Apr 252017
 

Ilustrasi Angkatan Laut India. © India Strategic

“China saat ini berencana untuk membangun lebih banyak kapal induk untuk meningkatkan kemampuan maritimnya, yang dapat menimbulkan ancaman lebih besar ke India”, menurut laporan Economic Times dari India baru-baru ini.

Dengan kekhawatiran yang telah disampaikan oleh media India tentang bangkitnya kekuatan militer China, kedua negara perlu untuk mencegah perlombaan senjata, terutama pada saat kapal induk pertama yang dibangun di China akan diluncurkan pada akhir April 2017.

Seperti dilansir dari Global Times, operator pesawat terbang (kapal induk) dipandang sebagai simbol kekuatan militer suatu negara, namun pembangunannya menghabiskan lebih banyak sumber daya, sehingga mengharuskan negara berkembang untuk belajar bagaimana menjaga ambisi militer mereka. China tidak memiliki kapal induk sampai ketika kapal induk pertama “Liaoning” bertugas tahun 2012, ini membuktikan bahwa pengejaran pembangunan militer China telah selaras dengan ekspansi ekonomi secara keseluruhan.

Sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, China kini mampu membangun angkatan laut yang kuat untuk menjaga keamanan saluran maritim yang strategis. Pembangunan kapal induk pertama China adalah hasil pembangunan ekonomi. Negara ini akan dapat menyelesaikannya beberapa tahun yang lalu jika Beijing hanya ingin terlibat dalam perlombaan senjata untuk memiliki pengaruh lebih besar di wilayah Asia Pasifik dan Samudera Hindia.

India sendiri bisa dianggap sebagai contoh negatif untuk memiliki kapal induk. Kapal induk pertama India dibeli dari Inggris pada tahun 1957, namun kapal tersebut tidak sesuai dengan persyaratan strategis modern, pada akhirnya memaksa India untuk mengembangkan kapal induknya sendiri.

Negara tersebut meluncurkan kapal induk pertamanya di dalam negeri pada tahun 2015, namun Wall Street Journal mengatakan pada tahun 2016 bahwa para insinyur angkatan laut AS menemukan fakta bahwa kapal induk tersebut tidak akan beroperasi hingga satu dekade kedepan.

New Delhi mungkin perlu bersabar untuk mengembangkan kapal induk. Negara ini masih dalam tahap awal industrialisasi, dan akan ada banyak hambatan teknis yang menghalangi penumpukan kapal induk.

Dalam beberapa dekade terakhir, India dan China telah menempuh pendekatan yang berbeda dalam hal kapal induk, namun hasil yang berbeda telah dicapai oleh kedua negara yang mana menunjukkan akan pentingnya pembangunan ekonomi.

New Delhi mungkin sebaiknya menahan keinginan untuk mempercepat proses pembangunan kapal induk guna mengatasi gejolak yang tumbuh di Samudra Hindia, dan lebih fokus pada ekonominya.

Bagikan Artikel:

  21 Responses to “China: “India Perlu Membangun Ekonomi Sebelum Membangun Kapal Induk””

  1. meooong

  2. Ya memang jelas lebih penting bangun ekonomi dulu, bark kemudian bangun militer. Ibarat manusia, lebih mengutamakan buat makan dulu sebelom beli2 lainnya

    • makanya ekonomi Indonesia selalu di ninak bobokan oleh mafia mafia supaya militernya tidak berkembang menjadi besar, sayangnya para militer yg harusnya nasionalis ketika di beri kekuasaan justru bersekongkol dengan para mafia, mereka tidak sadar dinasti yg mereka bangun menjadi benalu bagi negerinya sendiri.

  3. IKAN LELE IKAN TONGKOL

  4. China: “Woe..India ente… Perlu Membangun Ekonomi dulu Sebelum Membangun Kapal Induk kayak ane..malu maluin ajee..”

    India : “sobek sobek miskin lohh”

  5. bener kata MBAH BOWO, bayangkan eko indonesia maju makmur, opo wae pasti di-tumbas

  6. bener kata MBAH BOWO eko tetep number 1, bayangkan eko indonesia maju makmur, opo wae pasti di-tumbas

  7. “China saat ini berencana untuk membangun lebih banyak kapal induk untuk meningkatkan kemampuan maritimnya, yang dapat menimbulkan ancaman lebih besar ke India”, menurut laporan Economic Times dari India…

    lha china udah nempel gitu di utara, bukannya itu ancaman terbesar ?

    http://cdn.static-economist.com/sites/default/files/asianbordmap3.png?1385999772

  8. Indonesia juga bakal punya 16 kapal induk 400 meter..

  9. india=napsu gede tenaga kurang

  10. Setuju bung @ Sumono ..biarlah kita sering puasa Senin – Kemis, yg penting punya 16 kapal Induk 400 m, mulai yg replika sampai beneran dengan berbagai tipe dan kemampuan akan suatu saat, sebab dari hayalan mudah2an jadi kenyataan yg tidak memelihara pikiran apatis.

  11. Saran dari saya, pemilihan beberapa artikel terkait dari admin memang berhubungan dengan topik yang sedang disajikan namun artikel terkait tentang India sendiri tidak ada. Padahal itu bisa mendukung topik utama. Misal : artikel tentang profil kekuatan AL India, usaha-2 India selama ini untuk memiliki kapal induk, profil industri galangan kapal India, pembangunan ekonomi India dan sebagainya.

    Salam

  12. makanya kita dukung pemerintahan kita kemplang para mafia ekonomi

  13. India sdg belajar dan bbrp taon lg bisa bikin kapal induk sendiri. Sambil menyelam minum air.. sambil bljr bikin kpl induk saat sdg membangun ekonomi jg.
    Tdk ada yg salah.
    Klo bljrnya dimulai saat ekonomi sdh terbangun dan berpondasi kokoh india akan menyia nyiakan waktu saat ini. Sama dg Indonesia sambil bangun ekonomi jg menjalani bikin berbagai senjata spt anoa, tank, sigma, changbogo jg ifx. Klo semua itu tdk mulai dr skrg yah Indonesia akan terlambat bljr merangkak. Tp klo dilakukan dr skrg sdh dipaksakan bljr merangkak besok besok sdh bljr brjalan dan berlari.. berlari artinya mengejar ketertinggalan dan mengejar impian bangsa..

    Jd dlm hal ini india sdh tepat biarpun trseok seok..

    Sekian terimakasih..

  14. indonesia pun AKAN memiliki kapal induk di masa mendatang, bukan begitu sob, hhaaa…

  15. Kekuatan ekonomi telah membuat China semakin agresive. Sementara India berusaha mnenyusul walau perkuatan militer mengorbankan sebagian kesejahteraan rakyatnya!

  16. kita juga harus hati-hati dalam membangun ekonomi, saya harap china tidak membendung sungai di sarawak dan sabah.

    sungai brahmaputra yang mengalir dari china ke india dibendung china dan dibelokkan ke utara china. sehingga lahan pertanian india mengering beberapa dekade ke depan.

 Leave a Reply