Calon Kuat Kepala BIN

33
81

bin

Mantan Wakil Menteri Pertahanan Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoedin, mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara As’ad Said Ali, dan mantan Wakil Panglima TNI Jenderal (Purn) Fachrul Rozi disebut sebagai kandidat kuat Kepala BIN.

“Yang menguat memang tiga nama ini. Tapi keputusannya nanti tinggal satu, kita tunggu saja,” kata Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Hak Asasi Manusia, Tedjo Edhy Purdijatno, seusai rapat kabinet di kantor Presiden, Selasa, 2 November 2014. Menurut Tedjo, ada kemungkinan besar Jokowi mengumumkan nama Kepala BIN sebelum bertolak ke Cina pada Jumat pekan ini.

Presiden, kata Tedjo, masih menimbang-nimbang tiga nama tersebut diatas, termasuk kemungkinan adanya nama baru untuk mengantikan Letjen Tni Marciano Norman, Kepala BIN sekarang. “Tapi bisa saja (tiga nama itu) hilang semua, lalu muncul yang lain lagi,”.

Menurut Undang-Undang Intelijen Negara, posisi Kepala BIN sangat strategis bagi presiden. Dia memberikan masukan dan informasi akurat berkaitan dengan ancaman yang bisa mengganggu negara. Kepala BIN mesti mahir berdiplomasi, mengelola, serta mengolah data untuk disajikan kepada presiden sebelum mengambil keputusan.

Menurut seorang pejabat di kantor Kepresidenan, nama Sjafrie muncul karena sudah lama masuk “radar” Jokowi. Dia dianggap menguasai dunia intelijen dan berhasil mengawal lahirnya Undang-Undang Intelijen setelah sembilan tahun terkatung-katung. Di kalangan internal Istana, santer beredar kabar nama Sjafrie sudah dipilih Jokowi sebagai Kepala BIN.

Adapun nama As’ad, menurut seorang pejabat di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, disorongkan elite organisasi massa itu. Saat ini As’ad menjadi Wakil Ketua Umum PBNU. Ia dikenal dekat dengan mantan Kepala BIN Jenderal (Purn) A.M. Hendropriyono. Saat kampanye pemilu presiden, Hendropriyono menjadi penasihat tim pemenangan Jokowi-Jusuf Kalla.

Adapun nama Fachrul Razi, menurut orang yang mengetahui penyusunan Kabinet Kerja Jokowi, disorongkan Luhut Panjaitan yang juga pernah menjadi penasihat Tim Transisi Jokowi-Kalla. September lalu, Jokowi membenarkan Luhut mengajukan paket draf kabinet. Namun, Jokowi tidak ingat nama kandidatnya.

Luhut membantah menyorongkan nama Fachrul sebagai calon Kepala BIN ke Jokowi. “Saya enggak tahu soal itu,” kata dia mengelak. As’ad juga mengaku belum tahu ikhwal namanya masuk bursa calon Kepala BIN. Sedangkan Letjen Syafrie belum bersedia dihubungi.

Sumber : Tempo
By Alden

33 KOMENTAR

  1. Kepala BIN harus paham dan siap mensupport dlm mewujudkan Visi Poros Maritim Jokowi. Sudah saatnya intelijen kita berubah, jangan Superior saat berhadapan dgn isu lokal internal, tapi inferior saat kontra dgn kepentingan2 Asing / luar. Meski bukan dari kalangan Militer, tapi pengalaman bidang intelijen 3 jaman (Orla, Orba, reform) telah banyak diserap.. Kalau boleh milih.. Asad Said Ali.

  2. Ketua BIN adalah orang kepercayaan Presiden, jokowi sudah kukuh dengan yg satu ini,karena kalo Ketua BIN loyalitas kepada orang yang promosikan dia maka info intelejen bisa dipermainkan ketika beri laporan ke presiden, SS ini kuat di internal TNI dan hubungan baik dengan SBY dan PS apalagi jokowi tidak suka dipaksa2 untuk memilih salah satu orang untuk jadi orang kepercayaannya seperti kemaren PBNU dan AMP. banser rame2 desak jokowi untuk pilih Assad said ali,…kelemahan SS di ham masih tidak dikasih visa kalo ke AS

  3. Vote buat SS..kenyang pengalaman di Lapangan & Konseptor ulung..jd inget saat SS jd Ajudan pak Harto nemenin beliau ke Bosnia..tampa pelindung kepala..krn pak Harto jg ga mau pakai..jd cuma pake peci hitam..dan saat dng pak Poer beliau jg jd tandem yg serasi dng MenHan saat itu..jd vote lah buat SS..

  4. Pak Sjafrie Sjamsoeddin jelas dan sudah terbukti kinerjanya. Dari mulai bangun Dephan sampai Kemhan.
    Hubungan TNI – Polri serta instansi sipil jelas dilakoni.
    Jago diplomasi dan punya prinsip.
    Yang paling penting, NON PARTAI.

    Maju terus Pak Sjafrie!