Mei 042018
 

Sistem rudal permukaan ke udara, HQ-9 buatan China © Tyg728 via Wikimedia Commons

JakartaGreater.com – China telah menempatkan rudal-rudal jelajah anti-kapal (AShM) dan sistem rudal pertahanan udara di tiga pos terluar yang ada di Laut China Selatan, seperti dilansir dari jaringan berita AS yakni CNBC International.

Langkah tersebut, jika dikonfirmasi, akan menandai penempatan pertama rudal China di Kepulauan Spratly dimana sejumlah negara tetangganya di Asia, termasuk Vietnam dan Taiwan, memiliki klaim yang saling tumpang tindih.

CNBC mengutip sumber tanpa nama yang mengetahui langsung ada laporan intelijen Amerika Serikat yang mengatakan bahwa menurut penilaian AS mengindikasikan rudal tersebut dipindahkan ke Fiery Cross Reef, Subi Reef dan Mischief Reef dalam 30 hari terakhir.

Rudal jelajah anti-kapal berbasis darat, YJ-12B memungkinkan China menyerang kapal-kapal permukaan dalam radius 295 mil laut dari terumbu karang. Sementara itu, rudal permukaan-ke-udara jarak jauh HQ-9B dengan jangkauan 160 mil laut diharapkan bisa melumpuhkan pesawat, drone dan rudal jelajah.

Rudal jelajah anti kapal YJ-12 buatan China © SCMP Pictures

Departemen Pertahanan AS, yang menentang instalasi fasilitas militer China pada pos-pos terdepan yang dibangun di Laut China Selatan, menolak untuk berkomentar akan penyebaran ini. Sementara Kementerian Pertahanan China pun tak segera menanggapi permintaan untuk memberikan komentarnya.

Beijing tidak menyebut-nyebut tentang penyebaran rudal, namun mengatakan bahwa fasilitas militernya yang berada di di Kepulauan Spratly itu murni defensif dan bahwa ia dapat melakukan apa yang disukai karena ada di wilayahnya sendiri.

Greg Poling, seorang ahli Laut China Selatan di Pusat Studi Strategis dan Internasional Washington, mengatakan penyebaran rudal di pos terdepan akan menjadi signifikan.

“Ini akan menjadi rudal pertama di Kepulauan Spratly, entah rudal darat ke udara atau pun rudal anti kapal,” katanya.

Dia menambahkan bahwa penyebaran tersebut diperkirakan karena sekarang ini China sedang membangun tempat perlindungan rudal di terumbu karang itu tahun lalu dan telah menyebarkan sistem rudal yang sama di Pulau Woody lebih jauh ke arah utara.

Poling mengatakan itu akan menjadi langkah besar di jalan China untuk mendominasi Laut China Selatan, rute perdagangan global utama.

“Sebelum ini, jika Anda adalah salah satu dari pengadu lain… Anda tahu bahwa China memantau setiap langkah Anda. Sekarang Anda akan tahu bahwa Anda beroperasi dalam jangkauan rudal China. Itu ancaman yang cukup kuat, jika implisit”, katanya.

Laksamana Philip Davidson, yang dinominasikan untuk memimpin Komando Pasifik AS, mengatakan bulan lalu bahwa “markas operasi terdepan” China di Laut China Selatan tampak sudah lengkap.

“Satu-satunya yang kurang adalah pasukan yang belum dikerahkan. Setelah ini ditambahkan, China akan dapat memperluas pengaruhnya ribuan mil ke selatan dan proyeksi kekuatan hingga ke Oceania”, katanya.

Davidson mengatakan bahwa China bisa menggunakan pangkalan untuk menantang kehadiran regional AS dan akan dengan mudah mengirim pasukan militer dari semua klaim Laut China Selatan lainnya.

“China sekarang telah mampu mengendalikan Laut China Selatan dalam semua skenario perang dengan Amerika Serikat”, katanya.