Jun 252013
 
pesawat nirawak Lapan Surveillance UAV (LSU) 02 (photo: Lapan.go.id)

pesawat nirawak Lapan Surveillance UAV (LSU) 02 (photo: Lapan.go.id)

Lembaga Penerbangan Dan Antariksa Nasional /LAPAN akhirnya berhasil menerbangkan  pesawat tanpa awak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) LSU 02 sejauh 200 kilometer dengan waktu tempuh dua jam, pergi dan pulang ke lapangan udara Pameungpeuk, Garut, Jawa Barat.  UAV dengan bahan bakar Pertamax Plus (RON 95) ini terbang secara autonomous dan berhasil kembali mendarat dengan mulus di lapangan udara Pameungpek, Garut.

“UAV ini bisa terbang sangat jauh hingga 5 jam. Lima liter pakai Pertamax Plus oktan 95. Kalau terbang 1 jam 0,9 liter,” ucap Kepala Bidang Avionic LAPAN Ari Sugeng di acara Harteknas di Aula BPPT Jakarta.

LSU 02 berbobot 15 kg, dilengkapi 2 kamera foto dan kamera video. Pesawat ini mampu terbang dengan ketinggian 3000 meter. Lapan kini sedang menyiapkan generasi baru UAV  yang mampu terbang  hingga ketinggian 7200 meter, dengan payload dan endurance yang lebih besar.  Dalam artian, Lapan terus meningkatkan  jangkauan terbang (long distance), kemampuan terbang (long endurance), kemampuan terbang secara automatis (autonomous flying), dan kemampuan take off dan landing.

Spesifikasi LSU 02:
Panjang badan ± 200 cm
Panjang bentangan sayap (wing span) 250 cm
Engine 10 hp/ 3,5 ltr
Endurance 5 jam
Jarak jangkau maksimum 450 km
Komunikasi telementri 900 MHZ dengan daya 1 watt
Dilengkapi dengan system otomatis (autonomous flying system)
Kapasitas muatan 3 kg

Pengalaman Operasi:
Nusawiru (1 st flight test)
Rumpin ( 4 th flight test)
Oktober 2012 uji coba terbang Laut Ambalat Sulawesi Utara
Februari 2013 Test Flight endurance Pameungpeuk
Uji coba terbang di Situbondo, Jawa Timur, pada 2013

UAV Sriti BPPT (photo: BPPT)

UAV Sriti BPPT (photo: BPPT)

Peluncuran UAV Sriti BPPT (photo by BPPT)

Peluncuran UAV Sriti BPPT (photo by BPPT)

PT LEN ikut bergabung meningkatkan kualitas UAV (photo by PT LEN)

PT LEN ikut bergabung meningkatkan kualitas UAV (photo by PT LEN)

UAV Sriti BPPT
Selain UAV LSU 02 Lapan, Indonesia juga mengembangkan UAV Sriti buatan BPPT. UAV Sriti telah unjuk kebolehan dihadapan para siswa Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat  /SESKOAD di Subang-Jawa Barat 2 Mei 2013. Sebelum dibawa ke siswa Seskoad, UAV Sriti melakukan uji coba menggunakan engine baru, tanggal 25 April 2013 di Batujajar-Jawa Barat. Pengujian ini untuk mengetahui kehandalan sistim propulsi dan kesesuaian mencapai terbang mandiri. Dalam rangkaian pengujian tersebut juga dilakukan uji kehandalan sistem transmisi data dari  UAV ke Ground Control Station (GCS). Operasi terbang Sriti terpantau dari hasil pengiriman dokumentasi data parameter terbang,  foto dan  video yang secara real time dikirim Ground Contro.

UAV Sriti dioperasikan untuk pengintaian terbang berdurasi 2 jam dengan jangkauan radius 75 km. Kelebihan Sriti adalah, tidak memerlukan landasan untuk take off dan hanya menggunakan peluncur serta dapat mendarat menggunakan jaring. UAV Sriti dioperasikan oleh  satu regu prajurit (10 orang) untuk memasang, menarik peluncur, monitoring GCS, bongkar pasang jaring dan pilot. Sistem ini cocok dipakai TNI AD dan dapat dimobilisasi dengan mudah ke berbagai tempat.

Meski UAV Sriti masih dalam skala riset, SESKOAD berkeyakinan dimasa mendatang TNI AD membutuhkan banyak UAV model Sriti untuk melakukan pengawasan teritorial di wilayah perbatasan bahkan akan ditempatkan disetiap KOREM. UAV  Sriti juga dipersiapkan untuk misi pemantauan (surveilance & recoqnition) pergerakan penyerangan dan pertahanan pasukan militer.

UAV Wulung
Selain memiliki Sriti, BPPT juga mengembangkan UAV Wulung dengan ukuran yang lebih besar dari Sriti dan membutuhkan landasan untuk take off. Kontrak produksi UAV Wulung dengan BPPT telah dilakukan  tanggal 29 April 2013. BPPT menyatakan kesiapannya untuk memproduksi pesawat tanpa awak tersebut bekerjasama dengan PT Dirgantara Indonesia (DI) sebagai pelaksana produksi. PT LEN ikut bekerjasama dalam mengembangkan UAV yang lebih modern.

Puna Wulung memiliki spesifikasi berat kosong maksimal 60 kg, berat muatan 25 kg, kecepatan jelajah 55 knot, bentang sayap 6,34 meter, ketahanan terbang empat jam dan ketinggian terbang 12.000 kaki di atas permukaan tanah. Pesawat tersebut dilengkapi kamera pengintai yang dihubungkan dengan pusat pengendali di darat.

Saat ini tim UAV Wulung terus mengembangkan pesawat tersebut. ’’Pesawat ini sekarang masih memiliki kemampuan 3,5 gravitasi. Kami sedang kembangkan agar memiliki kemampuan 7 gravitasi sehingga mampu menahan beban ratusan kilogram,’’ ujar Kepala Program UAV BPPT, Joko Purnomo. UAV Wulung masih ada di level dua. Umumnya, pesawat militer tak berawak milik negara maju telah berada di level tiga. Level tertinggi atau level empat yang mampu dicapai saat ini adalah kemampuan jelajah di atas 70 ribu kaki.

Wulung akan memenuhi kebutuhan skuadron Supadio TNI AU, Pontianak. Dengan adanya UAV, fungsi pengawasan oleh kapal dan pesawat berawak TNI AU bisa lebih efisien. UAV bisa menggantikan biaya tinggi akibat pengawasan di wilayah perbatasan.

Selain untuk keperluan militer, UAV Indonesia juga digunakan untuk pengawasan transportasi, SAR, penelitian atmosfer, pengawasan kebencanaan, kargo operasi hujan buatan, penyebaran benih, pengamatan vegetasi daerah kritis yang sulit, pengambilan gambar film dan lain sebagainya.

UAV Wulung BPPT (photo: Viva.co.id)

UAV Wulung BPPT (photo: Viva.co.id)

wulung

Kilas Balik UAV Wulung
Pengembangan UAV Wulung tidak bisa dilepaskan dari sosok Prof Said Djauharsyah Jenie yang tahun 1998 mulai merekayasa teknologinya. Proyek ini sempat terhenti namun tahun 2004 pengembangan UAV dilakukan lagi. Selama dua tahun, Said dan timnya fokus mengembangkan struktur ringan. Sejumlah uji coba dilakukan namun berakhir dengan kegagalan. Setelah ditelusuri, penyebabnya adalah bobot pesawat yang terlalu berat. Setidaknya ada dua prototipe pesawat yang gagal diuji coba meski berkali-kali dilakukan penyesuaian.

Rupanya para ilmuwan pengembang UAV yang berlatar belakang ilmuwan PT DI menyamakan struktur pesawat tersebut dengan pesawat komersial. Tidak heran beratnya berlebih dan gagal diterbangkan. Mereka pun kembali berkutat di bengkel pembuatan pesawat dan berhasil menciptakan prototipe ketiga yang mampu terbang.

Meninggalnya Prof Said pada 2007 membuat tim UAV terguncang. Mereka sempat menjadi anak ayam yang kehilangan induknya. Apalagi, kala itu dukungan pemerintah terhadap pengembangan UAV masih belum 100 persen. Mereka harus mengembangkan pesawat dengan kemampuan finansial yang terbatas. Rancangan UAV terus disempurnakan hingga akhirnya menarik perhatian Balitbang TNI yang ikut serta dalam pengembangannya. (JKGR).

  20 Responses to “Cikal Bakal Skuadron UAV Indonesia”

  1. Maaf, paragraf ke-3 : ketinggian terbang 300 km atau 300 m?

    untuk kemampuan terbang secara autonomous pulang-pergi, wah apakah ini artinya LAPAN sudah berhasil mengembangkan sistem kendali untuk roket juga? mohon pencerahannya.

    yang jelas saya sebagai warga negara RI sangat bangga dengan kemampuan UAV LAPAN yang makin tangguh, terbang lama dengan menempuh jarak yang jauh dan memiliki kemampuan mengendalikan dirinya sendiri atau autonomous….

    • Sudah dikoreksi. Terima Kasih masukannya. Salam

    • Klo untuk roket kemungkinan udah mas, klo rudal masih belum. Susahnya ya karena negara2 pemilik teknologi rudal guide sangat menyimpan rapat teknologi tersebut biar nggak jatuh ketangan orang lain. Dulu pernah nyoba bikinan sendiri katanya tapi belum berhasil dan jauh dari target. Opsinya emang cuman dua kok gan, klo nggak nyolong ya bikin riset sendiri. Klo mau riset ya please-lah pemerintah support dana-nya yg cukup, kasihan klo dikasih dana riset se-uprit tapi tuntutannya macam-macam..

      • terima kasih informasinya bung Diego. ternyata ketinggian terbang 3000 m atau 3 km. wah hebat….
        Untuk bung Wie Ariwibowo, maksudnya yang sudah pernah dicoba itu yang rkx 200 itu ya? tapi kalau melihat kemampuan lapan di UAV ini saya rasa langkah ke arah kemandirian rudal nasional bisa terwujud kalau ada good will dari pemerintah.
        Sayang sekali…..uang yang banyak habis buat diKo****i….
        mimpi….andaikan rhan 122 bisa berubah menjadi rudal nasional….

      • Iya bang, roketnya pake kendali LOS (Line of Sight), mungkin arahnya ke ballistic missile (arah trajectory melengkung). Ngimpi ane sih orang kita bisa bikin Tomahawk versi Indo, meski masih lewat jalan berliku usaha mereka2 patut diacungi jempol ditengah keterbatasan. Makanya disini ane sering nyindir pemerintah kita masalah dana riset, apa nggak kapok ilmuwan kita pada lari ke luar negri gara2 minim dukungan di dalam negri. Sayang kan, sedangkan kita juga butuh mereka untuk membangkitkan teknology kita biar sejajar dengan bangsa laen..

  2. Baru pertama komen, sebelumnya hanya pembaca. Bravo BPPT dan tim dalam pantang menyerah mengembangkan UAV mandiri, meskipun pihak kemhan mendatangkan UAV dari negara lain. Nggak apa-apa yang penting punya dulu. Selebihnya produk luar (Israel?) dibongkar habis untuk “DICURI” teknologinya.

    • Dibongkar abis juga belum cukup mas, yg paling complicated ya elektronik-nya itu termasuk software-nya. Butuh hacker kelas berat buat nyolongnya. Mudah2an kedepan Indonesia punya divisi khusus cyber army buat nyolong teknologi canggih kayak china..

  3. kalo mau ditingkatkan jadi 7 G untuk mampu menahan beban ratusan kg..maka indikasinya UAV tsb akan dipersenjatai dgn bom, roket atau rudal….
    saya yakin arahnya kesana..apalagi pengembangan roket han LAPAN sangat pesat dengan tidak dipublish-nya masalah “guided rocket component”

    • Amin mas, moga2 nyampe kesana.. Cuman masih jauh jalan kesana, butuh kerja keras lagi. Butuh prototype/platform yg lebih gede plus dana risetnya pun tambah gede pula. Jerman kemaren akhirnya nyerah sama Euro Hawk yg join teknologi sama US (NG), jadi scandal malahan sekarang. Target kita yg paling realistis ya buat bisa bawa radar dulu, lumayan buat OTHT sama surveillance dan bisa ditempatkan di KRI kita. Itu menurut ane sih..

  4. 7 G nggak ada hubungannya dengan bawaan bom dan roket mas … . 7 G artinya apapun yang ada di pesawat tsb dari ujung hidung sampai ujung ekor mampu menahan 7 x berat benda-benda itu sendiri, seperti kulit pesawat, rangka pesawat, pipa-kabel-dan konektornya, tekanan aliran fuel, dsb … . Gaya gravitasi G berkaitan juga dengan manuver.

    Sementara bom, roket, dsb berkaitan dengan speed pesawat, daya mesin, luas sayap, dan kekuatan struktur sayap. Dua pesawat bisa saja mempunyai kapasitas membawa muatan yang sama namun bisa berbeda dalam katahanan gravitasinya (2G, 3G, … 9G, dst).

    Saya sih belum bisa memahami kenapa BPPT mengejar UAV sampai 7G. UAV kan untuk pengintaian shg tidak perlu manuver se ekstrim fighter. Mendingan mengejar endurance, jarak jelajah, payload, stealth, dan akusisi data.

  5. Kuncinya ada di satelit kita yang independen.
    Jangan ngaku ngaku stealth, kalo algoritma pengiriman transmisi masih numpang satelit orang.
    jangan ngaku ngaku stealth kalo hardware-hardware nya CBU buatan israel ato AS ato negeri yang laen.
    BTW, sukses buat seluruh pemangku kepentingan, kalo tidaku dimulai dari sekarang, kapan lagi..?

  6. Semoga riset UAV ini bisa semakin banyak mengalami kemajuan walaupun ada byk kendala. Tp dgn dukungan periset2 yg ulung UAV RI yg canggih bisa segera terwujud. Kita semua harus optimis, periset2 negeri ini yg bergerak di teknologi nuklir sudah membuktikannya dgn penemuan “formula YK”, yg merupakan satu2nya di dunia yg bisa membuat radio isotop dgn pengayaan uranium rendah. Dan periset2 di teknologi militer smg lebih bersemangat lagi untuk unjuk kemampuan wt negeri ini.

  7. Bagian depannya seperti dililit selotip hitam, mestinya bukan roket/rudal…

    • So, apakah link di atas itu hoax, bung Diego?

    • Maaf, bung Diego, maksud saya bukan link nya sih, tapi apakah berita/info berdasarkan link di atas itu hoax?

    • Kalau boleh saya tambahkan (di luar hoax atau bukan);

      Finless rocket sangat tidak stabil, sehingga dibutuhkan active guidance system untuk mengatur orientasi dan stabilitasnya selama terbang. Karena dinamika roket sangat non-linier, active guidance system juga akan sangat kompleks (seperti neural network guidance system) dan akan sangat mahal untuk ‘roket’ kecil seperti di foto

      Rudal tanpa sirip membutuhkan teknik lain untuk bermanuver (mirip thrust vectoring). Benda di foto tampak amat terlalu sederhana untuk sebuah finless missile;
      http://www.fas.org/man/dod-101/sys/smart/hystrike_view.gif

      Selain itu roket/rudal membutuhkan laucher/pod atau launch rail, tidak di’genggam’ bagian depannya seperti foto.

  8. Mantap bro … baru kulihat nih UAV kita sedang menenteng payload di bawah sayapnya …

    Kalau yang di gambar ini jelas bukan bohongan tetapi memang dummy bom atau roket. Tahap pertama sebelum dipasangi bom/roket betulan memang harus spt ini. Penting untuk menguji kestabilan terbang di seluruh flight envelope (batasan terbang) nya. Setiap muatan dipegang 3 buah strut, ini juga sudah benar, “rigid”, sangat kuat, meskipun tidak elok dilihat, tapi sudah sangat memadahi yg penting pas terbang tidak bergetar & lepas. Arti dari gambar ini membuktikan bahwa benar UAV kita berarti sedang diseriusi juga untuk fungsi UCAV.

    Dulu waktu di CN-235 kita pasangi missile Exocet juga begini dulu. Waktu dipasangi Exocet beneran kemudian ditest tembak kita analisa juga kestabilan terbang dan kestabilan struktur pesawatnya, maklum sayapnya kan jadi berat sebelah. Dan hasilnya ok nggak ada masalah, sampai sekarang di bawah sayap CN-235 bisa menenteng Exocet, Harpoon, torpedo, etc.

    Btw berapa kg yang bisa dibawa UAV ini ya?

 Leave a Reply