China Berhasil Uji Coba Intersepsi Rudal Jarak Menengah

61
14
Sistem rudal pertahanan udara jarak HQ-9 atau Hong Qi-9 buatan China. © Jian Kang via wikimedia.org

JakartaGreater.com – China telah berhasil menguji sebuah sistem pencegat rudal jelajah jarak menengah berbasis darat, menurut pernyataan Kementerian Pertahanan Nasional China pada hari Selasa. (6/2/2018)

“Pada 5 Februari 2018, China melaksanakan uji coba intersepsi rudal jarak menengah berbasis darat”, menurut keterangan situs resmi Kementrian Pertahanan Nasional (MND) China.

Kementerian tersebut menambahkan, bahwa pengujian tersebut mencapai tujuan yang diharapkan. “Uji coba bersifat defensif dan tidak ditujukan tehadap negara manapun”, tulis pernyataan tersebut tanpa memberikan rincian lebih lanjut.

Januari yang lalu, juru bicara Kementerian Pertahanan Nasional China, mengumumkan bahwa Pasukan Roket Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) telah menyelesaikan upgrade rudal balistiknya.

Berita tersebut muncul setelah Jepang berencana untuk memasang rudal anti pesawat dan rudal anti kapal di pulau Ishigaki, disebelah barat daya kepulauan Ryuku di Jepang, yang berada tak jauh dari daratan China.

61 KOMENTAR

  1. Jendral mark carlisley panglima au amrik sangat khawatir dengan rudal pl 15 tiongkok dan meminta kekongres amrik buat yg sama dengan daya jangkau 400 km dan didorong mesin ramjet kok disini bilagn kw hihihi jika kw ga bakalan raf inggris kirim nota diplomatik keberatan ke china agar jgn menjual rudal anti kapal pl 12 yg dipasang di jf 17 atau j 10 , kenapa negara barat khawatir jika itu kw? Ada yg bisa kasih penjelasan? Kenapa saudi beli df 21,ch 5, qatar sy 400,bahrain sr 5? Apa anda kira muhamad bin salman,al thani itu org bodoh? Mereka lulusan akademi militer amrik ! Jika tak mencoba dan dites dengan kompetitor apa mereka mw?

  2. Sementara Indonesia masih berkutat dg polemik apakah mengutamakan riset tentang roket atau mengenyangkan rakyat yg masih ada yg kelaparan. Suatu perbandingan yg tdk relevan bisa jadi malah menjadi bumerang krn terpaksa dana untuk beli pangan berkurang sebab kita hrs membayar jam kerja bangsa lain. Produk teknologi masih lebih mahal dan memiliki value yg lbh tinggi dibanding dg produk pangan.

  3. Menurut saya sih meskipun lebih murah dan memiliki kemampuan yang menyerupai yang di kloning tetap saja China bukanlah pinonernya… Meskipun mereka bisa belajar dan bisa meningkatkan kemampuan tetapi barang yang didapat dari kloning berbeda dengan yang diperoleh dengan pengembangan dari titik bawah, seperti yang dilakukan Russia maupun negara2 Barat dan USA…Jangan sampai nanti ketika kejadian ada ungkapan “jangan membeli barang C….”