Mar 032014
 
Rudal C-705 China

Rudal C-705 Kerjasama China- RI

Beijing 03/03/2014- Beijing menginginkan uang tambahan dari Indonesia, setelah menemukan negara yang secara aktif mencoba meng-eksport versi sendiri (tiruan) dari rudal anti kapal permukaan C 705 China, ke pasar internasional. Pernyataan ini dilaporakan koran berbahasa China Want Daily.

Selama pertemuan antara Senior militer China dan Indonesia yang dilakukan oleh Kepala Staf PLA, Jenderal Fang Fenghui dan Panglima TNI Jenderal Moeldoko di Beijing, kedua negara membahas sejumlah isu termasuk penguatan kerjasama maritim, Latihan Anti-Teror, Pengadaan alat-alat pertahanan dan kerjasama industri, seperti yang disampaikan oleh Janes Defense Weekly

Indonesia membeli sekitar 40 rudal C-705 rudal anti-kapal permukaan dari China, ujar Silmy Karim dari Komite Kebijakan Industri Pertahanan Indonesia. Angkatan Laut Indonesia berencana melengkapi kapal patroli cepat KCR-40 dengan rudal yang dirancang dan diproduksi oleh Beijing berbasis China Aerospace Science and Industry Corporation. Di samping itu, Indonesia juga berharap untuk memproduksi versi sendiri dari rudal C-705 untuk pasar luar negeri, ujar Karim.

Rudal C 705 China

Rudal C 705 China

Cina telah menolak untuk menyerahkan sepenuhnya teknologi rudal C-705 ke Indonesia, karena masih banyak negara lain yang ingin membeli senjata canggih dari China, ujar Karim dari KKIP. Beijing malah meminta biaya tambahan dari Jakarta untuk mengamankan hak intelektual atas produksi rudal tersebut.

Indonesia sudah mendapatkan izin dari China untuk memproduksi rudal anti-kapal C-805, untuk kapal patroli PB-57 . Juga diperbolehkan untuk mengekspor rudal C-805 ke negara-negara asing.

Jepang Ajak Kerjasama
Menteri luar negeri Jepang dan Indonesia sepakati untuk mengadakan pembicaraan ‘2 +2’ Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan sesegera mungkin, untuk memperkuat kemitraan strategis yang komprehensif dari kedua negara. Langkah ini tampaknya muncul sebagai gerakan untuk meng-counter kemajuan China ke Pasifik.

Menteri Luar Negeri Jepang Fumio Kishida dengan rekannya dari Indonesia Marty Natalegawa, bertemu di sela-sela Kerjasama antara negara-negara Asia Timur untuk Pembangunan Palestina (CEAPAD), yang diadakan pada tanggal 1 Maret 2014 di Jakarta.

Kishida mengungkapkan rencana Jepang untuk berkontribusi bagi perdamaian dan stabilitas regional berdasarkan “proactive pacifism”, seperti pernyataan yang dilansir Kementerian Luar Negeri Jepang (MoFA).(wantchinatimes.com / janes.com).

  150 Responses to “China Minta Uang Tambahan untuk ToT Rudal C 705”

  1.  

    ga mau ngeributin soal penambahan dana..sebagai orang yg awam menurut ane itu wajar-wajar saja selaku pemilik barang (hak intelektual).bagaimana posisinya klw dibalik..?ada jaminan kita tidak melakukan hal yg sama…?
    yg ane sorot 805.semoga bs jd maenan baru indonesia

  2.  

    MENGULAS LAGI SOAL T O T RUDAL CHINA (yg sudah dibahas dlm artikel jkgr)

    Transfer teknologi peluru kendali C-705 secara bertahap.
    Tahap pertama adalah ?Semi Knock Down, Indonesia merakit sedikit/sebagian dari rudal C-705 dan sisanya dikirim langsung dari China.

    Tahap Kedua: ?Complete Knock Down?.
    China mengirim semua komponen rudal secara terurai untuk dirakit Indonesia sepenuhnya.
    Tahap ketiga adalah ?riset and development?.
    Di tahapan ini Indonesia boleh memodifikasi peluru kendali sesuai dengan kebutuhan TNI.

    Transfer teknologi ini tampaknya ala film-film tiongkok lawas tentang tahapan seorang pemuda yang hendak bergabung menjadi seorang shaolin. Pada tahap awal, pemuda tersebut disuruh memanggul dua tungku air besar dari sungai menuju padepokan, tanpa diajar bela diri sama sekali. Jika ada air yang tumpah, dia harus mengulang dari awal. Tahapan kedua si pemuda diajari ilmu kung fu dasar, jadi masih sering di?bully? oleh seniornya. Tahap ketiga barulah diajari ilmu paripurna dan kalau perlu membuat jurus sendiri.

    Ini artinya, jika Indonesia tidak lulus dan memenuhi syarat tahap pertama, dia tidak akan diberikan ilmu tahap kedua dan seterusnya.

    Berapa lama waktu yang dibutuhkan Indonesia untuk merampungkan alih teknologi rudal C-705 hingga tuntas ?

    China ingin transfer teknologi rudal C-705 ini bisa cepat direalisasikan. Mereka mengharapkan proposal tahapan pertama dari China bisa ditanggapi Indonesia paling lama bulan Agustus 2012. Proposal tahapan kedua, sebulan kemudian. Adapun tahapan ketiga dibicarakan setelah tahap I dan II jelas. Persetujuan kontrak itu diharapkan tercapai paling lama tahun 2013.

    Merakit rudal yang semi knock down dan complete knock down mungkin tidak terlalu susah, karena Indonesia sudah terlibat pembuatan roket selama belasan tahun.

    Namun bagaimana dengan tahapan ketiga yakni riset and development ?.

    Ditahapan ini yang belum jelas. Apakah China akan membuka semua akses pembuatan rudal termasuk hal yang sensitif seperti: tracking dan guidance, propulsi maupun teknologi telematri ?. Biasanya negara produsen peluru kendali mengunci rapat-rapat data tersebut. Transfer teknologi dilakukan dengan cara ?spanyol? alias separuh nyolong. Sebagian data dicuri oleh agen-agen intelijen, untuk diserahkan kepada pakar teknologi mereka yang memang mumpuni.
    Pakar-pakar rudal AS dan Rusia mencuri ilmu dari pakar-pakar Jerman yang kalah perang lalu dipaksa berbicara dan diberi suaka. Begitu pula china mencurinya dari para agen yang bertebaran di perusahaan teknologi militer AS.

    Hal yang sama juga terjadi dengan Pakistan untuk kasus hulu ledak nuklir. Para teknokrat mereka yang bekerja di lembaga nuklir Belanda, mencuri informasi tsedikit demi sedikit selama bertahun-tahun. Setelah ilmu yang dibutuhkan dianggap cukup, mereka di?atur? untuk pulang ke Pakistan dan dikawal sangat ketat setibanya di tanah air. Bahkan rumah mereka dijaga misil anti-udara.

    Jadi, agar Indonesia memperoleh seluruh alih teknologi peluru kendali C-705, bukanlah hal yang mudah. Kecuali jika China sangat berbaik hati. Tampaknya agak mustahil sebaik itu.

    Hal yang membuat optimis adalah, Indonesia sedang mencoba membuat peluru kendali. Semoga pengalaman ini bisa dipadukan dengan bantuan dari China.

    Guide missile Indonesia, pernah diujicoba pada tahun 2010, namun sistem kendali rudal tersebut tidak terkontrol dan menghantam area tambak udang milik PT Windu Kencana di Desa Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun, Lumajang, Jawa Timur. Rudal RX1210 yang memiliki berat 45 kg, panjang 3 meter dan jangkuan 11 km, melesat melebihi target yang ditetapkan alias oveshoot.

    Apabila Indonesia berhasil menguasai guide missile melalui rudal C-705 ini, maka kerjasama ini akan menjadi sebuah loncatan besar bagi teknologi militer Indonesia. Kerjasama itu akan mengantarkan Indonesia untuk mencapai kemerdekaan dalam produksi senjata.

    Saat ini Indonesia telah mempersiapkan satu daerah produksi situs rudal yang menghadap laut terbuka untuk percobaan pembuatan rudal C-705 yang memiliki jangkauan 120 kilometer.

    •  

      bung ndak ada negara baek hati kalo udah urusan kayak gini, dulu cina pun dikadali sama ussr saat tot mig 21, gambar yang salah lah, materiaal yng mblusukke, dll
      tapi karenaa cina sudah punya lembaga riset yang kredible, mereka sukses bikin MiG 21 meski beberapa pemblusukkan oleh USSR, jadi sekali lagi level kita mau dimana ?
      kalo sampai 40 % mandiri maka pemerintah mau nggak mau harus melakukan tata ulang dan audit di lembaga riset strategis, tanpa ini no hope

  3.  

    mantap sekali bila semua terwujud.. asli buatan kita.. meski harus tot, ini lah jalan yang terbaik.
    bila china ingin kan itu ya silahkan.. mungkin semua sudah diatur dalam perdagangan, mengapa selama ini china bisa copy paste apa saja..? mungkin satu hal saja.. yaitu kuat nya ekonomi dan persenjataan mereka.. apakah negara pembuat marah? ya tentunya.. china pun bisa marah.. dengan apa bentuk anacaman itu.. china pun punya.. pestol, granat, bom, rudal, apa mau nuklirr..
    sorry brow sedkit bercanda.. he..3x

  4.  

    Disini ada yg bisa menjelaskan secara detail… tentang:

    ” Tahapan dalam pengembangan alutsista dibagi kedalam fase: Pre Feasibility Study – Feasibility Study – Basic Design/Engineering – Detail Design/Engineering – Production Design/Engineering – Construction – Testing and Commission dan berujung pada serah terima kepada pengguna ”

    Biar diskusi warjag mjd lebih mengerucut dan gayeng sambil menyeruput kopi……, terima kasih.

    •  

      omg, ilmu…guyur mas. tolong jelasin bagi siapapun yang faham. semoga masuk surga yang ngejelasin

    •  

      bung gue,

      fase yang anda tampilkan adalah proses standard perancangan sarana/fasilitas (facility engineering), beda dengan perancangan senjata, fasilitas seringkali bukan suatu konsep brand new, misal offshore platform, kilang minyak, smelter, bandara, sementara alutsista umumnya merupakan konsep baru seperti pespur ‘generasi 5’ (walaupun ada juga yang bersifat peningkatan dari seri sebelumnya seperti C-130J) sehingga ada istilah Concept Demonstration/Validation di awal proses, sementara pada fasilitas hanya ada Testing and Commissioning di akhir proses.
      fase2 perancangan senjata menggunakan istilah2 yang berbeda, misal versi AS / Congresional Budgetary Office;

      Milestone 0-Program Initiation/Mission Need Decision
      The Defense Resources Board reviews the need for a new major weapons system.
      (major weapons system, ini asalnya istilah alutsista?)
      Concept Exploration Phase
      Follows Milestone 0. Program office explores alternative approaches to fulfilling mission need.
      It draws up initial technical specifications and cost and schedule estimates. It also develops test
      and evaluation plan and identifies critical technical issues.

      Milestone I-Concept Demonstration/Validation Decision
      Defense Acquisition Board reviews and validates conceptual approach proposed by service to
      meet requirement. It establishes planning baseline cost, schedule, and performance thresholds
      to be met at Milestone II. It also reviews and validates test and evaluation and logistics and
      support plans and acquisition strategy.
      Demonstration and Validation Phase
      Follows Milestone I. Program office directs preliminary engineering and design work and
      analyzes cost, performance, and schedule trade-off options. Contractor develops prototypes to
      demonstrate feasibility of system, subsystems, components, and test and support equipment.
      Principal areas of risk and alternative solutions are identified. Initial designs are reviewed and
      development testing conducted.

      Milestone Il–Full-Scale Development
      Defense Acquisition Board reviews results of the Demonstration and Validation Phase and
      recommends that program go ahead when system feasibility has been demonstrated. As
      appropriate, low-rate initial production of selected components or end items may be approved to
      verify production capability and to provide operational test resources. Program cost, schedule,
      and performance thresholds are updated and serve as development baseline for reports to the
      Congress. Test and Evaluation Master Plan, acquisition business strategy, and support and
      logistics plans are reviewed and updated.
      Full-Scale Development Phase
      Follows Milestone II. System is fully developed, engineered, and fabricated. Test items are
      built. Development and operational testing are conducted on the system, subsystems, and
      components. Engineering and design changes occur, and preparations for transition to production
      are made.

      Milestone Ill—Production Approval
      Defense Acquisition Board reviews results of full-scale development phase and recommends
      approval to enter production phase. (Decision may be delegated to service secretaries if Milestone
      II baseline thresholds have not been breached.) Milestone may be separated into low- rate
      (Ilia) and full-rate (Illb) production milestones. Operational testing must be certified
      acceptable by the Director, Operational Test and Evaluation, before entering full-rate production.

  5.  

    Sebisa mungkin bayar totnya..tidak apa-apa asalkan totnya memuaskan,mengenai planning yg lainya juga dicoba juga…RI punya pencak silat china punya kungfu…RI harus punya jurus pencak silat yg banyak…jangan jurus cimande saja yg menjadi andalan…

  6.  

    Ha ha bung Admin cekikikan sendiri pastinya…forum tambah rame,tambah greget

  7.  

    @java indonesia

    ngaca dulu ente, emang semua yg posting disini wajib ngerti militer?
    ente bacotnya kayak si gendut danube yg gampang kalap alias labil

    wekekekek

  8.  

    Bung..deal India dengan Rusia itu besarnya tidak kira2. Kalau cuma beli 1 atau dua skadron ya nggak mungkin mereka mau TOT. India itu kalau beli pespur dari Rusia bisa 200-an unit. Ya jelas saja Rusia mau TOT kalau memang dealnya masuk akal.

  9.  

    He..he dilarang esmosi di sini. Saya suka gaya bung Now..kalau menghadapi komen orang2 yang esmosi dan brangasan 🙂

  10.  

    Mbah..dikasih makan apa sih sama AS. He..he. Piss Mbah kita butuh peran seperti Mbah untuk semakin menggelorakan nasionalisme bagi para pemuda di sini. Ingat nasionalisme kita semakin luntur. Nah kalau ada yang menjalankan peran sebagai ‘evil’ di sini itu akan semakin membangkitkan nasionalisme yang hampir hilang. Terima kasih mbah pelajarannya 🙂

  11.  

    Ooh tidak bisa..kalau itu tetap harus dipakai. Kan Indonesia punya andil menyumbang SDA yang dikeruk habis oleh AS untuk pembangunan negaranya :p

  12.  

    tot rudal kok kayak tot tempe
    ga mungkin brooo……………………….
    cina lepas teknologinya segampang itu pasti ada imbal baliknya wajar n sah……………
    klo asu jgn deh dri nnek moyang dulu jga tau apa itu asu………….

  13.  

    Tidak semua warjager pengamat,pelaku atau yg terjun lngsung di industri militer. Bahkan tahu dunia militer munkin krna baru bka JKGR seperti saya jd hal yg wajar jika komen mereka beragam tidak seteknis pak satrio,tidak sedetil bung now,tdak sehebat bang java dan tidak segila mbah bowo..intinya mereka ingin berbagi pendapat dgn pengetahuan yg ada. Penggunaan bahasa sarkasme akan semakin memanaskan hati,bagikan ilmu kewarjager jika berkenan kalau sdah sring dibahas msi ditanya cuekin aja..maaf utk para sesepuh..cma tdak ingin tmbah panas. Salam damai.

    •  

      yaa yang sabar ya
      para pendatang baru juga agak sabar yaa bila ada yang berkata dengan agak kasar.
      Tetapi banyak kok yang santun seperti bung danu,bung now,bung melekteck,bung WH,bung aluguro,bung gue,bung yayan ,desperado.,bung wie ,wahhhh masih banyak banget kok,

      kita belajar bersama disini untuk menambah pengetahuan
      bila pendatang baru mau membaca artikel lama yg sejenis akan menambah wawasannya dalam berdiskusi,

      Saya pertama masuk 2 thn yg lalu sebelumnya juga membaca dulu postingan artikel dari awal,
      memang saat itu belum banyak jumlah nya sperti sekarang
      Alhamdulillah saya banyak belajar dari para senior warjager disini.

      •  

        Wah, tersanjung saya… nama saya disebut om satrio… hehehe… Thx om… 🙂

      •  

        Saya juga minta maaf ya bung2 semua jika ada kesalahan…

        Saya siap menerima kritik maupun saran dari bung2 semua….

        Maaf banget soalnya saya baru pertama kali ikut forum2 Militer kayak gini… Ini forum pertama yg saya ikuti di dunia maya

  14.  

    Mbah ini Guru, dan Guru harus anda hormati, tanpa guru anda tidak bisa ngomong panjang lebar gitu.

    Mbah ini dalam mengajar selalu berkata pada murid mbah, Utamakan diri kalian sejahtera dulu, Makan kenyang itu yang utama, Makan Roti’ itu yang paling hakiki, Uang adalah sumber kebahagiaan. Rumah yang bagus dan kendaraan yang mewah adalah sebuah kebutuhan masarakat modern. Ingat kita hidup bukan di zaman rezolusi yang semua rakyat susah, kita hidup di zaman modern dan tetap susah, trus apa arti kemerdekaan ?

    •  

      @mbah bowo.. pantesan generasi skrg smakin egois dan apatis ma lingkungannya, lha wong yg diajarkn ma gurunya (macam mbh bowo) ky gitu..
      “utamakan diri sendiri” hasilnya y egois, peduli amat ma keadaan ttangganya, apalagi negaranya
      “Makan kenyang yg utama, makan roti yg hakiki” hasilnya : banyak org kaya negeri ini yg bergelimang hidup mewah, sementara ttangganya buat beli krupuk aja g kuat, dan itu pada akhirnya jd paham EGP – isme
      “Uang adalah sumber kebahagiaan, Rumah yg bagus dan kendaraan yg mewah adalah sebuah kebutuhn masyarakat modern” hasilnya : KKN merajalela, mencari uang dg menghalalkan sgala cara mjd trend..
      So, Bginilah cara Barat merusak negara ini.. dg mnyusupkan agen2nya macam mbh bowo, dan mencuci otak generasi masa depan dg paham2 materialisme, hedonisme dan paham2 yg merusak lainnya..
      Kalo memang benar anda pure WNI asli, segeralh bertobat mbah, n apabila anda WNA, segeralh anda enyah dr negeri ini!!!!

    •  

      ada pepatah mbah… guru kencing berdiri… murid kencing berlari…

      gurunya aja kaya gini… apalagi muridnya… bisa rusak generasi muda kita.. ngak punya kepedulian terhadap bangsa …terlalu mementingkan diri sendiri… indonesia bakal terjajah terus …

      ..maaf mbah….guru saya bukan orang seperti mbah….

    •  

      @mbah bowo guru mbah ?

      klo boleh tau guru apa ya? kalo saya ga salah dulu anda pernah bilang guru sejarah, hati2 loh mbah ngajarin sejarah. salah-salah malah bukan sejarah beneran yg diajarkan

      usia 68 tahun? berarti kira2 mbah lahir waktu awal2 kemerdekaan berarti mbah tau dong “pembalikan sejarah” yg terjadi di era 70-80an karena sedikit banyak saya tau sejarah karena itu berhubungan dengan pekerjaan saya. tebakan saya anda bukan guru dan mungkin seperti kata bung@satrio “agent wannabe”

  15.  

    Horeeeee….akhirnya simbah bowokan mecungulllllll…..
    Mbah ini mang sakti lho, bisa tahan di bully orang sekampung…. :-))

  16.  

    Abisin duit buat ngurusin rudal gituan, mending buat banyakin rudal R-Han kita aja..

  17.  

    mau ngasih pencerahan smg bermangppat kalao salah sy minta maaf sbb utk alutsista th 2000 ke atas sy kurang mengikuti,,tp klo alutsista 90-an 70-an dikit tahu…sbb saya dpt sumber lgsungya ke pabriknya udah gitu dpt bonus sovenir dll…n ..sy promosikan dlm bentuk tulisan ke majalah dan koran era ORBA spt TSM,Teknologi(punyanya pak habibie),koran Kartika dan Berita Yudha……setahu ane…ToT dan lisensi itu beda/ga sama,ToT ga semua nya ditransferin apalagi teknologi rudal…sbb ga ada tuuh negara didunia yg mau memberikan ToT 100% baik roket maupun rudal…..kecuali dg cara mencuri blueprint dan turunannya.Sedangkan lisensi menyangkut hak paten/royalti dr penjualannya dlm produksinya ke pihak lain.Namun, di dlm Lisensi bisa jadi ada alih teknologi ToT dg persyaratan tertentu shg mendapat hak untuk memproduksi,tetapi belum tentu juga ToT 100%,,,bahkan bisa jadi dapat Blue Printnya tetapi cara pembuatan hardwarenya pabrikan ga mau kasih ,,itu bisa aja terjadi,artinya pabrikan hanya kasih 70% Totnya plus blue print ,sedangkan 30% masih harus didateniin dari pabrik aslinya…Dalam pengembangan pesawat tempur F-35 yg melibatkan banyak negara,diantaranya Turky ikut serta dalam pembiayaan dan pengembangannya(tergantung partispasinya berapa persen) tetapi Turky mendapatkan blue print F-35 shg Turky memiliki kemampuan sendiri mendesain dan mengembangkan pesawat tempurnya gen 4-5 bahkan membuatnya, shg tidak heran Turky pernah menggandeng PT.DI dalam proyek pesawat tempur gen 5 nya. India dan Rusia dalam membuat Brahmoos,ternyata India ga dapat software electronica untuk Bramos meskipun proyeknya joint venture.Maaf bila sy salah tolong diralat Pindad pernah mau mengakuisisi memproduksi lisensi M 16 A2/M4,,tetapi pabrikan COLT memberikan TOT seluruhnya kecuali bagian triggernya Pindad ga dikassih dan harus dr pabrikan Colt,,akhirnya PIndad menolak lisensi tsb.Pembelian Roket ASTOR ,Aviabras hanya mau Tot sistem peluncurnya dan pendukungnya,,tetapi utk roketnya tidak !! Dalam dunia per ToT-an militer,biasanya terjadi ada beberap sbb diantaranya produk cacat produksi,gagal/susah dalam pemasaran,target penjualan sudah melampaui target,teknologinya sudah ga up to date, pabrikan mulai bangkrut dan sejenisnya, faktor politis, ekonomi serta pertahanan.Menurut sy kemungkinan besar China sulit memberikan 100 % ToT sbb belum ada kesepakatan Mou yg jelas ,kecuali sudah ditanda tangani secara pasti dan jelas perincian ToT dalam Mou diantara kedua negara.China mau ToT C 705 mnrt sy ga sembarangan ga sekedaar jual senjata lantas mau ngasih teknolginya enak amat…diperkirakan China mau agar Indonesia bersikap lebih bijak dan netral dalam menghadpi konflik Laut China Selatan khususnya Spratly yg diklaim milik China yg diperkiraakan memiliki cadangan gas salah satu terbesar di dunia.Konflik tsb sebagaian besar melibatkan negara negara ASEAN termasuk Indonesia..Sdgkn masalah tambahan fee mnrt sy sbb belum ada nya kesepakat harga dalam ToT sebab menyangkut masalah hak paten ,pengembangan teknolgi dr pabrikannya langsung, value purna jual bila nanti ada versi expornya dll.Namun setiap pabrikan ada yg susah gampang dlm Tot ada yg mudah dan mulus aja tergntung situasi…contoh china termasuk susah dlm ToT ke Indonesia dibandingkan ke Korut dan Pakistan krn faktor politis. Demikian pula Rusia juga susah krn faktor teknologi dan bisnis.Saab Swedia mau Tot 100 % ke Indonesia dan negara lain,sbb pabrikan mengalami masalah financial dan mengikuti trend pasar hrs adanya ToT. Baik lisensi dan ToT diperoleh,… dipastikan memang harus dipersyartkan membeli produknya dalam jumlah banyak/nilai yg ditentukan pabrikan,,maaf bila salah diralat setahu sy Pindad dapet lisensi SS 1 dari FN Belgia setelah Indonesia mau membeli 100.000 pucuk FNC versi ss1.Namun mnrt sy Inggris dan Jerman diantarnya negara mudah dlm ToT..contohnya India ,industri kedirgantaraanya maju sbb mendpt support dr Inggris.Bahkan PT.DI pernah mendptin tawaran perakitan Typoon bila TNI AU mau membelinya….tetapi yg jelas Pindad mampu membuat ANOA dan membuat tank SBS,sbb dapet ilmu teknologi dari perakitan 3-5 buah tank Scorpion ALVIS Inggris waktu itu TNI AD membeli sekitar 100 tank Scorpion.Bahkan era 90an awal waktu itu bila TNI AU mau membeli Hawk 100/200 dr BAe Inggris sebanyak 2 batch (1 batch 44 pesawat, jadi 2 batch 88 pesawat) mk IPTN mendapatkan hak lisensi dr BAe untuk dibuat sendiri,namun pemerintah saat itu hanya ada anggaran untuk membeli 44 buah pesawat aja.Kira 2 demikian sekelumit gambaran smg memberikn manfaatnya,bila ada salah dlm tulisan sudilah meralatnya.terima kasih.

 Leave a Reply