Jan 082019
 

BUOY Merah Putih hasil litbang BPPT © BPPT

JakartaGreater.com – Terpaan bencana tsunami Anyer-Pandeglang dan Lampung dengan sigap telah ditanggulangi oleh berbagai pemangku kepentingan. Tentunya hal-hal positif ini perlu diiringi dengan adanya langkah jitu penyiapan sistem deteksi dini tsunami yang real time, handal dan akurat, seperti disebut oleh Humas BPPT pada hari Senin.

Dikatakan Deputi Teknologi Pengembangan Sumber Daya ALam (TPSA) BPPT, Hammam Riza, bahwa pihaknya terus berupaya melakukan revitalisasi BUOY Tsunami, untuk segera dapat dipasang di perairan Anak Krakatau dan sekitarnya. Nantinya disebut Deputi TPSA, akan dinamai sebagai BUOY Merah Putih.

“BPPT siap untuk mendeploy BUOY di Anak Krakatau. BUOY ini penting sebagai peringatan dini, agar penduduk di wilayah berpotensi tsunami, memiliki waktu untuk dapat evakuasi ke shelter terdekat”, tegasnya di Kantor BPPT, Jakarta, Senin (31/12/2018).

Namun yang yang masih menjadi kendala saat ini adalah pembuatan dari BUOY merupakan proyek yang membutuhkan “biaya” tidak sedikit. Menurut Hammam, revitalisasi satu unit BUOY, berikut pemasangan serta pemeliharaannya diperkirakan bisa menghabiskan dana sebesar Rp 5 miliyar.

“Revitalisasi ini ya kita oprek lagi BUOY yang dahulu sudah rusak sebagai akibat vandalisme. Kita gunakan panel tenaga surya untuk sumber tenaganya, serta kita upayakan semua sensornya lengkap kembali. Jadi butuh waktu, semoga dengan adanya dana khusus bisa lebih cepat prosesnya hingga pemasangan”, urainya.

Diakui olehnya, peran publik dalam hal menjaga BUOY tersebut nantinya sangat penting. Memang katanya, disekitar BUOY itu penuh dengan ikan, sehingga menarik para nelayan untuk memancing disana. Untuk itu kedepan diharap kejadian itu tidak terulang lagi.

“Publik harus semakin aware terhadap pentingnya teknologi untuk membangun early warning system yang handal, seperti BUOY ini. Jika BUOY nanti sudah ada, kepada masyarakat dihimbau agar perlunya menjaga bersama, karena ini alat yang dibangun negara supaya kita tetap selamat”, ujarnya.

Terlepas dari BUOY yang berpotensi vandalism, hilang atau bagaimana, kami nyatakan ini penting untuk dibangun. Adanya BUOY kata Hammam urgensinya tinggi demi melengkapi pemodelan yang telah digunakan sebelumnya.

Data dari BUOY yang dipasang hingga 100 – 200 kilometer dari pantai, dapat mengirimkan informasi data terkini ketika adanya gelombang tinggi ditengah laut yang diduga berpotensi menjadi tsunami muncul.

Hitungan awamnya, jika kecepatan gelombang tsunami antara 500 – 700 km/jam, minimal ada waktu 10 – 15 menit bagi warga masyarakat untuk dapat melakukan evakuasi ke shelter terdekat.

“Sinyal dari BUOY ditengah laut ini akan semakin intens dalam hitungan detik, mengirimkan sinyal ke pusat data early warning sistem secara real time, jika ada gelombang yang melewatinya. Semakin tinggi dan kencang gelombangnya, maka sinyal yang dikirim frekuensinya akan semakin rapat dan bisa berkali-kali dalam hitungan detik”, rincinya.

Hal ini imbuhnya, sangat penting bagi masyarakat yang bermukim di wilayah yang rentan terhadap terpaan bencana, untuk terus mewaspadai bencana.

“Masyarakat di pesisir atau wilayah berpotensi tsunami harus memiliki waktu evakuasi yang cukup. Untuk itu dibutuhkan teknologi yang mampu mendeteksi dini yang handal, dalam hal ini ya BUOY disertai teknologi lain seperti kabel bawah laut, maupun pemodelan sebelumnya”, kata Hammam.

Lebih lanjut Deputi Hammam menyebut bahwa BPPT tidak hanya mengembangkan BUOY tapi juga kabel bawah laut atau Cable Based Tsunameter (CBT). Sifatnya itu komplementer dengan BUOY atau saling melengkapi agar deteksi dini tsunami semakin akurat, presisi dan handal.

Hammam menambahkan bahwa CBT tersebut telah dikembangkan di beberapa negara dan dimanfaatkan antara lain oleh Kanada, Jepang, Oman dan Amerika Serikat. Didalam forum komunikasi antar-perekayasa CBT di seluruh dunia, disepakati juga bahwa CBT ini menjadi pilihan alternatif terhadap permasalahan yang dihadapi oleh BUOY, yakni vandalisme dan mahalnya pembuatan BUOY.

“Saat ini selain persiapan membangun BUOY Merah Putih, BPPT juga telah menyiapkan kabel bawah laut sepanjang 3 kilometer. Kami harap yang kami lakukan ini mendapat dukungan pemangku kepentingan strategis”, pungkasnya.

Sebagai informasi BPPT akan membangun dan mendeploy 3 BUOY. Untuk penempatannya akan dioptimalisasikan di wilayah-wilayah prioritas berdasar kajian tsunami terkini. Yakni pertimbangan sementara akan diletakkan di Kompleks Gunung Anak Krakatau serta Zona Subduksi Selat Sunda. (Humas/HMP)

  2 Responses to ““BUOY Merah Putih” BPPT Lengkapi Sistem Deteksi Dini Nasional”

  1.  

    apakah gak ribet buoy kl rusak atau dicuri spt sblmnya? saya ada ide. pasang kamera FLIR yg sangat akurat (kamera biasa tidak bisa akurat) utk mendeteksi ukuran air laut dan tsunami tetapi terhubungi ke komputer utk programming software utk mengetahui berapa besar bahaya ketinggian tsunami dan frekuensi akan merespon alarm bahaya. Kamera dipasang di tempat sangat tinggi. bisa memantau puluhan kilo. (daratan sumatra bisa terlihat dari pulau jawa). keuntungan kl kamera rusak mudah sekali diantisipasi dan diperbaiki. Jika buoy rusak atau hilang, harus mengaruhi laut dulu utk perbaikan yg mana rusak. mgkn dikit lebih repot. Coba ajak univierstas atau lembaga utk programming software utk kamera FLIR.. murah meriah tapi sangat efektif. Bisa programming kamera sebagai pendeteksi target mirip dipakai sukhoi 30 TNI

    •  

      Masalah bencana itu hitungannya menit bahkan detik, buoy itu bisa kirim sinyal 100-200 km, coba bandingkan dengan kamera yg anda maksud cuma puluhan km aja… Klo cuma mengandalkan 1 jenis instrumen saja akan sangat konyol menurut saya, oleh sebab itu butuh sistem deteksi dini berlapis dan tentunya itu semua terkait dana/anggaran