Jun 072017
 

Presiden AS Donald Trump meletakkan tangan pada bola cahaya saat berkunjung ke Arab Saudi, 21 Mei 2017. © Reuters

Kesepakatan kontrak senjata senilai US $ 110 miliar yang telah ditandatangani Presiden AS Donald Trump saat berkunjung ke Riyadh adalah “berita bohong”, menurut seorang analis dan pakar anti terorisme asal AS pada hari Senin, seperti dilansir dari sebuah lembaga non profit Brookings Institution yang berasal dari Washington DC.

“Yang dilakukan pemerintah Saudi dan AS sebenarnya mengumpulkan paket abstrak dari daftar keinginan Arab Saudi tentang “kemungkinan kesepakatan” kemudian “menggambarkannya sebagai sebuah kesepakatan”. Meski demikian angka-angka [uang] tersebut tidak bertambah. Ini adalah berita bohong. Tidak ada itu kesepakatan senilai US $ 110 miliar”, tulis Bruce Riedal.

Sebelum menjadi analis senior di Brookings Institution, Riedal pernah bertugas selama 29 tahun di CIA dan menjadi penasehat empat presiden AS, saat dia masih bertugas di Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih.

Menurut tinjauan materi publik dari Pentagon, tidak ditemukan kesepakatan yang tertunda ataupun kombinasi kesepakatan baru senilai US $ 110 miliar antara pemerintah Arab Saudi dan Amerika Serikat.

Penjualan sistem rudal THAAD yang direncanakan Presiden Trump ke Riyadh sebenarnya adalah sesuatu yang pada prinsipnya telah disetujui mantan Presiden Barack Obama tahun 2015 lalu.

Sedangkan kabar penjualan sebanyak 150 helikopter Black Hawk ke Arab Saudi seharusnya juga “berita lama yang dikemas ulang”, menurut tulisan Riedal. Ia pun menambahkan bahwa pemerintah Saudi telah mengutarakan minat terhadap pembelian ini dalam beberapa tahun terakhir, namun hingga kini belum ada yang jadi kenyataan. Itulah faktanya, kata Riedal.

Ia pun melanjutkan, empat “kapal perang permukaan multi misi” yang disebutkan termasuk dalam kesepakatan untuk meningkatkan kemampuan angkatan laut Arab Saudi adalah versi ekspor internasional dari kapal perang pesisir AS saat ini. Pada tahap ini, satu-satunya yang bisa diekspor ke Riyadh adalah cetak birunya, karena wujud kapal sebenarnya belum ada, lanjut Riedal.

Pakar tersebut berpendapat bahwa harga minyak yang makin tertekan, bersamaan dengan pengurasan dana untuk biaya perang Yaman, membuat Riyadh “tak mungkin” punya uang tunai untuk kesepakatan semacam itu.

Mengutip keterangan Gedung Putih, yang dilansir oleh Reuters menyebutkan kesepakatan tersebut telah tertuang diatas kertas “segel”. Sementara itu, CNBC menyebut bahwasanya kesepakatan itu bernilai US $ 350 miliar selama sepuluh tahun dan US $ 110 miliar segera digulirkan.

Outlet berita lainnya menyebutkan bahwa Boeing, Lockheed dan Raytheon secara terbuka mengklaim bahwa mereka akan memperoleh sejumlah besar keuntungan dari kesepakatan yang menguntungkan tersebut.

Badan pengekspor senjata Pentagon menyebutkan bahwa penjualan senilai US $ 110 miliar tersebut “dimaksudkan”, yang berarti bahwa semua itu belum melewati sejumlah rintangan untuk menyelesaikan pengiriman senjata dari AS ke luar negeri.

Alasannya adalah bahwa Kongres Amerika Serikat harus menerima pemberitahuan tentang penjualan dimaksud. Selanjutnya, legislatif punya waktu selama 30 hari untuk meloloskan kesepakatan tersebut. Meskipun ada persetujuan Departemen Luar Negeri AS, Departemen Pertahanan AS dan Gedung Putih, namun penjualan senjata bisa dihentikan oleh Kongres.

Menurut Badan Kerjasama Pertahanan dan Keamanan, Kongres memperoleh jaminan dari Undang-Undang untuk “menyatakan kehendaknya atas penjualan” dan dapat memperoleh cukup suara untuk mengalahkan veto presiden yang potensial, guna memblokir penjualan senjata.

Selain itu, anggota parlemen bebas untuk mengeluarkan undang-undang untuk memblokir atau memodifikasi penjualan senjata kapan pun mereka mau, termasuk dilibatkan pada saat penyerahan senjata terkait.

Pada hari Senin, 6 Mei 2017, DSCA telah menyampaikan pemberitahuan kepada Kongres AS, mengenai penjualan sistem radar yang direncanakan oleh Trump. Namun kesepakatan tersebut merupakan bagian kecil dari kesepakatan US $ 110 miliar yang sebelumnya telah dipublikasikan secara luas.

Saat ini ada tiga penjualan yang diajukan oleh Kerajaan Saudi yang telah dikirim ke Kongres, senilai total US $ 1,6 miliar. Sekitar US $ 1 miliar diantaranya hanyalah untuk servis, bukan senjata berteknologi tinggi ataupun sistem pertahanan rudal THAAD, ini bertolak-belakang dengan laporan media.

Pada tanggal 5 Juni 2017, DSCA mengumumkan bahwa “penjualan” peralatan radar senilai US $ 662 juta ke Riyadh adalah sebuah pemberitahuan mengenai penjualan potensial yang disyaratkan oleh undang-undang dan bukan berarti penjualan telah selesai.

Pada tanggal 2 Juni 2017, DSCA menyampaikan pemberitahuan kepada Kongres mengenai penjualan senilai US $ 750 juta yang direncanakan kepada Angkatan Udara Kerajaan Saudi. Namun itu tidak termasuk persenjataan ataupun rudal, melainkan hanya pesanan selimut untuk sejumlah program pelatihan di Riyadh.

Satu-satunya barang baru-baru ini yang masuk dalam daftar Penjualan Persenjataan Utama DCSA adalah pada 23 Mei 2017, saat sebuah program pelatihan yang diminta oleh Angkatan Laut Arab Saudi. Kesepakatan tersebut diperkirakan adalah senilai US $ 250 juta, dan tentu saja ini masih sangat jauh dari angka miliaran dolar apalagi puluhan miliar.

  4 Responses to “Bruce Riedel, Kesepakatan Senjata $110 Miliar Dengan Riyadh Adalah “Berita Bohong””

  1. xaxaxa

    politik As
    politik Ri
    11,5 -12

    oh demokrasi

  2. Coba kalau PINDAD jualan senjata ke Iraq dan Arab Saudi….pasti laku dagangannya….berkompetisi dengan AS….pasti produk Indonesia yang akan di beli…. :iloveindonesia

  3. Saling klaim dan saling bantah, mana yg benar yg merekalah yg tau! Biasa drama Holywood. :cd:

  4. kalau orang Jatim bakal bilang ini berita awu awu.

 Leave a Reply