China Regangkan Otot Militer Respon Ketidakstabilan di Asia Timur

MOSKOW – China telah berinvestasi dalam kemampuan pertahanan untuk menanggapi meningkatnya ketidakstabilan di Asia Timur, Alexei Maslow dari Sekolah Tinggi Ekonomi yang berbasis di Moskow mengatakan pada Sputnik, mengomentari kegiatan terbaru Beijing di Laut China Selatan dan China Timur Laut.

Penjaga Pantai China Patroli Dekat Kepulauan Sengketa di Laut China Timur
Penjaga Pantai China Patroli Dekat Kepulauan Sengketa di Laut China Timur

Pekan lalu, China kapal Coast Guard dan perahu nelayan berlayar dekat kepulauan yang disengketakan di Laut China Timur, yang dikenal sebagai Senkaku (Jepang) dan Diaoyu (China), membuat Tokyo tidak senang. Beijing juga diketahui mengerahkan beberapa pembom H-6K dan jet tempur Su-30 dalam misi patroli ke Kepulauan Spratly dan Scarborough Shoal, daerah yang disengketakan di Laut China Selatan.

Selain itu, Menteri Pertahanan China Chang Wanquan baru-baru ini mengatakan bahwa negara harus mempersiapkan rakyatnya untuk “perang di laut” demi mempertahankan keamanan nasional dan integritas wilayah dari ancaman maritim.

Namun, menurut Maslow bahwa Beijing tidak menimbulkan ancaman bagi negara-negara tetangganya terlepas dari apa yang mereka klaim. “Saya tidak berpikir bahwa China akan melakukan hal itu (menyerang negara lain). Beijing tidak pernah melakukan hal seperti itu dalam militer dan sejarah politik”, kata analis.

“Benar, China telah meningkatkan anggaran militernya. Angkatan bersenjata negara itu memiliki total lebih dari 5 juta orang, termasuk cadangan. Tapi Anda harus memahami bahwa China berkaitan dengan destabilisasi yang terjadi di Asia Timur,” jelasnya.

Chang Wanquan: “Perlunya Kesiapan Perang Di Laut”

Maslov menyebutkan bahwa hubungan dengan Jepang, Vietnam dan tetangga China lainnya telah menjadi lebih rumit dalam lima tahun terakhir. Korea Utara juga telah menjadi sumber keprihatinan utama bagi Beijing dan negara-negara lainnya.

Analis lebih lanjut mengatakan bahwa Beijing telah meningkatkan kemampuan militernya untuk meningkatkan status globalnya. “Militer adalah penting bagi China sebagai simbol dari kekuatan besar”, katanya.

Dalam konteks ini, analis menambahkan, investasi China di bidang pertahanan harus dilihat dari segi hubungannya dengan Amerika Serikat.

“Jika Amerika Serikat memutuskan untuk campur tangan (dalam kebuntuan lokal), maka konflik regional akan meletus. Ini adalah skenario yang sangat buruk. Jika disisi lain Amerika Serikat tidak mengerahkan armada dan hanya mengancam Beijing dengan sanksi, maka hal itu akan menjadi konflik yang berkepanjangan tanpa komponen militer”, katanya lagi.

Sumber: Sputniknews

(Vegassus/JakartaGreater)

Sharing

Tinggalkan komentar