Nov 172018
 

Angkatan Darat AS menerima baterai pertama THAAD tahun 2009 © Lockheed Martin

JakartaGreater.com – Setidaknya 13 negara telah menyatakan minatnya untuk membeli sistem rudal pertahanan uadara Rusia daripada platform yang dibuat oleh perusahaan-perusahaan Amerika, meskipun hal tersebut dapat berpotensi memicu sanksi dari AS, menurut sejumlah sumber yang memiliki hubungan dengan intelijen AS.

Menurut CNBC, salah seorang sumber yang menolak disebutkan namanya, mengatakan bahwa Arab Saudi, Qatar, Aljazair, Maroko, Mesir, Vietnam dan Irak telah membahas pembelian sistem rudal pertahanan udara jarak jauh S-400 dari Rusia. Akan tetapi, AS yakin bahwa sebagian besar negara akan tunduk atas tekanan diplomatik.

S-400 adalah sistem rudal permukaan-ke-udara jarak jauh mobile, merupakan jawaban Kremlin untuk menandingi platform “Patriot dan THAAD” Amerika Serikat. Lockheed Martin membuat sistem THAAD sementara Raytheon membuat Patriot.

Jet tempur multiperan Su-35S Flanker-E Angkatan Udara Rusia. © Russian MoD

Pentagon telah menunda membahas sejumlah pertanyaan tentang kisah ini ke Gedung Putih, karena tidak mau berkomentar.

Setiap sanksi ekonomi atau politik potensial akan datang dibawah CAATSA yang diteken Presiden Donald Trump pada bulan Agustus 2017. Pada bulan September, AS memberi sanksi pada China karena membeli jet tempur Su-35 dan rudal dari Rusia.

Sementara itu, China, India dan Turki pun telah menandatangani perjanjian pembelian dengan Kremlin. China, yang terlibat perang dagang dengan AS, kini tengah menerima pengiriman terakhir sistem S-400. India yang merupakan pembeli senjata utama Rusia, menandatangani perjanjian dengan Moskow untuk pengadaan S-400 bulan lalu. Turki, sekutu NATO, bahkan dijadwalkan untuk menerima S-400 tahun depan dan diharapkan memiliki sistem yang siap digunakan pada tahun 2020.

Sistem rudal pertahanan udara S-400 buatan Rusia © Alexei Malgavko via Sputnik

Ketika ditanya mengapa ada begitu banyak negara berusaha membeli S-400 daripada sistem Patriot atau THAAD buatan Amerika Serikat, salah satu narasumber yang punya informasi tentang laporan intelijen AS pun menjelaskan bahwa militer asing tidak mau mengikuti rumitnya prosedur pembelian senjata dari pemerintah AS.

“Banyak dari negara-negara ini tak ingin menunggu hambatan regulasi AS”, kata narasumber. “S-400 memiliki lebih sedikit batasan ekspor dan Kremlin bersedia untuk mempercepat penjualan seolah-olah itu telah tersedia di rak”, tambah sumber itu.

Selain itu, meski tidak dijelaskan berapa banyak negara yang bersedia untuk membeli sistem Patriot maupun THAAD buatan AS, persenjataan buatan Rusia pada umumnya dianggap lebih murah daripada senjata AS dan meski tanpa dukungan perawatan yang lebih luas.

Peluncur rudal permukaan-ke-udara Patriot di Fort Bliss, Jerman. © Mark Halloway via Wikimedia Commons

Narasumber lainnya yang akrab dengan masalah tersebut mengatakan bahwa Moskow biasanya dapat memberikan sistem pertama dalam dua tahun setelah penandatanganan kontrak, singkatnya garis waktu yang kemungkinan tidak akan dapat dipenuhi oleh AS.

Sistem S-400 yang merupakan generasi penerus sistem rudal S-200 dan S-300, telah memulai debutnya dipanggung dunia pada tahun 2007. Dibandingkan dengan sistem SAM buatan AS, S-400 buatan Rusia ternyata mampu melibatkan lebih banyak target, memiliki jangkauan yang lebih panjang dan dapat digunakan melawan berbagai jenis ancaman secara bersamaan.

Dalam hal kemampuan, salah satu sumber mencatat bahwa meskipun tidak ada senjata yang sempurna, namun S-400 Rusia mampu mengungguli kemampuan sistem THAAD, sang permata pertahanan rudal Amerika Serikat.

“Tidak ada sistem pertahanan rudal AS lainnya yang mampu menandingi kemampuan S-400 untuk melindungi sebagian besar wilayah udara dalam jarak yang begitu jauh”, kata sumber itu.

Drone Qasef-1 buatan Iran yang digunakan pejuang Houthi menghancurkan radar PAC-3 Patriot Arab Saudi © Jim Watson via AFP

S-400 bahkan dapat menargetkan sasaran pada altitude yang tinggi dan bernilai tinggi seperti pembom siluman, pesawat, rudal jelajah, amunisi berpemandu presisi, sejumlah rudal balistik taktis, tambah sumber itu. Sistem rudal buatan Rusia ini bahkan mampu bertahan melawan serangan pesawat udara tanpa awak (drone) yang digunakan oleh pemberontak Houthi untuk menghancurkan sebuah baterai Patriot UEA pada bulan Februari.

“Ini adalah aspek geopolitik dari penawaran sistem S-400 Rusia yang paling menarik”, kata Thomas Karako, direktur Proyek Pertahanan Rudal di Pusat Studi Strategis dan Internasional.

Karako pun menekankan bahwa terlepas dari banyak negara yang menginginkan sistem rudal permukaan-ke-udara buatan Rusia ini, S-400 belum terlihat dalam pertempuran, tidak seperti sistem pertahanan rudal Patriot Amerika yang telah teruji tempur.

Bagikan:

  8 Responses to “Benarkah SAM Buatan AS Tak Selaris S-400 Rusia?”

  1.  

    Kayaknya harud nunggu uncle Trump lengser atau di lengserkan dulu biar aman sanksi
    secara partai rep gila perang semua dan gamau ngalah…

  2.  

    S.400 Cucok buat lawan alustita USA
    SAM cucok lawan lawan alustita RUSIA
    Bhahaha…………… Gitu aja kok repot…………… SUDAH KU DUGA

  3.  

    itu looo… berkali2 mencoba menembus sistem pertahanan Russia di Suriah dengan Drone gatot… sedangkan di sebelah malah Patriot ketembus sama Drone…

    •  

      Yg nembakin pake drone di Suriah itu pemberontak, lawannya Hanud yg dipegang langsung ama Rusia. Lah, kalo yg di arab Saudi kan mereka sendiri yg megang. Emangnya ente gak pernah tau yg namanya “Man Behind the Gun” ya.

  4.  

    kapan ya kita bisa beli S-400???

  5.  

    Benerkah? Betul juga itu, kan russia pernah menawarkn s400 ke amerika, itu supaya amerika tdk ngepet itu teknologi dr anggota nato & dari mitra amerika, sperti yg terjadi pd malay teknologi su 30 mkm dingepet amerika, oleh karna itu russia enggan merawat lbh lanjut pespur malay, bkn krna mslh uang atau lainnya, karna indonesia & negara lainnya tdk punya masalh mengenai perawatn pespur asal russia trsebut
    😆 😆

  6.  

    Rudal Patriot itu yang suka menghajar balik pemilik nya bukan?

    😎

 Leave a Reply