Cukong, Cambuk dan Penderitaan TKI

Dua TKI asal NTT Kabur dari Malaysia, karena kerap disiksa (photo: Metro TV).
Dua TKI asal NTT Kabur dari Malaysia, karena kerap disiksa (photo: Metro TV).

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, turut berduka cita atas musibah TKI yang tenggelam di Perairan Malaysia. Saya jadi teringat sewaktu merantau ke Batam di tahun 2000 ketika masih situasi krisis moneter, saya sempat melihat teman-teman yang saya temui baik yang dari Jawa, NTB dan lain-lain. Setelah di deportasi dari Malaysia, ada semacam kecanduan untuk masuk menyelundup kembali. Padahal mereka banyak yang sengsara.

Mereka yang menyelundup ke Malaysia biasanya bekerja di perkebunan dan konstruksi. Baik yang ilegal maupun yang legal, banyak yang dibodohi oleh cukong-cukong Malaysia di sana. Jika yang mempunyai passport yang masuk secara legal, cukong Malaysia yang berotak jahat biasanya menahan passport mereka dan setelah sebulan bekerja atau beberapa bulan setelah bekerja ketika mereka meminta gaji, sang cukong konspirasi dengan polisi setempat, untuk menggerebek para pekerja, sehingga ditangkap dan dideportasi. Akhirnya sang cukong tidak perlu dan cuci tangan tanpa menggaji karyawannya.

Apalagi TKI illegal yang masuk ke Malaysia lebih sengsara lagi, selain mendapat perlakuan seperti di atas, mereka kerap diperdagangkan atau human trafficking, bekerja tanpa digaji dan jika mereka berunjuk rasa untuk meminta gaji, maka sang cukung konspirasi kembali dengan polisi di sana untuk menangkap dan mendeportasi kembali. Meskipun tidak semuanya seperti itu, tapi sebagian TKI yang dideportasi, saya lihat berperingai aneh seperti orang yang tidak waras, ada pula yang mempunyai penyakit kaki gajah tanpa diobati hingga tanpa diketahui oleh siapa pun TKI tersebut meninggal, di teras Masjid Raya Sei Jodoh.

Saya dulu sempat mempunyai keinginan untuk bekerja di Singapore, baik legal maupun illegal, karena tertarik oleh gajinya yang Sing$, jika di-kurs-kan ke rupiah lumayan besar tentunya, saya pikir waktu itu. Banyak cara kawan-kawan saya yang saya temui berkisah tentang masuk mengais rezeki di Singapore. Mulai dengan cara overstay alias matikan passport hingga yang illegal dengan mendayung sampan agar tidak terdeteksi oleh radar pemerintah Singapore, tapi di Singapore pun mereka bukan berarti senang. Mereka yang bekerja di sana, agar tidak tertangkap, jika tidur di taman-taman dan ada pula yang tidur di gorong-gorong saluran air yang memang besar-besar, ukuran bisa dilalui mobil seperti saluran banjir kanal di Jakarta, tapi jika overstay dan tertangkap pun bukannya nyaman langsung di deportasi. Oleh pemerintah Singapore TKI illegal kita dipenjara dulu lalu dicambuk sebelum dipulangkan ke Indonesia.

TKI korban Penyiksaan (photo: jambendawe.wordpress.com)
TKI korban Penyiksaan (photo: jambendawe.wordpress.com)

Cambuknya memang cuma sekali, tetapi sekali cambuk oleh Algojo penjara kulit pantat kita bisa terkelupas dan membekas, seperti yang ditunjukan kawan-kawan saya yang ada di Batam yang bekas cambukannya berbekas jadi kenangan pahit dan pilu. Karena melihat perlakuan yang tidak manusiawi dari 2 negara tetangga tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk bekerja di Indonesia yang jika bekerja keras dan disyukuri hasilnya lebih berlipat-lipat dari pada jadi TKI di Malaysia dan Singapore.

Kalau pepatah bilang “Hujan batu di negeri orang masih lebih baik hujan emas di negeri sendiri” hehehehe… Sebuah celoteh yang teringat masa lalu. (by Gunung Jati).

TERPOPULER

Tinggalkan komentar