Beranikah Militer China Menyasar Kapal Induk AS?

Kapal induk Nimitz-Class, USS John C. Stennis (CVN 74) kembali ke Joint Base Pearl Harbor-Hickam © US Navy/Mass Communication Specialist 2nd Class Daniel Barker

JakartaGreater.com – Kini muncul Admiral Lou, yang menghadirkan apa yang sekarang berkembang dan diyakini orang China bahwa Amerika Serikat telah terlalu lemah untuk berperang. China tentu saja bukan yang pertama: Jerman dan Jepang pun punya pikiran sama pada tahun 1941, kata seorang analis militer di National Interest, Michael Peck, pada hari Kamis.

Admiral Lou Yuan adalah Curtis LeMay-nya China.

LeMay adalah Jenderal Angkatan Udara AS yang membungihanguskan kota-kota Jepang dan kemudian mengepalai Komando Udara Strategis, dia juga menjadi terkenal karena kecerobohannya. Pada 1950-an dan selama Krisis Rudal Kuba, ia mencoba membuat AS meluncurkan serangan nuklir pertama terhadap Uni Soviet: selama Perang Vietnam, dia mendesak pemboman Vietnam Utara agar “kembali ke zaman batu”.

Kini hadir Lou Yuan, wakil kepala Akademi Sains Militer China dan komentator militer yang mendukung invasi China ke Taiwan. Bulan lalu, Yuan mengatakan kepada audiensi dalam sebuah konferensi industri militer China bahwa China dapat segera menyelesaikan ketegangan di Laut China Selatan dengan menenggelamkan dua kapal induk AS.

China’s first domestically built aircraft carrier, Type 001A, leaves of Dalian Shipbuilding Industry Co., Ltd. for the fifth sea trial in Dalian city, northeast China’s Liaoning province, 27 February 2019. © IC via Global Times

Yang akan membunuh 10.000 pelaut AS. “Yang paling ditakuti Amerika Serikat adalah menjadi korban”, kata Lou. “Kita akan melihat betapa menakutkannya hal tersebut bagi Amerika”.

Lou sebelumnya telah mendesak invasi ke Taiwan jika Angkatan Laut AS menggunakan pulau yang dianggap oleh China sebagai pulau pemberontak, untuk pangkalan angkatan laut AS. “Jika armada angkatan laut AS berani berhenti di Taiwan, sudah waktunya bagi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) untuk mengerahkan pasukan guna mempromosikan persatuan nasional di pulau itu”, katanya.

LeMay bukanlah penggemar Komunisme, tetapi dia akan mengerti sentimen Lou.

Sayangnya, tidak seorang pun yang mengetahui beda antara “agresivitas dan kebodohan”. Serangan pertama LeMay pada Uni Soviet akan memicu Perang Dunia III melawan negara adidaya bersenjata nuklir: bahkan jika AS berhasil menghancurkan sebagian besar senjata nuklir Soviet saat itu, hanya diperlukan beberapa bom Soviet yang mendarat di New York atau Los Angeles untuk membunuh jutaan orang, belum lagi tentara Uni Soviet yang akan membalas dendam pada Eropa Barat.

Sekarang tiba gilirian Admiral Lou, mewakili apa yang tampaknya menjadi kepercayaan China yang berkembang bahwa Amerika terlalu lemah untuk berperang, seperti dilansir dari laman Stars and Stripes.

Rudal jelajah anti kapal YJ-12 buatan China © SCMP Pictures

Lou mengatakan rudal anti-kapal Tiongkok cukup untuk menghancurkan kapal induk AS dan kapal pengawalnya. Secara militer, mungkin benar bahwa rudal hipersonik atau rudal balistik yang diubah menjadi senjata anti-kapal, dapat melakukan pekerjaan itu. Dan lagi, semua itu bisa jadi tidak, karena senjata-senjata ini belum diuji dalam perang.

Yang memunculkan masalah sebenarnya adalah “menenggelamkan kapal induk AS” akan menjadi tindakan perang. Bukan tembakan peringatan melintasi busur. Tak ada pesawat mata-mata yang jatuh karena menyeberang ke wilayah China. Bukan pula sebuah tabrakan tak disengaja antara pesawat patroli AS dan jet tempur China.

Menenggelamkan kapal induk AS akan menjadi tindakan perang, titik. Jika China seperti Admiral Lou benar, maka AS selesai sebagai kekuatan utama. Jika 10.000 pelaut Amerika yang mati tidak layak diperebutkan, maka AS juga tidak mungkin membela Taiwan, atau Jepang atau Israel atau bahkan Eropa Barat sekalipun.

Sistem rudal balistik anti-kapal supersonik CM-401 buatan China © Bharat-Rakshak

Namun bagaimana jika Lou salah, karena itu memang hampir dapat dipastikan? Tak ada presiden AS, tidak ada Senator atau anggota Kongres, yang dapat tetap berada di kantor jika mereka tidak menanggapi dengan paksa kapal-kapal induk AS yang tenggelam, simbol kekuatan dan harga diri Amerika. Bagi jiwa Amerika, tindakan semacam itu akan setara dengan Pearl Harbor atau bahkan 11 September (9/11).

“Saya khawatir semua yang telah kita lakukan adalah membangunkan raksasa yang sedang tidur dan mengisinya dengan tekad yang mengerikan”, tutur Admiral Yamamoto, Jepang didepan Pearl Harbor. Admiral Lou sebaiknya memperhatikan saran tersebut.

Tinggalkan komentar