Jun 122018
 

Uji coba sistem anti rudal balistik (ABM) Rusia yang baru di modernisasi. © Kementerian Pertahanan Rusia/Youtube

JakartaGreater.com – Badan Usaha Milik Negara China yang bertanggung jawab untuk mengembangkan peralatan elektronik canggih mengklaim bahwa versi berikutnya dari radar kuantum akan lebih kuat daripada yang diperkirakan sebelumnya, seperti dilansir dari laman South China Morning Post. (15/6/2018)

Sebelumnya, di tahun 2016 China Electronics Technology Group Corporation (CETC) mengumumkan bahwa mereka telah menguji radar kuantum dengan jangkauan sekitar 62 mil, atau 100 km atau sekitar 5 kali lebih jauh dari buatan AS dan Jerman, menurut laporan Popular Science.

Radar kuantum generasi berikutnya akan mampu melacak rudal balistik di luar angkasa dan jet terbang di ketinggian yang sangat tinggi.

Dengan memasang radar kuantum ke kendaraan dekat ruang angkasa, Angkatan Udara China dapat secara efektif memantau objek yang terbang berkecepatan tinggi di atas atmosfer”, menurut CETC dalam pameran industri di Nanjing.

Xia Linhao dari CETC mengatakan kepada media Global Times bahwa “teknologi radar kuantum sebagian besar telah matang secara teoritis dan telah memasuki fase realisasi eksperimen”.

Sistem kuantum yang dikembangkan oleh China dimaksudkan untuk melacak pesawat siluman AS, menurut laporan SCMP, yang mengatakan bahwa “China menganggap jet siluman yang diterbangkan oleh AS dan sekutu-sekutunya sebagai ancaman besar bagi kepentingan regionalnya dan karena itu tertarik untuk memiliki penanggulangan yang efektif”.

Radar konvensional mengandalkan “gelombang radio” yang memantulkan objek untuk memberikan rincian tentang lokasi dan kecepatan pesawat udara ataupun kapal selam, radar kuantum sebaliknya, ini memanfaatkan foton-foton, atau jumlah cahaya.

Mekanisme teoritisnya adalah sebuah foton terjerat untuk memantul dari objek kembali ke radar kuantum dapat mengekstraksi informasi tentang perkiraan luas penampang radar, kecepatan dan juga posisi objek.

“Fenomena aneh” keterlibatan kuantum ini dijelaskan dalam laporan MIT Technology Review 2017 sebagai suatu proses yang “terjadi ketika dua objek kuantum, seperti foton, pada saat yang sama membentuk titik di ruang angkasa dan berbagi eksistensi yang sama”, ditambahkan bahwa “dalam istilah teknis, mereka dijelaskan oleh fungsi gelombang yang sama”.

MIT pada saat itu melaporkan mengenai terobosan lainnya oleh China, ketika peneliti berhasil menteleportasikan foton dari Bumi menuju satelit yang mengorbit Bumi 500 km jauhnya pada bulan Juli 2017. Sebuah foton, partikel dasar cahaya yang memiliki massa “nol”, berhasil di teleportasi dari bumi sampai ke satelit yang sangat sensitif di angkasa.

Tim China berhasil “menciptakan jaringan kuantum darat-ke-satelit pertama di dunia, dalam proses mematahkan rekor untuk jarak terpanjang keterjeratan foton yang telah diukur”, demikian menurut catatan MIT Tech Review.