Ceko Tawarkan Pandur II untuk Militer Indonesia

53
22
Pandur II
Pandur II

Setelah suskses memasok peluncur roket multi laras (MLRS) Vampir yang digunakan Korps Marinir, dalam pameran Indo Defence 2016, Excalibur Army menawarkan kendaraan amfibi 8×8 Pandur II untuk dapat digunakan oleh Korps Marinir maupun TNI Angkatan Darat.

Pandur II merupakan kendaraan 8×8 yang diproduksi perusahaan Austria Steyr yang merupakan anak perusahaan dari General Dynamics. Excalibur Army dari Ceko mendapatkan hak untuk memproduksi dan Maintenance, Repair, dan Overhaul (MRO) untuk Angkatan Darat Ceko, Eropa Timur, serta negara-negara Asia.

Pandur II mempunyai pilihan perlindungan balistik yang ditawarkan dalam STANAG Level 2,3, dan 4 dan perlindungan terhadap ranjau darat STANAG Level 2A dan 3A, bahkan kendaraan ini mempunyai kursi perlindungan ranjau yang dipatenkan.

Pandur II Ceko
Pandur II Ceko

Dengan menggunakan mesin diesel Cummins – Amerika tipe 6 silinder 4 langkah yang diletakkan di depan, dapat menghasilkan performa 455 daya kuda, sehingga kendaraan dapat dipacu hingga 105 km/jam. Transmisi menggunakan produk ZF Jerman, sistem suspensi independen dan rem ABS (Anti-Lock Braking System). Untuk memudahkan pengemudian, Pandur II menerapkan sistem Automatic Drivetrain Management (ADM). Kendaraan ini dilengkapi 2 waterjet dapat mengarungi air dengan kecepatan 10 km/jam.

Bobot kosong kendaraan Pandur II adalah 15,0 ton, dengan berat kendaraan saat berenang dibatasi 20,0 ton. Kendaraan ini dapat memuat beban 5,0 ton. Untuk penggunaan di darat, Pandur II dapat dipaksa hingga maksimal 24,0 ton. Jumlah personel yang dapat diangkut maksimal 12 orang (termasuk driver dan gunner), namun disarankan untuk membawa 10 pasukan, agar tidak berdesakan.

Varian Pandur II 8x8
Varian Pandur II 8×8

Pandur II 8×8 telah digunakan Angkatan Darat Austria dan Ceko. Di Portugal, Pandur II digunakan oleh Marinir, dan mendapatkan lisensi yang dibuat oleh perusahaan Fabrequipa, karena memesan dalam jumlah cukup banyak.

Pintu belakang Pandur II tersedia 3 versi, pintu single hidrolik, pintu ganda tanpa sekat tengah, maupun pintu ganda dengan sekat tengah. Tipe terakhir pada bagian sekat dipasang peralatan pengait untuk dapat menarik kendaraan.

Sumber : Defense-studies.blogspot.co.id

53 COMMENTS

    • Pindad nggak akan menawarkan produk ke suatu negara yang sekiranya duitnya cekak. Jadi, para produsen senjata itu menawarkan produknya ke Indonesia karena memperkirakan seberapa besaran dana belanja pertahanan kita. Negara lain yang dananya lebih besar tentunya lebih banyak lagi produsen yang menawarkan produk ke mereka.
      Namun potensi persaingan senjata di kawasan juga pastinya jadi pertimbangan mereka.
      Apalagi negara tajir yang sedang berkonflik, misalnya Saudi, tentu tawaran yang datang ke sana sangat deras berbondong-bondong mempromosikan produknya.

  1. kalo kita beli kita dapat hak apa????Ceko mendapatkan hak untuk memproduksi dan Maintenance, Repair, dan Overhaul (MRO) untuk Angkatan Darat Ceko, Eropa Timur, serta negara-negara Asia.

    mending beli chasis dan mesin tatra yg 8×8 trus buat APC/IFV sendiri, ingat yh TATRA bukan TATA!! 😀

  2. Xixixixi

    Beberapa warjag alay nan lebay bilang bahwa Indonesia kismin dan tak ada duit serta banyak hutang.

    Tetapi yang nawarin alutsista berjibun banyaknya.

    Khusus untuk kendaraan APC/IFV Panser apalagi yg berjenis amfibi memang akan dibeli banyak sebab :

    1. Akan ada banyak batalyon mekanis yang akan dibentuk, mereka butuh minimal 36 unit APC/ IFV per batalyon. Belum lagi kendaraan untuk scout, fire support dll. Total rantis per batalyon bisa mencapai 60-70 rantis. Kalau andalkan produksi anoa saja maka tidak akan terkejar untuk mencukupi kebutuhan puluhan batalyon mekanis ini. Sehingga butuh supplier lainnya sekaligus ambil ilmunya.

    2. Kendaraan panser jenis amfibi juga bakal dibeli banyak sebab nantinya akan ada 3 divisi marinir. Sementara ini yg ada hanya 2 divisi. 1 divisi sekitar 10 – 15 ribu prajurit. 1 panser amfibi hanya muat paling banyak 10 – 12 orang. Jadi tahu sendiri kan perkiraan berapa unit lagi penambahan panser yang dibutuhkan ?

    F5 ? Xixixixi tunggu harga termurah untuk dapat harga terbaik xixixixi yang begini ini mestinya gunakan ibu-ibu yang banyak anak dan biasa belanja di pasar tradisional untuk menawar harga. Biar dapat harga yang murah.

  3. Kadang sebel juga liat si pengambil keputusan TNI ini, demi komisi luar nasionalist tergadai.

    aku udah ikut forum2 luar agar mereka tau kalau indonesia punya produk lebih unggul seperti panser badak dan anoa eh justru pemerintah sendiri yang ngeremehin produk anak bangsa dengan membeli produk luar.

    Orang luar akan berpikir kalau kita sendiri beli produk luar artinya produk kita ????.
    Jadi bagaimana mungkin mereka mau beli produk kita

  4. pindad jadilah pemimpin ,jangan hanya bisa jadi pengekor karena ekor tidak pernah di depan.
    Contoh TANKBOAT belum ada yang buat baru Pindad artinya pindad berada di depan .
    Kita harapkan Industri stategis lain meniru langkah Pindad ,harus melompat(FROG LEAP) bukan lagi berjalan karena kita sudah jauh tertinggal.
    Lapan/DI harus bisa bikin rudal .
    LEN harus bisa buat segala macam radar.
    INKA harus masuk bikin powerplan ,bikin mesin kapal,alat berat ,turbin
    Nah baru sejajar dengan brazil,turky ,korea.

    • ToT mestinya jalan terakhir pindad harus bekerja keras untuk meningkatkan skill, aku yakin sebenarnya pindad mampu merubah 6×6 menjadi 8×8 asal ada kemauan dan dana riset bisa tersedia dari anggaran pembelian itu.
      Pastinya lebih keren dan penguasaan skill bisa berkali-kali lipat.

      ToT baik sekali apabila naiknya jauh diatas kemampuan pindad contoh pantsir, atau armoured penggotong rudal lainnya

  5. Terlalu banyak sekema kerja sama di jenis yang sama…
    Jika ingin mengembangkan ilmu ToT yang sudah di miliki, panser Anoa sebenarnya dapat di jadikan tolak ukur untuk jenis APC/IFV dengan level STANAG yang lebih baik.
    Jika alasannya kekurangan armada ranpur, PT Pindad pasti akan mempunyai sekema / rancangan produksi maksimal yang lebih di titik beratkan untuk keperluan TNI.
    Jikapun harus membeli ataupun bekerja sama untuk rancang bangun, pihak TNI dan PT Pindad harus memiliki pandangan pengembangan untuk menjadi mandiri di kemudian waktu.
    Anyway APC/IFV tidak usah harus 8X8 yang terpenting tenaga / daya kuda berbanding dengan rasio berat ranpur lebih baik, guna menunjang medan tempur yang bervariasi.

LEAVE A REPLY