Apr 062019
 

Su-57 Rusia. © Alex Beltyukov via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – Rusia bisa mengisi kekosongan akibat embargo AS terhadap pengiriman F-35 ke Turki dengan menyodorkan varian ekspor pesawat tempur canggih Su-57 buatannya.

Kalimat diatas bukan klaim yang mengejutkan. AS memutuskan untuk menahan pesawat tempur F-35 ke Turki dan membatasi keterlibatan industrinya dalam program F-35. Blokade tersebut hampir pasti akan mendorong Turki melangkah lebih dekat ke Moskow dan dapat memberikan Rusia peluang unik dan sangat dibutuhkannya, yakni mengekspor pesawat tempur canggih Su-57 ke Turki.

Pada 1 Maret 2019, juru bicara Departemen Pertahanan Letnan Kolonel Mike Andrews menyatakan , “Menunggu keputusan Turki yang tegas untuk menghentikan pengiriman S-400, pengiriman dan kegiatan yang terkait dengan peningkatan kemampuan operasional F-35 Turki telah ditangguhkan.”

Reuters melaporkan bahwa pengiriman peralatan pelatihan berikutnya dan semua materi terkait F-35 lainnya ke Turki telah dibatalkan.

Kongres AS juga bekerja pada undang-undang yang keras yang bisa menguatkan embargo F-35 kepada Turki secara permanen.

AS berselisih dengan Turki atas sejumlah masalah, tetapi keputusan terakhir Ankara untuk melanjutkan pembelian sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia adalah faktor pendorong terbesar.

AS menganggap mengoperasikan jet tempur siluman Amerika yang paling canggih dan sistem pertahanan udara Rusia yang paling canggih secara bersamaan beresiko sangat tinggi. Hal tersebut bisa memberikan wawasan bagi Rusia untuk mengetahui sistem, kemampuan, dan konsep operasi dari pesawat tempur F-35.

Pekan lalu Ankara menyatakan tidak akan mundur dari pembelian sistem S-400 meski AS menyarankan Turki untuk membeli sistem Patriot buatan AS sebagai gantinya. Penawaran untuk menjual Patriot ke Turki berakhir secara resmi pada 31 Maret 2019.

Bagi Kremlin, berita bahwa AS sedang menangguhkan keterlibatan Turki dalam program F-35, termasuk kemungkinan penangguhan terhadap keikutsertaan industri penerbangan dan pertahanan Turki merupakan kesempatan yang menguntungkan yang mungkin tidak bisa terulang lagi.

Apalagi dengan mundurnya India dari program Su-57, yang menjadikan Rusia kini semakin agresif untuk mencari mitra ekspor baru untuk pesawat tempur Su-57.

Rusia, yang militernya semakin mengalami kekurangan anggaran, tidak mampu membeli pesawat tempur Su-57 dalam jumlah besar dan akan membutuhkan sumber pendapatan dari luar untuk bisa meningkatkan pemasukan uang.

Turki akan membeli 100 unit F-35. Dengan demikian itu adalah salah satu pelanggan terbesar pembelian pesawat tempur siluman. Jika Rusia dapat mengamankan pesanan sebesar itu untuk Su-57, itu akan menjadi pemasukan terbesar bagi Rusia agar bisa membeli lebih banyak lagi Su-57, dari pada hanya 12 yang saat ini dipesan oleh Angkatan Udara Rusia.

Selain itu Rusia juga dapat menawarkan offset industri yang luas untuk mengisi celah yang ditinggalkan oleh F-35 dan bahkan mungkin lebih banyak lagi, termasuk transfer teknologi. Saat ini Turki memiliki program pengembangan pesawat tempur generasi ke-5-nya sendiri, TF-X yang mungkin belum bisa diselesaikan pada awal tahun 2030-an.

Dengan memiliki beberapa sistem persenjataan Rusia seperti Su-57 atau kombinasi Su-57 dan Su-35, akan dapat langsung diintegrasikan dengan sistem pertahanan udara S-400 tanpa kesulitan.

Turki saat ini menerbangkan campuran pesawat tempur F-4 Phantom yang sudah tua dan F-16 Block 50 buatan AS dalam jumlah besar.

TheDrive.com

 Posted by on April 6, 2019

  6 Responses to “Bukan Hanya Su-35, Turki Bisa Kombinasikan Su-57 dengan S-400”

  1.  

    S-400 Triumf – Air Defence Missile System
    https://www.youtube.com/watch?v=q4ncll2gNps&t=109s

  2.  

    beda jauh kl jual beli antara si amer dan rusia.
    motto rusia luh beli pesawat atau peralatan alutsista bebas pakai tdk pakai ijin ijin segala.
    coba kl beli dari amer.
    apahce kita sj cm buat pajangan sj.
    beda dengan mil mi 35 .

  3.  

    Beli Barang Alutsista Secanggih Apapun…Kalo Belinya Dari USA…Percuma Saja….Akan Jadi Sampah….Malah Alutsista Tersebut Nanti Akan Jadi Bumerang Bagi Indonesia….Apabila Akan Jadi Konflik dengan Sekutu USA baik di Utara atau Selatan Indonesia Bisa Kena Embargo….Serba Salah….

    •  

      Ya namanya juga si asu kan
      Beli di asu tapi kalau ada konflik harus ijin lah tidak boleh menembak negara tetangga lah, tang namanya alutsista itu gunanya untuk mempertahankan diri dan membalas serangan musuh bukan jadi pajangan
      Terus kalau tidak beli di asu eh malah kena CAATSA lah, embargo lah, tekanan politik lah, apalah, ini itu lah. Repot kan

      sejujurnya alutsista buatan amerika tidak secanggih buatan negara lain seperti rusia ataupun buatan eropa, hanya saja mereka menang NAMA dan POLITIK saja yang membuat dagangan mereka laku

  4.  

    Amerika tai kucing…mreka mmg hebat..tp kehebatan senjata mreka hnya utk mreka..brg yg kt pake dari mereka ini hny kW kW nya aja.sakit x klw ingat mereka embargo alutsista,pdhl belinya itu mahal”..arogan sangat mntang” negara adikuasa. Ini hrsnya jd pelajaran buat pemerintah agar jgn beli senjata dr usa atau eropa terutama inggris.klw beli yg penting2 aja dan gk usah byk”.Rusia senjatanya hebat dan malah beberapa lebih unggul dr usa dan eropa.china,jepang,korsel dll jg bs jd opsi.malah hrs didukung agar sdh saatnya usa dan eropa tdk mnjdi dominan lg dlm.hal tujuan belanja senjata global

  5.  

    Asseeekk……tambah seru nih……