Damen Selesaikan Instalasi dan Uji Coba Sistem Combat KRI Gusti Ngurah Rai

Jakartagreater.com – Damen Shipyards Group dan PT PAL, baru-baru ini menyelesaikan pemasangan dan pengujian sistem tempur dari fregat kedua SIGMA 10514 Perusak Kawal Rudal (PKR) KRI Gusti Ngurah Rai (332), lansir DAMEN.

Fregat PKR dibangun melalui proses modular yang beroperasi secara simultan di Damen Schelde Naval Shipbuilding (DSNS) di Belanda dan galangan kapal PT PAL di Indonesia. Dengan cara ini, Damen mampu membangun kapal berkualitas tinggi di mana saja di dunia. Metode ini juga memungkinkan Damen untuk memenuhi komitmennya kepada Kementerian Pertahanan Indonesia untuk memberikan program pengetahuan dan transfer teknologi (ToT) yang luas.

Bagian penting dari program transfer ini adalah pemasangan sistem tempur bersama dengan pemberian pelatihan kepada awak dalam penggunaan dan pemeliharaannya.

Hein van Ameijden, Direktur Pelaksana DSNS, mengatakan, “Sejak awal proyek ini, DSNS dan mitra kami Thales Netherlands telah berkomitmen penuh untuk pengembangan industri pertahanan Indonesia dan sektor pendukungnya. Komitmen ini ditunjukkan dengan serangkaian ToT dan program konten lokal mulai tahun 2013 ketika pelaksanaan proyek dimulai.”

“Misalnya, DSNS telah melatih dan mendidik lebih dari 328 personel lapangan, termasuk tukang las, perencana, dan insinyur, selama proyek. Thales Belanda telah berkontribusi dengan mensubkontrakkan industri lokal untuk pengembangan perangkat lunak, pada akhirnya memberikan dukungan bagi Indonesia untuk mengembangkan sistem manajemen tempur didalam negeri. ”

Sistem tempur yang dipasang dan diuji meliputi:

* VL MICA untuk pertahanan dari ancaman udara
* Exocet untuk serangan anti kapal
* Torpedo sistem untuk perlindungan menghadapi ancaman kapal selam
* Meriam rapid-fire kaliber-35mm untuk pertahanan jarak dekat dari serangan udara dan laut
* Electronic detection system untuk mengalihkan serangan musuh dengan pengalihan elektromagnetik
* Modification of the computer operated – operasi komputer yang mengoperasikan semua sistem tersebut

Fase terakhir sebelum penyerahan berhasil diselesaikan pada tanggal 21 Februari dengan uji coba pelayaran – Sea Acceptance Test (SAT). Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa instalasi di seluruh rantai sistem senjata sudah memenuhi efisiensi dan akurasi yang diinginkan.

“Semua upaya kami sebelumnya membuahkan hasil. Sudah di awal pengujian, jelas bahwa pemasangan telah dilakukan dengan sangat presisi selama konstruksi dan bahwa kegiatan penyelarasan persiapan dan perjanjian telah diikuti dengan cermat. Kapal perang PKR kedua mencapai hasil yang mirip dengan yang pertama. Ini menunjukkan bahwa konsep lengkap yang diterapkan dalam SIGMA PKR Class dapat dianggap andal dan kuat, ”pungkas Van Ameijden.

14 pemikiran pada “Damen Selesaikan Instalasi dan Uji Coba Sistem Combat KRI Gusti Ngurah Rai”

    • Ini kapal bentuknya cantik kali misal panjangnya 150 an meter lebar 20 an m, lengkap dengan tujuh puluhan rudal jarak jauh dan rudal pertahanan udara yang mematikan trus dilengkapi ciws Goalkeeper masing2 kanan dan kiri, dan meriam utama 130 mm dan jumlahnya kapal di atas 15 unit saja saya rasa saya bisa agak tidur nyenyak

    • Biasanya lama itu krn kita ada UU yg memgatur pengadaan alutsista hrs disertai ToT.
      Mencocokkan ToT yg dibisa diberikan pabrikan dng yg kita mau itu yg alot. Alotnya berkaitan kekayaan intelektual mereka ada harganya. Kesepakatan harga ini yg agak alot.
      Itu cerita baru beli kapalnya. Belum cerita ngisi gotongan kapal jg terganjal UU itu. Kalo gak ada UU mungkin simple urusannya, tinggal main tunjuk aja. Belum lg persetujuan pemerintah tempat beli kapal dan senjata yg harus ada lobi diplomasi. Contohnya spt pak menhan RR jalan2 ke Denmark dan pak Prabowo ke Perancis itu dalam rangka lobi diplomatik urusan pembelian alutsista.
      Itu sdh selesai, masih ada lg episode berikutnya, cari bank penjamin yg tidak kalah seru.
      Jd gak spt kita beli mobil ke showroom tinggal pilih warna maupun model. Gak sesimple itu.

          • 2 2 nya bung.
            Tp klo CAATSA, bisa dieliminir dng pembelian F-16V dan herkules, dan heli jg rudal. Jd bisa menyenangkan AS.
            Tp kalo imbal dagang ini yg repot, kemaren sdh saya bahas di komwn artikel sebelumnya. Kita maunya berdasarkan harga pasar dunia. Sementara Rusia maunya harga dasar flat selama masa kontrak pemenuhan kuota, alasannya sangat wajar krn supplay sdh pasti terpenuhi utk kebutuhan dalam negeri mereka selama masa kontrak. Dan kebutuhan mereka pun pertahunnya tdk stabil.

          • Seharusnya pemerintah kita agak ngalah dikit toh bahan baku imbal dagang itu melimpah di negara kita sampai kadang surplus, istilah kita orang Indonesia “kalah dikit menang dikit” artinya tidak ada yg dirugikan semua diuntungkan tapi persahabatan jalan terus dan itu yg penting, toh ditengah himpitan musuh bebuyutan rombongan PDA Australia, Malaysia, Singapura, Inggris dan Amerika didalam hati kita tetap berharap suatu ketika (semoga tidak terjadi) manakala terpaksa kita harus hadapi keroyokan mereka, kita berharap dengan mesranya negara kita dengan Rusia bisa menjadi sahabat yg tidak akan tinggal diam manakala kita kesusahan, dengan Amerika mah gak mungkin ditelan bulat2 dimangsa malah bisa jadi

  1. Harap maklum pengadaan alutsista bkn hanya membutuhkan waktu yg lama tetapi jg membutuhkan uang dan jg lobi yg panjang dan berbelit mungkin alangkah baiknya Indonesia meniru pelobi Yahudi ada di Amerika.

Tinggalkan komentar