China Bangun Pangkalan Udara di Kamboja?

1
39
A satellite image of the suspiciously long runway at the airport in Koh Kong. © SCMP

JakartaGreater.com – Sebuah artikel berjudul “Is Cambodia’s Koh Kong project for Chinese tourists – or China’s military?” telah diterbitkan oleh outlet media terkenal yang berbasis di China, South China Morning Post (SCMP), pada tanggal 05 Maret telah menjadi topik kontroversial di kalangan pembaca domestik dan internasional.

Artikel dari SCMP menimbulkan pertanyaan apakah analisis tersebut benar dan mengenai masa depan daro proyek tersebut di provinsi Koh Kong.

Pembangunan yang mengacu pada artikel SCMP itu adalah Dara Sakor Seashore Resort, yang bernilai miliaran dolar yang merupakan investasi oleh perusahaan asal China, Union Development di provinsi Koh Kong, yang membentang diatas lahan konsesi seluas 45.000 hektar.

Karena proyek ambisius itu, SCMP melaporkan bahwa mereka skeptis dan khawatir bahwa proyek itu terlihat terlalu bagus untuk menjadi kenyataan hanya untuk menyambut turis asal China dan yakin bahwa itu lebih sesuai untuk menyambut militer China.

Jet tempur J-11B dari brigade Angkatan Udara di PLA Northern Theatre Command dalam latihan 8 Januari 2019. © Yang Pan via China Military

Gregory Poling, direktur Inisiatif Transparansi Maritim Asia di Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) seperti dikutip SCMP mengatakan bahwa landasan pacu bandara di dalam proyek ini sekitar 3.400 meter, yang lebih panjang daripada Bandara Internasional Phnom Penh dan mampu menampung semua pesawat di Angkatan Udara China.

Selain itu, Paul Chambers, seorang analis regional di Universitas Naresuan, mengatakan kepada This Week bahwa pejabat senior Kamboja secara pribadi mengaku bahwa Perdana Menteri Kamboja sekarang sedang mempertimbangkan menyetujui rencana Pangkalan Angkatan Laut PLA di sana.

Selain itu, para analis yakin bahwa proyek tersebut didukung pemerintah China, karena fakta bahwa proyek ini didukung oleh banyak pejabat utama pemerintah China seperti Zhang Gaoli, mantan wakil perdana menteri China dan ketua group terkemuka Inisiatif Belt and Road Beijing serta ada Wang Qinmin, wakil ketua Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China.

Jet tempur generasi kelima, J-20 Weilong © East Pendulum

Selain itu, periode konsesi lahan selama 99 tahun juga merupakan salah satu alasan untuk membujuk para analis mengaitkan masalah ini dengan rencana militer China. Chambers mencatat bahwa ia skeptis terhadap kesepakatan konsesi lahan karena lahan itu tiga kali lebih besar dari ukuran maksimum konsesi berdasarkan konstitusi Kamboja.

Dalam upaya memperjelas sudut pandang pakar, SCMP telah menghubungi juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja Chum Socheat, tapi tidak dapat dihubungi. Namun, SCMP akhirnya dapat menghubungi juru bicara pemerintah Phay Siphan, dan juru bicara mengklaim bahwa dirinya “tak tahu” apakah pemerintah Kamboja memiliki pengawasan terhadap proyek tersebut.

Menurut JakartaGreater.com bahwa analisis tersebut dibuat semata-mata hanya berdasarkan pada pandangan para sarjana. Belum ada dokumen resmi yang dikeluarkan dari pemerintah Tiongkok dan Kamboja mengenai rencana yang banyak dipertanyakan itu.

1 KOMENTAR