China Desak Hentikan Bor Minyak di Laut China Selatan

BeijingĀ  – Kementerian Luar Negeri China mendesak penghentian pengeboran minyak di suatu bagian yang dipersengketakan dari Laut China Selatan, tempat Repsol, perusahaan minyak Spanyol beroperasi lewat kerja sama dengan Vietnam.

Pengeboran mulai berlangsung pada pertengahan Juni 2017 di Blok 136/3 Vietnam, yang dizinkan kepada perusahaan minyak Vietnam, Repsol dan Mubadala Development Co dari Uni Emirat Arab (UAE).

Blok itu terletak di dalam “sembilan garis putus-putus” berbentuk U yang menandai kawasan luas. China mengklaimnya sebagai teritorialnya dan bertumpang tindih dengan dengan apa yang dikatakannya kawasan konsesi minyak kepunyannya.

Juru bicara Kemlu China Lu Kang mengatakan China mempunyai kedaulatan yang tak dapat dipersengketakan atas Kepulauan Spratly, yang disebutnya Kepulauan Nansha dan juridiksi atas perairan dan dasar laut.

“China mendesak pihak terkait untuk menghentikan aktivitas-aktivitas yang dilaksanakan melanggar dari sepihak dan aksi-aksi praktis menjaga keadaan yang diusahakan positif di Laut China Selatan,” ujar Lu Kang dalam taklimat reguler sewaktu ditanya apakah China sudah mendesak Vietnam atau perusahaan Spanyol itu untuk menghentikan pengeboran minyak.

Juru bicara Kemlu China tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

Minggu ini BBC melaporkan bahwa Vietnam sudah menghentikan pengeboran di sana sesudah China mengeluarkan ancaman-ancaman, namun belum ada konfirmasi independen dan para pejabat Vietnam atau Repsol belum memberikan komentar mengenai laporan tersebut.

Data Thomson Reuters menunjukkan kapal pengebor Deepsea Metro I berada di posisi yang sama pada Senin 24 Juli 2017 seperti sewaktu pengeboran mulai di blok itu pada pertengahan Juni 2017.

Sebuah kapal AL Indonesia yang melintasi di sana pada Sabtu 22 Juli 2017 melaporkan bahwa 3 kapal penjaga pantai dan kapal ikan Vietnam berada di dekatnya dan tak ada tanda ada masalah.

Operator kapal pengeboran Norwegia, Odfjell Drilling Ltd, tidak menanggapi permintaan yang dikirim lewat surat elektronik untuk berkomentar.

China mengklaim sebagian besar wilayah Laut China Selatan yang kaya energi. Perdagangan senilai 5 trilun dolar AS dengan menggunakan kapal-kapal melintasi wilayah itu tiap tahun. Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam juga mempunyai klaim atas wilayah tersebut.

Aktivitas-aktivitas terkait Militer dan sikap asertif China atas wilayah yang dipersengketakan di Laut China Selatan sudah mencemaskan negara-negara tetangganya.

Amerika Serikat yang sudah mengecam konstruksi pulau-pulau dan fasilitas Militer oleh China di sana, menyatakan keprihatinan sebab fasilitas-fasilitas itu dapat digunakan untuk melarang gerakan bebas dan memperluas jangkauan strategis Beijing, dilansir Antara/Reuters, 25-7-2017.

Tinggalkan komentar