Feb 132019
 

Pesawat tempur Gripen E sesumbar dapat mengalahkan jajaran pesawat tempur Sukhoi seperti Su-27 dan Su-35. Klaim tersebut sebelumnya dinyatakan oleh Komandan Angkatan Udara Swedia Mats Helgesson. Meski tanpa teknologi siluman, Gripen-E masih bisa mengalahkan pesawat tempur Sukhoi, termasuk Su-35.

Lalu kelebihan apa saja yang dimiliki Gripen E yang membuatnya “mampu” mengalahkan Su-35 Rusia?

Radar

Kekuatan Su-35 terletak pada radar passive electronically scanned array (PESA) N035 Irbis yang dapat mendeteksi target udara pada jarak hingga 400 km, dikombinasikan dengan mesin kontrol vektoring tiga dimensi (TVC 3D) AL-41F1S yang sangat membantu S-35 melakukan manuver super.

Namun, perlu dicatat bahwa radar Irbis dapat mendeteksi target dari jarak 400 km harus berupa objek seukuran pesawat dengan area pemantul radar (RCS) 3 m2 di ketinggian 20.000 m, yaitu dalam mode pencarian dengan tanpa gangguan medan bumi.

Sistem penjejak radar Su-35 akan sangat berkurang jika subjeknya adalah pesawat tempur ringan dengan fitur siluman dengan RCS hanya 0,5 m2 seperti Gripen-E. Apalagi jika Gripen-E terbang rendah pada ketinggian sekitar 1.000 m (kondisi sebenarnya dalam pertempuran udara), menjadikan Su-35 hanya dapat mengenalinya sedikit di luar jarak 100 km.

Gripen-E telah dilengkapi dengan radar Active electronically scanned arra (AESA) PS-05 / A Mark 5 dengan sensitivitas dan akurasi yang jauh lebih tinggi daripada PESA. Gripen E mampu mendeteksi Su-35 yang memiliki RCS 12 m2 pada jarak 120 km.

Ketika jarak untuk mendeteksi musuh seimbang, senjata pertempuran udara akan memainkan peran yang menentukan.

Rudal

Parameter “Not Escape Zone – NEZ” atau area di mana pesawat musuh tidak dapat menggunakan kelincahan untuk menghindari rudal. Senjata utama Su-35 adalah rudal udara ke udara jarak jauh R-77, memiliki jangkauan NEZ 40 km, sedangkan Gripen-E menggunakan rudal Meteor tercanggih di Eropa dengan jangkauan 185 km dengan Angka NEZ yang sangat mengesankan hingga 100 km, memberikan keunggulan Gripen-E dibandingkan Su-35.

Dalam pertempuran udara jarak dekat, banyak yang berpendapat, karena memiliki manuver luar biasa Su-35 akan mudah mengalahkan Gripen-E. Sayangnya, manuver seperti “Pugacev Cobra” atau “Kulbit” dianggap oleh veteran pilot pesawat tempur tidak berlaku dalam pertempuran nyata.

Selain itu, rudal udara-ke-udara jarak dekat R-73M (Mach 2.5) milik Su-35 juga terbukti lebih rendah kemampuannya dibandingkan rudal IRIST-T (Mach 3), selain itu gaya gravitasi rudal (30G berbanding 60G) dan kelemahan rudal R-73M yang tidak dapat mengunci target setelah peluncuran, menyebabkan manuver super Su-35 tidak berguna.

Dengan segala kelebihannya seperti tertulis diatas, Angkatan Udara Swedia yakin Gripen-E mampu mengalahkan Sukhoi Su-35 dalam pertempuran jarak jauh dan jarak dekat.

Vietbao

 Posted by on Februari 13, 2019

  8 Responses to “Benarkah Gripen E Lebih Baik dari Su-35?”

  1.  

    ati ati
    nanti di tepuk bagai menepuk nyamuk.

  2.  

    frustasi dagangan ga laku.
    jadi pakai edisi menghayal .com

  3.  

    Sudahlah jangan berkayal mulu kayak amer

    😎 huehuehue

  4.  

    Pada akhirnya Semua bergantung pilot nya..

    Karena iklan layanan tentara.. Jadi sah sah aja klo mengganggap diri lebih baik.. Tinggal menhan dan panglima tni aja.. Tertarik atau tidak

  5.  

    Sdhlah ….gak usah bikin cerita fiksi semu. Teori bualan DR dilapak sebelah yg dipake.
    Dia bisa jelasin kah ?
    – mendeteksi target dari jarak 400 km > RCS 3 m2
    – mendeteksi target dari jarak 300 km > RCS ?
    – mendeteksi target dari jarak 200 km > RCS ?
    Semakin dekat object yg dideteksi maka RCS nya berbanding terbalik toh.?

    Object pembanding rudal.
    R-73 versi baru yg notabene rudal jarak dekat sdh dilengkapi joint helmet mounted kok, itu artinya dpt diluncurkan tanpa hrs mengarahkan pesawat.
    Jika ingin bandingkan rudal meteor yg merupakan rudal terbaru silahkan dibandingkan R-37M atau yg Novator KS-172 sekalian yg sama2 rudal terbaru.

    Lalu ada gak gripen punya jammer sekuat Khibiny SAB-518SM.

    Sayangnya, manuver seperti “Pugacev Cobra” atau “Kulbit” dianggap oleh veteran pilot pesawat tempur tidak berlaku dalam pertempuran nyata.
    ———————————————————————-
    Bentuk analisa yg sdh mulai frustrasi , inikan bentuk keputus asaan pihak gripen yg dipicu sangat sukar bersaing dipasaran. Setiap pesawat yg menggunakan sayap delta dan canard tidak memiliki kelincahan manuver sebagaimana pesawst dng sayap biasa. Jika memang manuver itu tdk berlaku knp F-22 diciptakan menggunakan 2D trust vectoring.?

    Makin bebal aja lama2 fansnya gripen ini.

  6.  

    Ane setuju kalo performa Gripen E/F Next Gen jauh lebih baik daripada Su-35. Indon sebaiknya beli ini aja daripada Su-35.

    Kalo berpikir kenapa F-22 juga pake trust vectoring 2D itu karena pada jaman pembuatannya, manuver dan dogfight masih dibutuhkan. Tapi dg adanya F-35 sebagai pespur generasi kelima terbaru. Pilot utama tak perlu melakukan dogfight karena wingman drone lah yg akan maju buat ngadepin Sukro dan KWnya. Lucunya lagi Rusia baru akan buat pespur generasi keenam dg kemampuan tersebut untuk pespur mereka. Jelas itu udah ketinggalan jaman. Hhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhh Hhhhhhhhhhh