China Uji Rudal Balistik Baru dengan Kendaraan Luncur Hipersonik

26
9
Citra komputer Kendaraan Luncur Hipersonik (HGV) WU-14. © Wikipedia

JakartaGreater.com – Dua uji coba rudal balistik DF-17 dilakukan masing-masing pada tanggal 1 November dan 15 November, menurut penjelasan singkat pejabat AS mengenai penilaian intelijen kepada The Diplomat pada tanggal 28 Desember, seperti dilansir dari laman Sputnik News.

Tes 1 November terdiri dari pengujian kendaraan luncur hipersonik (HGV – Hypersonic Glide Vehicle) pertama di dunia yang menggunakan sistem dimaksudkan untuk diajukan secara operasional”, kata pejabat AS tersebut. AS dan Rusia telah bekerja keras dalam mengasah teknologi peluncur hipersonik, namun tak satupun dari kedua negara tersebut diketahui telah melakukan pengujian HGV yang siap untuk beroperasi.

HGV China yang digunakan pada tes 1 November dirancang khusus untuk rudal balistik jarak menengah DF-17. Rudal tersebut mendarat hanya “beberapa meter” dari sasaran yang diinginkan dan diperkirakan akan beroperasi penuh pada tahun 2020, menurut penilaian intelijen AS.

Daya tarik utama HGV adalah bahwa mereka dianggap kurang rentan terhadap sistem pertahanan rudal lawan. Dengan kecepatan tinggi di mana kendaraan dapat mengangkut muatan, pencegat rudal tidak memiliki banyak waktu untuk menetralisir proyektil sebelum muatan mencapai sasarannya, menurut laporan Daily Beast.

“Kombinasi kecepatan tinggi, manuver dan ketinggian yang relatif rendah membuat [HGV] sebagai target yang menantang bagi sistem pertahanan rudal”, tulis laporan Pusat Intelijen Udara dan Ruang Angkasa Nasional yang dirilis pada bulan Juni lalu.

Dalam laporan itu disebutkan bahwa HGV mampu meluncur lebih cepat dari 5 Mach dan menghabiskan sebagian besar penerbangan mereka di tempat yang jauh lebih rendah daripada rudal balistik.

Menurut James Syring, direktur Badan Pertahanan Rudal AS menyebut bahwa kendaraan luncur hipersonik (HGV) dan rudal yang bergerak pada lintasan non-balistik pertama kali diusulkan selama Perang Dunia ke II, dan kemajuan teknologi saat ini membuat sistem tersebut dapat diaplikasikan.

26 KOMENTAR

  1. Mach 5 apa 5 Mach???

    Sangat menarik, kalo bisa membaca emisi dan pola manuver HGV China, THAAD pun bisa menghancurkannya. Tapi sepertinya USA kurang begitu tertarik dg HGV. DARPA lebih tertarik dg laser dan meriam elektro magnetik. Apalagi kalo laser nya bisa dipasang di Satelit. Yah, kalo gak ada laser, tiang Tungsten Segede tiang listrik bisa lah buat dipasang di satelit buat pengganti nuklir tanpa radiasi.

  2. Sebetoelnya, kecepatan rudal itu tidak mnjd perhitungan utama untuk menuju targetnya, karna ketika radar lawan mendetek warning? Maka rudal akan mengintersep rudal balistik pd saat brhadapan, bukan pd posisi mengejar, kecuali kecepatan rudalnya tidak bisa didetek dgn apapun & ini mnjd perhitungan sebetoelnya, bukan hitungan tn phd f16 v bantar gebang

    Hahhaahaaaa