China Kembangkan UAV Berbasis Kapal Induk

Drone tempur CH-5 Rainbow buatan China © New China TV via Youtube

JakartaGreater.com – Pengembangan pesawat terbang tanpa awak (UAV) oleh China telah memasuki tahap baru dimana teknologi sekarang telah memungkinkan operasi yang disinkronkan antara UAV dan pesawat militer, dan UAV berbasis kapal induk pun sedang dikembangkan, menurut para ahli China yang dilansir dari laman Global Times.

Operasi gabungan pesawat militer seperti jet tempur dan UAV adalah masa depan bagi drone, tutur Shi Wen, kepala insinyur dan perancang drone Caihong (CH) atau Rainbow yang merupakan seri UAV buatan China.

“Kami sedang berupaya untuk mempromosikan kecerdasan buatan (AI) untuk pesawat terbang tanpa awak (UAV) yang memungkinkan pesawat berawak mampu menjadi kopilot UAV”, kata Shi.

Tim Shi berada di bawah China Aerospace Science and Technology Corp (CASC). Shi dan timnya telah mengembangkan jajaran UAV, termasuk CH-3, CH-4 dan juga CH-5 Advanced, yang sekarang dapat terlibat dalam misi pengawasan dan serangan.

Drone seri CH atau Cai Hong alias Rainbow sangat populer di kalangan negara-negara di sepanjang proyek Belt and Road, terutama di negara Timur Tengah dan Afrika, yang memiliki permintaan besar terhadap senjata tersebut.

“Rata-rata, setiap drone seri CH memiliki waktu terbang lebih dari 1.200 di seluruh dunia setiap tahun, kami punya database besar untuk mendukung penelitian teknologi AI tersebut”, kata Shi.

China saat ini tengah berfokus untuk membangun angkatan laut yang kuat, dan kapal induk pertama yang dibangun didalam negeri sedang mempersiapkan uji coba lautnya yang pertama, dan UAV berbasis kapal induk sedang dikembangkan, menurut Li Jie, seorang ahli angkatan laut yang berbasis di Beijing.

“Meski militer belum mengeluarkan informasi apa pun, penelitian terhadap UAV berbasis kapal induk telah dimulai sejak lama, dan UAV berbasis kapal perusak dan fregat telah digunakan dalam pelatihan”, jelas Li.

Shi mengatakan bahwa ketersediaan sumber daya yang cukup akan diperlukan dalam penelitian UAV berbasis kapal induk, jadi akan berisiko untuk mencoba semua tanpa dukungan pemerintah.

Meskipun aplikasi UAV untuk keperluan militer tetap menjadi fokus, Shi menekankan akan pentingnya penggunaan UAV oleh warga sipil.

“Perusahaan-perusahaan dari China, AS dan Eropa adalah pesaing utama di pasar UAV, dan penggunaan UAV oleh warga sipil adalah bagian yang lebih besar daripada penggunaan militer”, katanya.

UAV seri CH juga dapat digunakan untuk pengawasan hutan, eksplorasi sumber daya bawah tanah dan memantau lautan.

“Generasi baru dari UAV seri CH adalah CH-X yang merupakan pencapaian paling canggih dalam seri tersebut. CH-X tersebut akan ditampilkan dalam China Airshow 2018 di Zhuhai tahun ini”, menurut Shi pada konferensi pers, tanpa merinci.

China Airshow adalah pameran kedirgantaraan yang diadakan di Zhuhai, pada Provinsi Guangdong, Tiongkok Selatan, setiap dua tahun. Dan tahun ini, akan diadakan mulai tanggal 6-11 November.

Tinggalkan komentar