Jun 292013
 
UAV Wulung BPPT (photo: Audryliahepburn)

UAV Wulung BPPT (photo: Audryliahepburn)

BPPT Riset UCAV Wulung (photo: Audryliahepburn)

BPPT Riset UCAV Wulung (photo: Audryliahepburn)

Uji Terbang varian baru UAV Wulung BPPT (photo: Audryliahepburn)

Uji Terbang varian baru UAV Wulung BPPT (photo: Audryliahepburn)

Uji terbang varian UAV Wulung BPPT di Base Ops Pangkalan TNI AU, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (10/10/2012). Spesifikasi: bentangan sayap 6,36 meter, panjang 4,32 meter, tinggi 1,32 meter serta berat 120 Kg.

Belum diketahui sejauh apa perkembangan varian UAV Wulung ini pada tahun 2013 ini. Namun mari kita simak apa proyeksi Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan BPPT atas UAV ini, dengan menyimak dialog mereka dengan Presiden SBY:

“Sudah diuji terbang?” tanya Presiden kepada Kepala BPPT, Marzan Aziz Iskandar yang tengah memberikan penjelasannya di Base Ops Pangkalan TNI AU, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (10/10/2012). Menhan Purnomo yang juga berada di lokasi terlebih dahulu menjelaskan kepada Presiden, bahwa PUNA ini akan menjadi salah satu kekuatan pertahanan udara untuk mempertahankan kedaulatan NKRI.

“Ini bagus. Saya ucapkan selamat kepada yang membuat, mendesain dan meneliti pesawat ini,” kata Presiden SBY. Presiden juga sempat menanyakan apakah masih cukup dana pengembangan PUNA ini. Marzan pun mengungkapkan dananya masih cukup. “Nanti kalau masih kurang, di on top kan (diprioritaskan),” ucap Presiden.

Komentar

Lamberth Hitong says:
June 28, 2013 at 11:32 pm

Berdasarkan link di bawah ini, katanya UAV Wulung bisa dipasangin rudal ya… sehingga fungsinya bisa menjadi UCAV/ Unmanned Combat Aerial Vehicle.

danu says:
June 29, 2013 at 8:49 am

Finless rocket sangat tidak stabil, sehingga dibutuhkan active guidance system untuk mengatur orientasi dan stabilitasnya selama terbang. Karena dinamika roket sangat non-linier, active guidance system juga akan sangat kompleks (seperti neural network guidance system) dan akan sangat mahal untuk ‘roket’ kecil seperti di foto.

Rudal tanpa sirip membutuhkan teknik lain untuk bermanuver (mirip thrust vectoring). Benda di foto tampak amat terlalu sederhana untuk sebuah finless missile.

Bagikan :

  16 Responses to “Varian UAV Wulung BPPT”

  1.  

    Setelah saya amati baik-baik barang mirip roket berwarna cokelat lebih mendekati ke semacam flare (kembang api) untuk melakukan hujan buatan. Teknologi yang kita pakai selama ini adalah “menaburkan” bubuk garam untuk menyemai awan agar terbentuk awan hujan (comulo nimbus). Teknologi yang dipakai dalam memadamkan kebakaran hutan Riau minggu lalu masih spt ini, ada total sekitar 20 ton yang ditaburkan dari ramp door C-130 Hercules atau NC-212. Namun dengan teknologi flare spt yang sedang dicoba di UAV ini, efektifitasnya jauh lebih tinggi. Satu flare ini beratnya sekitar 1 kg. Yang dipakaipun bukan garam lagi. Seandainya kita berhasil memiliki teknologi proses pembuatan yang sangat advance, maka efektifitas 1 kg flare ini diklaim setara dengan 1 ton garam dalam membuat hujan.

    Langkah penggunaan UAV untuk digunakan dalam hujan buatan adalah sangat cerdik, dan mungkin the first in the world. Biaya operasinya akan sangat sangat murah. Resiko keselamatan personel juga jauh lebih baik. Hehe.. sebetulnya info2 teknologi ini masih panjang, cuman saya khawatir kurang peminat yah … Ntar aja saya sambung lagi kalau ada pertanyaan2.

    •  

      Sebetulnya dugaan saya agak mirip, smoke canisters warna warni untuk demo terbang, cuma pertanyaannya: how to activate it?

      Kalau dilihat ujung2 strut dibuat pipih untuk dudukan baut dan sulit untuk dilewati kabel menuju canisters tsb.

      •  

        Nggak masalah mas Danu. Flare (“kembang api”) ini tergolong bahan peledak low explosive, dgn detonator yg terletak di bagian paling belakang. Kabel dari detonator akan melilit di luar diselongsong kemudian kemudian dililitkan ke sebuah strut naik ke terminal koneksi kabel yg sepertinya ada di bawah sayap (tidak kelihatan dalam gambar). Setelah itu diselotip biar nggak lepas.
        Kabel ini masuk ke contoller di dalam pesawat, dan hanya perlu tegangan 12 Vdc untuk menyalakan detonator. Begitu terbakar maka tutup putih di belakang flare akan berlubang kemudian mulai membakar pelan2 bahan2 kimia padat di dalamnya untuk mengurai & mengeluarkan bahan-bahan higroskopis ke atmosfir. Satu flare 1 kg ini bila sukses terbakar habis isinya kira-kira memakan waktu 2-3 menit. Selongsong nya hanya terbakar di bagian belakang, selebihnya masih utuh.

        Dalam flare ini sudah tidak menggunakan garam (NaCl) lagi. Bia proses pembuatan flare ini sudah canggih, maka partikel higroskopis berukuran mikron yang terhambur akan sangat banyak, bisa lebih dari 10 pangkat 10. Makin banyak makin bagus, karena pada dasarnya setiap partikel higroskopis ini akan menjadi inti kondensasi awan (CCN, cloud condensation nuclei). Di alam sumber CCN umumnya dari air laut saat terjadi penguapan yang naik terbawa ke atmosfir . Setiap butir CCN akan “menghisap” uap air di dekatnya menjadi butiran air. Demikian seterusnya sampai awan comulo nimbus menjadi besar, dan butiran air ini menjadi kian besar yg pada akhirnya kalau sudah berat jatuh menjadi air hujan.

        Dalam hujan buatan yang menggunakan flare higroskopis ini intinya kita berupaya menyisipkan CCN dari bawah awan comulonimbus (CB). Ciri khas awan ini adalah yang bergumpal2 putih tapi dasarnya hitam krn sinar matahari tidak bisa menembus. Tujuannya agar awan ini menjadi besar dan menghasilkan volume air yang lebih banyak saat hujan.

        Inovasi menggunakan UAV sangat bagus krn relatif sangat murah, simpel, tidak memerlukan pilot, dll. Di Cina dan Russia malah pernah dicoba menembakkan material higroskopis ini menggunakan multiple rocket yang di arahkan ke bawah awan CB. Cuman kalau gagal meledak bisa menjatuhi orang atau properti. Cuman ada satu hal yang saya belum tahu dari hasil pengujian. CCN ini kan harus ditebar di bawah awan CB dan sebaiknya pada saat ada up draft agar butiran CCN bisa terbawa naik (tersedot) ke dalam awan CB. Masalahnya bagaimana kru di bawah bisa mengetahui sudah masih daerah up draft? Mungkin perlu dipasangi sensor accelerometer ya untuk mendeteksi saat pesawatnya terguncang-guncang kena up draft. Sensor ini menurut saya sangat penting, karena disamping itu bisa memberi alert ke kru di bawah. Kalau guncangannya sangat besar segera manuver ke area yg lebih aman agar UAV tidak terbanting kena up draft yang sangat besar. Untuk case hujan buatan seperti ini, UAV yang punya kemampuan G besar memang diperlukan. Mungkin krn inikah BPPT mengejar UAV nya bisa sampai 7G ?
        Kalau kita sudah berhasil membuat flare & UAV yang terbukti manjur dalam meningkatkan volume air hujan, bisa dipastikan ini menjadi bisnis besar jutaan dolar. Belum lagi kalau di order negara lain, … tapi jangan mau kalau ada negara lain yang minta bahan higroskpis flare ini diganti dengan kuman anthrax ..

        •  

          Betul juga mas WH, sangat praktis jika dililitkan saja, bayangan saya kabelnya harus diumpetin dan merambat rapi di dalam strut hehe…

          •  

            Ya apalagi kabel yg dililitkan tsb memang “miliknya” flare, jadi habis pakai akan dilepas lagi & dibuang bersama selongsong flare. Kabel yang “milik” pesawat adalah dari konektor ke controller.

  2.  

    bung WH itu UAV wulung kita maks angkut berapa kilo ??
    masa cuma 10 kg…

  3.  

    Maaf, bung Admin. Apakah setipa komen di sini diedit dulu lalu dipublish. Karena saya perhatikan judul artikel di atas pertama adalah mengenai : “CIKAL BAKAL UCAV INDONESIA?” (maaf kalau saya salah judul mohon dikoreksi), kok beberapa jam setelah artikel pertama keluar, judul artikel diganti menjadi: “VARIAN UAV WULUNG BPPT” disertai dengan hilangnya komentar yang saya publish? Mohon penjelasannya bung admin dan mohon maaf kalau ada kata2 saya yang salah.

    •  

      Perubahan judul artikel terjadi karena setelah diskusi di sini disimpulkan, UAV Wulung yg membawa 8 tabung disayapnya bukan cikal bakal UCAV, melainkan varian uav wulung untuk keperluan semacam: demo terbang, proyek hujan buatan.

      Edit/revisi dilakukan, semata untuk memberikan informasi yang lebih akurat. Komentar Bung Lamberth ikut dihapus karena mengomentari komentar sebelumnya yang terbangun dari hipotesa yang “diduga” salah. Penghapusan itu atas permintaan komentator dan menurut saya itu logis.

      Komentar Bung Lamberth bisa kita munculkan lagi, jika menginginkannya. Forum ini menghargai kebebasan berpendapat. Komentar lain yang dihapus..jika sudah out of topic atau nge-troll.

      •  

        Oh….gitu toh! Artinya komentar saya berdasarkan hipetosa yang ternyata terbukti salah, berarti komentar saya juga ikut salah dong. Gak apa2 bung admin…sy sangat puas sudah baca penjelasan bung admin…dan saya hargai keputusan bung admin semuanya sebagai pengelola situs yang sangat bermanfaat ini. Sebelumnya saya tidak tahu jadi sempat menduga yang bukan2, dan oleh karenanya saya mohon maaf. Dan saluuutt buat bung Diegoyang sudah memberikan penjelasannya… 🙂

  4.  

    Saya suka sekali komentar bung WH, sangat akademis dan mempunyai pengusaan tehnologi. Angkat topi

    •  

      Thanks bro … kalau ada comment silakan.

    •  

      idem sama ente bro…

      tadinya sih sempat ngira kalo “cerutu” yang dipasang di sayap itu fungsinya buat accellerator (semacam NOS kalo di mobil) biar lebih ngacirr kalo ketauan musuh di udara.

      lebih kurang bayangan ane gini
      ketika terdeteksi oleh musuh, wulung akan berusaha melakukan manuver menghindar dan kabur
      kalau menggunakan “kitiran” aja masih kurang cepat buat kabur dari sergapan pesawat musuh, maka digunakanlah accellerator ini buat meningkatkan kecepatan.
      tapi ini sih cuma bayangan ane

      analisa Mr WH sepertinya lebih akurat dan lebih masuk akal

      trims Mr WH atas analisanya

      •  

        Insya Allah valid, cara membawanya di versi Amerikanya di pesawat berawak slightly different dan membawa 2 x 12 flare. Dengan model rak yang berbeda ditaruhnya di atas belakang sayap. Di versi Amerika Ada juga yang dibawah badan seperti magazine yang bisa membawa 300an flare kecil dengan bahan kimia yang berbeda fungsinya. Flare yg ini akan ditembakkan di atas awan comulonimbus di ketinggian 25,000 feet ke atas. Di ketinggian ini fenomenanya aneh. Kalau di darat kan air membeku pada suhu 0 C. Kalau di ketinggian ini dan seterusnya air baru membeku pada -5 C yang disebut super-cool. Tugas flare yang ditembakkan di ketinggian ini agar keadaan sekitar partikel flare yang terhambur menjadi super-cool sehingga uap air membeku menjadi butiran es. Bagus triknya, flare dibakarnya jauh dari pesawat setelah ditembakkan, agar tidak terjadi pembekuan es di bodi pesawat terutama sayap yang akan membahayakan pesawat itu sendiri. Butiran es ini kemudian akan jatuh ke bumi menjadi hujan air, kadang juga es. Untuk flare dgn material jenis ini (argentum iodide, AgI) cukup sulit membuatnya.

        •  

          menarik apa yang anda sampaikan bung

          soal ini “Masalahnya bagaimana kru di bawah bisa mengetahui sudah masih daerah up draft?” (copas dari pernyataan anda diatas)

          kali aja controller UAV-nya bisa dibekali JOY STICK GETAR seperti yang ada di console game play station. ketika masuk daerah up draft, biasanya setiap jenis pesawat bakalan kena guncangan atau yang lazim disebut turbulence. kalooo aja sifat joy stick getar PS bisa diaplikasikan di controller UAV (pastinya disertai dengan accellerometer), pasti lebih mudah ngelepas AgI dari UAV kita.

          kalo soal buat AgI sih, ane kurang setuju. lebih praktis beli, soalnya musim kemarau atau kebakaran hutan gak terjadi sepanjang tahun di mari
          sayang duitnya kalo cuma nyetok doang hehehe

          •  

            Iya kebetulan juga buat AgI cukup mahal. Kalau di kita cukuplah flare yang higroskopis saja. Pemakaian di kita selain untuk pawang hujan mengatasi kebakaran hutan adalah PLN, juga buat menambah volume air hujan untuk mengisi waduk PLTA. Di AS, Canada, Argentina, dll sering hujan salju, umumnya AgI buat mencegah terjadinya bongkahan2 es besar jatuh dari langit yang bisa merusak property (hail damage). Di sana costumer nya perusahaan asuransi untuk mengurangi klaim property yang sering rusak akibat ini.

 Leave a Reply