Feb 072019
 

JakartaGreater.com – Senjata nuklir kecil yang menurut Presiden AS Donald Trump “bisa digunakan” akan dapat menyebabkan salah penilaian dan ini akan menempatkan dunia dalam risiko perang nuklir, menurut peringatan dari para pakar pada hari Rabu ketika AS memulai produksi nuklir semacam itu, seperti dilansir dari Global Times.

Diperintahkan oleh Presiden Trump dalam Tinjauan Postur Nuklir atau Nuclear Posture Review (NPR) tahun 2018, produksi hulu ledak W76-2 telah dimulai di Pabrik Pantax di Texas, menurut sebuah pernyataan dari Badan Keamanan Nuklir Nasional Amerika Serikat.

Dirancang untuk memiliki ukuran lebih kecil daripada bom nuklir yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang pada Perang Dunia II, nuklir kecil ini didasarkan pada rudal balistik Trident yang diluncurkan dari kapal selam oleh Angkatan Laut A.S. Dan batch pertama dijadwalkan untuk pengiriman pada akhir September, tulis laporan itu.

Pemerintahan Trump mengatakan nuklir kecil akan memberi A.S. pencegah yang lebih fleksibel, karena musuhnya mungkin berpikir A.S. tidak akan menggunakan nuklir saat ini karena mereka “terlalu besar untuk digunakan” dan akan menyebabkan korban sipil yang tak terhitung, menurut laporan The Guardian pada 8 Januari lalu.

Bom nuklir B-61 buatan AS © Departemen Energi AS via Wikimedia Commons

Dengan hulu ledak yang lebih “bermanfaat” tersebut, A.S. pun melonggarkan batasan senjata nuklir, menurut The Guardian.

Untuk waktu yang lama, senjata nuklir tersebut hanya dimaksud sebagai pencegah strategis untuk mendapatkan pengaruh politik dan diplomatik serta untuk menjaga perdamaian, akan tetapi, Song Zhongping, seorang pakar militer dan komentator TV, mengatakan pada hari Rabu bahwa senjata nuklir berukuran kecil Amerika mungkin menghasilkan penggunaan nuklir yang sebenarnya dalam medan perang.

Tidak seperti bom nuklir strategis dengan daya ledak tinggi yang menargetkan pusat politik, ekonomi dan militer yang besar, bom dengan daya rendah dimaksudkan untuk serangan taktis pada target seperti pangkalan militer yang lebih kecil, kata para ahli.

Namun, dalam penyebaran bom nuklir kecil seperti itu dapat menyebabkan kesalahan penilaian yang sangat serius.

Setelah mendeteksi peluncuran rudal nuklir kecil, pihak penerima tidak tahu apakah rudal tersebut membawa hulu ledak berdaya tinggi atau rendah, dan kemungkinan mereka akan bereaksi seolah-olah hulu ledak yang lebih besar telah diluncurkan pada mereka, menurut laporan Defense News, yang mengutip pernyataan dari pendukung non-proliferasi di Kongres A.S.

Ledakan nuklir © Jullius71 via Wikimedia Commons

Prinsip China adalah untuk tidak pernah menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu, tetapi Song mengatakan bahwa kekuatan nuklir termasuk China serta Rusia memiliki mekanisme pembalasan nuklir yang akan meluncurkan serangan balik dengan nuklir, tetapi mekanisme itu mungkin tidak membedakan antara serangan nuklir taktis dan serangan nuklir strategis.

Sementara A.S. sendiri mungkin saja menggunakan nuklir daya ledak rendah dalam perang konvensional untuk membatasi kerusakan, namun itu bisa meningkat menjadi perang nuklir berskala penuh yang mengakibatkan bencana diseluruh dunia, menurut Song.

China telah dikelilingi oleh kekuatan nuklir, dan apabila nuklir daya rendah digunakan, maka akan ada lebih banyak negara ingin menggunakannya, yang mana menimbulkan tantangan serius bagi China, kata Song.

Lima kekuatan nuklir utama – A.S., China, Prancis, Rusia, dan Inggris – mengadakan konferensi di Beijing pada hari Rabu hingga Kamis. Mereka bertanggung jawab untuk menjaga perdamaian global, keamanan dan stabilitas, kata Geng Shuang, juru bicara Kementerian Luar Negeri China pada hari Rabu. Mereka ini harus mengakui tantangan serius yang dihadapi keamanan global, kata Geng.

Bagikan: