Feb 102018
 

ilustrasi : Pesawat Su-35 (photo : Aleksandr Markin via commons.wikimedia.org)

Beijing, Jakartagreater.com – China telah menempatkan jet tempur Su-35 buatan Rusia yang baru dibeli dalam misi tempurnya di Laut Cina Selatan yang dipersengketakan, untuk menghadapi patroli udara dan angkatan laut AS yang berulang kali menegaskan kebebasan navigasi dan penerbangan berkelanjutan di wilayah tersebut.

Angkatan udara China baru-baru ini mengirim jet tempur Su-35 untuk ikut dalam patroli tempur bersama di Laut Cina Selatan, kata angkatan udara China dalam sebuah pernyataan. dirilis The Time of India, 8/2/2018.

Militer AS secara berkala mengirim kapal perang dan jet angkatan udara untuk menegaskan kebebasan penerbangan dan navigasi di atas Laut China Selatan yang sebagian besar diklaim China.

Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei dan Taiwan memiliki klaim balik atas wilayah tersebut.

Ini adalah pertama kalinya Angkatan Udara China (People’s Liberation Army Air Force) mengumumkan penyebaran Su-35-nya, yang bergabung ke China pada akhir 2016, menurut laporan Harian yang dikelola negara.

Angkatan udara tidak mengungkapkan kapan patroli tersebut terjadi. Pelepasan tersebut mengatakan bahwa partisipasi jet tempur multirole dalam latihan tempur akan membantu memperkuat kemampuan operasional jangka panjang angkatan udara.

Angkatan udara akan terus mendorong pelatihan ke depan untuk memperbaiki kemampuan tempur, katanya.

Pejabat dari perusahaan teknologi negara Rusia Rostec sebelumnya mengatakan bahwa Rusia dan China menandatangani kontrak yang diperkirakan bernilai USD dua miliar untuk 24 Su-35.

Su-35 adalah pesawat tempur multirole yang bisa menyerang target di darat dan laut. Pesawat tempur secara signifikan dapat meningkatkan kemampuan tempur angkatan udara di luar negeri.

“Munculnya jet tempur canggih PLA yang mampu menyerang kapal perang permukaan di wilayah ini adalah semacam reaksi terhadap provokasi oleh AS,” ujar Xu Guangyu, pensiunan mayor jenderal dan penasehat senior China Arms Control and Disarmament Association, kepada mengatakan kepada Global Times.

Meskipun angkatan udara tidak mengungkapkan di mana jet tersebut ditempatkan, jika mereka mendarat di sebuah pulau Laut Cina Selatan maka dapat bertindak sebagai penghalang yang signifikan bagi kekuatan luar yang mencoba mengganggu stabilitas regional, katanya.