Jul 132014
 

“TES… satu, dua, tiga… satu, dua, tiga… dikopi,” ucap Sri Yuniardi, peneliti alat komunikasi militer dari PT LEN Industri. Ia tengah mempraktikkan bagaimana cara kerja produk inovasi Manpack Alkom FISCOR-100. Alat komunikasi militer buatan PT LEN Industri (Persero) itu merupakan salah satu inovasi unggulan PT LEN yang pernah memperoleh penghargaan Anugerah Rintisan Teknologi Industri 2009 dari pemerintah. Manpack Alkom FISCOR-100 dikembangkan sejak 2001 oleh PT LEN Industri. Nama ‘100’ diambil dari peringatan Hari Kebangkitan Nasional ke-100 pada 2008. Tujuannya untuk membangkitkan industri berbasis teknologi dalam negeri.

Bermula dari keinginan TNI untuk mengembangkan dan memproduksi alat komunikasi militer buatan dalam negeri. Pada periode 2001-2003, Puslitbang TNI bekerja sama dengan PT LEN Industri dalam program RUK Kementerian Riset dan Teknologi untuk mengembangkan alat komunikasi radio antisadap dan anti-jamming.

Alat komunikasi militer memiliki fungsi sangat strategis karena membantu keberhasilan operasi militer dan membantu komunikasi pasukan yang berada di lapangan dengan unit-unit lainnya di tempat berbeda. Hasilnya? Para periset PT LEN Industri berhasil menciptakan prototipe alat komunikasi VHF FH dengan kecepatan hopping 1 hope/sec. Kemudian pada 2007 PT LEN Industri berhasil melakukan rancang bangun mandiri alat komunikasi Manpack HF Spread Spectrum Frequency Hopping, dengan kecepatan hopping 5 hope/sec. Alat tersebut terus disempurnakan hingga 2008 agar kecepatan hopping bisa mencapai 5, 10, 20, dan 50 hope/sec dan random hop speed yang tidak dimiliki alat komunikasi militer lainnya.

Manpack

Antisadap

Di kelas HF inilah alat komunikasi FISCOR-100 menjadi yang tercepat. Manpack Alkom FISCOR-100 beroperasi pada rentang frekuensi 2 Mhz hingga 3 Mhz dengan 256 channel, dan kebutuhan pasokan tenaga 12 Vdc-24 Vdc. Peralatan ini bisa digunakan untuk komunikasi pada level peleton hingga batalion.

Menurut Sri Yuniardi, alat komunikasi militer berupa radio memang harus bebas jamming dan tidak bisa disadap. Karena itu, frekuensi yang diambil ialah frekuensi yang tidak dipakai. “Radio militer bekerja di trek 2 Mhz sampai 3 Mhz. Bisa juga sekelas 7 Mhz. Di dunia militer, para ahli frekuensi radio akan mengambil gelombang radio yang kosong. Ini bedanya dengan radio komersial. Setiap kali on air, radio komersial akan didengar banyak orang, sedangkan di militer tidak,” terangnya. Frekuensi radio ini menjadi jantung pada alat komunikasi FISCOR-100.

Dua perusahaan asing dari Australia dan Prancis pernah bekerja sama dengan PT LEN Industri untuk pengembangan alat komunikasi militer ini. Namun, kemudian PT LEN Industri mengembangkan alat komunikasi sendiri dengan mengombinasikan keunggulan teknologi alat komunikasi produksi kedua negara mitra tersebut.

Para periset banyak belajar dari pengalaman kedua negera dalam mengembangkan alat komunikasi militer. “Kami belajar membuat alat-alat komunikasi militer dengan Q-Mac Australia dan Thales Prancis. Thales merupakan industri komunikasi terbesar di dunia saat ini. Dan yang paling rumit ialah masalah frekuensi. Ahli frekuensi di Indonesia minim. Mau tidak mau, kita semua harus belajar masalah frekuensi dan enkripsi,” ungkap Yuniardi.

Untitled

Dengan kombinasi ini tentunya produk PT LEN Industri jauh lebih unggul. Teknologi tersebut memiliki kandungan lokal 85%, sedangkan untuk komponen handset, elektronik, dan konektor masih diimpor. Komponen dalam negeri dengan sistem komunikasi yang dirancang secara khusus sangat menguntungkan bagi TNI. Sebab, sistem komunikasi buatan luar negeri belum tentu aman karena akan dirancang untuk kepentingan negara pembuat. Untuk itu, sistem keamanan dalam komunikasi dirancang khusus dan hanya pemakaianya yang tahu. Alat tersebut bisa didesain sesuai keinginan.

Pembuktian antisadap ini diperlihatkan saat uji coba. Ketika alat tersebut dipakai berkomunikasi, di frekuensi biasa hanya terdengar suara gelombang radio tanpa ada suara. Kadang bunyinya agak bising, tapi tanpa ada yang bercakap-cakap. Padahal di balik itu sedang terjadi komunikasi antarpemakai. Hal tersebut menunjukkan alat komunikasi itu telah dilengkapi comsee sehingga tidak muncul percakapan di udara layaknya penyiar radio. Suara yang keluar dari percakapan antarpihak di lapangan telah dienkripsi sehingga mempersulit orang atau pihak musuh melakukan penyadapan.

“Intinya suara dikacaukan,” ujar Yuniardi. Sebetulnya komunikasi bisa bocor ke sipil atau pihak musuh apabila kunci frekuensinya sama. Untuk mencegah kebocoran informasi, perlindungan atau keamanan komunikasi harus ditangani oleh tiap negara. Termasuk saluran telepon presiden, lembaga-lembaga strategis, dan agen rahasia di negara-negara maju telah dienkripsi dengan kode-kode khusus. Oleh karena itu, bila produk komunikasi militer masih mengandalkan impor, dikhawatirkan rahasia negara bisa bocor ke negara lain lewat penyadapan alat komunikasi.

Uji coba alat komunikasi tersebut sudah dilakukan dari Bandung ke Surabaya dengan jarak 400 km. Dalam uji coba itu terbukti radio komunikasi militer ini aman dari penyadapan dan jamming. Kecanggihan alat tersebut diganjar penghargaan Upakarti, Desain Terbaik, dan Kreasi Prima. Peralatan berbentuk kotak berwarna hijau tentara ini memiliki berat 5 kg dengan baterai yang tahan dipasang selama 24 jam. Baterai yang dipakai bisa diisi ulang dengan memakai energi solar cell. Satu amphere solar cell bisa mengisi baterai selama 1 jam.PT LEN Industri kini sedang melakukan perbaikan- perbaikan, terutama untuk berat radio dan antene. Menurut Yuniardi, saat ini bobot radio masih terlalu berat. “Kalau bisa, di bawah 5 kg, yakni dengan cara mengurangi konsumsi daya baterai. Kemudian antenanya juga kurang efisien.” Antena HF yang menggunakan frekuensi rendah membutuhkan antena panjang untuk bisa menerima frekuensi yang bagus. PT LEN Industri saat ini sedang mengembangkan Manpack FISCOR-100 dari sistem analog menuju digital. Risetnya sudah dimulai sekarang ini.

Capture

Sumber : Kemenristek

Bagikan Artikel:
 Posted by at 7:35 pm  Tagged with:

  70 Responses to “Berkomunikasi Tanpa Terlacak “Made In PT Len””

  1. Sikat miring PT Len….

  2. Datang lagiiii…..!!!!

  3. teruskan, dan dukung. . .

  4. ijin nyimak..

  5. teruskan,dan dukung. .

  6. kijang satu kijang satu.
    melapor. kijang satu….

  7. PT LEN, Terus Berinovasi Walau “Dikhianati”

    Dalam doktrin perang modern, kemampuan komunikasi suatu pasukan bisa menjadi penentu jalannya peperangan, siapa menjadi pemenang dan siapa menjadi pecundang. Untuk menunjang hal tersebut, maka dibutuhkan sebuah Alat Komunikasi (Alkom) militer yang memadai.

    Alkom menjadi unsur yang penting dalam suatu operasi militer (pertahanan). Yakni, sebagai sarana untuk menyampaikan informasi untuk mendukung koordinasi dan sub-ordinasi.

    Berbeda dengan Alkom yang biasa digunakan kalangan sipil, Alkom yang digunakan militer harus memiliki beberapa kriteria wajib, seperti memiliki kemampuan anti sadap dan anti jamming yang berguna untuk mengurangi kemungkinan komunikasi terdengar oleh musuh, atau pun menghindar dari frekuensi yang dimiliki musuh.

    Atas dasar kebutuhan itulah, LEN sebagai BUMN strategis yang bergerak dibidang alat elektronik pertahanan, mengembangkan sebuah Alkom militer untuk kebutuhan TNI. Alkom ini diberi nama Manpack FISCOR-100, yang sesuai dengan kebutuhan militer di medan perang.

    Kepada INTELIJEN, Anggota Dewan Komisi I DPR RI, Roy Suryo mengatakan, LEN sebenarnya memiliki kontribusi yang sangat baik di bidang industri perangkat lunak, misalnya membuat perangkat lunak bagi Alutsita TNI.

    Namun disayangkan, Alkom buatan anak bangsa belum dilirik oleh pemerintah. Bahkan Alkom buatan LEN dinilai ketinggalan zaman jika dibandingkan dengan produk luar.

    Padahal produk LEN yang satu ini dikembangkan dengan biaya investasi yang tidak sedikit dan layak digunakan. PT LEN mengembangkan MAnpack dengan memperhatikan persyaratan yang diajukan oleh TNI.

    Kepada INTELIJEN mantan Wakil Komisi I DPR RI Periode 2004-2009, Yusron Ihza mengatakan, LEN itu sudah marah kepada pemerintah, sehingga LEN tidak tergantung lagi kepada pesanan dari pemerintah.

    Penghargaan

    Sebagaimana pengertian alat komunikasi, Alkom Manpack FISCOR-100 adalah peralatan militer berbentuk radio portable untuk tentara. Fungsinya untuk dapat berkomunikasi satu dengan lainnya di medan pertempuran.

    Produk buatan BUMNIS asal kota Bandung ini beroperasi pada rentang frekuensi 2 MegaHerzt hingga 30 MegaHerzt dengan 256 channel, yang memerlukan pasokan tenaga 12 Vdc-24 Vdc. Alkom ini bisa digunakan untuk komunikasi pada level peleton hingga batalion.

    Teknologi Manpack Alkom FISCOR-100, pada awalnya dikembangkan bersama Pemerintah Australia. Namun di tengah jalan kerjasama itu dialihkan kepada Thales, yang merupakan perusahaan elektronik terbesar di Perancis.

    Tetapi kerjasama itu hanya sebatas pada matrikulasi frekuensi radio saja, sebab rogram tersebut belum bisa diimplementasikan di Indonesia, serta tidak menyangkut kerahasiaan data telekomunikasi dari pesawat komunikasi tersebut. Kerahasiaan adalah suatu hal penting bagi Alkom pertahanan, karena dibuat secara rahasia oleh negara, dan juga untuk menghindari dari tindakan jamming oleh musuh.

    Untuk menghindari jamming lawan, LEN mencangkokkan teknologi spread spectrum. Alkom dengan teknologi ini memungkinkan prajurit melakukan komunikasi dimana sinyal yang dikirimkan, akan ditebar ke dalam area frekuensi yang lebar.

    Perbedaannya dengan produk sipil, jika pada komunikasi normal, sinyal suara dikirim dengan memodulasi ke dalam frekuensi carrier tertentu. Tetapi dengan teknologi spread spectrum, informasi suara tersebut akan ditebarkan secara acak ke dalam frekuensi carrier yang lebar.

    Karena keunikan kemampuan itulah, Manpack Alkom FISCOR-100 mendapatkan penghargaan Rintisan Teknologi Industri 2009. Karena LEN dianggap mampu menciptakan produk dengan kriteria inovatif, kompetitif, memiliki nilai komersial dan mengusung keunikan lokal.

    Untuk kemampuan produksi pesawat komunikasi ini, LEN mengklaim mampu memproduksi antara 1.000 hinga 1.500 unit pertahunnya. Jumlah yang cukup banyak untuk perusahaan sekelas LEN.

    Janji Pemerintah

    Alkom buatan PT LEN dianggap sebagai produk inovatif, kompetitif, memiliki nilai komersial dan mengusung kearifan lokal, yang berarti harganya bisa menjadi lebih murah ketimbang produk sejenis dari luar. Kenytaannya, alat komunikasi ini belum dipesan satu pun oleh TNI. Padahal Kementerian Pertahanan telah menguji coba enam unit Alkom buatan LEN di Mabes TNI.

    Nasib sial Alkom buatan anak bangsa ini tidak sampai di situ. Manpack FISCOR-100 pernah kalah tender dari produk Afrika untuk pengadaan Alkom untuk TNI. Padahal jika dibandingkan, Alkom buatan LEN memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh Alkom buatan luar negeri tersebut.

    Apalagi menurut informasi yang beredar, Alkom buatan asing itu ternyata tidak dilengkapi dengan teknologi anti sadap dan anti jamming yang disyaratkan oleh TNI. Secara fisik alkom buatan luar negeri tersebut juga memiliki dimensi yang lebih besar, sehingga memakan tempat dan tidak praktis dibawa.

    Ini memang penyakit lama di Indonesia. Para pengambil keputusan di negeri ini lebih memilih produk luar yang dianggap telah memiliki predikat battle proven, ketimbang memilih produk dalam negeri yang lebih murah tapi memiliki kualitas yang tidak kalah bagus.

    Kepada INTELIJEN, Roy Suryo mengatakan, memang harus ada itikad baik dan didukung oleh political will yang benar dari pemerintah. Maka dengan optimisme dan niat baik untuk mengembangkan industri pertahanan, maka kemandirian bisa tercapai.

    Mudah-mudahan, dengan adanya program revitalisasi industri pertahanan yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di awal masa kepemimpinannya yang kedua, dapat membawa angin segar bagi LEN. (repro INTELIJEN)

    http://www.intelijen.co.id/pt-len-terus-berinovasi-walau-qdikhianatiq/

    • miris lihat judulnya bung…terus berinovasi meski dikhianati

    • Bung @Jalo Sampai sekarangpun Pemerintah belum order ya?

      • Helo pemerintah… Helo tni… Ayo segera diborong alkom dr pt.len… Ada barang bagus karya anak bangsa kok dianggurin…terlalu…

      • Nah itu saya belum ada infonya, nanti saya cari infonya tapi memang di MEF pertama ada pengadaan Alkom. Mudah2an nih barang yg dipilihya, demi kemajuan bangsa kita. 😀

        • malam bung @jalo

          numpang tanya…mengenai alkom militer seperti yg disebutkan diatas, apakah aspek sekuriti desain, produksi dan pemasaran sudah dipertimbangkan detail oleh stakeholders-nya ? mengingat kebocoran efektifitas kemanan bisa bermula dari sini..

          ane ada pengalaman sedikit dengan barang non militer yang melibatkan pihak luar sebagai pemegang desain teknologinya, mereka mensyaratkan nda tidak hanya antar badan hukum tetapi juga kepada seluruh karyawan yang memiliki akses terhadap asset mereka, berlaku sejak nda ditanda-tangani hingga nanti sang karyawan “pensiun” 5 thn dari perusahaan..

          bagaimana kalau dalam industri pertahanan indonesia ?

          makasih bung @jalo…salam sejahtera

          • Kebocoran yg yg perlu diantisipasi masalah enkripsi, itu harus dijaga. Kalau berupa artikel diatas kayaknya gak, karena itu tidak menyebutkan masalah enkripsi dan detail teknologinya. Di produsen luar juga demikian, makanya disitus Len ada tulisan “Untuk keterangan lebih lanjut, silahkan hubungi kami”.

            Nah kalau di militer itu ada badan yg akanmengawasi, bisa jadi termasuk Badan Intelijen Negara yg terlibat dalam pengawasannya. Untuk industri pertahanan, memang kita masih kurang mungkin KKIP, Setjen Kemhan yg berperan dalam masalah ini termasuk pasti ada tim pengawas internal. Tapi yah gitu, pasti aja bocor karena pasti ada oknum yg terlibat. Kasus oknum anggota intelijen Jerman yg diduga terlibat dalam penyadapan bisa dijadikan contoh. Untuk enkripsi memang perlu terus dilakukan pengupgrade-an, lumayan meminimalisir kebocoran.

    • Pengkhianat bangsa halal darahnya Bung… ngaa peduli militer, pejabat, sipil, intinya siapa aja yg menghambat kemajuan dan kemakmuran bangsa babat sampai akar” nya, rakyat udah muak

    • Assalamualaikum wr.wb
      menurut saya masalahnya tentang keuntungan tendernya :)
      Insyaallah produk PT. LEN jauh lebih bagus dan canggih dr produk luar namun pengawasan yang ketat membuat keuntungan yang masuk kecil :)
      kalau salah ya maaf :D
      maaf oot :D

  8. Makin bangga dengan indonesia :D

  9. Ini bukti nyata bahwa SDM kita BISA & MAMPU…..Ayo dukung kemandirian…maju terus bangsaku….!!

  10. selama oknum2 yg mencari keuntungan pribadi demi perutnya sendiri itu msh ada negara ini tdk akan pernah maju..mantap infonya bung@jalo

  11. roger enemy spotted

  12. “Ini memang penyakit lama di Indonesia. Para pengambil keputusan di negeri ini lebih memilih produk luar yang dianggap telah memiliki predikat battle proven,”

    Ha..ha.. ini emang lagu lama kaset baru bung. produk luar bisa dimarkup harganya dengan embel battle proven (entah saya kurang faham dilihat dari sudut mana battle proven untuk alkom).
    Agak Janggal memang di era digital yang sudah maju alkom versi militer tidak dilengkapi enkripsi dan anti jammer.
    Sebagai contoh program chatting di PC atau smartphone saja sudah tersedia berbagai macam metode ekripsi, lah ini untuk militer ora ono??
    Kalau untuk Militer selain fitur ekripsi/antisadap, Anti jamming yang sangat penting adalah Hack protek jadi walaupun jatuh ketangan musuh tidak bisa dianalisa jeroan hardware dan cara kerja systemya.

  13. Tidak mungkin tidak terlacak! Mungkin karena yg digunakan freqwensi khusus jadi saluran aman.

    Dan harus koordinasi dulu dengan badan sandi negara.

    Selama masih bermain di freqwensi tidak ada rumusnya tidak terlacak.

    Kecuali sudah bermain di serat optik sattelit.

    • Bukan bermaksud mengecilkan… tapi yg beginian amatir juga bisa tergantung budget…

      Lebih baik kita lanjutin nanosattelit yg bisa berguna baik militer dan sipil. Prosessor juga kita bisa buat koq. Jadi aman.

    • Bung @BarisanHarimauLiar.
      Bukan tidak terlacak channel freq nya.. tapi tidak terbaca/terdengar data/suara nya.
      Kalo frequency mah suruh team fox Hunter dari ORARI juga ketangkep tuh frequency nya :)

      • Lah buatan anak bandung masa saya ga tau… bisa diunscrip oleh pro dengab bantuan pentium 1 yg beginian.

      • Lebih bagus adopsi alat streamingnya anak bandung aza… buat support f16 :D

      • Subsidi 1000 alkom… cukuplah tu buat tim basarnas, bpbd, mapala.
        Polisi huruhara aza ga bakal mau bawa radio gitu.

      • Maaf ikut nimbrung nih, jadi begini mau buatan anak bandung atau yg lain kalau pemerintah melakukan pengadaan dalam negeri yg akan digandeng adalah PT Len, nanti perusahaan lain mungkin seperti PT Inti atau CMI mau ngajuin harus melalui PT Len. Soalnya di UU Nomer 16 Tahun 2012, BUMNIP berperan sebagai Lead Integrator.

        Untuk Mapala, Polisi Huru-hara, Basarnas, ini masuk dalam frequensi sipil di Indonesia Spektrum Frekuensi Radio diambil dari : :

        1. Artikel S5, Frequency Allocation, Radio Regulation dan Final Act-World Radiocommunication Conference (WRC)-1997, International Telecommunication Union (ITU), Tabel Alokasi telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.
        2. Penetapan Frekuensi Dinas Tetap
        3. Penetapan Frekuensi Maritim, Penerbangan dan Siaran di Indonesia
        4. Tabel Alokasi Spektrum Frekuensi Radio Indonesia
        5. Database AFMS (Automated Frequency Management System).

        Sebagai catatan bahwa pada ketentuan diatas itu tidak mencakup penggunaan spektrum frekuensi radio untuk kepentingan militer. Militer memang boleh menggunakan juga, tapi dia sudah punya Spektrum Frekuensi Radio tersendiri. Kalau basarnas, Polisi, Mapala, dll itu mengikuti 5 spektrum diatas sesuai dengan regulasi Sistem Standardisasi Nasional (SSN). Di negara lain juga sama, punya regulasi Sistem Standardisasi masing-masing.

        • Makanya dalam bencana TNI dilibatkankan pak. Walau saluran lain.

          Klw utk militer kan pak moel dah bilang nanosat antisadap. Jadi macem fbi aza besar alatnya cukup di tempel kuping.

          • Kalau setahu saya ya Bung, untuk komunikasi paling aman adalah menggunakan teknologi penginderaan jauh. Tapi harus bangga karena kita bisa, dulu BPPT pernah buat pengaman Anti Sadap HP namanya Celebes lalu LIPI buat BandrOs berbentuk smartphone nah ini sudah masuk ke digital tinggal dikembangkan ke militer. Cuman masalah utama adalah “proyek” akhirnya ujung2nya kurang peminat. Itu sudah menjadi budaya negara kita, saya punya beberapa teman salah satunya anak bangsa yg terkenal masalah ini di Australia sampai mau dijadikan warga negara sana. Pengembangan yg beliau lakukan di dalam negeri sangat2 tidak di support. Saat ini beliau cuman aktif di komunitas atau forum dengan harapan kedepan ada anak bangsa yg menjadi penerus beliau atau calon pengambil kebijakan untuk membangun bangsa. Coba kalau beliau di Australia, saya yakin beliau akan menjadi orang kaya raya, tapi di dalam negeri saya jadi kasihan. 🙁

            Cerita lain saya jadi ingat Pak Rudy Yuwono seorang ahli kita yg berhasil mendapat penghargaan terbaik (best paper) di International Conference on Future Information and Communication Engineering (ICFICE) di Shenyang, Cina. Sampai skrg beliau belum2 disupport pemerintah kita. Kasihan, 🙁

      • Tambahan, untuk masalah Radio atau Satelit itu sudah ada regulasinya di Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi disitu sudah lengkap termasuk masalah Spektrum Frekuensi Radio maupun orbit satelit. 😀

  14. Apa mungkin di kalangan parlement dan pemrintah ada unsur kepentingan asing, sehingga produk lokal tidak dilirik…maaf pikiran orang awam….

    • Bukan begitu… liat tuh radio di gambar pasukan elit israel… di judul sebelumnya… radio gitu…. orang palestina aza bisa sadap… hahaha

      • @Bung aaruchy kalau saya lihat memang pemerintah kita ygminta disadap kok. Waktu tante Merkel disadap, langsung parlemen Jerman meminta agar badan ristek dalam negerinya memperketat dan mensuport teknologi dalam negerinya dengan mencari anti-dot. Kalau di kita itu malah badan ristek yg menawari malahan riset mereka dijadikan ajang pencitraan, buktinya mereka sama sekali tidak di support pemerintah. Sekarang kta sudah buat, baik berupa teknologi software, teknolgi penginderaan jauh, teknologi frekuensi, dll, tapi kenyataan tidak diperhatikan miris. Jadi jawabannya teman2 bisa tahu, kalau beli diluar yakin tidak ada unsur penyadapan???

        Contohnya, Celebes, BandrOs itu apakah diminati pemerintah?? 🙂

        Untuk @bung BarisanHarimauLiar, untuk penggunaan spektrum frekuensi radio itu dibutuhkan Radio Base Station. Dan kalau menurut saya, di Palestina itu masih belum ada enkripsi produk asli dalam negerinya jadi gampang untuk masuk dalam Radio Base Stationnya. Apalagi penggunaannya masih menggunakan versi sipil, karena militer itu membutuhkan radio Base Station yg besar dan itu saya yakin bisa jadi incaran pesawat tempur Israel. Jadi maklum bisa disadap. 😀

      • btw koneksi saya saat posting komen ini juga anti sadap loh :D
        walaupun beberapa kali ke sensor bung ngadimin he..he..

        http://postimg.org/image/cy62suk5t/

  15. Bung jalo apakah teknologi ini bisa dimiliki sipil? Sy koq jd mikir ya kalau selama ini kebayakan para koruptor ketangkap KPK karena tersadapnya komunikasi mereka, bukan tdk mungkin kedepan mereka selalu mencari solusi agar tidak tersadap.

    • Boleh bung Rafly, tapi sesuai ketentuan yg berlaku. Memang mereka akan cari celah, kalau melalui komunikasi anti sadap yg disediain negara pasti ada pengawasannya dan KPK pasti ikut dalam tim ini. Jadi mereka mencari celah melalui komunikasi jalur lain, 😀

      • Selama revisi UU 30 tahun 2002 pasal 12 tentang penyadapan tidak terlaksana insya Allah aman…. Terima kasih penjelasannya bung jalo.

        • Sekarang yg bahaya, koruptor bermain dan bersembunyi dibalik UU. Saya beberapa hari ini lagi mantau UU MB3 yg baru disahkan lewat paripurna, bener2 bahaya karena negara kita bakalan semakin rusak.

          • Nah kesitu tujuan sy, sy yakin bung jalo sudah ngelotok otak nya urusan kaya gini…. senayan itu sarang penyamun celah2 nya bisa diusahakan, perlu dicermati kalo teknologi ini jatuh ke tangan yg sangat2 kotor. Imho

          • Yup bener, mari sama2 kita pantau.

    • Bung @Rafly.
      Bung Pakai Blackberry smartphone? nah BBM di Blackberry anti sadap loh apalagi sekarang sudah ada BBM voice bisa voice call tanpa terlacak..
      Parahnya lagi Permintaan pemerintah kepada pihak RIM untuk membangun server di Indonesia ditolak oleh mereka.

      • Bisa koq bung ts bbm ditelusuri, masih ingat transkip bbm angelina sondakh dan mindo rosalina tentang apel malang? Karena memang setahu sy polri menempatkan personilnya di perusahaan oprator jaringan jadi dengan mudah mereka membuka transkip percakapan siapapun yg dicurigai. Sy pikir gak apa2 lah rim tidak investasi dan buka server di kita karena perusahaannya jg sudah kolaps lagi pula masih bisa diakali asal kita pegang opratornya bung. Cmiiw

  16. masih byk karya anak bangsa yg blm di publish, kalo utk di Bandung memang gudang nya hi tech utk produk elektronik PT. Len, PT. Inti, th 80-90 ada PT. RFC yg jd pionir utk produk alkom yg sdh dipakai ABRI (TNI).
    sy kira peraturan & UU nya yg harus dipatok utk memakai produk lokal, utk syarat tender pasti bisa dipenuhi karena perusahaan pembuatnya tdk hanya satu, di Surabaya, Jkt & Yogya pun sdh mampu buat bbagai macam alkom.
    yg penting niat user dan pembuat kebijakan yg hrs punya nasionalisme thp bangsa, berikan kesempatan sebesar besarnya utk percaya kpd produk anak bangsa

  17. hebat..maju terus pantang mundur adalah lagu perjuangan yg sangat indah utk di gaungkan saat ini..lagu yg memberi motivasi bagi anak bangsa utk berkarya demi nkri

  18. Kembali lagi ke….
    “Cintailah ploduk2 Indonesa…”

  19. Lb baik kita ekspor saja alkom ini daripada nunggu pemerintah beli.soalnya kalau enggak ada suap ke petinggi militer enggak bakal dibeli.kalau ingin battle proven kirim aja ke hamas.mereka pasti butuh.

  20. LEN maju riset alkom siskomnya mungkin setelah berhasil kerjasama dengan perusahaan Turki “Aselsan” yg memproduksi material serupa.
    Sedangkan “Aselsan” Turkye banyak mendapat dukungan teknology dari “raja” alkom siskom Isroil “Tadiran / Elbit”.
    Perihal enkripsinya, kalau benar LEN sudah menguasai technology ini berarti LEN luar biasa.
    Berarti ibarat adu balap LEN lebih cepat di banding dengan Lembaga Sandi Negara.
    Perihal belum di pakainya produk Alkom Siskom produk LEN oleh TNI, mungkin belum memenuhi requirement teknik dari TNI.

    • Mosok sih, coba tulisan di artikel ini bung…

      “Kami belajar membuat alat-alat komunikasi militer dengan Q-Mac Australia dan Thales Prancis. Thales merupakan industri komunikasi terbesar di dunia saat ini. Dan yang paling rumit ialah masalah frekuensi. Ahli frekuensi di Indonesia minim. Mau tidak mau, kita semua harus belajar masalah frekuensi dan enkripsi,”

      Setahu saya Aselsan itu baru gabung dengan PT Len pada bulan Mei tahun lalu. Sedangkan ini sudah dikembangkan sejak 2001-an. Kalau lihat banyak yg membantu, nih saya kasih listnya…

      Aerodata – Germany, ALSTOM – France, ALTPRO – Croatia, Aselsan-Turki, Airspan – UK, Bombardier-Belgia, CAE-Canada, CETC-China, CNBM-China, Hitachi-Japan, Hollysys – China, JA Solar-China, Kongsberg-Norway, Mitsubishi – Japan, Pintsch Aben-Netherlands, Rohde & Schwarz-Germany, Runcom – USA, Saab-Swedia, Siemens AG – Germany, Simoco-Inggris, SIM-LM – Netherlands, Sumitomo Corp – Japan, Thales – France, Ultra Electronics – UK (England), Vialis Railway Systems – Netherlands, Westinghouse – Australia dan ZTE Corp-China….

      Untuk enkripsi sudah lama kita kuasai, coba searching tentang Len Cryptosys. Dan masalah belum dipakainya, silahkan cari sejarah panser Anoa, Hovercraft dalam negeri, radar dalam negeri, dll. Nanti bisa disimpulkan masalah requirement TNI itu seperti apa?? Di artikel lama banyak loh sudah dibahas. 😀

      • bung @Jalo, kita selalu menyimpulkan kalau pemerintah masih kurang peduli dengan produk buatan dalam negeri.

        yg jadi pertanyaan : pemerintah ini siapa?

        TNI kah ?
        kemenhan (dephan) kah ?
        kemmenkeu (depkeu) kah ?
        menBUMN (dep BUMN) kah ?
        atau
        K-1 DPR ?

        mohon bisa dibabar dimari bung..
        sehingga waga JKGR tidak men-generalisir dengan istilah “pemerintah”
        maturnuwun

        • Di TNI ada, di Kemhan ada, di Kemenkeu ada, di DPR ada, dll. Pasti dalam kebijakan itu ada permainan. Masalahnya sampai sekarang belum ada pengawas dan belum ada kasus penyelewengan yg masuk ranah hukum.

          Catatan : Ada yg dimaksud –> Oknum yg bermain… Meski berkurang tapi masih banyak oknum dibanding yg gak.

  21. stop press :

    PT AIU Pasok Komponen Meriam Oerlikon Skyshield untuk Rheinmetall Defence

    PT Alam Indomesin Utama mendapatkan kepercayaan dari Rheinmetall Defence untuk memasok sebagian komponen/peralatan meriam pertahanan udara Oerlikon Skyshield 35mm untuk memenuhi order dari Kementerian Pertahanan Indonesia.

    http://defense-studies.blogspot.com/2014/07/pt-aiu-pasok-komponen-meriam-oerlikon.html
    https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=610753729022953&id=157016457730018

    Skyshield merupakan meriam reaksi cepat yang dapat melindungi area dari ancaman serangan artileri, roket, dan mortir. Indonesia berencana menggunakan Skyshield untuk melindungi pangkalan udara utama TNI AU. Pengoperasian sistem ini akan ditangani oleh Korps Pasukan Khas TNI AU.

    Indonesia membuat pesanan atas enam beterai Skyshield senilai EUR113 juta pada pertengahan tahun 2013, dengan waktu pengiriman pada akhir tahun 2014 atau selambat-lambatnya awal tahun 2015.

    Sebanyak 8 set komponen meriam pertahanan udara Oerlikon SkyShield 35mm akan dikirimkan PT. AIU pada akhir Agustus 2014. Pekerjaan ini telah dilakukan sejak bulan April lalu, untuk tahapan selanjutnya akan diselesaikan sebelum akhir tahun 2014.

    Berdasarkan UU No. 16/2012 tentang Industri Pertahanan maka untuk pengadaan alat utama sistem senjata diwajibkan untuk menggunakan konten lokal dan melakukan transfer of technology agar dapat mendukung industri pertahanan Indonesia. Untuk kontrak ini konten lokal yang diharakan mencapai 35%.

    Teknologi pertahanan udara meriam Skyshield 35 mm tidak terbatas untuk peran statis, dalam beberapa pameran pertahanan Rheinmetall Defence menampilkan pula versi truck mounted, pada versi ini meriam dan radar dipasangkan pada truk beroda 8 atau 10. Platform truk yang pernah dipakai adalah MAN dan Tata. Versi mobile ini terlihat lebih optimum karena sistem pertahanan udara dapat dipindahkan dalam waktu singkat untuk melindungi daerah lain secara cepat dan maksimum.

    Ternyata sistem Oerlikon Skyshield yang dipilih untuk melindungi pangkalan udara TNI AU adalah jenis truck mounted. Basis truk yang diambil adalah HINO Ranger, kendaraan ini dipilih untuk mendapatkan sebanyak mungkin konten lokal. Truk HINO ini telah banyak kandungan lokalnya hingga mencapai 60-90% tergantung pada modelnya.

    (AIU-Defense Studies)

 Leave a Reply