Jan 082019
 

Sebagai Helikopter yang memiliki 2 baling-baling utama, Chinook memiliki ukuran panjang 30 meter, tinggi 5,7 meter, dan bisa mengangkut 55 tentara bersenjata lengkap atau sekitar 11.000 kg barang.

Jakarta, Jakartagreater.com   –   Jika tidak ada aral melintang pada tahun 2019 mendatang menurut sebuah sumber, Heli transport CH-47 Chinook dari AS rencananya akan memperkuat Alutsista kita. Kehadiran Heli Chinook untuk memperkuat Alutsista memang sangat dibutuhkan mengingat selama ini Helikopter angkut yang kita miliki jumlahnya masih terbatas.

Jika dibandingkan dengan Heli transport yang sudah kita miliki, kehadiran Heli Chinook yang berbentuk unik karena merupakan ‘Heli tandem’ memang sangat mencolok. Sebagai Helikopter yang memiliki 2 baling-baling utama, Chinook memiliki ukuran panjang 30 meter, tinggi 5,7 meter, dan bisa mengangkut 55 tentara bersenjata lengkap atau sekitar 11.000 kg barang.

Selain itu sebagai Heli transport sekaligus tempur, Chinook juga dipersenjatai sejumlah senapan mesin untuk melindungi para tentara yang sedang keluar atau masuk kedalam Helikopter. Karena bisa mengangkut barang demikian banyak, maka Chinook sebagai heli transport sangat diandalkan untuk menangani bencana alam yang bersifat regional atau nasional.

Ketika terjadi bencana gempa bumi dan tsunami Aceh (2004) Indonesia mendapat pelajaran berharga. Terbukti, begitu vitalnya peran Heli Chinook yang dioperasikan oleh sejumlah negara dalam penanganan bencana secara tepat dan akurat. Indonesia bahkan sampai menyewa 5 Heli Chinook dari AS untuk memperlancar penanganan bencana alam di Aceh.

Didorong oleh pengalaman berharga itu, pada tahun 2016 Kementerian Pertahanan RI menurut sebuah sumber menandatangani pembelian Heli Chinook yang rencananya dikirim secara bertahap mulai tahun 2019.

Rencana pembelian Helikopter CH-47 atau lebih dikenal dengan nama Chinook baru terlaksana pada 2016, dan nanti pengoperasionalannya diserahkan kepada yang berkompeten sebagai bagian dari Alutsista. Sebagai alat angkut berat, Helikopter Chinook memiliki mobilitas sangat tinggi dan memiliki daya angkut personel sebanyak satu peleton prajurit.

Sebagian telah melihat kehebatan Helikopter buatan Amerika Serikat itu, antara lain ketika beraksi pada beberapa bencana alam di Indonesia. Saat itu, sejumlah negara membawa bantuan menggunakan Chinook. Pada saat penanganan pasca bencana tsunami Aceh, kita dapat bantuan dari negara sahabat memakai Chinook. Itu sangat luar biasa, cepat, dan mengangkut banyak orang.

Wacana pembelian Helikopter dengan mesin ganda tersebut pertama kali diungkapkan oleh salah seorang pejabat yang mengatakan bahwa Chinook yang harganya ditaksir mencapai 30 juta dollar AS bakal melengkapi Alutsista TNI. Meskipun untuk pengadaan Helikopter Chinook cukup mahal, tetapi nyawa orang yang perlu diselamatkan lebih mahal.

Boeing CH-47 Chinook adalah sebuah Helikopter produk Amerika bermesin ganda, tandem rotor dan heavy-lift . Dengan kecepatan tertinggi 170 knot (196 mph, 315 km/h) Helikopter itu lebih cepat daripada Helikopter serang tahun 1960-an. Helikopter CH-47 adalah salah satu dari beberapa pesawat masa itu yang masih dalam pelayanan lini produksi dan depan, dengan lebih dari 1.179 dibuat sampai saat ini.

Peran utamanya meliputi gerakan pasukan, Artileri, dan memasok perlengkapan medan perang. Memiliki pintu pemuatan yang lebar di bagian belakang pesawat dan 3 eksternal-kargo kait. Chinook ini dirancang dan awalnya diproduksi oleh Boeing Vertol di awal 1960-an.

Helikopter ini sekarang diproduksi oleh Boeing Rotorcraft Systems. Chinooks telah dijual ke 16 negara dengan Angkatan Darat AS, dan Royal Air Force menjadi pengguna terbesar. Helikopter CH-47 adalah salah satu helikopter angkut terberat di Barat.

Tarik ulur pemberian ToT (Transfer of Technology) dalam proses pembelian Alutsista umumnya terkait dengan beberapa prinsip, mulai dari urusan politik dan pastinya nilai total pembelian tersebut. Ada yang menarik dari rencana pengadaan Helikopter angkut berat CH-47 Chinook buatan Boeing. Pasalnya Indonesia hanya membeli 4 unit dan tetap mensyaratkan ToT dalam skema offset.

Diperkirakan pengadaan CH-47 Chinook akan menggunakan anggaran tahun 2016, dengan anggaran pengadaan per-unit Helikopter mencapai US$30 juta. Lewat beberapa kali pembahasan dan negosiasi antara pihak Boeing dan Kemenhan RI, akhirnya pada tahun 2015 lalu, Regional Director South East Asia Boeing, Young Tae Pak menyampaikan kepada seorang pejabat kita bahwa Boeing siap memberikan dan memenuhi persyaratan skema offset yang diinginkan Indonesia.

Defence offset dalam teorinya dibagi menjadi dua pilihan, yakni direct offset dan indirect offset. Direct offset yaitu kompensasi yang langsung berhubungan dengan transaksi pembelian.

Indirect offset sering juga disebut offset komersial bentuknya biasanya buyback, bantuan pemasaran/pembelian Alutsista yang sudah diproduksi oleh negara berkembang tersebut, produksi lisensi, transfer teknologi, sampai pertukaran offset, bahkan imbal beli.

Sebagai tindak lanjut, pihak Regional Boeing Asia Tenggara telah mengirimkan tim ke PT Dirgantara Indonesia untuk pembicaraan teknis lebih lanjut. Sebagaimana diketahui, Kemhan berencana membeli Helikopter Chinook untuk memperkuat Alutsista di jajaran

TNI. Pembelian ini disesuaikan dengan ancaman nyata yang dihadapi Indonesia, terutama masalah penanganan bencana alam. Selain Indonesia, di Asia Tenggara Chinook sudah lama dimiliki Singapura. Negeri Jiran ini merangkum armada Chinook di dalam Skadron 127. AU Singapura tercatat punya enam unit CH-47D dan dua belas unit CH-47SD Chinook.

Selain itu, AD Thailand juga ikut menggunakan CH-47 Chinook. Saat berkecamuknya Perang Vietnam, Chinook juga menjadi etalase kelengkapan udara di pihak Vietnam Selatan. Meski Chinook yang dibeli Indonesia jumlahnya minim, namun secara keseluruhan kontrak Boeing untuk pengadaan Alutsista TNI cukup menggiurkan.

Helikopter Chinook merupakan salah satu jenis helikopter yang memiliki keunggulan multifungsi. Selain dapat mengangkut personel militer dalam jumlah banyak, Helikopter ini juga mampu mengangkut logistik dalam jumlah banyak. Selain itu, Helikopter ini didesain untuk bisa mengangkut (sling) pesawat tempur, kapal tempur, kendaraan tempur (Ranpur), hingga tank tempur kelas ringan.

Tidak hanya itu, dengan kemampuan daya angkut yang besar, Helikopter ini banyak diturunkan untuk mendukung kebutuhan nasional, seperti evakuasi bencana alam dan kegiatan Search and Rescue. Dalam sejarahnya Chinook mulai mengudara pada tahun 1962, telah hadir dalam beberapa varian dan dioperasikan oleh 22 negara dengan total produksi lebih dari 1.180 unit. (tniad.mil.id / Majalah Palagan)