karena menurut saya, beliau tidak menggunakan bahasa “Indonesia” lho ya… 😀

        itu menurut hemat saya lho ya… 😆 hihihihi

      •  

        Mungkin loe selama ini lbh lama brmain dibalik radar, sehingga loe tdk tau menghitung rcs yg dikeluarkan pespur tersebut yg dihitung menggunakan radar konvensional juga.

        Siluman energi itu mengeluarkan energi tdk terdeteksi

      •  

        Gue ulangi lbh lengkap

        Mungkin lor lbh lama bermain dibalik radar sehingga loe tdk tau menghitung rcs yg dikeluarkan pespur trsebut menggunakan radar konvensionalnya yg dihitung mnggunakan radar konvensional juga.

        Kalau siluman energi menggunakan energi tanpa terdeteksi

 Leave a Reply