Jun 102014
 

image

Jakarta – Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mencatat kelemahan anggaran pada sistem pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) oleh pemerintah. Sehingga kualitas alutsista yang dibeli kurang mutakhir, dan belum sepenuhnya mengikuti perkembangan teknologi.

Padahal, anggaran pertahanan tahun lalu sudah meningkat tiga kali lipat sejak 2007 yang hanya Rp 30,7 triliun. Pada 2013 anggaran alutsista mencapai Rp 92,1 triliun. Pada 2013 anggaran pertahanan itu direalisasikan hanya kurang lebih Rp 27,8 triliun.

“Kualitas alutsista yang dibeli menjadi kurang mutakhir dan belum sepenuhnya mengikuti perkembangan teknologi,” kata Ketua BPK Rizal Djalil dalam sidang paripurna di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (10/6/2014)

Pengadaan alusista bersumber dari pinjaman luar negeri Kementerian Pertahanan, Kementerian Keuangan, dan Kementerian PPN/Bappenas. Kegiataan pengadaan inipun membutuhkan waktu yang cukup lama untuk direalisasikan.

“Hal tersebut mengakibatkan sulitnya pencapaian target pemenuhan kebijakan Minimum Essential Force (MEF) secara tepat waktu dan biaya pengadaan meningkat karena cost of borrowing, termasuk fee,” jelasnya.

Lewat temuan atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) 2013 ini, Rizal mendesak pemerintah membenahi pola pengadaan alutsista.

“Pemerintah juga hendaknya melakukan evaluasi dan kajian terkait komposisi alokasi anggaran belanja kementerian pertahanan,” imbuhnya. (finance.detik.com)

  148 Responses to “BPK Kritik Anggaran Alutsista TNI”

    • nebeng

    • Beginilah kalau lembaga TIDAK PROFESSIONAL

      Ikut mencampuri urusan lembaga lain diluar bidangnya, malah binkin kacau.

      Mampu nya segitu pak, mau apalagi.

      Kalau hanya mampu nya beli bekas mau apalagi.

      Anaknya banyak, ada 24 anak, semuanya minta segera dibelikan Sepeda Motor, Kalau beli baru dapet 6 biji,kalau beli bekas tapi lumayan dapet 24 biji, beli yang mana ???

      • Like

        • Saya pikir memang ada yang salah, masa iya anggaran 92,1 Trillyun , realisasi untuk pertahanan cuma 27,8 Trillyun, berarti belanja untuk pegawai dan atk hampir 53 trillyun, wah wah ada yang salah kayaknya
          ini pemerintah harus menjelaskan k publik supaya masyarakat tidak menduga yang bukan2 seperti saya ini, harus ada penjelasan detail mengenai ini

      • Maaf bung, yg mengejutkan dan jd catatan saya kok justru ini, “Pada 2013 anggaran alutsista mencapai Rp 92,1 triliun. Pada 2013 anggaran pertahanan itu direalisasikan hanya kurang lebih Rp 27,8 triliun”.
        Nah gmn bisa gt bung? Klo kemudian anggaran lbh banyak pd lembaga Ristek, ga apa2. Lah toh buktinya anggaran Ristem jg segitu2 aja.
        Apa ada yg salah, ada yg ga beres di tubuh TNI khususnya para pengambil dan penentu kebijakan???
        Maaf awam, butuh pencerahan. Salam hormat…

      • @bang melektech, orang2 di BPK kalau nggak treriak nanti periode kedepan nggak dipilih masuk mentri atau jabatan strategis

        • Itulah bung. .negara kita. .
          Di akhir masa jabatan terjadi penurunan kualitas,buat sesuatu yg boom. .
          Tp ya itu,spektakuler dlm hal kejar pensiun. .

      • Koetipan: …….“Kualitas alutsista yang dibeli menjadi kurang mutakhir dan belum sepenuhnya mengikuti perkembangan teknologi,” kata Ketua BPK Rizal Djalil dalam sidang paripurna di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (10/6/2014); ……

        kaloe ane memahami kalimat ketoea bpk, dg anggaran sekian itoe ia ingin tni poenja sista jang moetakhir dg quality jang moempoeni sahadja. moengkin poelak ia ingin jang gahar didahoeloekan, sedang jang koerang gahar agak belakangan.

    • BPK sekarang canggih ya…bisa mengaudit teknologi alutsista TNI……baru duduk jadi ketua……seperti apa ya konteksnya….jangan sampai beritanya sepotong sepotong dikutip wartawan….

      • Oleh krn itu kita butuh pencerahan sbnrnya bung. Saya percaya bhw statement yg dilontarkan BPK bukan statement kosong. Tentu saja sesuai data dan fakta (list Alutsista yg terpublish) yg jg mrk punya. Tp baik sangka saya, jgn2 TNI trll banyak merahasiakan pembelian Alutsista lain (trmasuk yg GAHAR) dan sengaja dimasukkan dlm Alutsista rahasia TNI? Wallahu a’lam. Tp di sini jd dilema. BPK sbgai lembaga resmi negara tentu saja melekat wewenang memeriksa, trmasuk KPK jika diduga ada penyimpangan anggaran di tubuh TNI. Di sinilah dilemanya.

        Saya brhrp ada bijak TNI dgn mlkkn koordinasi (rahasia jg) dgn lembaga2 resmi negara sprti BPK dan KPK. Sehingga tdk sampe muncul statement “menyudutkan” TNI dari lembaga resmi negara yg sudah barang tentu masyarakat awam sprti saya tdk meragukan kredibiltasnya dan kapasitasnya.

        Klo sudah sprti ini, sudah seharusnya TNI memberikan klarifikasi scr transparan. Jika tdk, maka lambat laun masyarakat awam sprti saya yg sudah mulai mencintai TNI, akan kembali mengalami krisis kepercayaan trhdp TNI.

        Semoga segera datang secercah harapan membanggakan di tubuh TNI.

        #EdisiSetiaMenungguPencerahan

        • Betul Bung Wedus, jangan sampai setiap kritik dianggap ancaman, klo misal yg disampaikan memang top secret, sampaikan aja scr tertutup kpd BPK, n nantinya yg disampaikan kpd rakyat cukup opini audit n kesimpulannya saja, cz kedua institusi tersebut kinerjanya harus dipertanggung jawabkan kpd rakyat namun dg peran yg berbeda..

          Mohon maaf orang ganteng lancang

          • Tenang aja Bung, kemarin saya baca di stasiun TV di rooling textnya ada tulisan . BPK : KEMENHAN WAJAR TANPA PENGECUALIAN. Mungkin sudah dijelaskan oleh pihak Kemenhan.

  1. Satu Kata PERTAMAX…….

  2. test lagi

  3. ijin nyimak, absen 10 besar

  4. Waduh….pusing kepala kalo baca kayak gini.

  5. Gue 10 besar.

  6. lumayan..

  7. Saya setuju sekali…kurang mutakhir dan barand 2nd payah deh……………semoga pemerintahan selanjutnya lebih jujur

  8. Adakah Kilo di lautan Nusantara?
    Maaf cucu lancang.

  9. Setuju sekali untuk membenahi pola pengadaan alutsista. sistim yang ada sekarang sangat rentan untuk penyalahgunaan wewenang. Perlu membenahi sistim dan pengawasan tanpa melanggar ketentuan kerahasian negara.

    TNI seharusnya bisa fokus ke pertahanan, sebagai user memang mereka berhak untuk meminta pengadaan sesuai dengan spek yang mereka inginkan tapi untuk pengadaannya dari proses penawaran sampai delivery harus ada badan tersendiri sehingga ada pemisahan wewenang antara yang user dengan order, juga perlu ada cost control untuk menganalisa price yang ada di setiap penawaran dari suplier supaya harganya tidak berbeda jauh dengan harga pasaran sehingga mark up bisa dihindari.

  10. Terjemahan ane sih spt ini nih … BPK catat anggaran alutsista naik 300% tapi wujudnya cuma ada 100%, semoga yg 200% ada sesuai dg list A1 … àmin

    • Setahu saya Laporan Keuangan itu valid kalo bukti fisik dapat dilihat dan dibuktikan wujudnya. Kalau fisiknya gaib ya laporan keuangannya disclaimer.

      ini cuma pendapat mamang tukang kebun, maaf kalau sok tau.
      salam kenal para warjager.
      ane udah lama SR, sekali2 pengen ikut komen.

    • Susah kalo kaya gitu bung den bdg, istilahnya seperti ini nih…

      kalau kita kasih pembantu Rp 100rb suruh beli sayur di pasar. Nih beli kangkung, tomat, ayam pas pulang pulang kita tanya ..mana sayurnya ? di kulkas tuan… 3 hr kemudian…. mana sayurnya?…..di kulkas tuan kunci kulkas hilang…..10 hr kemudian……mana sayurnya? di kulkas tuan kuncinya ga ketemu……30 hr kemudian…… mana sayurnya…DAH RUSAK PAK SUDAH SAYA BUANG ahhahaahahah

    • BPK nya aja yang ngawur ini mas. Emang semua anggaran itu cuma buat alutsista doank ya? masih ada pemeliharaan, gaji pegawai, dan lain lain sebagainya.

      Emang porsi alutsista itu maksimalnya cuma 1/3 dari total anggaran. Itupun udah maksimal banget.

  11. 10 besar?

  12. Apa belanjaan list A1 tdk sampe ke dpr?

  13. Mungkin masih pilih2 kali,mana yg cocok,mana yg gak,mana yg perlu mana yg gak,±9 milyard US dolar man…….banyak tuh,bisa buat 3ska SU 35 tuh……masih ada sisa lagi,mohon para pejabat ybs di gunakan secara bijak uang rakyat tsb………Lanjutkan….!!!!!!!

  14. Aku racoyo, aku raiso, aku rapopo

  15. nih contoh barang yg mutakhir yg harus di beli baru sonora sonotan ngeperrr:

    1. F35
    2. Pak Fa
    3. S400
    4. SU35
    5. KS ASTUTE
    6 Lockheed Martin TRACER
    7 Apache
    8 Iron Dome defense system.
    9 Skyshield advanced Airborne Support Jammer ( https://www.youtube.com/watch?v=mpPudL-Ztdg )
    10 Raytheon AN/FPS-115 Pave Paws

    • @ MEF

      yah..buang2 duit saja , daya deternt nya ngak ada

      beli atau bikin (pasti bisa) yang seperti ini…,yakin deh di kasih dananya,karena murah meriah dan perawatannya sangat2 murah,dan bikin merinding lawan

      http://www.youtube.com/watch?v=cCBwLJjzDJQ

      bisa di pakai di tank oleh angkatan darat
      bisa di pakai di kapal perang oleh angkatan laut
      bisa di pakai di pesawat terbang oleh angkatan udara

      • @ mef

        tambahannya TAK PERLU AMUNISI..DAN BISA DI PAKAI JANGKA PANJANG

        • itu sebagian belum di perjual belikan untuk yg laser. Kita beli yg sudah ada dulu…mimpi lagi mimpi lagi ahhh minum kopi saja lah lebi asoyyyyy….,

          • KATA SIAPA…??? sudah kok.,
            ada buatan rusia,USA,china,israel,,dll
            sy teriak2 dari dulu..
            itu teknologi thn 1950 an dan sudah di gunakan di timur tengah,irak,suriah,libya,gaza,..dll
            yakin pemuda pemudi indonesia bisa bikin..dan mengembangkannya

  16. BPK ahli militer juga atau veteran perang teluk?

    • Terasa agak janggal ya bung. BPK ahli militer ❓ dan mereka ngerti teknologi alutsista

      • jangan sombong,,,,mereka bisa lebih pintar

        lah disini aja JKGR ,tukang warnet,tukang kebun ,tukang somay,..juga pada pintar2

        • @ neng oke lah….
          Hahaha…
          Buruh kasar
          Kuli bangunan
          tukang cendol
          tukang kunci
          dlsb segala macem kuli
          ——-

          • @ BANG IPUL
            america cs rusia cs dll pada bingung…
            apalagi ausie malaysia,singapur,lebih parah bingungnya,
            sambil termenung

        • Bisa aja Bung@ ?O K E Lah , menurut sy BPK melihat mutahir dari segi apa harus jelas mungkin sudut pandang BPK berbeda dengan TNI sbg user harus jelas pengertian mutahir itu seperti apa, maaf analisa dari kang somay.salam NKRI

      • sepertinya BPK emang gak ngerti, lha itu tipe2 pespur yang udah lunas ‘kan top-of-the-line semua?

        • @ danu

          su 30.,f 16,t50,tukano,.?? bukan top of the line lah…gemane sih bang danu..?

          maaf sy cuma sales panci

          • non oke lah

            sudah gaharu cendana pula?

            itu sih sudah LAMA lunas.

            maksudnya items ex list A-1 yang juga sudah lunas…

          • bang gimana sih…ngak ngerti juga…?
            pokoknya kalau saya masuk..saya akan selalu bilang..alut sista TNI jadul..walau beli f22 atw kapal induk juga akan saya bilang jadul… paham yeeeeee

            * ngarep tambahan dana .com

          • Mesra beneeer danu vs oke lah…….
            get your own room, please 😀

  17. Aiihh..ada apa rupanya.. :mrgreen: ada yg tau kah?

  18. Hehe…apa koment TNI barang goibnya di “sasar” audit bpk….adakah deal khusus di belakang layar tentang hal ini?

  19. pesimis lagi…
    galau lagi… 🙁
    PEEENING AKU…

  20. sebagai pegawai swasta pembayar pajak … kira kira 7-10 juta per bulan.

    pengin dikasih liat 1 BNV aja gak pernah dapat 🙁

    … kalo atu doang kan gak gpp harusnya. nasib nasib … padahal udah hakul yakin percaya ada 🙂 … baik dari klu atau logika pertahanan.

    TNI dan BPK sebaiknya punya titik temu dalam hal audit alusista strategis. Tentunya rahasia dan strategi prioritas utama.

    ttd. just another tax payer.

  21. Jangan pesimis agan-agan smua…
    dalam List MEF 1 kan sebagian barang yang datang masih kebnyakan datangnya di akhir 2014,jadi yang keliatan sekarang ini ya itu” aja…wong smua blum datang,apalagi untuk matra AL dan AU butuh waktu yang lama dalam pembuatan dan proses delivery..
    IMHO,Menurut jendral dalam artikel terdahulu akan datang di kuartal akhir 2014,dan 2015-2016 akan smakin padat…
    Naaah silahkan di komen dan diskusi gan…kalo yg di lihat BPK sekarang cuman itu” aja ya jelas,karena barang pesanan TNI akan baru datang d akhir kuartal 2014,

    • Analisa yang baik bung , menurut saya juga begitu , membuat alutsista tak seperti membeli kacang yang sekarang memesan besok sudah datang , semua butuh proses , lagian dengan semua konflik yang muncul di lahad datu dan lcs sebelumnya australia , mana mungkinn sih TNI kita masa bodo dengan alutsistanya semua ada perhitungannya , trus untuk apa dibuat banyak pangkalan laut dan udara akhir akhir ini jika alutsista tak ada ? Semua itu untuk persiapan alutsista yang akan datang bung .imho

    • s7 mas gogon..kita tunggu saja akhir taun ini atau paling lambat 2016 jika masih belum ada kabar n buktinya baru kita rame2 “demo bertanya pada senior2 warjager”..he..

  22. mungkin lebih baik bikin nota kesepahaman atau perjanjian antara tni, menhan, menkeu, BPK,KPK, soal anggaran alutsista. mungkin ada poin yang bisa dimasukkan antara lain kerahasiaan alutsista atau anggaran pembelian alutsista. karena di situ sudah ada KPK dan BPK sebagai wakil kita…..

  23. Bukan nya angaran belanja itu termasuk gaji, belanja pengurusan, pegawai, latihan, perawatan, suku cadang dan lainx2. saya kira 70% itu habis ke situ aja. yg 30% itu untuk pengadaan baru. koreksi kalau salah.

  24. ada uang yaa ada brang brkualits,,laa anggrnya ajh bt mmodif tank scorpion..yaa scra kualits yaa ktinggln tehnolgi..cb uang bt blnja alutsista dtmbah tp jgn dkorupsi..jgankn bli brang cangih bli icbm pn bisa..mskipn tahun in naik 3x lipat dr kmrn it c sdikt,tiap tahun bhan mntah hrga naik jdi brpngaruh trhdap kualits..cba dtmbah uang bt bli alutsistany..psti dpt yg cangih dn pny daya getar yg tinggi..

  25. butuh pencerahan dari para sesepuh….

  26. Hemmm…ikutan pusing dh bca yg kyak gni..hrpanya smoga alutsista yg msuk listA1 udh jd kebeli meski. Brgnya blm dtg..salam knal buat pra warjager smua…salam indonesia raya…!!!

  27. Tunggu aja berita dari MENHAN, PANGLIMA TNI, dan KPK mudah2an gak dikorupsi kasihan rakyat capek dengar berita korupsi melulu

  28. absen

  29. LPJ ya harus sesuai bukti fisiknya
    beli rudal 100 kalo yg di tongolin di publik 30 ya 30 itu yg masuk LPJ
    walau ada snjata rahasia entah dari cuma meriam yg baru di beli juga yg diakui ya cuma yg tertera di LPJ dngan harga jumlah max tersebut

    sante aja x

  30. tidak maksimalnya penyerapan anggaran jangan terburu-buru dianggap negatif, justru mungkin disinilah kecerdasan dalam melaksanakan anggaran silpa yang dihasilkan akan memperkuat cadangan devisa negara. mungkin saja pada tahun tertentu menahan diri untuk membeli alutsista untuk menunggu perkembangan alutsista yang lebih mutakhir, sekaligus mengurangi efek mengompori negara tetangga agar tidak memicu perlombaan pembelian senjata di kawasan asean memanfaatkan fasilitas kredit alutsista dari sebagai contoh dari “papa bear” tidak perlu menunjukan kemampuan seutuhnya dari Negara kita

    • Gak ada hubungannya sama sekali antara cadangan devisa dengan Silpa … Besarnya Silpa merupakan indikator gak beresnya pengelolaan APBN:

      1. Penyusunan APBN yang gak akurat aka asal comot aja
      2. Anggaran siap, tetapi administrasinya proyek yang dibeayai gak beres-beres
      3. SDM yang mengelola anggaran gak qualified ..

  31. Satu lg petunjuk kalau belanja tni benar2 gede..ga sesuai dgn brang yg diliat..bpk aja mpe ikut ambil pusing…atau cuman karena ga kbagian kue ?

  32. Belum jadi arogan.. statmen nya mau potong anggaran daerah klw kepala daerah nya ga ikut presiden..mosok kepala daerah yg salah rakyat dapat dampak nya..sok keminter blng sederhana urusan kepala daerah yg g mau ikut perintah

  33. BPK jg sulit dipercaya, lha wong ketuanya jd tersangka he he he
    Biasa skrg lg pads cari muka he he he……..
    Kemhan + TNI pasti bisa berhitung dan ahlI nstrategi . Semua kebutuhan alutsista dan jg melihat situasi geopolitik kawasan pasti sudah dianalisis ditelaah digodog dgn seksama.
    Saya tetap mendukung keputusan tni dan kemhan Pd mef 1 . Baru pembeliaan mef 2 pasti BS lgs tancap gas . Sebenarnya penginnya ya yg terbaik tp anggaran kadang mepet dipake yg lain krn kenaikan bbm

  34. Ass.Wr.Wb.

    Malam Warjagers semua hehehe…

    saya mau sedikit koment boleh yah…

    yang saya tau nih yah, Kementerian Pertahanan dan TNI enggak pernah bermain-main dalam pembelian alutsista. Pemerintah sadar pertanggungjawaban yang begitu besar karena uang yang digunakan untuk membeli alutsista berasal dari rakyat. Oleh sebab itu, setiap proses pengadaan alutsista TNI ini diawasi oleh banyak pihak.
    Ada banyak institusi yang dilibatkan dalam pengadaan alutsista TNI. Pihak-pihak tersebut terbagi menjadi organisasi induk, tim evaluasi spesifikasi teknis, panitia pengadaan, tim evaluasi pengadaan dan tim perumus kontrak.
    Organisasi induk beranggotakan Menteri Pertahanan, Sekjen Kemhan, Panglima TNI dan tiga Kepala Staf Angkatan. Secara umum, organisasi ini memiliki tugas menentukan kebijakan program pengadaan dan rencana kebutuhan alutsista, monitoring dan proses pengadaan alutsista TNI tersebut.
    Enggak hanya itu untuk pengawasan dilakukan oleh pihak-pihak Irjen Kemhan, Irjen TNI, Dirjen Strategi Pertahanan dan Dirjen Perencanaan Pertahanan. Adapun pejabat pembuat komitmen dilakukan Kepala Badan Sarana Pertahanan, Mabes TNI dan tiga Kepala Staf Angkatan. Jadi dengan melibatkan banyak pihak, maka sangat kecil kemungkinan terjadinya penyalahgunaan anggaran dalam pengadaan alutsista TNI.
    Selain pihak internal Kemhan dan TNI, pihak-pihak lain seperti Kementerian Keuangan, Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS), Badan Usaha Milik Negara Industri Pertahanan (BUMNIP) dan Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) juga dilibatkan untuk senantiasa berkoordinasi dalam proses pengadaan alutsista.
    Begitu pentingnya proses pengadaan alutsista sehingga membuat Kementerian Pertahanan memperhatikan betul penyusunan kontrak. Dalam pembelian impor, proses transaksi melalui surat kredit berdokumen atau letter of credit (L/C). Sistem transaksi ini menjadi penting karena pihak penjual dan pembeli mengadakan negosiasi jual beli barang hingga mencapai kesepakatan. Kedua belah pihak pun harus menyerahkan jaminan pelaksanaan dan jaminan uang muka. Di dalam kontrak pun dapat dilampirkan beberapa dokumen penting seperti surat pelimpahan wewenang, pernyataan tentang batas akhir ekspor, embargo dan penggunaan materi kontrak.
    Dengan proses yang demikian penting, maka Kementerian Pertahanan dan TNI harus membuat kontrak kerja sama dengan pihak produsen senjata. Kementerian Pertahanan berpedoman pada Standar Dokumen Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (SDPBJP) dalam menyusun kontrak tersebut. Kementerian akan membuat klausul khusus jika ada pengaturan kontrak yang tidak terdapat dalam standar tersebut. Beberapa klausul khusus mencakup kodifikasi materi sistem nomor sediaan nasional (NSN), klaikan materi, angkutan dan asuransi, pembebasan bea dan masuk pajak saat alutsista itu tiba di Indonesia, sampai alih teknologi alias ToT nya.
    Begitu banyaknya klausul khusus sehingga mendapat perhatian serius dari Pemerintah. Hal lain yang menjadi klausul khusus adalah sertifikat kemampuan dan kondisi khusus sesuai kebutuhan kontrak, dan jaminan pemeliharaan.
    Proses penandatanganan kontrak pun dibatasi waktu. Untuk pengadaan barang, perbaikan, pemeliharaan suku cadang dan penambahan bekal, paling lambat tandatangan kontrak di bulan ke enam. Sementara untuk pengembangan kekuatan alutsista TNI paling lambat dilakukan di akhir bulan ke-9 tahun anggaran berjalan.

    Dengan melibatkan user atau pengguna dalam hal ini dengan setiap Mabes Angkatan diminta untuk menentukan spesifikasi jenis Alutsista yang akan diadakan sesuai dengan urgensi, kebutuhan dan skala prioritas untuk diadakan dengan melihat potensi ancaman yang “Boleh jadi” akan mengancam kedaulatan Indonesia beberapa tahun kedepan.
    Jadi pembelian senjata dalam program MEF TNI ini tidak ujug – ujug langsung beli suka-suka dan sesuai pesanan pihak tertentu seperti pada jaman “Orba” dulu. Akan tetapi sudah terorganisir sesuai dengan tingkat ancaman yang akan menggangu kita.
    Selanjutnya rencana pembelian alutsista-alutsista tiap matra ini masuk kepada kebutuhan operasi di Mabes TNI dan selanjutnya diproses di Kemhan lewat Tim dibawah kendali Tim Evaluasi Pengadaan (TEP) yang dipimpin oleh Sekjen. Kemudian selanjutnya diproses untuk kontrak perjanjian pinjaman oleh Kemku hingga kemudian pencabutan tanda bintang di Komisi I DPR. proses pencabutan tanda bintang itu dibahas oleh High Level Committee (HLC) dan Tim Panja Alutsista DPR, dan itu diproses dalam rangka pencabutan tanda bintang di DPR, karena memakai uang APBN dan uang rakyat
    Keikutsertaan DPR menjadi penting karena proses pembelian senjata berkaitan dengan keberlangsungan pertahanan negara. Di parlemen, setiap proses transaksi membutuhkan tanda bintang. Tanda bintang di DPR menunjukkan berapa besar urgensi pembelian alutsista TNI.
    Tetapi harap diingat, untuk alutsista strategis alias “Classifield, Top Secret dan Off the Record” tidak semuanya dijelaskan secara gamblang dan detil baik spesifikasi, jenis, dan jumlahnya kepada DPR karena menyangkut kerahasiaan Negara. Makanya beberapa waktu lalu Komisi I DPR sempat berang karena merasa pembelian “enam” unit sukhoi SU. 30 MK2 lebih mahal dari pada harga pasarannya, padahal dibalik semua itu ada “Bakwan” yang tersembunyi dibalik udang. :mrgreen:
    Pengadaan Alutsista dalam MEF ini juga tetap berpedoman pada prinsip – prinsip yaitu semaksimal mengutamakan produk dalam negeri. Namun apabila itu belum memungkinkan dan terpaksa diadakan dari luar negeri maka akan diupayakan dilaksanakan pengadaan secara G to G, produksi bersama, disertai alih teknologi (transfer of technology), dilakukan off set, dijamin keleluasan penggunaannya dan dijamin suku cadangnya.
    Terkait pengadaan alutsista dengan mode credit state alias pinjaman luar negeri, Kementerian Pertahanan bekerja sama dengan Kementerian Keuangan. Metode yang dilakukan adalah penunjukan langsung. Metode ini menjadi penting karena terkait strategi pertahanan, kerahasiaan dan penanganan darurat. Kementerian Pertahanan akan melaksanakan sidang Tim Evaluasi Pengadaan (TEP). Jika melalui pinjaman luar negeri, maka dananya berasal dari Lembaga Penjamin Kredit Ekspor (LPKE). Hasil penetapan penyedia akan disampaikan ke Kementerian Keuangan untuk kemudian diproses.
    Meski penunjukan langsung, namun ada proses ketat seperti penilaian kualifikasi dan penyampaian penawaran. Kedua proses ini dilakukan agar pihak yang ditunjuk langsung untuk menyediakan dana pinjaman, benar-benar kompeten dan memiliki syarat yang dibutuhkan.
    Proses pengadaan alutsista TNI tidak segampang yang dibayangkan. Ada banyak tim yang mengawal proses pengadaan, mulai dari awal hingga akhir. Seperti tim pengawas negosiasi angkutan dan asuransi, tim satuan tugas, tim kelaikan, tim inspeksi pra pengiriman barang, tim uji fungsi atau uji terima, inspeksi komodor, tim pemeriksa (inname dan anname) dan tim penerima.
    Oleh sebab itu, Pemerintah hanya berhubungan dengan pihak-pihak yang langsung memproduksi senjata di luar negeri. Tidak berhubungan dengan pihak ketiga yang tidak memiliki keterkaitan dengan pengadaan senjata.
    Pembelian alutsista dari luar negeri pun mengacu pada tiga alasan. Pertama, produksi alutsista dalam negeri belum memenuhi persyaratan. Kedua, alutsista yang dibutuhkan belum bisa diproduksi di dalam negeri. Ketiga, volume produksi dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan.
    Berdasarkan tiga alasan di atas, maka pengadaan alutsista TNI dari luar negeri tidak bisa dielakkan. TNI tidak mungkin menunggu lama pengadaan alutsista jika mengandalkan produksi dalam negeri. Pengadaan impor pun disertai dengan pemilahan barang dan alih teknologi. Pemilahan barang diperlukan karena harus disandarkan pada asas kebutuhan yang paling mendasar. Sementara alih teknologi menjadi penting karena akan meningkatkan pengetahuan persenjataan modern.
    Oleh sebab itu, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro senantiasa meminta masukan Panglima TNI terkait pengadaan alutsista. Hal itu menjadi penting karena sejatinya yang menggunakan dan memahami senjata adalah TNI sendiri. Payung hukum yang digunakan Menhan untuk mengadakan alutsista baru adalah Peraturan Presiden (Perpres) No 54 tahun 2010 dan UU No. 16 Th. 2012 TENTANG INDUSTRI PERTAHANAN.
    Transparansi dan akuntabilitas menjadi dua hal yang sangat penting bagi Kementerian Pertahanan dan TNI. Kementerian ini mengeluarkan Peraturan Menteri Pertahanan (Permenhan) Nomor 34 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Alutsista TNI.
    Bahkan pada tanggal 6 Januari 2011 yang lalu Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro bersama perwira tinggi TNI, BPKP & LKPP mendeklarasikan anti korupsi, yang diapresiasi oleh Komisi I DPR RI karena Kemhan dan TNI menjadi contoh baik pemberantasan korupsi.

    Pengendalian dan Sanksi dalam Pengadaan Alutsista

    Meski sudah diterapkan peraturan yang ketat, tidak menutup kemungkinan terjadinya penyalahgunaan anggaran. Untuk mengatasi masalah tersebut, Kementerian Pertahanan akan menerapkan sanksi tegas kepada semua pihak yang diduga terlibat dugaan korupsi. Ada sanksi tegas yang akan dijatuhkan kepada semua pihak yang berusaha bermain-main dalam proses pengadaan alutsista TNI.
    Secara umum, ada lima perbuatan yang dapat dijatuhi sanksi. Pertama, upaya mempengaruhi panitia pengadaan alutsista TNI sehingga melanggar peraturan perundang-undangan. Kedua, bersekongkol dengan Penyedia Alutsista TNI lain untuk mengatur harga. Ketiga, membuat atau menyampaikan dokumen atau keterangan lain yang tidak benar. Keempat, mengundurkan diri dari pelaksanaan kontrak dengan alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Kelima, pengalihan pelaksanaan pekerjaan utama berdasarkan kontrak, dengan melakukan subkontrak kepada pihak lain.
    Sanksi yang dijatuhkan berupa denda dan memasukkannya ke daftar hitam (black list). Denda yang dijatuhkan kepada penyedia alutsista TNI sebesar 1/1000 dari harga kotrak untuk setiap hari keterlambatan.
    Sementara daftar hitam akan diserahkan ke LKPP. Pihak-pihak yang sudah masuk daftar hitam tidak diperkenan untuk mengikuti pengadaan alutsista di masa mendatang. Daftar Hitam Nasional dimutakhirkan setiap saat dan dimuat dalam Portal Pengadaan Nasional.
    Untuk menghindari sanksi tersebut, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) wajib memberikan laporan secara berkala terkait realisasi pengadaan alutsista TNI. Laporan diberikan kepada pengguna anggaran atau kuasa pengguna anggaran, dalam hal ini Kementerian Pertahanan.
    Jika ditemukan penyalahgunaan anggaran, maka laporan akan ditembus ke Wakil Menteri Pertahanan dan Inspektorat Jenderal (Irjen) instansi terkait. Tembusan ini penting karena posisi Wamenhan sebagai Ketua High Level Committee (HLC) melaksanakan pengendalian dan pengawasan pengadaan Alutsista TNI pada skema pembiayaan dan skema pengadaan.
    Laporan yang diterima tidak serta merta diterima begitu saja. Proses cek dan ricek terhadap laporan tetap akan dilakukan. Audit akan dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyalahgunaan anggaran dalam pengadaan alutsista TNI. Oleh sebab itu pengawasan terhadap panitia pengadaan alutsista wajib dilakukan. Pengawasan juga disertai dengan audit terhadap semua pihak. Audit dilakukan sebelum kontrak dilakukan dan setelah proses pengadaan selesai.

    • penjelasannya mantabs bung PS .. salam kenal 🙂

    • Mantab Bung PS@ Mana nih….serial lanjutan….true story-nya

    • @bung PD adakah oleh” hasil Latgab nya, terutama Monster” bawah laut NKRI yang ter hidden dari paparan para embedded press/jurnalism

    • Tengkiu bung@ps atas penjelasannya sedikit banyak menghapus tanda tanya dikepala saya ini cuman mis-inpoh aja, meskipun begitu kebocoran anggaran bisa saja terjadi, contoh kasus barang A dr produsen sama bisa jadi harga dipasaran akan berbeda tergantung rantai distribusinya/lewat siapa itu titiknya….meskipun sudah G2G….ngawur yoh…

    • tengkiu bung @PS atas pencerahannya
      anda paham betul proses detailnya, salam kenal

    • intinya yg rahasia tidak masuk LPJ

    • acikk bung PS munculll…. abis ngamanin latgab kemaren ya di laut kidul om?

    • Setuju dengan bung PS, untuk alutsista strategis alias “Classifield, Top Secret dan Off the Record” tidak semuanya dijelaskan secara gamblang dan detil baik spesifikasi, jenis, dan jumlahnya kepada DPR karena menyangkut kerahasiaan Negara. Makanya beberapa waktu lalu Komisi I DPR sempat berang karena merasa pembelian “enam” unit sukhoi SU. 30 MK2 lebih mahal dari pada harga pasarannya, padahal dibalik semua itu ada “Bakwan” yang tersembunyi dibalik udang…

      item yang classified mungkin cukup spesifikasi dan jenis, sementara jumlah tidak perlu, jika spesifikasi dan jenis tidak diketahui, jumlah tidak ada artinya.

      DPR harusnya tahu harga Su tipe standard/basic (sering melakukan kunjungan kerja ke pabrik pembuat), tinggal kemenhan menginfokan untuk Su tipe custom diperlukan komponen x, y, z (tanpa spesifikasi dan jenis), jumlah x1, y1, z1, harga x2, y2, z2.

      Jadi win-win, DPR tetap dapat melakukan fungsi kontrolnya semaksimal mungkin, kemenhan menjaga kerahasiaan, tidak perlu ada yang berang.

      Yang penting tidak terulang kasus alutsista pretelan seperti Mi-17 minus beberapa perangkat navigasi…

      • kenapa dengan pihak DPR selaku pengontrol saja dirahasiakan, kemungkinan juga sudah banyak penyusup di gedung ijo itu bung 🙂

      • dalam artian yang secret jangan di bicarakan dengann DPR karena suka bocor hahahaha emang DPR itu ember,
        dan ternyata wakil rakyat itulah yang dikeluhkan oleh rakyat,

    • bung PS, meskipun ketat, masih ada celah kesalahan, yang kelihatan seperti rudal Grom dari Polandia< bagaimana tanggapan bung PS?

    • Penjelasan yang sangat detil dan informatif. Saya senang ternyata sudah ada improvement. Thanks for the info bung PS.

    • mantaff sekali penjelasan Bung PS.. kudu banyak belajar lagi biar lulus ujian sertifikasi pengadaan barang dan jasa… he.he soale uuangell pooll…

    • Jangan lupa bung nowy jg bung, ditunggu opininya (back to SR mode)

  35. Hmmm…..no cemen lah…
    Ada apa ya di menhan dan mabes…..?
    ….termenung……

  36. bung PS, bung Satrio udah fall back into formation..tinggal menunggu bung yayan, Ndan Nara, bung erich aja nih..lengkap dgn oleh’ hasil latgab.. dan update kedatangan alutsista terbaru

  37. Kalo menurut saya…..mungkin Bayak yg pgn tau apa aja yg di punya TNi sekarang….maaf kalo salah

  38. Penjelasan yang sangat panjang trimakasih bung PS memang proses pengadaan alutsista cukup rumit sama dengan struktur organisasi pertahanan Indonesia yang terlalu banyak bahkan cenderung tumpang tindih dalam kewenangannya sehingga kinerjanya pun menjadi tidak efisien. Saya melihatnya masih ada celah yang timbul dari sistem di atas salah satunya adalah adanya unsur ” rahasia ” yang ditujukan kepada lembaga kontrol anggaran seharusnya sesama lembaga negara tidak perlu ada rahasia, rahasia hanya untuk masyarakat umum dan negara luar, lagian kalo sampai oknum dpr ato lembaga negara yang lain sampai berani membocorkan rahasia negara mereka sudah melanggar sumpah jabatan dan tentu saja mereka adalah pengkianat bangsa yang terkutuk. Akhir kata kalo faktor rahasia ini ditujukan untuk menjaga keselamatan bangsa saya setuju, tetapi kalo dijadikan dalih penyelewengan anggaran yahhhh…podo wae karo kemenag. Kejahatan bukan hanya niat tapi juga karena ada kesempatan. Maaf bukan bermaksud menuduh cuma khawatir.

  39. Hehehe kamuflasenya keren.
    Salam NKRI

  40. hmm BPK ya?? kalau baca artikel ini bukannya ini untuk tahun anggaran sebelum 2014 kan, sedangkan menurut bung NARA, kontrak2 alutsista banyak di lakukan di 2014 ini,
    lagi pula kewenangan BPK ketika berhadapan dengan hal2 yang menyangkut rahasia negara siapa yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi ya

    • apa2 yang menyangkut duit negara ada moral hazard-nya, ‘rahasia negara’ mudah bergeser jadi ‘rahasia saya’, jadi sejauh menyangkut pengawasan keuangan negara tidak ada ‘rahasia mutlak’, walaupun dimungkinkan ‘rahasia jenis/spec’…

      • pas banget bung danu menggambarkan situasinya. semoga kedepannya pemimpin sipil dan militer kita semakin lebih amanah. Kalo role model tentunya kita bisa selalu mengikuti bung Hatta dan Jenderal Besar Sudirman yang sangat bersahaya.

      • Mungkin seperti itu bung, sebagai contoh pembelian Su-30 yang terakhir. Harganya Muahal tipe tetep SU-30. Mungkin BPK hanya melihat jumlah barang, jenis dan tipenya lalu dibandingkan dengan uangnya. Sedangkan Spec barang mereka tidak tahu karena memang dirahasiakan oleh Kemenhan/TNI

    • Begini bung Danu
      Tentunya TNI tidak akan segampang itu membuka rahasia negara yang mungkin hanya di ketahui tni, kemenhan dan Presiden.
      Contoh permainan anggaran. Di dalam laporan audit BPK ada tertulis pengajuan proyek rumah bagi prajurit. Di cek fisik di lapangan tentu ada perumahan tersebut dan masih dalam keadaan baru selesai di bangun. Namun tahu kah anda jika proyek tersebut menggunakan dana dari kementerian lain?
      Moral hazard? Why bung Danu?
      Laporan Bpk itu setahu saya asas pembuktiannya melalui cek fisik di lapangan. Nah yang menjadi kebingungan saya itu dasar apa yang di pake sehingga bisa memberikan omentar bahwa barang2 yang di beli ketinggalan jaman.
      Kasus sukhoi kita mengapa jadi mahal karena kita beli lengkap dengan pensil dan biaya upgrade sukhoi lama kita supaya sama seri nya dengan yang baru.

  41. Sungguh terlalu…
    Emang sejak kapan bpk tahu alutsista kita kurang canggih? Nyinggung2 anggaran lagi….
    Mereka gak mikir negara sluas indonesia dengan anggaran seperti itu, hey bung itu kurang cukup malah.
    Bagaimanapun, bpk harus pikir2 lagi buat pernyataan seperti ini, karena menyangkut rahasia negara

  42. Jadikanlah TNI menjadi yg terkuat bukanya melemahkan Alutsistanya biayai mereka dengan memadai..

  43. Assalamualaikum, maaf baru hadiir… Akhirnya hasilnya keluar juga. Artikel diatas sekalian menjawab pertanyaan Bank Ruskye kenapa saya akhir2 ini kritik TNI terus.

    Awalnya saya selalu dukung, tapi tiba2 marah2 mulu gara2 baca satu dokumen yg disitu menjelaskan semua. Disitu hasilnya lengkap semua termasuk audit alutsista strategis 3 matra dll. Yg disayangkan adalah pembelian banyak berdasarkan keinginan bukan kebutuhan makanya anggaran jeblok dan meminta tambahan anggaran. Setelah dihitung, hasilnya anggaran yg dikeluarkan tidak sebanding dengan target pencapaian. Ada beberapa alutsista yg tidak bermanfaat, salah satunya Grom Polandia, dan beberapa kendaraan dinas lainnya. adakah yg mau bertanggung jawab masalah ini. 🙂

    • Kalo yg mau jawab sih banyak… tapi yang “nanggung” yang pastinya nggak ada. 😀

      #just_kidding

      • hehehe… Grom adalah pembelian tahun 2004 sd 2009 Bung Jalo, saat itu memang Peraturan Presiden (Perpres) No 54 tahun 2010, Peraturan Menteri Pertahanan (Permenhan) Nomor 34 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Alutsista TNI.dan UU No. 16 Th. 2012 TENTANG INDUSTRI PERTAHANAN belum ada Bung, saya juga heran itu rudal yang suka missed melulu kalo diuji coba di iklim tropis kenapa bisa dibeli hehehe… :mrgreen:

        • Yup bener bung PS, hasil audit yg keluar itu dimulai dari 2007-2013. Dulu BPK pernah mau masuk namun terkendala masalah UU dan belum adanya MoU. Tahun 2011 telah dilakukan MoU namun masih terkendalam prosedural, Tahun 2012 Kemhan mendapat alokasi pagu definitif sebesar Rp 72,5 triliun, dengan tambahan anggaran yg besar ini akhirnya BPK bisa masuk. Tahun 2012 baru BPK dan KPK dipersilahkan masuk termasuk melakukan audit salah satunya pembelian Sukhoi yg diindikasi atau diduga bermasalah saat pengadaan terjadi pada tahun 2003. Kasus masuknya BPK juga salah satunya faktor Seskab sebagai pengawas Kementrian ke KPK, setelah ramai di media akhirnya Kemenhan mempersilahkan masuk BPK dan KPK.

          Sayang 2 institusi ini hanya bisa mengaudit dan merekomendasikan karena terkendala kewenangan yg tertera di UU. Setelah sekian lama mencari celah, kemarin ketua KPK mengatakan mereka telah menemukan konektivitas menuju UU agar bisa menjerat oknum2 bermasalah. Kita lihat aja dalam beberapa waktu kedepan, mudah2an tidak ada arogansi penghalangan atas kinerja KPK masuk dalam lingkup pertahanan dengan dalih rahasia negara. Jika konektivitas terkendala, KPK juga berniat melakukan Judicial Review ke MK dan juga berharap DPR mau merevisi UU. 😀

          • betul Bung Jalo, tetapi yang senantiasa perlu diingat Bung, bawa pemenuhan alutsista strategis buatan dalam negeri itu lebih penting. Dengan adanya kemampuan kita untuk memproduksi sendiri alutsista-alutsista strategis tersebut bisa dipastikan “daya gertak dan pukul” kita tentunya akan lebih, lebih dan lebih kuat powernya.

            Sementara ini untuk pengadaan alutsista strategis yang memang kita sendiri belum mampu membuatnya, maka pengadaanya dengan cara membeli dari negara-negara lain baik itu buatan blok barat maupun buatan blok timur. Tapi disini saya hanya ingin sedikit menjelaskan dan menceritakan bahwa setiap membeli alutsista-alutsista tersebut kita mempunyai prinsip kewaspadaan yang utama, yaitu :

            “Bahwa setiap Negara penjual Alutsista, pasti akan senantiasa berusaha “mengebiri” sebagian kemampuan tempur Alutsista perang mereka yang kita beli.”

            Prinsip ini kita pegang teguh, untuk itu segala sesuatunya akan amat tergantung dari kemauan dan usaha serta imaginasi kita sendiri, agar dapat mengexploitasi semaksimal dan seoptimal mungkin Alutsista-alutsita yang telah kita beli. Jangan kita membiarkan diri kita gampang di”kadali” oleh Negara lain Sebagai salah satu contoh nyata : KS Type 209/1300 yang kita beli pada tahun 1978-1980 dari Jerman (saat itu Jerman Barat), tidak dilengkapi dengan peralatan Decoy “semacam Pillenwerfer dan projektil Bold” Ini penting karena reagen kimia decoy dapat menyerap energi pancaran sonar lawan, apalagi Pillenwerfer yaitu decoy pasiv anti torpedo.. (padahal seharusnya dalam kontrak diserahkan berbarengan dengan penyerahan KS ke kita, setau saya sampai KS Type 209/1300 ini di overhoul total pertengahan tahun 2000an Decoy ini enggak juga kita terima). Padahal Decoy ini sangat berarti untuk menghindari Wire Guided Torpedo alias Torpedo dengan pengendali kabel type Gould Mk.48 ataupun torpedo kendali non kabel dengan active / passive sonar homing head type Honeywell Mk 46 Mod 5 miliknya KS Collins Australian Navy. Decoy ini bila dilepaskan tepat pada waktunya akan membangkitkan signal akustik dominant, yang akan amat mempengaruhi system pencarian sasaran homing head torpedo. Sehingga torpedo tidak lagi mengejar KS kita, akan tetapi justru berubah arah akan mengejar decoy tersebut.

            Selain itu pada saat pelatihan disana awak KS kita juga tidak pernah diajari pemanfaatan “submarine chart”, yaitu suatu peta bawah air dari suatu daerah tertentu di dalam alut, yang memuat data tentang parameter CTD (temperature, kadar garam, berat jenis air laut) ditempat tersebut, yang sebenarnya, amat penting untuk pengaplikasian taktik peperangan KS dibawah air. Makanya ahli-ahli tempur TNI AL saat itu untungnya sempat membuat “doktrin” sendiri bagaimana cara pengoperasian KS Type 209 ini dengan baik dan benar bedasarkan pengalaman-pengalaman awak KS kita sendiri. ( Taskap Pasis Dikreg X SESKOAL TA.1983-1984 dengan judul “Pengoperasian kapalselam type U-209 dalam menunjang tugas pokok HANKAMNAS dilaut”)

            Disini kita bisa melihat bahwa Tidak ada Angkatan Perang Negara sebaik bagaimanapun, yang akan mau membagi taktik peperangannya secara “gratis” kepada kita. Mungkin buku atau pun naskah tentang taktik tersebut bisa kita peroleh dengan mudah, seperti contoh : ATP 28, atau naskah US Navy “Submarine Operation” NW 2003, serta US Navy “Anti Submarine Operation” NW 2004, seperti yang diajarkan di SESKOAL) tapi pada pelaksanaan rill operasinya dilapangan alias dilaut “bueeehh” berbeda 180 derajat!
            Contoh nyata terakhir adalah saat penembakan Yakhont pada latihan Armada Jaya tahun 2011 pertama kali yang gagal mengenai target sasaran ex KRI Teluk Bayur, padahal saat itu kita sudah dibantu oleh “awak-awak” dari negeri pembuatnya sana. Barulah setelah dilakukan “tapa brata” oleh “awak-awak” kita sendiri pada latihan Armada Jaya tahun 2012 Yakhont kita berhasil menghancurkan sasaran ex KRI Teluk Berau dalam waktu +/- 2 menit.

            Berdasarkan banyak pengalaman inilah maka pengadaan Alutsista strategis yang “terpaksa kita beli” dikarenakan kita belum bisa membuat sendiri, baik itu dari blok Barat maupun Blok Timur pasti ada embel-embel “kalo enggak barang kualitas satu kami tidak mau beli!” disini bisa berarti adalah bentuk “fisik” bisa sama tetapi boleh di check “jeroannya” pasti beda.
            Beberapa contohnya adalah : “Jeroan” Hawk 209/109 kita aslinya sudah bukan versi standart Hawk seri 200/100 kebanyakan. “Jeroan” SU.30 Mk2 kita bisa dicheck pasti lebih canggih dari SU.30 MKM sonora. Pembelian Tank MBT Leopard A4 walaupun bekas, tapi Jerman sampai-sampai mau menyibukan diri memenuhi permintaan kita untuk “mengupgrade” nya manjadi “lebih mumpuni” hingga akhirnya mereka sendiri menyebut versi Tank itu Leopard Revolution Indonesia. Contoh lebih anyarnya adalah kenapa kita membeli Pespur T.50i dari Korea sana tanpa “radar”, jawabannya adalah karena kita ingin mengemplementasikan sendiri jenis radar yang lebih canggih dibanding radar asli “bawaannya.”

            “Bahwa setiap pembelian Alutsista dari negara lain saat ini harus dalam bentuk G to G atau kita memesan langsung kepada pabrik dan negara pembuatnya. (tidak ada lagi rekanan/broker) dan tidak lupa Transfer of Technology nya.”

            Ada kisah KSAD kita yang sekarang Pak Budiman dulu pernah terlibat langsung dalam pengadaan multiplelaunch rocket system (MLRS), beliau pernah tanya kepada “broker” berapa harga pasti untuk satu batalion? Dijawab “sekian juta dollar Pak”. “tidak bisa turun?” “tidak bisa Pak.”. Pak Budiman enggak percaya dan beliau pergi sendiri kenegara dan pabrik pembuatnya. Hasilnya adalah dengan harga “sekian juta dollar” nya broker tadi ternyata kita mendapatkan MLRS untuk dua batalion plus dengan pusat pendidikannya. Begitupun dengan pembelian Tank MBT Leopard, dengan harga yang sama ditawarkan oleh “broker” kita hanya mendapat 44 biji Tank, setelah Beliau turun langsung kita malah mendapat 3x lipat jumlahnya plus juga Tank pendukung untuk recovery, Tank untuk tugas Zeni dan penyapu ranjau, serta tidak lupa 50 unit Tank Marder, itu semua dengan harga yang sama!

            Intinya dari kesemua itu adalah Pemanfaatan para ahli-ahli ORSA (Operation Resesach and System Analysis) masing-masing alutsista di lingkungan TNI untuk menciptakan Operational Requirements yang baik dan benar, dengan demikian alutsista-alutsista strategis yang sudah dan akan berdatangan nantinya enggak hanya “mangkrak” di pangkalannya masing-masing aja, akan tetapi mampu memberikan nilai deterent yang menakutkan bagi kekuatan musuh yang ingin coba-coba mengganggu kedaulatan negara kita

            Intinya lagi adalah Pemenuhan alutsista strategis dengan asli buatan bangsa Indonesia sendiri adalah suatu keharusan dan kewajiban! dan alhamdulillah semua itu saat ini sedang berjalan pada “track” yang benar dan semoga saja presiden kita nantinya kedepan dapat terus meneruskan kebijakan ini :mrgreen:

          • Waahh.. Om@PS..sekalinya ngasi pencerahan..bnr2 cerah.. LIKE THIS Om.. 🙂

            btw..maaf oot nie.. dah 2 hari ini klo ndak salah, di Medan setiap pagi smpe menjelang siang ada 2 pespur ( seprtinya Hawk ), muter2 kota Medan. ada acara apa ya Om.?

            Apakah Persiapan utk kedatangan F-16 di Lanud Noerdin PKU atau patroli aja.?

          • Yup bener bung PS, alutsista dalam negeri adalah yg paling strategis karena untuk deploy jumlahnya negara tetangga akan sulit berhitung. Kasus saat R-Han diluncurkan, itu saya denger langsung dari beberapa teman dari luar yg pernah belajar dimari bahwa peluncuran tersebut menjadi bahan pembicaraan penting badan Pertahanan mereka.

            Bukan hanya kasus KS, banyak juga kasus demikian. Yg saya agak sesali itu kasus user “gengsi” menggunakan produk dalam negeri. Saya ingat kasus Panser Anoa, kalau tidak dibantu Wapres saat itu saya yakin Panser Anoa belum bisa mendunia namanya. Ada juga kasus Hovercraft yg pernah diceritain oleh pembuatnya, dan masih banyak kasus2 lainnya salah satunya prototipe2 Litbang2 tiap matra yg tidak digunakan semestinya dan mangkrak digudang.

            Alhamdulillah hadir UU Nomer 16 Tahun 2012 tentang Inhan yg memaksa User menggunakan produk dalam negeri. Saya sangat mengapresiasi UU ini, tinggal Usernya aja wajib menggunakan dan mengenalkan produk dalam negeri ke dunia Internasional agar bisa membantu nilai ekonomi.

            Selain kasus KS, ada juga kasus radar baik hibah atau beli baru. Produsen2 asing cuman masang lalu ditinggal, dampaknya butuh waktu lama untuk user mengoperasionalkan radar2 tersebut. Tim dari user atau tim PT Len harus melakukan study ke beberapa negara (akhirnya anggaran keluar lagi) agar bisa diajarkan ke teman2 lain. Karena produsen negara luar itu melakukan pemasangan aja tidak mengajarkan cara mengoperasionalkan radar tersebut. Saat itu user pernah dikritik Asri (Asosiasi Radar Indonesia), tapi user tidak pernah kapok menggunakan produk dari luar, kasus ini pernah ada di buku yg ditulis ahli radar kita yg sudah terkenal di dunia Internasional.

            Baru saat ini sebagai bentuk implementasi UU Nomer 16 Tahun 2012 dengan hadirnya 7 program kemandirian industri pertahanan, yaitu Pembangunan Industri Propelan Nasional, Pengembangan Kapal Selam, Pengembangan Pesawat Tempur (IFX), Pengembangan Roket dan Rudal Nasional, Pengembangan Kapal PKR atau Frigate Nasional, Pengembangan Radar Nasional, dan Pengembangan Tank Nasional (medium).

            Kalau kasus KSAD yup saya adalah orang yg ngefans sama beliau. Dari total program2 seluruh matra hingga pusat, cuman beliau yg saya angkat jempol. Yg lain saya masih pertanyakan program2nya karena saya lihat masih ada faktor politis. Saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, beliau mau dikritik dan mendengar saran2 dari ahli2 kita baik dari Perguruan Tinggi atau ahli2 industri. Maaf ini unek2 saya pribadi 😀

          • maaf Om.. mksd nya Lanud Roesmin Nurjamin PKU..

          • lah ini yang saya bilang bahwa bung jalo bisa menjadi pembimbing yang baik, wong yang diaudit bpk tni yang jawab anggota tni tanpa menunjukkan dasar ferivikasinya pula. BPK itu bukan orang kemarin sore dlm meng audit dan tdk asal asalan. BPK MENGAUDIT BERDASAR ATURAN, PEDUM, DAN UNDANG UNDANG. gilalu ndro hehehe.

        • bung ps,knp sukhoi nya jdi kemahalan ,apa krna jmlahnya lbih byak dari yg di release atau peralatan di dalamnya lbih canggih,maaf byk tnya mklum orng awam,,,

        • klo jumlahnya apa ngk sama kan dg release resminya bung ps,saya dengar sih jumlahnya 2 kli lipat,hehe

  44. Tahukah anda KS 401 Pasopati saat ini dalam keadaan “sekarat” karena butuh perawatan besar segera tahun ini … sedangkan anggaran tidak tersedia … Hehehehehe

 Leave a Reply