May 152017
 

CEO Dassault Aviation, Eric Trappier berfoto didepan Rafale C pada Paris Air Show ke-51 di bandara Le Bourget. © Pascal Rossignol/Reuters

Produsen pesawat asal Prancis, sedang melihat adanya peluang kontrak pada penjualan baru untuk jet tempur Rafale pada tahun 2018, menurut CEO Dassault Aviation SA, Eric Trappier dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Prancis Sud-Ouest pada hari Minggu, seperti di lansir dari Reuters.

“Setelah penekenan kontrak di India, tentang pengiriman 36 jet tempur Rafale, dan selanjutnya 24 jet tempur ini dipesan oleh Mesir serta 24 jet tempur lainnya dipesan oleh Qatar, kami harus segera menyelesaikan kontrak ke-4 di luar negeri, namun lebih tepatnya pada tahun 2018 nanti”, ujar Trappier dalam wawancara tersebut.

CEO Dassault Aviation tersebut menambahkan bahwa kini sedang dilakukan pembicaraan dengan India mengenai kontrak kedua yang potensial.

“Kami terutama, sedang dalam pembicaraan dengan pemerintah Malaysia untuk pengadaan 18 unit jet tempur Rafale, tetapi juga dengan India mengenai kontrak kedua”, kata CEO Dassault Aviation tersebut.

Eric Trappier juga menambahkan bahwa kebutuhan India akan jet tempur sangatlah besar, karena untuk Angkatan Laut India, diperkirakan membutuhkan 57 unit jet tempur.

Jet tempur Rafale dipandang memiliki peluang terbesar di Malaysia, karena negara tersebut berencana menggantikan armada jet tempur MiG-29 buatan Rusia yang telah menua. Untuk kesepakatan menjual 18 unit jet tempur tersebut berpotensi lebih dari US $ 2 miliar, tambah narasumber.

Sementara itu, beberapa waktu yang lalu dikabarkan bahwa pemerintah Malaysia berencana menjual jet tempur MiG-29 kepada India dalam upaya untuk mendapatkan suku cadang bagi armada jet tempur Su-30 yang dioperasikan oleh Angkatan Udara Malaysia (TUDM).

“Ada kemungkinan mereka membeli pesawat MiG 29 tersebut untuk direparasi. Dan kami akan menerima suku cadang untuk pesawat tempur Su-30”, kata Najib Razak dalam konferensi pers di Chennai, India.

Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Najib Razak mengatakan adanya usulan itu diantara aspek kerjasama militer yang telah disetujui oleh Malaysia dan India. Ia mengatakan bahwa Departemen Pertahanan dan TUDM akan melihat bentuk kerjasama tersebut, termasuk perawatan dan suku cadang jet tempur Su-30 yang dimiliki saat ini.

  38 Responses to “CEO Dassault Aviation: “Kami Masih Bahas Rafale Dengan Malaysia””

  1. Bahas doang

  2. Mana Di Kasih Dah Sama Dassault Klau 18 Unit Di Bayar 2 Milliar USD. Orang India Aja Yg Belinya 2 Skadron Aja Habis 6 Milliar USD Lebih+Harus Bayar Uang Tambahan 2,5Milliar Buat Dapet ToT .

  3. @Jimmy S

    Mungkin malay cuma nawar yg paket “pahe’ Rafale, artinya cuma beli pesawat kopongan, masih minus persenjataan, dan piranti optional dari rafale, juga blm termasuk program pelatihan.. mungkin lho yaa bung

  4. !

  5. oh iyaa.. sama minus ToT,. btw India emang dpt Rafale seri apaa yaa?? ap udh dpt yg F3R yaa..

  6. RED ALERT!!
    Ada kemungkinan amerika akan membangun/menempati pangkalan militer di wilayah Riau atau memperkuat armadanya di Singapura terkait dengan rencana OBOR China
    Jika hal itu terjadi, cermati Natuna, Hang Nadim, dan satu lagi yang masih misterius!

  7. oh

  8. Siapa tahu Malon mau nabung beli roda nya Rafale dulu kale?

  9. Pasti NKRI Kesalip Malaya Mulu..Lagi dan lagi

  10. percuma malaysia beli rafa ..sucad rafa mahal .nasibnya bisa sama ky mig..

  11. Malaysia beli versi downgrade nya tanpa kursi eject untuk menghindari kecelakaan serupa eject di hanggar

  12. Justru itu bung djocky mungkin tetangga jaguh beli satu skuadron kursi eject dulu buat latihan eject kat hangar bung baru setelah itu beli pesawatnya. Sisa uangnya buat latihan nenggelemin kapal apungnya bung hehehehe

  13. cuma satu kata untuk ini pespur ‘MAHAL’

  14. Pesawat temahal dikelasnya!apa sanggup membeli dan memeliharanya?

  15. Ga menjamin juga beli senjata ke rongsokborok akan ketersediaan sucad.
    Malon sampai cari sucad ke India.

    • Bung Rapvia Itu Malay Cari Sucad Sampe Barter Mig Ke India Karena Kekurangan Anggaran Dan Sucad Sukhoi India Itu Juga Dari Rusia… Jadi Sebelum Komen Cari Dulu Infonya Jangan Suka Sotoy Kaya Si King…

      • betul bang….kalo mau beli sucad pesawat daur ulang yg ketinggalan jaman ke rongsok boron harus lewat perantara sebagai lintah darah pencekik uang negara…sudah itu belom tentu ada barang nya seperti di indihe sono…mendingan beli pespur canggih dengan teknologi terbaru + t.o.t dari swedia aja bg….betul tebakan anda bang…beli lah pesawat tempur GRIPEN yg sudah terbukti mengalahkan “shukoi” china secara telak….

  16. hebat malay beli pesawat mahal,…. salute

  17. Semahal mahalnya harga Alutsista masih jauh lebih mahal harga kedaulatan negara dan keselamatan rakyatnya yang tidak bisa dinilai dengan uang. Negara sebesar Indonesia nih harusnya memiliki angkatan perang berikut alutsistanya jauh lebih besar dan bukannya menyeimbangkan dengan negara tetangga yang kecil2,bukannya suka utk berperang tetapi bersiap kalo sewaktu waktu ada perang. Konflik timur tengah,eropa,bahkan sekarang di Asia jg ikut memanas,kalo sampai terjadi konflik dan semisal Indonesia ikut terseret jg kalo gak siap ujung2nya rakyat yg jd korban biar sekalipun rakyat rela berkorban. Sesuai falsafah Kalo Ingin Damai Maka Siapkan Angkatan Perang Yang Kuat,alias Sedia Payung Sebelum Hujan Bukannya Beli Payung Setelah Basah Kehujanan.

 Leave a Reply